Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Bukan Mimpi?


__ADS_3

"Nikmat sekali" ucap Dina pelan


Danial terkekeh pelan


.


.


.


"Sepertinya kamu belajar dengan cepat" ucap Danial sambil mengusap punggung Dina.


"Mau lagi" bisik Dina di telinga Danial


"Of course baby" bisik Danial


"Mau aku yang bergerak atau tidak?" Tanya Danial dengan suara seksinya


"Apa aku boleh menunggang kuda lagi, itu sangat seru" ucap Dina


Entah Dina mengatakannya secara sadar atau tidak Danial tidak peduli.


"Tentu saja baby, kamu penunggang yang hebat" bisik Danial


Tanpa rasa segan Dina kembali menunggang, Danial bangun lalu menyandarkan tubuhnya di Headboard ranjang.


Mereka bermain dengan posisi duduk.


Danial mengecupi setiap inci tubuh Dina, tangannya juga tak tinggal diam saja.


Dia memainkan gundukan di depannya. Walaupun tidak sebesar wanita-wanita malam Danial tapi milik Dina sangat pas di tangan Danial.


"Arghhh argghhh ahh ahh"


Suara keduanya memenuhi ruangan itu, beruntung ruangan itu kedap suara jika tidak...


Danial memasukkan cocochip Dina ke dalam mulutnya dan menggerakkan lidahnya, hal itu membuat Dina semakin menjadi-jadi.


"Arghhh"


Dina menahan kepala Danial agar semakin memperdalam hisapannya. Kedua tangan Danial mere mas bokong sintal Dina.


"Arghh baby lebih cepat" racau Danial


Dina bergerak naik turun semakin cepat.


"Arggh ini terlalu dalam" ucap Dina


"Tapi enak kan?" tanya Danial


Dina menganggukkan kepalanya sambil memeluk leher Danial, dia tidak mau saat sedang bergerak cepat tubuhnya malah terjungkal ke belakang.


Danial memeluk punggung Dina dengan erat lalu dia merebahkan tubuh Dina dan mengambil alih permainan.


"Arghhh aaaahhhh aaaahhh" racau Dina semakin kencang saat Danial mengambil alih permainan.


"Hubby terlalu dalam..."


"Ouchhh ini benar-benar nikmat sayang" Milik Danial mentok ke dalam, dia bahkan dapat merasakan pintu rahim Dina.


Dina menga kang memberikan Danial askes agar bergerak lebih yaman.


"Oucchh hubby..."


"Ochh baby your so tasty"


"Hubby i'm coming"


"Bersama sayang" Danial terus bergerak cepat dan beberapa saat kemudian


"Arghhhh!!" lengkingan panjang keduanya terdengar


Rahim Dina terasa hangat saat semburan Danial keluar sedangkan Danial merasa lega setelah mengeluarkan semuanya di dalam sana.


Nafas keduanya bersautan. Danial menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Dina yang ada di bawahnya.


Danial mengecup kening Dina yang ada di bawah tubuhnya lalu turun ke bibir Dina.

__ADS_1


"Sudah puas?" Tanya Danial lembut sambil menatap kedua netra Dina


Dina menggelengkan kepalanya cepat.


"Hah?" Danial terkejut


"Mau lagi" rengek Dina


"Astaga obat apa yang di berikan orang itu" geram Danial dalam hati


"Mau lagi?" tanya Danial sambil tersenyum


Dina menganggukkan kepalanya manja.


"Baiklah sayang" bisik Danial


Beberapa jam kemudian


Danial keluar dari kamar dengan rambut setengah basahnya. Dia duduk di sofa sambil menyandar dan memejamkan matanya.


Tok tok


Danial menekan tombol yang ada di dekat sofa untuk membuka pintu ruangannya, karena tadi Danial mengunci pintu ruangannya.


"Masuk" ucap Danial


Dani melangkah masuk ke dalam ruangan Danial.


"Bos"


"Hmmm?"


"Anda kenapa?" tanya Dani yang heran melihat wajah lesu Danial.


"Kamu sudah temukan siapa pelakunya?" tanya Danial sambil memejamkan matanya


Danial tak menjawab pertanyaan Dani, tapi dia malah memberikan pertanyaan pada Dani.


"Iya bos"


Danial membuka matanya lalu menegakkan tubuhnya.


"Kepala bagian keuangan" jawab Dani


"Kurang ajar! pria tua itu ingin macam-macam dengan wanita ku" geram Danial


Dani hanya diam melihat amarah Danial.


"Bereskan dia Dani"


"Baik"


"Hah..." Danial kembali menyandar di sofa


"Sepertinya anda kelelahan" ucap Dani sambil terkekeh


"Ya, aku benar-benar kewalahan meladeninya. Sebenarnya obat apa yang dia berikan pada Dina. Efeknya benar-benar sangat kuat"


"Sepertinya hanya obat perang sang biasa bos" ucap Dani


"Dari mana kamu tahu?" tanya Danial tak percaya


"Sisa kopi yang di minum nona Dina tertinggal di mobil, jadi saya mengirimnya ke rumah sakit untuk di tes"


"Lalu?" tanya Danial


"Dokter bilang hanya obat perang sang biasa dan seharusnya efek obat itu hanya sebentar saja sekitar 2-3 jam, karena dosisnya sedikit"


"Tapi dia tidak mau berhenti dan terus meminta ku melakukannya selama 6 jam berturut-turut" ucap Danial ngegas


"Mungkin nona Dina memang kuat di ranjang bos" ucap Danial sambil menahan tawanya


"Tidak, biasanya dia tidak seperti itu. Biasanya baru satu jam dia sudah merengek minta berhenti" ucap Danial


"Ya kalau begitu saya tidak tahu bos" ucap Dani mengangkat kedua bahunya


Danial memijat keningnya, saat ini kepalanya benar-benar pusing. Tenaganya sudah di peras habis oleh Dina.

__ADS_1


"Sepertinya anda menemukan lawan yang tangguh bos" ucap Dani sambil terkekeh


"Ya kau benar" jawab Danial


Dani hanya bisa menahan tawanya melihat bosnya lemas karena biasanya bukan Danial yang lemas melainkan lawannya yang lemas.


"Dani, satu jam lagi siapkan mobil dan jangan lupa bereskan pria tua bangka itu. Sudah lama aku geram dengan kelakuannya" ucap Danial


"Baik, kalau begitu saya permisi"


"Emmm"


30 menit kemudian


Dina bergerak di bawah selimutnya


"Emmm"


Perlahan Dina membuka kelopak matanya.


"Dimana ini?" tanya Dina saat melihat ruangan yang nampak tak asing baginya.


"Sudah bangun?" tanya seseorang yang berdiri di ambang pintu sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu dengan tangan bersendekap.


Dina terkejut dia menoleh ke arah orang itu, dan setelah melihat wajah Danial, Dina bisa bernafas lega. Dina duduk menyandar di Headboard ranjang.


"Tuan.."


"Tck tuan lagi, apa setiap kamu bangun tidur ingatan mu di setel ulang?" tanya Danial pura-pura kesal


"Maaf, hubby" ucap Dina sambil tersenyum ke arah Danial.


"Nah begitu kan enak di dengar" ucap Danial sambil tersenyum, dia melangkah ke ranjang lalu duduk di sebelah Dina.


"Hubby apa yang terjadi?" tanya Dina


Dina rasa tadi dia sudah berada di perjalanan pulang di antar Dani tapi sekarang dia malah ada di kamar Danial yang ada di kantornya.


"Kamu tidak ingat?" tanya Danial


Dina menggelengkan kepalanya. Danial mendekat ke telinga Dina.


"Tadi kamu menggila" bisik Danial


"Apa? menggila? maksudnya?" tanya Dina tak paham


Danial menjauhkan wajahnya lalu dia menarik krah kemejanya ke bawah.


"Lihatlah ini" ucap Danial menunjukkan bekas kiss mark yang di buat Dina.


Dina meringis menatap leher Danial yang seperti macan tutul.


"Kenapa merah begitu?" tanya Dina saat melihat banyak sekali bekas di leher Danial.


Danial menarik kedua pipi Dina.


"Sakit" keluh Dina


"Ini semua karena ulah mu darling" ucap Danial


"Kok saya?" tanya Dina


"Coba kamu ingat-ingat lagi" ucap Danial


Dina mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, beberapa detik kemudian Dina membulatkan kedua matanya sambil menutup mulutnya terkejut.


"Jangan bilang..." ucap Dina, dia tak sanggup melanjutkan ucapannya


"Sudah ingat?" tanya Danial sambil menaikkan sebelah alisnya.


Glek


"Jadi itu bukan mimpi?" tanya Dina


"Mimpi?" tanya Danial


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2