Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Perubahan Danial


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Danial duduk termenung di ranjangnya sambil menyandar di Headboard.


"Mas" panggil Dina yang membuyarkan lamunan Danial.


"Hmmm?"


"Mas memikirkan apa?" tanya Dina sambil melangkah mendekati Danial.


Danial menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya berpikir, sepertinya keadaan ku sekarang ini adalah karma untuk ku" ucap Danial sambil terkekeh pelan.


Dina duduk di samping Danial.


"Apa maksud mu mas?" tanya Dina


"Selama ini mata ini aku gunakan untuk hal lain, aku menggunakan mata ini untuk melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lihat"


"Maksud mas tubuh para wanita-wanita itu?" tanya Dina tanpa filter


Danial terkekeh "Kenapa kamu harus memperjelasnya Darling"


Dina tertawa.


"Mas" panggil Dina


"Hhmm?"


"Apa sekarang mas menyesal?"


"Heemm" jawab Danial sambil mengangguk pelan.


"Mas pernah shalat?" tanya Dina


Danial menganggukkan kepalanya pelan.


"Pernah, tapi itu dulu. Sudah sangat lama sekali"


"Bagaimana kalau sekarang mas mulai shalat lagi? bersama ku?"


Danial terdiam cukup lama.


"Mas, malu Dina" ucap Danial


"Malu? pada siapa?"


"Mas malu kepada Allah, Dina. Mas sudah sangat lama meninggalkan shalat"


"Mas, Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sebanyak dan sebesar apapun dosa hamba-Nya akan dimaafkan serta di ampuni tatkala ia Bertaubat"


"Mas, mungkin pernah melanggar semua yang di larang Allah. Tapi mas, jika mas menyesal maka bertaubatlah bukannya malah semakin tidak mau melakukannya"


"Contohnya seperti ini, misalnya mas berbuat salah pada ku..."


"Kenapa mas yang berbuat salah pada mu? bukankah kamu yang sering berbuat salah pada mas?" Ucap Danial menyela ucapan Dina.


Dina tertawa.


"Tidak, mas lah yang sering berbuat salah pada ku, mas selalu membuat ku kesal" ucap Dina


"Itu kan dulu, lihat saja selama hamil pernahkah aku membuat mu kesal? tidak bukan?" tanya Danial tak mau kalah.


"Oke oke, misalnya aku berbuah salah pada mas, dan jika aku tidak minta maaf bukankah mas akan marah dan tidak memaafkan ku?" ucap Dina mengalah


"Jadi jika mas Danial berbuat salah dan tidak bertaubat sama seperti itu, Allah akan marah pada mas tapi jika mas minta maaf dan bertaubat maka Allah akan memaafkan semua kesalahan mu, mas"


"Jadi bagaimana apa mas mau? aku akan membantu mu mas"


"Apakah memang benar seperti itu?" tanya Danial


"Tentu saja, apa mas tidak percaya ucapan ku? aku ini Ning mas, Ning. Mas tahu sendiri kan?"


Danial terkekeh.

__ADS_1


"Ya Ning yang juga melanggar banyak aturan, bukankah seharusnya kamu memakai kerudung mu? tapi kamu tidak memakainya" sindir Danial


"Kalau itu jangan di bahas"


"Mana bisa seperti itu" protes Danial.


"Bisa mas, ada kok yang memperbolehkan tidak pakai kerudung asalkan pakaiannya tetap sopan"


"Ada saja alasan mu" ucap Danial sambil terkekeh.


1 bulan kemudian


Danial semakin mengalami banyak perubahan di hidupnya, sekarang dia juga sudah rajin shalat tentu saja dengan bantuan Dina yang dengan sabar membantu Danial.


Danial merasa sekarang beban di bahunya sudah lebih ringan dari sebelumnya.


Saat ini Dina tengah sibuk mencari ponselnya. Danial yang sejak tadi mendengar suara langkah kaki Dina yang bolak balik kesana-kemari pun akhirnya bertanya.


"Kamu cari apa?" tanya Danial


"Ponsel ku mas" ucap Dina


"Memangnya tadi kamu taruh mana?" tanya Danial


"Kalau aku ingat aku gak bakalan pusing cari ponsel ku mas" ucap Dina


"Iya juga ya, coba telpon pakai ponsel mas saja"


"Dari tadi kek mas bilangnya" ucap Dina cemberut.


"Mas kan gak tahu kamu lagi cari apa, makanya bilang" ucap Danial sambil terkekeh.


"Tahu ah" ucap Dina kesal.


Sedangkan Danial hanya bisa tersenyum mendengar kekesalan Dina. Kalau saja dia bisa melihat wajah kesal Dina dia pasti akan sangat suka melihatnya.


Karena wajah kesal Dina menjadi hiburan tersendiri untuk Danial. Dina melangkah mengambil ponsel Danial yang ada di nakas. Lalu Dina duduk di pinggir ranjang.


"Pinjem jarinya" ucap Dina


"Buat apa?" tanya Danial


"Astagfirullah, Dina mulutnya. Sekarang mulut mu kok gitu sih" ucap Danial terkejut saat mendengar ucapan Dina.


"Ketularan mas"


"Makin berani kamu ya, mentang-mentang mas gak bisa langsung nyerang kamu lagi"


"Weekkk" ledek Dina


"Ayo cepat pinjam jarinya, mas"


"Buat apa sih"


"Buka ponsel mu mas!"


"Oohhh bilang dong dari tadi"


Dina menarik tangan Danial dan mengarahkan ibu jarinya ke fingerprint sensor layar ponsel Danial.


Setelah ponsel terbuka Dina membuka kontak di ponsel Danial, dia mengetik namanya.


"Mas nama ku gak ada di kontak ponsel mu?" tanya Dina


"Ada kok, mas simpen" ucap Danial


"Namanya apa?" tanya Dina


"Cari aja Darling" ucap Danial


"Iya namanya apa dulu?" tanya Dina lagi


"Ketik saja Darling"


"Iya tahu aku tapi namanya apa... " Dina menghentikan kalimatnya perlahan.

__ADS_1


"Ohh namanya, Darling?"


"Iya Darling, kamu kok lemot banget sih" ucap Danial


"Ya maaf aku kan gak connect"


"Lama gak di cash nih makanya gak connect" ucap Danial sambil terkekeh.


"Hah?" tanya Dina


"Tuh kan gak connect lagi" ledek Danial


"Apaan sih? gak paham aku tuh" ucap Dina


"Sini bentar" ucap Danial meminta Dina mendekat.


"Ngapain?" tanya Dina


"Mas mau mengelus perut mu, perut mu pasti sudah tambah besarkan" ucap Danial


"Iya"


Dina merangkak naik ke ranjang, lalu dia duduk di sebelah Danial. Dina mengarahkan tangan Danial ke perutnya.


Danial yang merasakan tangannya sudah ada di atas perut Dina pun tersenyum, tangannya mulai bergerak lembut mengusap perut Dina yang mulai terlihat semakin besar.


"Sekarang sudah 5 bulan kan?" tanya Danial memastikan


"Iya"


Danial menundukkan tubuhnya ke dekat perut Dina.


"Baby kamu tambah besar ya sayang? baik-baik di dalam sana ya" ucap Danial lalu dia mengecup perut Dina.


"Mas"


"Hmmm?"


"Belum ada kabar dari rumah sakit ya?" tanya Dina


"Belum"


"Ya sudah tidak apa-apa, untuk sementara biar aku yang jadi mata untuk mu mas"


Danial tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, terima kasih selama sebulan ini kamu sudah menjaga mas"


"Sama-sama mas"


"Oh iya ponsel ku" ucap Dina yang kembali ingat dengan ponselnya.


"Mas pinjam jarinya lagi, ponsel mu terkunci lagi" ucap Dina lalu dia membuka ponsel Danial dengan ibu jari Danial.


Dina mencari nomer ponselnya lalu menekan tombol panggil.


Tutt tutt


"Mas denger tidak?" tanya Dina


"Enggak, mungkin gak ada di kamar"


"Masa sih? padahal seingat ku tadi ada di kamar deh. Pas aku bantuin mas mandi aku taruh ponsel ku di kamar, kok gak ada ya?" Ucap Dina yang sudah ingat di mana letak ponselnya.


"Kamu ingat tidak taruh di sebelah mana?" tanya Danial


"Di meja kayaknya, tadi pas mas manggil mau mandi aku tuh lagi pegang ponsel terus aku taruh di meja tapi sekarang gak ada"


Dina bergerak turun dari ranjang.


"Aku cari ponsel ku dulu ya mas"


"Iya"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2