
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Dina.
"Hanya demam biasa, saya akan menuliskan resep obat untuk tuan" ucap Dokter.
"Baik" jawab Dina.
Beberapa saat kemudian.
"Terima kasih dok" ucap Dina yang mengantar Dokter keluar.
"Sama-sama nyonya, kalau begitu saya permisi"
"Silahkan Dok"
Dokter itu tersenyum kemudian pergi dari sana.
Dina mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, bisakah anda datang ke rumah" ucap Dina.
"..."
"Baik" ucap Dina.
Setelah menelpon, Dina masuk kembali ke dalam rumah dan naik ke lantai dua menuju kamar yang di tempati Danial.
Dina menyentuh kening Danial.
"Masih panas, aku kompres saja deh" ucap Dina.
Dina melangkah ke dapur untuk mengambil baskom dan air hangat untuk mengompres Danial.
20 menit kemudian.
Tok tok.
"Anda sudah di sini" ucap Dina sambil meletakkan handuk hangat di kening Danial.
"Iya"
"Tolong tebuskan obat untuk tuan anda" ucap Dina sambil memberikan resep obat pada Dani.
"Dia sakit apa?" tanya Dani sambil menerima resep obat dari tangan Dina.
"Demam" ucap Dina.
"Perasaan tadi saat saya mengantarnya ke sini dia baik-baik saja" ucap Dani.
"Entahlah, oh iya apa anda menikah dengan mbak Dara?" tanya Dina sambil menatap tajam ke arah Dani.
Glek.
"Anda tahu dari mana?" tanya Dani gugup.
"Dari dia" ucap Dina sambil menunjuk Danial.
"Jadi dia sudah mengatakan semuanya?" tanya Dani sambil menatap takut ke arah Dina.
"Ya" jawab Dina.
Dani menganggukkan kepalanya.
"Benar saya suami Dara" ucap Dani mengaku.
Dina merebut kembali resep obat di tangan Dani dengan cepat kemudian memukuli Dani dengan kertas itu.
"Dasar kalian membodohi saya, tega sekali kalian! dan juga bagaimana bisa anda membiarkan istri anda bermesraan dengan pria lain" omel Dina.
"Tunggu tunggu, bermesraan?" tanya Dani berusaha menghentikan Dina yang menyerangnya.
"Ya, dia selalu merangkul tangannya" ucap Dina sambil menunjuk Danial yang terlelap di ranjang.
"Dan juga menyelipkan rambut istri anda" lanjut Dina.
__ADS_1
Dani terdiam.
"Apa anda cemburu?" tanya Dani sambil tersenyum ke arah Dina.
"Istri mana yang tidak cemburu!" ucap Dina ngegas, dia tanpa sadar mengakui statusnya.
Dani terkekeh pelan.
"Maaf, sebenarnya itu rencana kami, agar anda cemburu" ucap Dani.
"Dasar menyebalkan. Lihat saja nanti apa yang akan saya lakukan pada kalian" ancam Dina.
"Ini resep obatnya" ucap Dina, dia mengembalikan resep obat Danial pada Dani dengan nada suara yang masih terdengar kesal.
"Saya akan ke apotek sekarang" ucap Dani.
Dina menganggukkan kepalanya.
Dani melangkah pergi dari sana.
Dina kembali duduk di ranjang lalu mengambil handuk di kening Danial kemudian mencelupkannya kembali ke dalam air hangat lalu meletakkan kembali di kening Danial.
"Dasar menyusahkan, kenapa harus sakit sekarang. Aku kan mau mengomeli anda dulu" Gerutu Dina.
Malam harinya, pukul 7 malam.
Danial terbangun, dia merasakan sesuatu di keningnya lalu menyentuh handuk di keningnya.
"Apa aku demam?" tanya Danial sambil menatap handuk yang dia pegang.
Danial bangun dan duduk menyandar di Headboard, lalu dia meletakkan handuk itu di baskom yang ada di nakas.
Tak lama kemudian Dina melangkah masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi bubur di tangannya.
"Oh anda sudah bangun, tadinya saya mau membangunkan anda" ucap Dina, lalu dia meletakkan nampan yang dia bawa di atas kasur tepat di sebelah kaki Danial.
Tangannya terulur menyentuh kening Danial untuk mengecek suhu tubuhnya. Danial terus mengamati apa yang Dina lakukan.
"Hemmm demamnya sudah turun" ucap Dina pelan.
"Makanlah, setelah itu minum obatnya" ucap Dina sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur buatannya.
"Terima kasih" ucap Danial sambil menerima mangkok di tangan Dina.
Dina menganggukkan kepalanya.
Danial mulai memakan buburnya.
"Emm enak" ucap Danial setelah mencicipi bubur itu.
"Sudah lama aku tidak makan masakan mu" ucap Danial sambil menatap Dina.
"Bukan saya yang masak" ucap Dina menyangkalnya.
"Lalu siapa yang buat?" tanya Danial.
"Bik Dila" jawab Dina.
"Ohhh, aku pikir kamu yang masak. Karena rasanya persis seperti buatan mu" ucap Danial.
Beberapa menit kemudian bubur di mangkok itu sudah ludes berpindah ke dalam perut Danial.
"Obatnya" ucap Dina sambil memberikan obat itu pada Danial.
Danial segera memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Dan mengambil air minum yang di sodorkan Dina.
Danial meletakkan gelas airnya di nakas.
"Anda pergi ke kantor?" tanya Dina.
"Iya" jawab Danial.
"Dengan siapa?" tanya Dina.
__ADS_1
"Dani" jawab Danial.
"Lalu?" tanya Dina.
"Lalu apa?" tanya Danial sambil menatap Dina.
"Lalu dimana gips di tangan dan kaki anda?" tanya Dina sambil menunjuk lengan dan kaki Danial dengan dagunya.
Glek
"Sial aku lupa" ucap Danial dalam hati.
"Katakan" ucap Dina sambil menatap wajah Danial dengan datar.
"Oh... i...tu dokter sudah memperbolehkan ku melepas gipsnya" ucap Danial nampak gugup.
"Benarkah?" tanya Dina tak percaya.
"Iya"
"Sejak kapan?" tanya Dina.
"Se..sejak tadi pagi" ucap Danial gugup.
"Ohhh"
Danial menganggukkan kepalanya dengan lega.
"Lalu kenapa saat anda ke rumah orang tua saya anda bisa menyetir sendiri?" tanya Dina.
Cetttarrr
"Mampus kamu Danial" ucap Danial dalam hati.
"Itu..."
"Apa sejak saat itu anda sudah boleh melepas gipsnya? tapi kenapa anda masih memakainya sampai kemarin?" selidik Dina.
"Ituuu..."
"Anda berbohong kan?" Dina memotong ucapan Danial.
"Tidak sayang aku..."
"Dasar pembohong, katakan kebohongan apa lagi yang anda sembunyikan" ucap Dina yang sudah sangat kesal.
"Dina tidak, tidak ada kebohongan lagi" ucap Danial mencoba membujuk Dina.
"Jadi anda mengakui tentang patah tulang anda" ucap Dina sambil bersendekap dada.
"Hahhh... Iya, aku berbohong tapi aku sungguh terluka, ini" ucap Danial sambil menunjuk luka di sikunya.
"Ya untuk itu saya percaya" ucap Dina, dia percaya untuk luka di siku Danial karena dia sudah pernah melihat lukanya saat membantu Danial mengobati lukanya itu.
"Anda sudah berbohong dua kali pada saya" ucap Dina dengan rasa kesalnya.
"Maaf sayang, aku hanya sedang berusaha membujuk mu, aku..." Danial benar-benar kelabakan.
"Mana ada membujuk dengan cara berbohong begitu!" tegas Dina.
"Maaf, habisnya kamu susah sekali di dekati jadi aku terpaksa" ucap Danial menunduk, sok di kasihani.
"Lihat saja nanti setelah anda sembuh rasakan akibatnya" ucap Dina dengan nada suara mengancam.
"Baiklah aku akan terima semua hukuman dari mu" ucap Danial pasrah.
"Tck dasar menyebalkan" ucap Dina dan beranjak dari sana.
"Hahh... habis kau Danial" gumam Danial sambil menatap punggung istrinya yang keluar dari kamar itu.
Keesokan harinya.
.
__ADS_1
.
.