Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Terungkap


__ADS_3

Mendengar ucapan Danial, Dina beranjak dari duduknya. Tapi dengan cepat Danial menahan lengannya dan membuat Dina kembali duduk.


.


.


.


"Saya tidak mau mendengar omong kosong anda" ucap Dina sambil menatap dingin ke arah Danial.


"Dengarkan dulu penjelasan ku" ucap Danial sambil menatap wajah Dina yang nampak menahan api cemburu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Dina, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Dara, dia bukan kekasih ku. Aku sama sekali tidak punya kekasih" ucap Danial mencoba menjelaskan pada Dina.


"Lagian apakah aku pernah mengatakannya dengan jelas bahwa kami kekasih? tidak bukan? aku bahkan tidak pernah mengiyakan anak di kandungan Dara adalah anak ku. Begitu juga dengan Dara, dia tidak pernah mengatakan aku kekasihnya ataupun ayah anaknya"


"Lalu kenapa kalian tidak menjelaskannya pada saya?!" tanya Dina kesal.


"Kamukan tidak pernah tanya, salah sendiri tidak tanya dan malah salah paham" ucap Danial sambil terkekeh pelan.


Dina menatap tajam Danial.


"Lalu anak siapa itu?!" tanya Dina ketus.


"Tentu saja itu anak suaminya" jawab Danial.


"Apa?" tanya Dina terkejut.


"Kapan mbak Dara menikah?" tanya Dina.


"Sekitar beberapa bulan yang lalu" jawab Danial.


"Dengan siapa?" tanya Dina.


"Coba tebak" ucap Danial sambil tersenyum ke arah Dina.


"Anda?" tebak Dina dengan wajah datarnya.


"Tck kamu ini" ucap Danial sambil menyentil kening Dina.


"Sakitttt!" Pekik Dina sambil menyentuh keningnya.


"Kamu tidak akan percaya siapa suaminya" ucap Danial.


"Tidak saya percaya, anda suaminya" jawab Dina dengan wajah datarnya sambil mengusap keningnya.


"Ya Allah, Dina. Jangan cemburu buta begitu" ucap Danial.


"Siapa yang cemburu buta?! saya? ha ha tidak mungkin" Elak Dina.


"Apa susahnya tinggal bilang cemburu" gumam Danial.


"Apa?" tanya Dina.


"Dani" ucap Danial.


"Apanya Dani?" tanya Dina.


"Dani suami Dara" jawab Danial.


"Jangan bohong" ucap Dina.


"Untuk apa aku bohong, kalau kamu tidak percaya akan aku tunjukkan fotonya pada mu" ucap Danial mengambil ponselnya kemudian membuka galeri ponselnya.

__ADS_1


"Ini lihatlah" ucap Danial sambil memberikan ponselnya pada Dina.


Dina menggeser foto-foto pernikahan Dani dan Dara ke samping.


"Ini pasti editan" ucap Dina tak mau percaya.


"Astagfirullah, Dina ini nyata!. Untuk apa aku susah-susah mengedit foto mereka. Kalau kamu tidak percaya aku akan meminta mereka untuk menjelaskannya pada mu" ucap Danial yang sudah sangat frustasi menghadapi Dina.


Dina melempar ponsel Danial pada pemiliknya, Danial langsung menangkap ponselnya yang di lempar begitu saja oleh Dina.


"Jadi kalian membohongi saya?" tanya Dina dengan nada suara yang terdengar sangattt dingin dan di tambah wajah datarnya.


"Maaf Darling aku hanya..."


Plaakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Danial. Hal itu membuat Danial sangat terkejut dan reflek menyentuh pipinya.


"Sayang kamu menampar ku?" tanya Danial tak percaya.


Sekali lagi Dina mengangkat tangan kanannya membuat Danial langsung melindungi wajahnya dengan tangannya.


Tapi tangan Dina hanya berhenti di udara.


"Dasar menyebalkan!" ucap Dina dan langsung pergi dari sana meninggalkan Danial.


"Dina" panggil Danial


Brakkk


Dina menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang.


"Dia pasti sangat marah, hisss tamparannya perih sekali" ucap Danial sambil mengusap-usap pipinya.


Dina mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Saat ini dia sedang melaju menuju rumah orang tuanya. Dia sudah tidak mood untuk pergi ke kantornya.


"Menyebalkan mereka membodohi ku" gerutu Dina sangat kesal.


"Awas saja kalian"


"Saya kamu lihat kan papa mu itu pria yang seperti itu. Papa mu tega sekali membodohi mama" ucap Dina pada janin di kandungannya.


"Anak mama yang baik, kamu harus mendukung mama. Berhenti mendukung papa mu sayang" ucap Dina pada janinnya.


Karena selama beberapa hari ini bayinya itu akan selalu marah jika Dina marah-marah pada Danial.


Dengan cara membuat Dina mual dan lemas seharian dan berakhir Danial lah yang merawatnya.


"Sepertinya kamu setuju dengan mama kan sayang" ucap Dina tersenyum sambil mengusap lembut perutnya sebentar.


Ya mungkin kali ini janinnya tengah mendukung dirinya, terbukti sejak tadi Dina terus mengomel tentang Danial tapi sang jabang bayi diam dan tak membuatnya mual.


"Sekarang kita akan ke rumah nenek dan kakek, kita menginap di sana beberapa hari. Biarkan saja papa mu yang menyebalkan itu sendirian di rumah"


Beberapa jam kemudian Dina sampai di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Kamu di sini nak, kenapa tidak bilang kalau mau pulang?" tanya ibunya.

__ADS_1


Dina mengecup punggung ibu dan ayahnya yang sedang duduk di teras.


"Iya bu dadakan. Dina ke dalam dulu ya, capek mau istirahat" ucap Dina.


"Iya, istirahatlah. Kalian pasti lelah" ucap ibunya sambil tersenyum.


"Hah? Kalian?" tanya Dina terkejut, dia bahkan sampai menoleh ke belakangnya takutnya ada seseorang yang tanpa dia sadari ikut dengannya.


"Ya bukankah kamu sedang hamil" ucap ibunya sambil tersenyum sang ayah pun nampak ikut tersenyum


"Dari mana kalian tahu aku...? pasti kak Dzafir yang memberitahu kalian kan?" tuduh Dina.


"Tidak bukan aku" jawab seseorang yang keluar dari dalam rumah Dina dengan sebuah nampan berisi 3 gelas teh hangat.


"Kakak? kenapa kakak di sini? sejak kapan?" tanya Dina mengajukan banyak pertanyaan pada Dzafir.


"Dari kemarin, kenapa? Kakak tidak boleh berkunjung?" tanya Dzafir.


"Bukan begitu, ah sudahlah. Katakan apa kakak yang memberitahu ibu dan ayah?" tanya Dina.


"Sudah kakak katakan, bukan kakak. Apa kamu tidak tahu suami mu kemarin ke sini" ucap Dzafir.


"Apa?" tanya Dina terkejut.


"Kamu tidak tahu?" tanya Dzafir.


"Tidak untuk apa aku tahu" jawab Dina acuh.


Dzafir tersenyum mengejek ke arah Dina.


"Cepat jelaskan pada ku jangan membuat ku penasaran" ucap Dina.


Mereka terkekeh pelan melihat ketidak sabaran Dina.


"Bukankah ibu pernah bilang, suami mu sesekali berkunjung ke sini dengan si kembar" ucap ibu Dina.


"Jadi kemarin dia datang ke sini dengan si kembar?" tanya Dina.


"Oh kalau kemarin dia datang sendirian" ucap ibunya.


"Sendirian, nyetir sendiri?" tanya Dina.


"Iya"


"Dia membohongi ku lagi" Gerutu Dina dengan wajah kesalnya.


"Lalu apa yang dia lakukan di sini?" tanya Dina.


"Suami mu minta izin pada kami untuk membawa mu pulang ke rumahnya dan mengadakan akad nikah ulang dengan mu dan juga mengadakan resepsi" ucap ibu Dina.


"Tck, tidak akan ada akad nikah ulang atau pun resepsi. Sebentar lagi kami akan bercerai" jawab Dina.


"Apa?" tanya Ibu dan ayah Dina yang terkejut.


Sedangkan Dzafir menggeleng pelan melihat keras kepala adik sepupunya.


"Apa maksud mu nak? suami mu bilang sudah mendaftarkan nama kalian di KUA" ucap ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2