Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Bekerja


__ADS_3

Dia juga harus membayar karyawan-karyawannya, biaya keluarganya dan biaya lainnya.


.


.


.


Danial melangkah mendekati Dina yang terkejut dan membeku di tempatnya.


Danial meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Dina lalu menundukkan tubuhnya dan menatap wajah syok Dina.


"Apa kamu sanggup membayarnya? jika pun kamu sanggup membayarnya kamu harus menjual studio mu ini begitu juga dengan butik mu" ucap Danial sambil mengamati seluruh isi ruangan Dina.


"Jika kamu menjual butik dan studio mu kemana semua karyawan mu akan pergi? mereka akan kehilangan pekerjaannya. Dan juga bukankah sangat sayang uang sebanyak itu terbuang percuma" ucap Danial memprovokasi Dina.


"Jadi jika tidak bisa, datanglah bekerja besok. Untuk hari ini akan aku anggap sebagai hari libur mu. Lihatlah betapa baiknya suami mu ini sayang" ucap Danial sambil tersenyum manis.


"Cih" decih Dina


Dina sangat kesal, pria di depannya itu benar-benar membuatnya kesal. Dia menjebak dirinya.


Ya tapi itu adalah kesalahannya sendiri, bagaimana bisa dia tidak membaca dengan benar kontrak itu dan malah masuk ke jebakannya.


Yang di katakan Danial memang benar, sekarang dia semakin ceroboh. Tidak lebih tepatnya sejak pertama kali bertemu kembali dengan Danial dia menjadi sangat ceroboh.


"Oke baby diam mu akan aku anggap iya. Besok datanglah ke kantor" ucap Danial yang sudah menegakkan kembali tubuhnya.


Tok tok


Asisten Dina datang dengan nampan berisi dua cangkir teh, asisten Dina nampak ragu untuk masuk ke dalam di saat dia merasakan aura yang begitu mencekam di dalam ruangan itu.


Asisten Dina meletakkan dua cangkir teh di meja lalu setelah itu dia pamit keluar.


Danial kembali melangkah dan duduk di sofa, lalu dia mengambil secangkir teh yang di bawakan asisten Dina kemudian menyeruputnya.


"Hah..." Dina menghela nafas pelan sambil memijat keningnya.


Sedangkan Danial menyeruput tehnya sambil menikmati wajah kesal Dina.


Flashback End.


"Selamat pagi" sapa Dina dengan lesu.


"Ohhh astaga kamu sudah datang" ucap si Miss Jadi-jadian dengan sangat heboh.


Dina hanya tersenyum.


"Kenapa kamu nampak lesu begitu cantik?" tanya Miss itu.


"Tidak apa-apa Mr saya hanya sedikit mengantuk" jawab Dina.


"Ah astaga, apa kamu bergadang?" tanyanya dengan heboh.

__ADS_1


"Iya, saya membuat beberapa desain untuk di serahkan pada anda. Sebagai ganti karena kemarin membuat Mr dan yang lain menunggu"


"Aduh duh baiknya, kami tak masalah kok"


"Maaf Mr kemarin saya..."


"Tidak apa-apa, si Mr dingin itu sudah bilang kok" sela Miss.


"Mr dingin?" tanya Dina.


"Ya Mr. Danial" jawab Miss itu.


"Bilang apa?" tanya Dina.


"Mr. Danial bilang katanya nona Reeha sedang ada kepentingan mendadak jadi tidak sempat menghubungi"


"Aaa..." jawab Dina sambil mengangguk pelan.


"Ayo kemarilah biar Miss perkenalkan pada yang lain"


"Iya" jawab Dina sambil tersenyum.


"Perhatian semuanya" ucap Miss dengan suara lantangnya.


Hal itu membuat Dina cukup terkejut, dia pikir desainer utama itu akan tetap mempertahankan suaranya yang gemulai tapi ternyata tidak.


Semua orang di ruangan itu mulai berkumpul.


"Sudah" jawab semua orang yang ada di ruangan itu.


"Oke perkenalkan she is Nona Fareeha, pemilik butik Reeha sekaligus Desainernya. Mulai hari ini sampai 6 bulan ke depan Miss Reeha akan bekerja di sini untuk kolaborasi perusahaan kita dengan butik milik Nona Reeha jadi mohon kerjasamanya ya..." ucap Miss jadi-jadian itu dengan suara gemulainya.


Semuanya bertepuk tangan. Mereka menyambut Dina dengan hangat.


Dina tersenyum lalu menyapa mereka semua.


Di saat tengah perkenalan, tanpa mereka sadari seseorang tengah mengintip di luar sana.


Orang itu adalah Danial, dia tersenyum melihat ekspresi yang di tunjukkan Dina, terutama saat Dina yang terkejut saat mendengar suara Miss jadi-jadian itu.


Sungguh sangat imut menurut Danial.


Mulai hari ini Danial akan stay di Twins Fashion sesuai dengan jadwal Dina ke perusahaannya.


Sedikit demi sedikit Danial akan membujuk Dina agar mau kembali padanya dan pada anak-anaknya.


Satu minggu kemudian.


Saat ini di ruang meeting tengah terjadi perdebatan kecil antara Dina dengan Miss Dylan desainer utama di Twins Fashion.


Ya nama Miss jadi-jadian itu adalah Dylan.


Dina yang haus pun mengambil sebotol air mineral lalu membukanya sambil terus berdebat.

__ADS_1


Danial yang duduk di samping Dina pun melihat hal itu, dia langsung mengambil gelas kemudian memberikannya pada Dina.


Tanpa sadar Dina mengambil gelas yang di sodorkan Danial padanya.


Lalu menuangnya dengan mulut dan fokus matanya yang terus berdebat dengan Miss Dylan.


Danial mengambil botol air dari tangan kanan Dina setelah Dina menuang air ke gelasnya.


Danial terus memperhatikan Dina yang masih berdebat, tak lama Dina berhenti dan berbalik ke belakang lalu menyingkap sedikit cadarnya untuk minum.


Danial terus memperhatikan hal itu tanpa dia sadari, sedangkan Dani yang duduk di samping Danial pun terus melirik ke arah Danial yang seolah-olah terhipnotis dengan apa yang ada di hadapannya.


Dina selesai minum, lalu dia kembali berbalik.


"Jadi bagaimana Mr. Dylan?" tanya Dina.


Mendengar pertanyaan Dina, Danial seketika menoleh ke arah Dylan.


Saat ini mereka tengah memperdebatkan tentang bahan untuk pakaian yang mereka rancang.


Miss Dylan ingin bahan utama untuk desain itu menggunakan bulu beruang asli.


Sedangkan Dina kurang setuju jika harus menggunakan kulit hewan apalagi hewan langka.


Dina tidak ingin, hanya karena sebuah pakaian yang akan membuat pemakainya senang, mereka harus mengorbankan hewan-hewan. Terutama yang sudah hampir punah.


"Jika kulit sapi saya masih setuju Mr, karena setiap hari hampir semua orang mengkonsumsi daging sapi. Jadi otomatis kulit sapi akan banyak, tapi jika beruang, ular, harimau ataupun hewan-hewan langka lainnya saya sangat tidak setuju" ucap Dina.


Beberapa saat ruangan itu menjadi sunyi.


"Baiklah, saya setuju" ucap Miss Dylan.


Dina tersenyum.


"Syukurlah jika Mr. Dylan setuju" ucap Dina sambil tersenyum.


"Astaga nona cantik berapa kali saya harus bilang, panggil Miss jangan Mr" ucap Miss Dylan yang sangat gemas pada Dina karena selalu memanggilnya Mr dan bukan Miss.


Semua orang yang ada di sana tertawa pelan termasuk Dina.


"Maaf Mr. Dylan, tapi tampang anda lebih cocok di panggil Mr dari pada Miss"


"Astaga gadis ini" ucap Miss Dylan, dia sangat gemas pada Dina ingin sekali mencubitnya pipinya.


Tapi dia tak berani karena saat akan melakukan itu Danial yang selalu ada di sekitar Dina akan menatapnya dengan sangat tajam.


Dia tahu bahwa bosnya itu sepertinya tertarik pada perempuan muda bercadar itu, dan dia mendukung hubungan mereka walaupun tak mengatakannya. Dia pikir mereka berdua sangat cocok.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2