Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Pertemuan


__ADS_3

"Diam! jangan berteriak!" ucap orang itu dengan nada mengancam.


.


.


.


Reeha menganggukkan kepalanya, orang itu menyeringai lalu melepas bekapannya.


"Siapa kau!" ucap Reeha


"Ha ha ha ha kamu sungguh tidak mengingat ku atau hanya pura-pura" ucap seorang pria yang tak lain adalah Danial.


"Dina ternyata karena ini aku tidak pernah menemukan mu, kamu menyembunyikan diri mu dengan sangat baik" ucap Danial sambil menyentuh ujung cadar yang di pakai Reeha.


"Siapa Dina? aku bukan Dina" ucap Reeha


"Kalau kamu bukan Dina lalu siapa?" tanya Danial sambil menatap kedua bola mata indah perempuan di hadapannya.


"Reeha nama ku Fareeha" jawab Reeha.


"Kamu pikir aku bodoh Dina? jangan pikir aku tak tahu nama asli mu DINA FAREEHA" ucap Danial sambil menekan kalimat 'Dina Fareha'.


Glek


Mata Reha bergetar.


"Lihat, mata mu bergetar" ucap Danial menyeringai.


"Lepaskan saya, anda salah orang" ucap Reeha memberontak.


Danial mendekatkan wajahnya ke telinga perempuan yang dia panggil Dina.


"Bagaimana mungkin aku salah orang darling, suara merdu mu saat mendesah di atas tubuh ku masih terngiang jelas di telinga ku DINA. Jadi aku tidak mungkin salah orang" ucap Danial lalu di menjauhkan wajahnya dan menatap perempuan bercadar itu.


"Lepaskan anda salah orang saya bukan Dina!" sentak Reeha, dia kembali memberontak tapi tenaga Danial jauh lebih kuat darinya.


"Berhenti membohongi ku Dina!" teriak Danial sambil mencengkram kuat dagu Reeha.


Reeha meringis kesakitan.


"Tolong lepaskan saya tuan, anda salah orang" lirih Reeha.


"Masih saja mengelak" ucap Danial mengeraskan rahangnya.


Reeha terus memberontak dan Danial melepas paksa cadar yang menutupi wajah Reeha.


Reeha memejamkan matanya air matanya perlahan mengalir.


Saat ini dia sudah tidak bisa lagi mengelak dari pria di hadapannya itu.


'Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan dia, aku ingin kontrak ini segera berakhir, rasanya aku ingin merobek surat kontrak itu saat ini juga Dani'


Ucapan Danial terngiang-ngiang di telinga Reeha yang tak lain adalah Dina.


Danial menyeringai.


"Lihat wajah mu ini, bagaimana mungkin aku bisa salah orang. Kau jelas-jelas adalah Dina, Dina Fareeha istri ku" ucap Danial sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Dina.


Reeha yang tak lain adalah Dina membuka kelopak matanya dan menatap tajam Danial.

__ADS_1


"Sudah 5 tahun berlalu ternyata kamu sudah banyak berubah" ucap Danial sambil menyentuh kerudung yang menutupi kepala Dina.


"Apa mau anda" tanya Dina dengan tatapan tajam.


"Mau ku?" tanya Danial sambil terkekeh, suara Danial terdengar sangat menyeramkan di telinga Dina.


"Aku mau kamu membayar semua rasa sakit yang aku dan anak-anak ku rasakan" bisik Danial di telinga Dina, bisikan itu benar-benar terdengar sangat menakutkan.


"Untuk apa saya membayar semua penderitaan anda? hal ini tidak ada hubungannya dengan saya" ucap Dina sambil menatap tajam Danial.


"Tidak ada hubungannya kamu bilang?" tanya Danial.


"Tentu saja ini ada hubungannya dengan mu Dina!" teriak Danial.


"Tidak! tidak ada hubungannya dengan saya! saya sudah menyelesaikan perjanjian di antara kita. Anda membayar saya dan saya sudah memberikan anda anak! semuanya sudah selesai tepat saat anak itu lahir" ucap Dina emosi.


"Saya bahkan memberikan anda lebih, karena saya melahirkan bayi kembar. Itu sudah lebih dari cukup!"


"Apa kau menganggap anak mu hanya barang yang di tukarkan dengan uang hah?!" teriak Danial.


"Ya anggap saja seperti itu!" jawab Dina lantang.


"Tega sekali, tega sekali kamu mengatakan itu Dina! mereka anak-anak mu sendiri! darah daging mu sendiri!" teriak Danial.


Danial mengepalkan kedua tangannya rahangnya mengeras, dia sangat marah. Ingin rasanya di memukul wanita di hadapannya itu tapi dia tidak bisa melakukan itu.


"Kamu harus kembali ke rumah, anak-anak sudah sangat lama menunggu mu" ucap Danial mencoba meredakan amarahnya.


"Apa maksud anda tuan? saya bahkan belum pernah menikah" ucap Dina sambil menyeringai.


"Anda cari saja apakah nama saya pernah tertulis di KUA? tidak bukan? lalu bagaimana bisa saya punya anak? itu lebih tidak masuk akal TUAN" ucap Dina sambil tersenyum mengejek ke arah Danial.


Danial memejamkan matanya berusaha menekan amarahnya.


"Jadi kamu harus ikut aku kembali ke rumah" ucap Danial meraih lengan Dina.


"Tidak! Saya tidak akan ikut!" ucap Dina menyentak tangan Danial.


"Kamu masih tidak mau pergi?!" sentak Danial.


"Tidak!" tolak Dina dengan lantang.


"Kalau begitu maafkan aku, tapi inilah cara ku untuk membawa mu kembali aku tidak peduli walaupun kamu menolaknya" ucap Danial lalu dia langsung menyerang bibir Dina.


Bibir yang sangat dia rindukan.


"Hmmppppp!!" Dina memberontak tapi Danial tak melepaskannya begitu saja.


Danial ******* bibir Dina dengan sangat kasar. Dina memukuli tubuh Danial namun Danial tak berkutik sedikit pun.


Dina terus memberontak, tapi semakin dia memberontak maka Danial akan semakin kasar.


Dina menggigit bibir Danial, Danial segera melepaskan ciumannya dia menyentuh bibirnya yang terluka akibat gigitan Dina


Danial menyeringai.


Dina menatap tajam ke arah Danial dengan nafas terengah-engah.


"Ternyata kamu semakin agresif" ucap Danial sambil menyeringai.


"Aku jadi semakin ingin membawa mu pulang dan mengurung mu di kamar" ucap Danial lalu dia melangkah ke depan hendak mencium kembali Dina.

__ADS_1


Plakkkk


Dina menampar wajah Danial saat pria itu kembali mendekat.


Danial menyentuh pipinya yang mendapat tamparan dari Dina lagi setelah beberapa tahun.


"Kau menampar ku?" ucap Danial sambil menyeringai.


"Anda memang pantas mendapatkan itu!" Ucap Dina dengan suara seraknya dan nafas yang terengah-engah.


Setelah mengatakan itu Dina mengambil cadar yang tergeletak di lantai lalu pergi dari sana sambil memasang kembali cadarnya.


Dina melangkah keluar dari gedung dengan langkah cepat. Dia takut Danial akan menangkapnya dan menculiknya.


"Dina kenapa lama sekali?" tanya Dzafir.


"Maaf toiletnya penuh" ucap Dina sambil tersenyum .


"Kamu menangis?" tanya pria itu.


"Tidak, tadi mata ku tidak sengaja kecolok jari"


Pria itu terdiam kemudian dia tersenyum.


"Dasar ceroboh" ucap Dzafir.


Dina hanya tersenyum.


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang" ucap Dzafir


"Iya"


Mereka berdua melangkah ke tempat parkir.


Sedangkan tak jauh dari sana Danial mengamati interaksi Dina dan pria itu, Danial menyentuh bekas tamparan Dina yang sangat menyakitkan.


Sebenarnya bukan bekas tamparannya yang menyakitkan tapi hatinya, hatinya sangat sakit melihat Dina pergi darinya dan malah bersama pria lain.


"Bos, anda tidak menghentikan mereka?" tanya Dani.


"Tidak perlu, lain kali saja" jawab Danial dengan lemah.


Dani menoleh ke arah Danial.


"Bos wajah anda" ucap Dani sambil menunjuk pipi Danial yang merah. Kulit Danial yang putih membuat bekas tamparan di wajahnya terlihat jelas.


Danial tersenyum kecut "Setelah 5 tahun inilah yang aku dapatkan darinya" ucap Danial


"Nona Dina menampar anda?" tanya Dani terkejut.


Danial mengangguk .


"Ayo kita pulang anak-anak ku pasti sudah menunggu"


"Baik"


Mereka berdua melangkah keluar dari gedung, dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan gedung.


Dani melajukan mobilnya menuju rumah Danial.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2