Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Minum Obat


__ADS_3

"Mau makan atau mau aku cium" ancam Danial.


.


.


.


"Jangan ngadi-nga..."


Cup


Danial sungguh menciumnya.


Dina membulatkan matanya.


"Ayo makan, jika menolak aku kecup lagi bibir mu itu" ancam Danial.


Dengan wajah enggannya Dina membuka mulutnya.


"Anda sudah makan?" tanya Dina setelah menelan buburnya.


"Belum" jawab Danial sambil menyuapi Dina.


"Saya akan makan sendiri, anda pergilah makan" ucap Dina hendak meraih sendok di tangan Danial.


"Setelah kamu selesai makan, aku akan pesan makanan" ucap Danial sambil menjauhkan sendok yang dia pegang dari jangkauan Dina.


Beberapa menit kemudian Dina sudah menghabiskan makanannya. Danial membereskan bekas makan Dina.


Lalu setelah itu dia melangkah ke pintu.


"Tolong belikan makanan di kantin rumah sakit" ucap Danial pada seseorang yang ada di luar ruang inap Dina.


Danial mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pada orang itu.


Dina yang penasaran pun mencoba melihat Danial sedang bicara dengan siapa.


"Setelah ini kalian bisa gantian dan pergi makan malam, pakai uang sisanya"


"Baik bos"


Danial kembali ke dalam.


"Lihat apa?" tanya Danial yang melihat Dina sepertinya kepo.


"Anda bicara dengan siapa?" tanya Dina penasaran.


"Dengan bodyguard ku" jawab Danial lalu duduk di brankar Dina.


"Ayo minum obat" ucap Danial sambil mengambil obat yang ada di nakas.


Glek


"Kenapa wajah mu begitu?" tanya Danial saat melihat wajah Dina yang nampak tertekan.


"Saya tidak perlu minum obat" ucap Dina.


"Kenapa? apa kamu tidak mau sembuh?" tanya Danial.


"Bukan begitu..."


"Jangan bilang kamu masih belum bisa menelan obat?" tebak Danial.


Dina menganggukkan kepalanya pelan.


"Astaga berapa umur mu Dina" ucap Danial sambil terkekeh.


"Jangan menyebut umur" ketus Dina.


"Ha ha ha" Danial tertawa.


"Ayo aku akan membantu mu" ucap Danial.

__ADS_1


"Tidak" tolak Dina.


"Kalau begitu belajarlah menelan obat, ayo" ucap Danial sambil menyodorkan obat kaplet yang ada di tangannya.


Dina tampak ragu, dia sungguh tak pernah bisa menelan obat, apalagi sebesar itu.


"Mau ku bantu?" tawar Danial.


"Tidak" jawab Dina, dia langsung mengambil obat di tangan Danial dan memasukkannya ke dalam mulutnya lalu dia mengambil air di tangan Danial.


"Uhuukk uhuukk"


Dina memuntahkan kembali obatnya, dia tersedak. Danial menepuk pelan punggung Dina.


Danial sangat tahu jika Dina sama sekali tak bisa menelan obat, dulu saat sakit Danial lah yang membatu Dina menelan obatnya.


Danial masukkan obat Dina ke dalam mulutnya kemudian meminum air tapi tak menelannya. Lalu Danial meraih dagu Dina dan memasukkan obat itu dari mulutnya ke mulut Dina.


Glek


Dina berhasil menelan obatnya dengan bantuan Danial.


"Dasar manja" ucap Danial sambil menjauhkan wajahnya dari Dina.


Dina menekuk wajahnya sambil menatap Danial yang mengejeknya.


"Ayo sisa dua lagi" ucap Danial.


"Tidak mau, di tumbuk saja" ucap Dina dengan wajah cemberutnya.


"Obatnya sangat pahit Dina" ucap Danial. Dia tahu obatnya sangat pahit karena obat itu baru saja menyentuh lidahnya.


"Biarin" jawab Dina.


Danial mengambil obat baru yang tadi di muntahkan Dina. Kemudian tanpa sepengetahuan Dina, Danial memasukkan dua obat itu ke dalam mulutnya dan meminum air.


Kemudian Danial meraih dagu Dina lagi dan memasukkan dua obat itu ke dalam mulut Dina.


Glek glek.


Danial tak langsung melepaskan bibir Dina, dia ******* sedikit bibir Dina.


Dina mendorong tubuh Danial dan langsung menyeka bibirnya.


"Dasar!" ketus Dina.


Danial mengangkat kedua pundaknya.


"Sudah selesai kan, tak perlu susah-susah" jawab Danial dengan entengnya.


"Anda mengambil kesempatan..."


Tok tok tok


Dina berhenti mengomel saat mendengar suara ketukan pintu.


"Yes tepat waktu" ucap Danial dalam hati, dia nampak sangat berterima kasih pada orang yang mengetuk pintu karena dia tidak harus mendengar ocehan Dina yang kesal.


Ceklek.


"Ini pesanan anda bos" ucap bodyguard Danial sambil menyerahkan sebungkus plastik pada Danial.


"Terima kasih"


"Sama-sama bos"


Danial menutup kembali pintu ruang inap Dina, lalu dia melangkah ke sofa dan mengabaikan Dina yang terus menatapnya dengan tatapan tajam.


Dina yang kesal pun memilih merebahkan tubuhnya membelakangi Danial, karena saat ini kantuknya mulai datang.


Danial mendongak menatap ke arah Dina. Danial meninggalkan makanan yang baru saja dia buka.


Dia melangkah ke arah Dina, lalu mengecek Dina.

__ADS_1


"Cepat sekali tidurnya" gumam Danial.


Danial menekan tombol untuk menurunkan brankar Dina, agar Dina bisa tidur lebih nyaman.


Setelah itu dia membenarkan posisi tidur Dina dan menarik selimut sampai ke dada Dina.


"Selamat malam istri ku" ucap Danial kemudian mengecup kening Dina.


Setelah itu Danial kembali ke sofa dan melanjutkan makan malamnya.


Satu minggu kemudian.


Saat ini Dina dan Danial sudah berada di dalam mobil Danial. Mereka baru saja tiba di tanah air.


Dan saat ini mobil Danial tengah melaju menuju rumah Dina.


Beberapa jam kemudian mobil Danial yang di kendarai bodyguardnya sudah tiba di depan rumah Dina.


"Jadi kamu tinggal di sini?" tanya Danial.


"Iya" jawab Dina.


"Terima kasih untuk tumpangannya" ucap Dina lalu keluar dari mobil Danial.


Bodyguard Danial mengambil koper Dina yang ada di bagasi mobil Danial.


"Terima kasih" ucap Dina pada bodyguard Danial.


"Sama-sama nyonya" ucap Bodyguard Danial lalu kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


Danial menurunkan kaca mobilnya.


"Lain kali aku akan mampir" ucap Danial sambil tersenyum ke arah Dina.


"Tidak perlu repot-repot mampir Mr. Danial" ucap Dina sambil tersenyum terpaksa.


"Tidak repot sama sekali kok" jawab Danial.


"Harusnya aku minta antar ke rumah ayah dan ibu saja" gerutu Dina.


Danial terkekeh mendengar gerutuan Dina.


"Ya sudah aku pulang dulu" ucap Danial.


"Silahkan"


"Ayo pergi" ucap Danial pada Bodyguardnya yang duduk di balik kemudi.


"Sampai jumpa" ucap Danial pada Dina.


"Sampai jumpa, hati-hati di jalan" ucap Dina.


Mobil pun melaju pergi dari sana.


Andai saja Danial tak memikirkan kedua anaknya, sudah pasti Danial akan mampir ke rumah Dina bahkan dia akan menginap di sana.


Tapi Danial sangat rindu pada kedua anaknya yang sudah dia tinggal ke Swiss hampir sebulan penuh.


Danial bisa saja langsung membawa Dina ke rumahnya, tapi dia tak melakukan itu. Dia terlalu malas berdebat dengan Dina.


Danial akan membujuk Dina sedikit demi sedikit agar mau kembali pulang.


Di rumahnya Dina tengah terlentang di kasurnya yang sudah sangat lama dia tinggal pergi.


"Hahhh... harusnya aku tidak kesini, bagaimana kalau dia terus menerus datang ke sini" ucap Dina menyesal.


Dina tak memikirkan sampai sejauh itu, karena yang ada di pikirannya saat itu adalah ingin segera sampai di rumahnya dan beristirahat.


Karena jika pulang ke rumah orang tuanya jaraknya terlalu jauh dari bandara, jadi Dina mengatakan alamat rumah yang dia tempati sekarang.


"Sudahlah jika dia sering ke sini aku tinggal cari rumah baru saja" ucap Dina tak mau ambil pusing.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2