
"Lalu bagaimana dengan bayi ku yang ada di perut mu sekarang?" tanya Danial sambil menatap kedua netra Dina.
.
.
.
"Jika anda menginginkannya maka akan saya berikan pada anda dan jika anda tidak menginginkannya saya yang akan merawatnya. Karena sudah terlanjur ada" jawab Dina nampak sangat dingin.
"Bagaimana jika kita merawatnya bersama saja?" tawar Danial.
"Jangan harap" ucap Dina sambil kembali menegakkan tubuhnya.
"Mari saya antarkan ke kamar mandi"
"Hahhh..." Danial menghela nafas panjang lalu dia menganggukkan kepalanya.
Dina membantu Danial melangkah ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi Dina membantu Danial duduk di tempat khusus yang tadi dia pesan untuk Danial agar tangan dan kakinya tidak terkena air.
"Keluarlah aku akan mandi sendiri" ucap Danial cuek.
"Hah...." Dina menghela nafas lalu keluar dari sana.
Setelah Dina keluar dari kamar mandi Danial melepas semua gips yang melilit di tangan dan kakinya dan hanya menyisakan perban yang membalut lukanya.
Lalu dia melangkah ke arah shower dengan langkah yang normal.
Sebenarnya Danial tidak sampai patah tulang, itu hanya akal-akalannya saja agar bisa tinggal di rumah Dina.
Danial hanya terluka di bagian sikunya.
Dia berencana untuk merayu Dina saat dia tinggal di sana. Tapi sepertinya Dina sama sekali tidak berniat untuk membuka kembali hatinya.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan saat itu Dina? kenapa tiba-tiba kamu pergi dan meninggalkan kami?" ucap Danial dalam hati.
30 menit kemudian
Danial selesai mandi lalu dia memasang kembali gipsnya, sebenarnya dia tidak nyaman dengan gips-gips itu tapi dia harus menahannya demi bisa tinggal di rumah Dina.
Danial keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya, dugaannya benar ternyata Dina masih ada di kamar itu.
Netra mereka saling bertatapan tapi Danial segera memutusnya dan mengabaikan Dina seolah-olah dia sedang marah pada Dina.
Dina bangun dari sofa dan melangkah menghampiri Danial yang melangkah dengan mengangkat kakinya yang di gips.
Dina membantu Danial berjalan.
"Kenapa tidak memanggil saya?" tanya Dina dengan nada dinginnya.
"Aku bisa melakukannya sendiri" jawab Danial tak kalah dingin.
"Kenapa dia? apa dia kesal pada ku?" tanya Dina dalam hati.
Dina mendudukkan Danial di ranjang.
Dia mengambil handuk baru di lemari lalu menyeka air di tubuh Danial.
"Aku akan melakukannya sendiri" ucap Danial masih dengan nada bicaranya yang dingin.
"Jangan banyak bicara, saya tidak mau bolak balik ke sini" ucap Dina.
"Aku tidak akan memanggil mu, aku akan melakukannya sendiri" ucap Danial hendak meraih handuk di tangan Dina.
"Diamlah Mr. Danial"
"Heh apa kamu berubah pikiran?" tanya Danial dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Anda jangan senang dulu Mr. Danial, saya melakukan ini karena bertanggung jawab. Anda menyelamatkan saya dan anda terluka karena itu"
"Kau sangat keras kepala" ucap Danial sambil menatap ke samping.
Dina tak menggubris hal itu.
Setelah itu dia mengeringkan rambut basah Danial dengan handuk.
"Hei pelan-pelan, jika tidak ikhlas maka jangan lakukan" keluh Danial karena Dina mengeringkan rambutnya dengan agak kasar.
"Ini sudah pelan" ucap Dina masih mengeringkan rambut Danial.
Dina sengaja melakukan hal itu, dia melampiaskan kekesalannya pada rambut Danial.
"Tck"
Danial menyentak lengan Dina dan membuat Dina duduk di pangkuannya.
"Lepas" ucap Dina memberontak.
Danial semakin mengencangkan pelukannya di pinggang Dina.
"Lepas!" ucap Dina sambil menatap tajam Danial.
"Ternyata kamu perempuan yang kasar ya" ucap Danial sambil menatap wajah Dina.
"Jangan sembarangan menuduh!"
"Lihat, bahkan cara bicara mu sangat ketus. Padahal aku suami mu"
"Heh! Suami dari Hongkong"
"Bukan aku keturunan Jerman bukan Hongkong" ucap Danial.
Dina menunjukkan raut wajah kesalnya. Sedangkan Danial terkekeh melihat raut wajah Dina yang menurutnya Sangat imut.
"HEI!!" teriak Dina.
Danial kembali terkekeh, tadinya dia ingin mengabaikan Dina agar istrinya itu tahu kalau dia sedang kesal padanya.
Tapi pada kenyataannya dia tidak tahan saat melihat wajah Dina yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Lepas! saya bilang lepaskan saya!" Dina kembali memberontak.
"Diamlah, nanti bayi kita kenapa-napa"
Dia langsung berhenti memberontak.
"Lepas"
"Biarkan aku memeluk mu sebentar, aku sangat merindukan mu" ucap Danial sambil memeluk Dina, dia meletakkan kepalanya di atas bahu Dina.
Saat ini jantung Dina berdebar kencang.
"Tidak tidak Dina, jangan terbuai. Dia pria tukang selingkuh" ucap Dina dalam hati.
"Kamu gugup ya?" tanya Danial yang masih memeluk Dina.
"Tidak!" jawab Dina ketus.
"Tapi detak jantung mu berdebar kencang, bahkan aku bisa mendengar suaranya" ucap Danial.
Dina diam.
"Padahal waktu itu kita sudah bersentuhan lebih dari ini loh" bisik Danial di telinga Dina.
"Aw aw aw... sakit" keluh Danial.
__ADS_1
Dina mencubit pinggang Danial.
"Kenapa di cubit? sakit tahu" keluh Danial.
"Lepas" ucap Dina dengan wajah datarnya.
"Oke oke"
Danial mengurai pelukannya, Dina segera turun dari pangkuan Danial. Dina mengambil celana pendek Danial lalu berjongkok dan memakaikannya pada Danial.
"Hisss..." keluh Danial dengan mata melotot.
Begitu juga dengan Dina, dia membulatkan matanya karena terkejut. Dia bahkan sampai mundur beberapa centi dengan tangan di mulutnya.
"Darling apa yang kau sentuh?" tanya Danial dengan mata melototnya.
"A...aku ti...dak sengaja" ucap Dina gugup sambil menatap wajah Danial dengan raut wajah kagetnya.
"Dia bangun, kau harus bertanggung jawab" ucap Danial menatap Dina dan jarinya menunjuk kobranya.
"Tidak mau!" tolak Dina mentah-mentah.
"Hei setelah kau bangunkan tidak mau tanggung jawab?" tanya Danial sambil memiringkan kepalanya.
"U...urus sendiri" ucap Dina terbata-bata.
"Mana bisa sayang? tangan ku sakit" keluh Danial.
"Pakai satunya" ucap Dina dengan cepat.
"Kurang nikmat" jawab Danial dengan wajah tengilnya.
"Tidak! aku tidak mau!" ucap Dina dan segera kabur dari sana.
"Hei tanggung jawab jangan kabur!" teriak Danial memanggil Dina.
Danial terkekeh pelan melihat reaksi Dina.
"Dasar nakal" ucap Danial sambil terkekeh.
Danial menarik keatas celananya yang belum terpasang sempurna.
"Bersabarlah dulu, sebentar lagi kita akan mengunjunginya" ucap Danial pada kobranya yang tegang.
Di kamar dina
Dina berteriak di bawah selimutnya, saat ini kedua pipinya terasa sangat panas.
"Sial sial sial"
Dina berbaring di ranjangnya.
"Hah.... kapan dia akan pergi? tidak sampai sehari dia di sini sudah membuat ulah" gerutu Dina sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Arrgghhh menyebalkan, kenapa juga dia harus kesini!!"
Dina menoleh ke nakas tepat ke arah jam yang ada di atas nakas.
"Aku harus tidur, ya aku harus tidur dengan begitu aku bisa melupakan sejenak biang kerok itu" gumam Dina.
Dina membuka kerudungnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian menarik selimutnya dan memejamkan matanya, tak lama kemudian dia pun tertidur.
.
.
.
__ADS_1