Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Mereka Sudah Besar


__ADS_3

~papa~


Dina yang sedang duduk di ranjang dengan ponsel di tangannya seketika menoleh ke arah ponsel Danial yang ada di atas nakas, saat mendengar suara dua anak kecil dari ponsel Danial.


Lalu di menoleh ke arah kamar mandi, pria itu masih ada di dalam sana. Dia masih belum selesai mandi.


Dina ragu ingin melihat ponsel Danial atau tidak.


Karena rasa penasarannya, dengan ragu-ragu Dina mengambil ponsel Danial sambil sesekali menoleh ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Di gulirnya ke atas layar ponsel itu, dan ternyata langsung terbuka karena tak menggunakan kata sandi.


Seketika Dina membeku di tempat saat itu juga. Tubuhnya bergetar, perlahan air matanya pun mulai mengalir di pipinya.


Ternyata wallpaper di ponsel Danial adalah foto kedua anaknya yang tengah tersenyum manis.


Ini pertama kalinya Dina melihat wajah anak-anaknya setelah lima tahun berlalu.


"Mereka sudah besar" gumam Dina.


Di usapnya perlahan wajah kedua anaknya di layar ponsel Danial.


Tanpa Dina sadari Danial yang sudah keluar dari kamar mandi melihat apa yang sedang Dina lakukan dengan ponsel miliknya.


Karena posisi duduk Dina membelakangi pintu kamar mandi.


Danial melangkah ke arah Dina dengan perasaan tak menentu. Danial duduk di belakang istrinya kemudian memeluknya dari belakang.


"Kamu merindukan mereka?" tanya Danial dengan suara yang lembut.


"Ah maaf, tadi ponsel mas berbunyi" ucap Dina sambil mengusap air matanya dengan cepat dan segera mengembalikan ponsel Danial.


"Tidak apa-apa kamu bisa memandangnya sepuas mu, mereka juga anak-anak mu" ucap Danial sambil menyodorkan kembali ponselnya pada Dina.


"Tidak mas, aku sudah selesai" tolak Dina.


"Kamu tidak merindukan mereka?" tanya Danial sambil menatap wajah Dina.


Dina menggelengkan kepalanya namun sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Aku sangat merindukan mereka" ucap Dina, air matanya kembali turun.


"Kalau begitu temui mereka" ucap Danial dengan lembut dan menatap wajah Dina.


Dina menggeleng.


"Kenapa?" tanya Danial.


"Aku takut" ucap Dina sambil menunduk.


"Apa yang kamu takutkan sayang?" tanya Danial sambil mengusap air mata di pipi Dina.


Dina menatap wajah Danial.


"Awalnya mas tidak tahu alasan mu pergi dari kami, tapi sekarang mas sudah tahu alasannya dan yang mas tahu kamu tetap ibu mereka. Anak-anak kita sudah sangat merindukan mu sayang, kamu ibu mereka"


"Tapi bagaimana jika mereka membenci..."


"Suttt... mereka tidak akan membenci mu, kamu ibunya dan akan tetap seperti itu sampai kapan pun"


"Aku merasa tidak pantas untuk menemui mereka" ucap Dina sambil menunduk dan menangis.


"Pulanglah dan temui mereka sayang, anak-anak kita sudah sangat merindukan mu" ucap Danial dengan lembut.


Dina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku akan pulang tapi tolong beri aku sedikit waktu mas, aku tidak bisa tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Aku belum siap" ucap Dina sambil berderai air mata.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama" ucap Danial sambil mengusap air mata di pipi istrinya.


Dina menganggukkan kepalanya.


Danial menarik Dina ke dalam pelukannya, Dina menangis di pelukan Danial.


"Terima kasih mas, terima kasih sudah mau menerima ku hiks hiks"


Danial mengusap lembut kepala istrinya kemudian mengecupinya.


"Mas yang seharusnya berterima kasih pada mu sayang, dan maafkan sikap mas pada mu selama ini"


Dina mengangguk di dalam dekapan Danial.


Siang harinya.


"papa" teriak si kembar sambil berlari menghampiri papa mereka.


"Bagaimana sekolahnya sayang?" tanya Danial sambil memeluk kedua anaknya.


"Selu" ucap putrinya


"B aja pa, sama seperti biasanya"


"Kakak mah gak selu"


"Ke ke ke" Danial terkekeh.


"Ayo kita pulang"


"Ayo pa"


Bik Dahlia pun masuk ke dalam mobil majikannya bersama anak-anak majikannya.


"Anak-anak tidak menyusahkan bibik?" tanya Danial pada bik Dahlia.


"Tidak sama sekali Den" ucap bik Dahlia sambil tersenyum.


"Syukurlah"


"Papa adek mau ayam kentucky"


"Oke kita mampir ke KF*, bagaimana kak?" tanya Danial menanyakan pendapat putranya.


"Boleh pa" ucap putranya yang duduk di belakang bersama bik Dahlia.


Beberapa menit kemudian Danial membelokkan mobilnya ke arah restoran siap jadi.


Mereka turun dan masuk ke restoran itu.


Danial memesankan untuk anak-anaknya, dirinya dan juga bik Dahlia.


"Papa adek main ke sana ya" ucap putrinya sambil menarik-narik celana panjangnya.


"Iya sayang" ucap Danial menunduk menatap putrinya, dia masih berdiri di depan kasir untuk membayar pesanannya.


Putri Danial berlari ke arah tempat bermain yang di sediakan restoran itu di ikuti bik Dahlia di belakangnya.


"Nona kecil hati-hati" ucap bik Dahlia.


Brukk


"Aww"

__ADS_1


"Adek baik-baik saja?" tanya seseorang yang di tabrak putri Danial.


"Adek tidak apa-apa tante" ucap putri Danial sambil bangkit.


"Nona kecil anda tidak apa-apa?" tanya bik Dahlia yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri putri majikannya.


"Tidak apa-apa bibi" ucap putri Danial.


"Hahh syukurlah..." Bik Dahlia bernafas lega.


"Maaf tante tidak sengaja" ucap perempuan yang di tabrak putri Danial.


Putri Danial menggelengkan kepalanya.


"Maaf tante adek yang tidak berjalan hati-hati"


Perempuan itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah tante pergi dulu" ucap perempuan itu sambil mengusap lembut kepala putri Danial.


"Adek kenapa?" tanya Danial yang melangkah cepat ke arah putrinya dengan sang putra.


"Tidak apa-apa pa, adek cuma jatuh"


"Ada yang luka? coba papa lihat?" ucap Danial, dia berjongkok di depan putrinya sambil memutar tubuh putrinya untuk memastikan kondisi putrinya.


"Aduh adek pusing pa" keluh putri Danial sambil menyentuh kepalanya.


"Pusing? kita ke rumah sakit ya" ucap Danial panik.


Kedua anaknya menepuk jidat bersamaan.


"Papa, adek itu pusing karena papa putal-putal adek!" pekik putrinya.


"Ah maaf sayang" ucap Danial sambil terkekeh pekan setelah sadar apa yang dia lakukan.


Bik Dahlia nampak tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu, dia sangat paham kenapa Danial sampai panik begitu.


Karena tidak ada yang lebih penting dari mereka berdua, sejak bayi dia menjaga mereka sampai sudah sebesar ini.


Tentu saja bik Dahlia sangat paham akan hal itu.


"Sudah ah pa, adek mau main. Ayo kakak ikut adek" ucap putri Danial sambil menarik lengan kakaknya untuk bermain bersama dengannya.


"Hati-hati sayang"


"Iya papa celewet"


Danial terkekeh begitu juga dengan Bik Dahlia.


"Bik"


"Iya den?"


"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Danial.


"Tentu saja tidak den, anda orang tua mereka jadi sudah sewajarnya orang tua mengkhawatirkan anak-anaknya"


"Yang tidak wajar itu kalau orang tua malah menelantarkan anak-anaknya sendiri, banyak orang tua di luar sana yang tega membuang anak mereka atau pun yang tega menghabisi anak mereka"


"Padahal di luar sana juga banyak orang tua yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak, contohnya bibik"


Danial menoleh ke arah bik Dahlia.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2