Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Pergi (Season 2)


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Di sore hari.


Oekkk oekkk oekkk


Suara tangis bayi terdengar nyaring di salah satu kamar yang ada di Mansion nenek Dharma.


Setelah hampir sembilan bulan penuh Danial dan Dina tinggal di Vila milik nenek Dharma, sekarang Danial kembali ke mansion nenek Dharma bersama Dina dan kedua bayinya.


Oeekkk oeekkk


"Sabar sayang Om Dani lagi manggil mama" ucap Danial pada bayi-bayinya, padahal mereka masih belum mengerti ucapan Danial.


Di halaman belakang.


"Duh kemana dia?" tanya Dani yang tak menemukan keberadaan Dina.


"Nona Dina!" panggil Dani.


"Kalian sudah menemukan nona Dina?" tanya Dani pada para pekerja di mansion yang tadi ikut mencari Dina.


"Tidak ada tuan, kami sudah mencari ke seluruh mansion" ucap bik Dahayu.


"Kemana dia" gumam Dani.


"Cari lagi" ucap Dani pada para pekerja di sana.


"Baik"


Mereka mulai berpencar.


Dani memutar tubuhnya melihat ke sekeliling taman yang ada di belakang Mansion nenek Dharma.


Lalu netranya berhenti di sebuah bangku taman. Dani segera melangkah ke sana saat melihat sesuatu.


Dani nampak mengerutkan keningnya saat melihat sebuah kertas dan sebuah alat.


Dani memencet tombol di alat itu, sedetik kemudian matanya membulat. Danial segera berlari masuk ke dalam Mansion.


Dani mengambil ponselnya sambil berlari ke arah mansion.


"Cari nona Dina di sekitar mansion. Jika tidak ada, telusuri seluruh kota ini" ucap Dani yang sedang menelpon anak buahnya.


"Baik" sahut anak buah Dani dari balik sana.


Beberapa menit kemudian.


"Bos" panggil Dani yang datang dengan nafas terengah-engah.


"Kenapa lama sekali Dani? di mana istri ku? anak-anak butuh ASI"


"Bos..."

__ADS_1


"Kemana istri ku Dani?"


"Bos, nona Dina tidak ada" ucap Dani.


"Tidak ada bagaiman Dani? dia pergi ke mana? dia bahkan belum pulih sepenuhnya. Tadi dia pamit ingin cari angin di halaman belakang"


Oeekkk oekkk oekkk


"Tunggu sebentar ya sayang mama sebentar lagi datang" ucap Danial sambil menepuk-nepuk pelan bokong bayi-bayinya secara bergantian.


"Dani tolong cepat panggil istri ku"


"Maaf bos, tapi saya menemukan ini di atas meja taman yang ada di halaman belakang" ucap Dani sambil melangkah ke hadapan Danial.


"Apa itu?" tanya Danial.


Dani meraih telapak tangan bosnya lalu memberikan sebuah alat perekam suara.


"Apa ini Dani?" tanya Danial sambil meraba-raba benda yang di berikan Dani.


Dani menekan tombol yang ada di alat itu.


'Mas maaf aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada mu, tapi perjanjian kita sudah berakhir aku sudah memberikan anak pada mu bahkan bukan hanya satu tapi dua.'


'Sekali lagi maafkan aku, dan terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan untuk ku.'


'Maafkan aku karena aku tak berani pamit secara langsung pada mu, dan tolong ceraikan aku setelah kamu mendengar ini'


'Maaf tapi aku ingin kembali kepada kehidupan ku yang normal, yang sudah sangat aku nantikan'


'Aku tidak mengambil apapun yang kau berikan kecuali uang yang kamu berikan di awal perjanjian kita, aku mengembalikan semua yang kamu berikan selama ini. Karena jika aku menerimanya aku akan sangat merasa berdosa pada anak-anak kita...' ucapan Dina terhenti beberapa detik.


'Ah bukan... maksud ku anak-anak mu mas, mereka sudah bukan milik ku lagi karena dari awal itulah perjanjian kita'


'Aku mohon rawatlah mereka dengan baik dan sayangilah mereka dan tolong jangan cari aku mas, aku ingin hidup dengan tenang setelah ini. Dan aku mohon setelah ini ceraikan aku mas'


'Sekali lagi terima kasih untuk semuanya dan semoga kamu cepat sembuh. Maaf aku tidak bisa bersama mu sampai kamu sembuh'


Klik


Pesan suara yang di tinggalkan Dina sudah berakhir, Danial tak dapat berpikir apapun. Setelah mendengar itu air matanya sudah mengalir sejak pertama kali istrinya mengatakan maaf padanya.


"Kenapa? Kenapa Dina!! Kenapa kamu pergi!" Teriak Danial sambil menangis.


Dia beranjak dari ranjang hendak pergi mencari istrinya namun kondisinya yang saat ini tidak bisa melihat apapun membuatnya terjatuh.


Padahal biasanya dia tidak pernah jatuh karena kondisi matanya. Danial sangat terpukul saat mengetahui istrinya pergi.


Dani yang masih berada di sana mencoba menenangkan bosnya.


"Bos bos tenanglah bos"


"Bagaimana aku bisa tenang Dani! istri ku pergi meninggalkan ku dan bayi-bayi kami, aku tidak bisa tenang Dani! aku harus pergi mencari istri ku!" teriak Danial murka.

__ADS_1


"Tenanglah bos, bagaimana anda akan mencari nona Dina dalam keadaan begini? anda harus tenang dulu dan juga pikirkan si kembar mereka butuh papanya di saat seperti ini" ucap Dani, dia tak tega melihat keadaan Danial yang seperti ini.


Mendengar 'si kembar' di sebut membuat Danial sedikit lebih tenang, suara tangis anak-anaknya membuat dia tersadar bahwa anak-anaknya sangat membutuhkan dia saat ini.


"Antar aku pada anak-anak ku Dani" ucap Danial.


"Baik"


Dani membantu Danial menghampiri anak-anaknya.


Oekkk oekkk


"Hiks hiks hiks. Maafkan papa sayang, maafkan papa" ucap Danial sambil memeluk kedua bayinya sambil menangis.


"Bos sebaiknya kita urus terlebih dahulu si kembar, mereka pasti lapar"


Danial melepas pelukannya dari kedua bayinya.


"Dani tolong segera belikan susu formula untuk si kembar" ucap Danial di sisa-sisa tangisnya.


"Baik bos"


"Tolong cepatlah Dani, aku tidak mau anak-anak ku yang malang ini sakit"


"Baik bos" ucap Dani lalu berbalik hendak keluar dari sana.


Namun sesaat netranya melihat sebuah tas bayi yang tergeletak di samping nakas yang berada di dekat ranjang Danial.


Dani melangkah mengambil tas bayi itu kemudian membukanya.


"Bos di sini ada susu formula" ucap Dani.


"Dimana?" tanya Danial.


"Ada tas bayi cukup besar di dekat nakas, semua perlengkapan si kembar ada di dalamnya, mungkin nona bos sudah mempersiapkannya"


Danial memejamkan kelopak matanya berusaha menahan sesak yang ada di dadanya saat ini.


"Tolong segera seduhkan Dani, minta tolong pada bik Dahayu"


"Baik bos" ucap Dani dan segera berlari keluar.


"Dina kenapa kau melakukan ini? jika kau masih peduli pada anak-anak seharusnya kau tidak pergi" ucap Danial dalam hati sambil menyeka air matanya.


"️Ada apa ini Danial?" tanya nenek Dharma yang baru saja datang, beliau baru saja kembali ke mansion setelah menemui teman-temannya.


Nenek Dharma langsung naik ke kamar cucunya saat mendengar suara cicitnya yang menangis sangat kencang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2