Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Galau


__ADS_3

Dina melangkah ke meja makan dan di ikuti Danial di belakangnya dengan koper di tangannya.


Danial duduk di depan Dina.


"Pantas saja sarapan pagi ini makanan favorit ku" ucap Danial dalam hati


"Hahh..."


Dina mendongak menatap Danial yang menghela napas.


Beberapa saat kemudian setelah selesai sarapan. Danial sudah di jemput asistennya yaitu Dani.


"Sayang kamu yakin tidak mau ikut aku?" tanya Danial.


Dina menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, beri aku pelukan dulu" ucap Danial sambil merentangkan kedua tangannya.


"Tidak sana pulang, jangan manja" ucap Dina sambil bersendekap dada.


Danial melangkah kemudian langsung memeluk istrinya, setelah itu dia langsung pergi tanpa mengatakan apapun dan melangkah menuju mobilnya.


"Permisi nona" ucap Dani.


Dina mengangguk.


Di dalam mobilnya Danial hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Keesokan harinya


"Bos, setelah ini ada rapat bersama Mr. Morgan"


Danial mengangguk.


"Ada baik-baik saja?" tanya Dani saat melihat Danial nampak tak bersemangat.


"Aku tidak apa-apa" jawab Danial dengan lesu.


"Anda merindukan nona Dina?" tanya Dani.


Danial mengangguk pelan.


"Telpon saja"


"Dia tidak menjawab panggilan ku" ucap Danial tak bersemangat.


Di tempat lain, tepatnya di butiknya.


Dina nampak termenung, saat ini dia tengah menjelujur sebuah dress di manekin.


"Aww"


"Mbak" ucap karyawannya terkejut saat melihat Dina tertusuk jarum dan berdarah.


"Aku tidak apa-apa" ucap Dina.


"Sebaiknya mbak istirahat saja"


"Tidak apa-apa aku baik-baik saja" ucap Dina.


"Wajah mbak nampak lesu"


"Benarkah?" tanya Dina.


"Iya"


"Baiklah, aku akan istirahat dulu. Kalian istirahatlah juga" ucap Dina pada beberapa karyawannya.


"Baik"


Dina melangkah keluar menuju ruangannya.


Ceklek


Dina masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Hahhh... aku kenapa ya? biasanya tidak seperti ini" gumam Dina.


Dina mengambil tisu dan membersihkan setetes darah yang keluar dari jarinya.


Tok tok


Dina menoleh ke arah pintu ruangannya yang terbuka.


"Kakak"

__ADS_1


"Boleh kakak masuk?"


"Tentu saja kak" ucap Dina sambil tersenyum.


Dzafir melangkah masuk lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Dina.


"Kakak bawa apa?" tanya Dina.


"Kakak bawa kesukaan mu" ucap Dzafir sambil meletakkan sekantong plastik berisi martabak daging kesukaan Dina.


"Wahh... Kakak tahu saja kesukaan ku"


Dzafir tersenyum.


"Terima kasih kak"


"Sama-sama" ucap Dzafir sambil tersenyum.


"Oh iya kenapa kakak ke sini?" tanya Dina.


"Kakak mau pamit pada mu"


"Pamit? memangnya kakak mau kemana?" tanya Dina.


"Ke Arab"


"Arab? kenapa? berapa lama?"


"Entahlah mungkin 2-3 tahun"


"Kenapa lama sekali?"


"Kakak mau move on, Reeha" ucap Dzafir sambil terkekeh pelan.


"Move on? dari ku?" tanya Dina sambil menunjuk dirinya sendiri.


Dzafir mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Maaf kak" ucap Dina sambil menunduk.


"Tidak apa-apa adik ku, kamu tidak salah"


"Karena aku kakak harus kembali ke sana, padahal kakak tidak betah di sana"


"Tidak kok, kakak betah di sana. Abi dan Ummi juga akan tinggal di sana selama beberapa bulan"


"Benarkah?"


"Iya"


"Tidak apa-apa jangan sedih, kakak akan sering menelepon mu nanti"


Dina mengangguk pelan.


"Kapan kakak berangkat?"


"Dua hari lagi"


Dina menganggukkan kepalanya pelan.


"Reeha"


"Iya?"


"Biarkan kakak mengatakannya sekali lagi"


"Apa?"


"Kembalilah pada keluarga mu"


Dina menatap kakak sepupunya.


"Dengan begitu kakak akan tenang meninggalkan mu di sini dan mencari perempuan lain yang lebih cantik dari mu" ucap Dzafir sambil tertawa.


Dina cemberut.


"Jadi aku jelek?" ucap Dina pura-pura merajuk.


"Tidak kamu cantik, tapi kakak akan mencari perempuan yang lebih cantik lagi" ucapnya sambil terkekeh.


"Ya ya lakukan saja, jika dengan begitu kakak akan senang"


"Ke ke ke tenang saja"


"Kakak sepertinya sangat puas menertawakan ku ya" ucap Dina.

__ADS_1


"Ke ke ke, jadi apa kamu akan kembali pada suami mu?"


"Entahlah, aku bahkan tidak berani bertanya tentang apa yang aku dengar lima tahun lalu"


"Kenapa? bukankah jika kamu bertanya semuanya akan jelas"


"Aku takut kak"


"Reeha bicaralah dengannya, maka semuanya akan jelas dan kamu bisa memulai kembali bersamanya dari awal. Anak-anak mu mulai tubuh besar Reeha"


"Aku tahu kak. Baiklah nanti aku akan bicara dengannya"


"Alhamdulillah" ucap Dzafir sambil tersenyum.


"Jika dengan pria itu kakak akan tenang menitipkan mu padanya"


"Kenapa begitu? bukankah saat itu kakak sangat tidak suka padanya?"


"Saat itu bukannya kakak tidak suka, tapi kakak hanya terbawa emosi saat melihat suami mu. Dan sekarang kakak merasa bersalah karena memukulinya saat itu, setelah bicara dengannya dia pria yang baik, dia sangat cocok dengan mu. Ya walaupun umurnya agak tua" Ucap Dzafir sambil terkekeh pelan di akhir kalimatnya.


"Tapi seperti itu yang hot kak, upss" Dina segera menutup mulutnya.


"Ha ha ha Reeha Reeha" ucap Dzafir sambil menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja kakak bukan kriteria mu, ternyata kamu suka yang seumuran dia ya, sedangkan kakak hanya satu tahun lebih tua dari mu"


"Bukan begitu kak" ucap Dina sambil menggaruk tengkuknya.


"Ya sudah kakak pulang dulu ya, kakak belum berkemas" ucap Dzafir sambil berdiri dari tempat duduknya.


Dina pun berdiri dari tempat duduknya dan mengantar Dzafir sampai masuk ke mobilnya


"Kak terima kasih untuk semuanya" ucap Dina sambil membungkukkan sedikit tubuhnya saat bicara dengan Dzafir yang ada di dalam mobil.


"Iya, sama-sama" jawab Dzafir sambil tersenyum.


"Jika saat itu tidak ada kakak, mungkin aku tidak akan bisa seperti sekarang. Terima kasih banyak, maaf aku tidak bisa membalas apa yang kakak lakukan pada ku selama ini"


"Tidak apa-apa Reeha, berbahagialah itu sudah cukup bagi kakak"


Dina mengangguk pelan.


"Maaf" ucap Dina dengan berkaca-kaca.


"Jangan minta maaf terus Reeha, jika tidak kakak akan menculik mu sekarang juga" ucap Dzafir sambil terkekeh pelan.


Dina terkekeh, lalu dia menegakkan tubuhnya.


"Baiklah kakak pulang dulu ya"


"Iya kak, hati-hati di jalan"


"Iya, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Di kantor Danial.


Danial baru saja keluar dari ruang meeting.


"Danial lama tidak bertemu" ucap Dafa, teman Danial yang kebetulan mengadakan meeting tak jauh dari kantor Danial.


Dia berniat menyapa temannya itu karena sudah lama mereka tidak bertemu.


"Emm" jawab Danial.


"Hei ada apa dengan mu Nil? kamu sakit?kenapa lemas begitu?" tanya Dafa


Danial menggelengkan kepalanya.


"Dani kamu urus sisanya" ucap Danial pada asistennya.


"Baik"


"Aku pergi dulu" ucap Danial pada temannya lalu pergi dari sana menuju ruangannya.


"Ada apa dengannya?" tanya Dafa pada Dani saat melihat temannya itu berjalan dengan lemas dengan tangan yang menyusuri setiap tembok yang dia lewati.


Dia melangkah sambil menyentuh semua tembok yang dia lewati dengan tangannya dan melangkah dengan lesu.


"Galau" ucap Dani sambil menatap bos sekaligus temannya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2