Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Jujurlah Dina


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Dina saat melihat Danial menerobos masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah marah.


.


.


.


"Jujurlah Dina" ucap Danial sambil berbalik dan menatap Dina, suaranya terdengar sangat menyeramkan.


"Apa?" tanya Dina tak paham.


"Kamu mengajukan perceraian?" tanya Danial sambil menatap marah ke arah Dina.


Glek


"Bagaimana bisa dia tahu?" tanya Dina dalam hati.


"Katakan Dina!" sentak Danial.


"Kalau iya kenapa?!" tantang Dina.


"Kamu..!" ucap Danial kesal.


"Apa!" ucap Dina menantang.


"Bagaimana bisa kamu berpikiran untuk bercerai dengan ku di saat kamu tengah hamil anak ku!" ucap Danial.


"Kenapa? toh itu tidak apa-apa" jawab Dina dengan entengnya.


"Dina!" teriak Danial.


"Apaan sih! jangan berteriak!" ucap Dina berteriak balik.


"Batalkan sekarang!" tekan Danial.


"Tidak!" tolak Dina.


"Batalkan sekarang atau aku akan...!"


"Akan apa! apa yang akan anda lakukan hah?!"


"Kenapa kamu sangat keras kepala Dina? bukankah sudah aku katakan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan mu!"


"Kenapa? anda hanya ingin enaknya saja dan memiliki dua wanita sekaligus?" tanya Dina dengan mata melototnya.


Danial mengerutkan keningnya.


"Apa maksud mu?" tanya Danial.


"Apa maksud mu?" ucap Dina mengulang pertanyaan Danial.


"Heh... anda masih tanya apa maksud saya" ucap Dina.


"Katakan dengan jelas Dina, dua wanita? apa maksud mu? satu saja sangat sulit di atur seperti mu" cibir Danial di akhir kalimatnya.


"Apa?! sulit di atur?! salah siapa saya sulit di atur? itu salah anda sendiri yang tidak bisa mengatur saya!" ucap Dina.


"Bagaimana caranya aku mengatur mu, kamu saja kabur dari ku selama bertahun-tahun"


"Sekarang katakan dengan jelas apa maksud mu dua wanita?"


"Mbak Dara, bagaimana dengan mbak Dara?" tanya Dina.


"Ada apa dengan Dara?" tanya Danial yang lupa dengan apa yang sudah mereka rencanakan.


Dina meremas kedua tangannya di udara, ingin sekali dia menbejek-bejek wajah Danial.


"Bukankah dia kekasih anda? dia juga sedang hamil anak anda, jadi saya tidak mau kembali pada anda, anda nikahi saja mbak Dara dan ceraikan saya" ucap Dina lalu membuang muka sambil bersendekap dada.


"Aaaaa jadi karena ini kamu mengajukan perceraian?"


"Ya apa lagi!" sahut Dina.

__ADS_1


"Kalau aku tidak menikahi Dara apa kamu akan kembali pada ku?" tanya Danial.


Dina mengerutkan keningnya.


"Enak saja, lalu bagaimana dengan anak di kandungannya?"


"Dina jangan memikirkan orang lain, pikirkan saja diri mu sendiri. Kamu juga sedang hamil" ucap Danial sambil melangkah perlahan ke depan.


Dina mundur perlahan saat Danial terus melangkah ke depan.


"Mbak Dara yang lebih dulu hamil jadi saya akan mengalah" jawab Dina.


"Kau yakin?" tanya Danial masih melangkah ke depan.


"Ya!"


"Tapi bagaimana jika Dara bukan kekasih ku? apa kamu akan membatalkan perceraian kita?" tanya Danial.


"Anda mau memutuskannya? tega sekali anda!" ucap Dina marah.


"Katakan saja. Kamu akan membatalkan perceraian kita atau tidak, jika Dara bukan kekasih ku. Hanya itu yang ingin aku dengar bukan yang lain" ucap Danial.


"Tidak, saya akan tetap menceraikan anda"


"Kenapa?" tanya Danial.


"Ini sudah final" ucap Dina.


"Oh begitu, baiklah kalau begitu. Aku yang akan membatalkannya" ucap Danial sambil mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Apa-apaan! anda tidak bisa berbuat seenaknya hanya karena punya kuasa!" ucap Dina marah.


"Terserah aku, toh aku yang lebih berkuasa dari mu" jawab Danial dengan santainya lalu meletakkan ponselnya di telinganya.


"Halo Dani..."


Dina merebut paksa ponsel Danial dan langsung mematikan panggilannya.


"Apa!" teriak Dina sambil menatap tajam Danial.


"Kembalikan ponsel ku" ucap Danial sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak!" jawab Dina sambil menyembunyikan ponsel Danial di belakang tubuhnya.


"Kembalikan"


"Tidak akan!" tolak Dina.


Danial bergerak mendekat ke arah Dina, tapi Dina sudah lebih dulu menghindar dari Danial.


Aksi kejar-kejaran yang tak seimbang pun terjadi, Danial yang mengejar Dina dengan susah payah karena harus berakting dengan kakinya yang di gips.


Sedangkan Dina dengan kaki normalnya terus menghindari Danial dengan gesit bagaikan kancil.


"Dina kembalikan ponsel ku"


"Tidak mau, wekkk" ucap Dina sambil mengejek Danial.


"Wahhh lihat dia" ucap Danial mulai kesal.


Antara kesal dan menahan tawa saat melihat Dina yang kekanak-kanakan.


"Dina cepat kembalikan" ucap Danial masih mengejar Dina.


"Tidak akan"


"Tck, kambalikan Dina!"


"Tidak tidak"


"Kalau kamu mengembalikan ponsel ku aku akan memberitahu mu sebuah rahasia" ucap Danial sambil berhenti dan duduk di sofa karena sudah lelah mengejar Dina, mungkin karena faktor U.


"Rahasia? rahasia apa?" tanya Dina yang berdiri di dekat ranjangnya.

__ADS_1


"Kembalikan ponsel ku dulu, aku janji akan memberitahu mu sebuah rahasia." ucap Danial sambil mengulurkan tangannya meminta ponselnya.


Dina diam.


"Kamu tidak penasaran?" tanya Danial, Danial sangat tahu kebiasaan baru Dina setiap kali hamil.


Dina akan menjadi seorang yang sangat kepo saat sedang hamil.


Dina sedang berperang dengan dirinya sendiri, dia sangat penasaran rahasia apa yang di maksud Danial.


"Cepat katakan rahasianya" ucap Dina.


"Kembalikan dulu ponsel ku" ucap Danial.


"Tidak mau, anda pasti akan menelpon asisten anda" tolak Dina.


"Ya sudah aku tidak akan memberitahu rahasianya pada mu" jawab Danial sambil menyandar di sofa.


Dina menggigit bibir bawahnya, dia nampak sangat penasaran.


"Ayo mau tahu tidak? ini rahasia besar loh" ucap Danial sambil menarik sudut bibirnya.


"Kamu sangat mudah di tebak Dina" ucap Danial dalam hati, dia tahu saat ini istrinya itu pasti sangat penasaran.


"Kalau begitu tidak usah beritahu" ucap Dina masih kekeh.


"Yakin?" goda Danial.


"Ya" jawab Dina sambil membuang muka.


Danial terkekeh.


"Aku yakin sekarang kamu pasti sangat penasaran, jangan di pendam bagaimana kalau bayi kita ileran nanti saat lahir"


"Jangan bicara sembarangan!" ketus Dina menatap tajam Danial.


"Siapa yang bicara sembarangan, aku hanya mengingatkan saja"


"Tck"


Karena tak mau bayinya sampai ileran, Dina pun melangkah mendekat ke arah Danial kemudian mengembalikan ponsel Danial.


"Ini, sekarang cepat katakan" ucap Dina.


"Kemarilah" ucap Danial menepuk tempat di sebelahnya.


"Tidak saya berdiri saja!" tolak Dina dengan ketus.


"Duduklah nanti kamu pasti akan pingsan jika mendengarnya sambil berdiri" ucap Danial, lalu dia menarik pelan lengan Dina dan membuatnya duduk di atas meja tepat di hadapannya.


"Dasar pemaksa" ucap Dina.


Danial terkekeh, dia meletakkan ponselnya di sampingnya. Kemudian menggenggam telapak tangan Dina dengan tangan kirinya.


Dina melepaskan tangannya dari genggaman Danial, tapi Danial kembali menarik tangannya dan menggenggam kembali telapak tangannya.


"Cepat katakan" desak Dina.


"Katanya tidak penasaran" ejek Danial


Dina benar-benar gemas dengan sikap Danial, ingin sekali dia memukuli pria di depannya itu.


"Ke ke ke baiklah, baiklah" ucap Danial yang melihat raut wajah Dina yang semakin kesal padanya.


"Aku dan Dara tidak punya hubungan apapun" ucap Danial sambil menatap wajah Dina, dia ingin tahu bagaimana reaksinya saat mendengar hal itu.


Mendengar ucapan Danial, Dina beranjak dari duduknya. Tapi dengan cepat Danial menahan lengannya dan membuat Dina kembali duduk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2