
Pagi harinya
Dina bangun seperti biasa, namun yang nampak tak biasa adalah Danial. Pria itu pagi-pagi sudah tidak ada di tempat tidurnya.
"Kemana dia?" tanya Dina saat tak melihat Danial di ranjang.
"Sudahlah" ucap Dina lalu dia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi
pukul 6 pagi Dina keluar dari kamar, di depan pintu dia berpapasan dengan Danial yang sepertinya baru saja selesai olahraga.
"Mas...." panggil Dina, tapi Danial melewatinya begitu saja tanpa menyapa Dina.
"Kenapa dia? jangan bilang dia marah karena ucapan ku tadi malam" gumam Dina
"Sudahlah bodo amat, seperti itu malah lebih bagus untuk ku" gumam Dina, lalu dia melangkah turun.
Beberapa saat kemudian.
Selesai sarapan.
"Dina ke kamar nenek setelah ini" ucap nenek Dharma
"Baik nek" jawab Dina, Dina sangat senang karena nenek sudah mau bicara lagi dengan dirinya.
Nenek beranjak dari sana menuju kamarnya, Dina yang sudah hampir selesai sarapan pun segera menghabiskan sarapannya.
Sedangkan Danial yang sudah selesai makan beranjak dari tempatnya dia melangkah ke halaman belakang dan meninggalkan Dina sendirian di meja Makan.
"Katanya tetap mau memperhatikan ku walaupun demi bayinya, dasar pembohong" ucap Dina kesal
"Boda amatlah lebih baik aku menemui nenek"
Tok tok
"Masuk"
Dina masuk ke dalam kamar nenek Dharma.
Pukul 10 pagi
Dina yang selesai mengobrol dengan nenek kembali ke kamar Danial. Saat dia masuk ke kamar, Dina melihat Danial yang tengah mengobati lukanya.
Dina yang melihat Danial agak kesulitan mengobati lukanya pun menghampiri Danial.
"Biar saya bantu"
Danial mencegah Dina mengambil alih, dia bergeser agak jauh dari Dina.
"Anda akan kesulitan jika melakukannya sendiri jadi biar saya bantu" ucap Dina hendak mengambil obat di tangan Danial.
Danial tak menjawab dia bergeser semakin jauh dari jangkauan Dina.
"Hah.... " Dina menghela nafas
"Baiklah kalau anda tidak mau" ucap Dina
Dina melangkah ke arah ranjang, lalu masuk ke dalam selimut, Dina sangat mengantuk jadi dia akan tidur.
Keesokan harinya pukul 12.30 Siang.
Danial yang merasa bersalah karena sejak kemarin mengabaikan Dina, dia mencari Dina untuk minta maaf.
"Nek, nenek lihat Dina tidak?" tanya Danial
"Istri sendiri tanya ke nenek" ucap nenek Dharma yang sedang menonton TV sambil merajut.
"Bukankah tadi nenek bersama Dina?"
"Memang"
"Lalu kemana sekarang?"
"Dina pulang ke rumah orang tuanya, katanya dia rindu"
"Apa? kenapa nenek biarkan dia pergi?"
"Biarkan saja toh di sini suaminya tak mau bicara dengannya" sindir nenek
"Nenek" keluh Danial
__ADS_1
"Apa?!" Tanya nenek Dharma sambil menatap wajah cucunya.
"Bagaimana kalau keluarganya tahu dia hamil nek? bisa gawat ini" ucap Danial
"Gak bakalan toh perutnya masih kecil, makanya kalau gak mau pusing sembunyi-sembunyi cepat kasih tahu semua keluarganya kalau kamu sudah menikahinya kalau bisa umumkan pada semua orang"
"Arghhh!" Danial berteriak lalu dia pergi ke kamarnya.
"Rasakan itu" ejek nenek Dharma menertawakan cucunya.
Di rumah Dina
"Assalamualaikum, Bu masak apa?"
"Waalaikumussalam, Dina? Kamu pulang nak"
"Iya bu, Dina di kasih jatah libur" ucap Dina sambil mengecup punggung tangan ibunya.
Ibu Dina tersenyum lalu kemudian dia nampak seperti menyadari sesuatu, Dina yang paham pun nampak takut.
"Kamu tambah gemuk Dina"
"Benarkah?" tanya Dina sambil tersenyum, dia pura-pura tidak tahu.
"Iya, pipi mu tambah chubby, kerja di sana enak ya" ucap Ibu Dina sambil tersenyum.
"Emm begitulah bu, majikan Dina baik"
"Yang waktu itu kan? kamu suka ya.." ledek ibu Dina
"Apa sih bu, dia mah seleranya bukan kayak Dina" ucap Dina menyangkal
"Ya siapa tahu kan, majikan mu itu sangat tampan, sopan juga"
"Oh iya bu, dimana yang lain?" tanya Dina mengubah pembicaraan.
"Kamu datangnya telat"
"Telat kenapa bu?"
"Ayah sama adik mu lagi ke luar kota"
"Adik mu ikut lomba tahfidz"
"Ohh jadi sekarang lombanya"
"Besok, tapi berangkatnya sekarang"
"Ibu kok gak ikut?"
"Enggak, karena ibu tahu kamu bakalan pulang kalau ibu ikut kamu gak bakalan ketemu siapapun" ucap ibu sambil terkekeh
"Ha ha ha"
"Lagi pula sudah ada paman mu yang ikut selain ayah"
"Ohh paman juga ikut ternyata"
"Iya"
"Keadaan ayah bagaimana bu? sehat?"
"Alhamdulillah ayah sehat"
"Syukurlah"
"Kamu sudah makan belum?" tanya ibu Dina
"Belum bu"
"Duduklah dulu masakannya sebentar lagi matang"
"Iya bu"
2 hari kemudian
Dina pulang ke Mansion nenek Dharma.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumussalam" jawab nenek
"Sudah pulang" ucap nenek sambil tersenyum ke arah Dina.
"Iya nek" Dina mengecup punggung tangan nenek.
"Wah sepertinya kamu tambah berisi" ucap nenek setelah melihat perubahan Dina selama dua hari di rumah orang tuanya.
"Tidak juga kok nek, oh iya nek Dina bawa Oleh-oleh untuk nenek"
"Apaan tuh" ucap nenek penasaran.
Dina mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik yang dia bawa.
"Ini ada kerupuk sama petis khas tempat Dina nek, Ini kerupuk udang dan ini petisnya"
"Wah kelihatannya enak" ucap nenek sambil mencium aroma petis yang di bawa Dina
"Tentu saja nek, Dina sudah sering coba jadi Dina belikan untuk nenek"
"Kamu kok beli banyak sekali?"
"Iya sekalian di bagikan ke bik Dahayu dan yang lain"
"Ohhh, mereka pasti suka" ucap nenek Dharma sambil tersenyum.
"Iya nek"
"Ekhhhmmm"
Seseorang datang dan berdehem seperti sedang batuk. Dina dan nenek Dharma menoleh ke arah deheman seseorang yang tak lain adalah Danial.
Lalu mereka kembali fokus ke oleh-oleh yang Dina bawa dan mengabaikan Danial.
"Nenek dengar di petis di tempat mu sangat enak"
"Nenek mau coba sekarang? kalau nenek mau coba Dina akan buatkan sekarang"
"Boleh, tapi kamu tidak lelah?"
"Tidak sama sekali nek" ucap Dina sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo ke dapur"
"Iya"
Sesampainya di dapur Dina sudah siap mengolah petis yang dia bawa.
"Nenek mau makan sama buah atau tidak? kalau mau sama buah akan Dina buat agak manis kalau mau makan sama nasi akan Dina buat sedikit asin"
"Makan sama buah aja deh, tadi nenek sudah sarapan"
"Oke nek"
Tak lama kemudian Dina sudah selesai membuat bumbu rujaknya dan nenek sudah selesai mengupas buah di bantu bik Dahayu.
Mereka melangkah ke ruang keluarga. Danial masih duduk di sana sambil menonton TV.
Dina dan nenek duduk lesehan di atas karpet.
"Bik ayo gabung" ajak Dina
"Terima kasih non, nanti bibik buat sendiri saja dengan yang lain"
"Oh baiklah bik, oh iya ini untuk bibik dan yang lain. Tolong di bagikan ya" ucap Dina sambil memberikan kantong plastik berisi oleh-oleh yang dia bawa.
"Biak non terima kasih, kalau begitu saya permisi"
"Iya"
Dina dan nenek Dharma mulai menikmati rujak buah mereka tanpa menawari Danial.
Beberapa menit kemudian Danial yang merasa di abaikan pun mematikan TV dan beranjak dari tempatnya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Dina dan nenek Dharma pura-pura tak peduli.
.
.
__ADS_1
.