
Sesampainya di kamar mandi Danial menurunkan Dina di toilet duduk yang tertutup.
Dara datang dengan alat tes kehamilan di tangannya. Lalu dia menjelaskan ke Dina cara menggunakannya.
"Mau aku bantu" ucap Danial
"Tidak perlu" jawab Dina agak ngegas
Dara terkekeh
"Aku keluar dulu" ucap Dara, dia tidak mau mengganggu momen keduanya.
"Anda tidak keluar?" tanya Dina setelah Dara keluar dari kamar mandi.
"Mana panggilan manis mu barusan darling" ucap Danial
"Hah?" tanya Dina
Danial menundukkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Dina yang sedang duduk.
"Mas Danial" ucap Danial menirukan cara bicara Dina
"Mana panggilan manis mu?" ucap Danial
"Apaan sih, itu karena sedang ada orang lain saja" ucap Dina sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kalau begitu aku akan menyuruhnya tinggal di sini supaya aku dapat panggilan manis dari mu setiap saat" ucap Danial
"Astaga kenapa anda lebay banget sih, sana keluar" usir Dina
"Minta aku keluar dengan baik-baik dulu" ucap Danial
"Hubby tolong keluarlah" ucap Dina dengan nada lembut sambil tersenyum manis pada Danial.
"Tidak, aku sudah bosan dengan panggilan itu" tolak Danial
"Astaga tolong keluarlah jika tidak teman anda itu akan salah paham"
"Untuk apa salah paham, toh dia sudah tahu kita suami istri"
Dina menepuk keningnya
"Nanti dia salah paham dan mengira kita melakukan yang aneh-aneh"
"Biarkan saja toh kita sudah halal" jawab Danial
"Haisss! kenapa anda sangat menyebalkan" ucap Dina kesal
"Keluar sekarang, saya tidak bisa buang air kecil di hadapan anda"
"Tidak perlu malu santai saja. Aku akan tetap di sini takutnya kamu butuh sesuatu" ucap Danial masih menolak keluar
"Tidak. Keluar sekarang, jika saya butuh bantuan saya akan memanggil anda"
Danial masih saja keras kepala dia tidak mau keluar.
"Mas Danial... tolonglah..." Ucap Dina memelas
Danial tersenyum
"Gitu dong dari tadi" ucap Danial, dia mengecup pipi Dina lalu dia segera keluar dari kamar mandi.
"Ya ampun kelakuannya makin hari semakin menyebalkan" ucap Dina kesal
"Ngapain lama sekali keluarnya?" tanya Dara
"Terserah aku dong" jawab Danial
"Danial jangan membuat istri mu kesal terus, dia sedang hamil tidak baik membuatnya kesal" ucap Dara, barusan dia mendengar teriakan Dina dari dalam sana.
"Iya aku tahu" jawab Danial
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sudah tahu" jawab Dara
"Oh iya dimana kamu bertemu dengannya?" tanya Dara penasaran
"Rahasia. Kenapa dia cukup manis, bukan?" tanya Danial sambil tersenyum
"Emmmm dia juga cantik, tapi sepertinya usianya masih cukup muda"
"Emm" jawab Danial sambil mengangguk
"Kamu harus segera memberitahu nenek mu, katakan sebentar lagi dia akan punya cicit. Nenek mu pasti sangat senang mendengarnya" ucap Dara
"Eh eh untuk itu jangan, jangan beritahu apapun pada nenek"
"Maksudnya? jangan bilang nenek mu tidak tahu kalau kamu sudah menikah" tebak Dara
Danial menggaruk kepalanya.
"Ya ampun Danial! kenapa kamu menyembunyikannya dari nenek mu?" tanya Dara
"Panjang ceritanya, intinya kamu jangan bilang apapun kalau bertemu nenek. Nanti aku sendiri yang akan memberitahu nenek"
"Baiklah terserah kamu saja"
Tak lama kemudian Pintu kamar mandi terbuka.
Ceklek
Dina melangkah keluar dari dalam sana, sedangkan Danial menghampiri Dina.
"Saya bisa berjalan sendiri" ucap Dina menghentikan Danial yang siap menggendongnya lagi.
"Baiklah"
"Bagaimana hasilnya" tanya Dara pada Dina
"Saya belum lihat" ucap Dina sambil menyerahkan tes kehamilannya pada Dara
"Kok di kasih ke aku?" tanya Danial sambil menerima tes kehamilan Dina.
"Kamu yang harus melihatnya lebih dulu" ucap Dara
Danial membalik alat tes kehamilan itu.
"Garis dua" ucap Danial
"Itu artinya istri mu benar-benar hamil, selamat" ucap Dara tersenyum senang
Danial sangat senang, entah kenapa walaupun awalnya agak terpaksa karena desakan sang nenek tapi saat Dara mengatakan Dina hamil jantungnya berdetak kencang.
Dan berharap jika hal itu benar-benar terjadi. Danial mengangkat tubuh Dina dan membawanya berputar-putar.
"Argghh" teriak Dina terkejut
"Berhenti berhenti aku mual hue..." Dina menutup mulutnya
Danial segera menurunkan kembali Dina.
"Hue...mmmppp" Dina segera berlari ke kamar mandi dengan tangan menutup mulutnya.
"Danial kamu ada-ada saja, sana samperin istri mu. Aku pulang dulu, resep vitamin untuk Dina sudah aku taruh di nakas" Ucap Dara lalu dia keluar dari kamar Dina dan Danial dan pulang.
"Huekk huekk"
Danial segera pergi menghampiri Dina. Danial mengusap punggung Dina.
"Maafkan aku darling"
"Huekk" Dina menatap tajam ke arah Danial, dan Danial hanya bisa cengengesan.
Beberapa menit kemudian, Dina sudah berada di ranjangnya dia duduk sambil menyandar di Headboard ranjang.
__ADS_1
Danial duduk di samping Dina yang saat ini tengah memejamkan matanya karena lemas. Danial duduk di samping Dina.
"Maaf Dina"
Dina menggeleng pelan
"Tidak apa-apa, ibu hamil memang sering muntah-muntah kan" ucap Dina
Dina membuka kelopak matanya, mereka bertatapan. Danial seketika memeluk Dina.
"Terima kasih Dina, nenek pasti akan senang jika mendengar sebentar lagi akan punya cicit. Sudah lama nenek menantikan hal ini" ucap Danial
Dina menganggukkan kepalanya di pelukan Danial.
"Dan maafkan aku" ucap Danial dalam hati
Rasa bersalah Danial semakin menjadi-jadi, seharusnya dia tidak perlu merasakan hal itu karena dia sudah mengeluarkan uang cukup banyak.
Sebenarnya Danial adalah pria yang baik walaupun kelakuannya yang suka celap-celup sembarangan.
Sebelumnya dia tidak pernah memanfaatkan kemalangan orang lain demi kepentingannya, karena itulah sekarang dia merasa sangat bersalah pada Dina. Danial melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Dina.
Cup
Danial mengecup bibir Dina, Dina yang mendapat kecupan pun membulatkan matanya.
"Ke ke ke kamu masih saja terkejut" ucap Danial sambil terkekeh
Wajah Dina memerah
"Imut sekali sih" ucap Danial sambil mencubit pelan kedua pipi Dina, dia menggerakkan wajah Dina ke kanan dan ke kiri.
"Sakit...!" Keluh Dina
"Ha ha ha"
Danial melepaskan cubitannya. Danial menundukkan wajahnya tepat di depan perut Dina.
"Anak papa baik-baik di dalam sana, jangan merepotkan mama ya sayang" ucap Danial sambil mengusap lembut perut Dina.
Tubuh Dina meremang.
Matanya berkaca-kaca, dia terharu. Dina mengedip-ngedipkan kelopak matanya sambil mendongak ke atas agar air matanya tidak sampai menetes.
Dia tidak mau Danial tahu kalau dirinya menangis. Danial mendongak menatap wajah Dina, buru-buru Dina tersenyum menatap wajah Danial.
"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Danial
"Hmmm?" tanya Dina
"Kita belum sarapan, jadi kamu mau makan apa?" tanya Danial
"Emmm saya mau ayam goreng"
"Ayam goreng?"
"Iya, tapi anda yang masak" ucap Dina
"Aku?" tanya Danial sambil menunjuk dirinya
"Iya" jawab Dina sambil mengangguk
"Tapikan kamu tahu sendiri aku tidak bisa masak"
"Akan saya ajari"
Baiklah, ayo" ucap Danial sambil menyuruh Dina naik ke punggungnya.
.
.
__ADS_1
.