Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Mau Makan Atau Mau Aku Cium


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Dani pada Dara.


.


.


.


"Aku masih mau di sini" ucap Dara.


"Ya sudah, kita pulang bersama saja" ucap Dani.


"Baiklah" jawab Danial.


"Lagi pula jika kami pulang duluan, takutnya kamu akan kerepotan menjaga Dina sendirian" ucap Dara.


"Benar" jawab Dani.


"Iya, terima kasih banyak" ucap Danial.


"Sama-sama, tapi bayarkan biaya kita selagi di sini ya" ucap Dara sambil tersenyum ke arah Danial.


Danial menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Dara.


"Eh tidak perlu Danial, aku masih ada uang" ucap Dani tak enak.


"Tidak apa-apa anggap saja bonus dari ku, uang mu simpan saja untuk biaya lahiran Dara nanti" ucap Danial pada Dani.


"Sungguh tidak perlu Danial, tabungan ku sudah lebih dari cukup untuk biaya bersalin Dara"


"Sudah jangan menolak, aku ke dalam dulu" ucap Danial sambil menepuk pelan pundak Dani. Lalu dia kembali ke dalam kamar inap Dina.


Setelah Danial masuk ke dalam, Dani menatap tajam ke arah istrinya.


"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Dara dengan wajah cemberutnya.


"Seharusnya tidak perlu bilang itu pada Danial" ucap Dani.


"Tidak apa-apa terima saja, aku juga bukannya tidak punya uang tapi dapat hadiah itu lebih menyenangkan" ucap Dara sambil tersenyum.


"Kamu ini" ucap Danial sambil mengetuk pelan kening Dara.


"Aww sakit" keluh Dara.


"Lebay, sudah ayo kembali ke penginapan" ucap Dani lalu pergi dari sana bersama Dara.


Di dalam ruang inap.


Danial yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Dina, langsung menghampiri Dina yang hendak bangun dari brankarnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Danial sambil menahan lengan Dina yang hampir saja jatuh.


"Anda sudah kembali? kenapa cepat sekali?" tanya Dina.


"Iya. Kamu mau kemana?" tanya Danial.


"Kamar mandi" jawab Dina.


"Sebentar, duduklah dulu" ucap Danial sambil mendudukkan Dina di brankar.


Danial melangkah dan mengambil kursi roda yang ada di sudut ruang inap.


"Ayo" ucap Danial sambil membantu Dina duduk di kursi roda.


Setelah Dina duduk di kursi roda. Danial mendorong kursi rodanya ke dalam kamar mandi, tak lupa juga dia membawa infus Dina.


Sesampainya di kamar mandi.


Danial membantu Dina duduk di atas closet yang sudah dia buka.


"Anda tidak keluar?" tanya Dina sambil mendongak menatap Danial yang masih berdiri di depannya.


"Kenapa?" tanya Danial.

__ADS_1


Dina memutar bola matanya malas.


"Tolong keluarlah Mr. Danial" ucap Dina.


"Kamu yakin bisa sendiri?" tanya Danial.


"Ya" jawab Dina.


"Baiklah, kalau butuh sesuatu panggil aku" ucap Danial.


"Iya"


Danial keluar dari kamar mandi.


Beberapa saat kemudian.


"Duh gimana manggilnya ya" gumam Dina.


Ceklek.


"Sudah selesai?" tanya Danial sambil menyembulkan kepalanya.


Dina menganggukkan kepalanya.


Tahu saja Danial jika Dina sudah selesai.


Danial melangkah masuk ke dalam kamar mandi, lalu membantu Dina duduk kembali di kursi rodanya.


Danial tak menggendong Dina, dia lebih memilih menggunakan kursi roda untuk membantu Dina.


Karena jika Danial menggendong Dina, Danial pikir akan sulit karena infusnya.


Sesampainya di brankar, Danial membantu Dina berbaring.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Danial sambil menatap Dina yang nampak pucat.


"Lemas, kepala saya juga sakit" jawab Dina sambil memijat keningnya.


Saat ini tubuh Dina benar-benar terasa lemas dan kepalanya terasa nyeri.


Dina menganggukkan kepalanya. Danial menekan tombol yang ada di dekat brankar.


Tak lama kemudian Dokter dan suster datang dan langsung memeriksa Dina.


Beberapa menit kemudian dokter selesai memeriksa Dina, dan saat ini Dina sudah terlelap setelah di beri suntikan oleh dokter.


Danial menatap sendu wajah Dina. Dia tak tega melihat Dina sakit seperti ini.


"Awas saja wanita itu" gumam Danial marah.


Danial yang merasa sangat mengantuk pun tanpa sadar tertidur di samping Dina dengan posisi duduk sedangkan kepalanya berada di atas brankar Dina.


Kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan Dina yang tidak di infus.


Malam harinya Dina terbangun. Sakit di kepalanya sudah mendingan, tapi tubuhnya benar-benar lemas dan pegal-pegal.


Pegal-pegal karena semalaman Danial menggempurnya beberapa kali, pria itu sepertinya sedang membalas lima tahun yang terbuang karena sudah lama tak melakukannya.


Wajah Dina memerah saat mengingat kejadian semalam.


Dina menggelengkan kepalanya cepat saat mengingat hal itu.


"Jangan di ingat Dina, ingat kamu akan menceraikannya setelah pulang ke Indonesia. Suami mu itu akan segera punya anak baru" ucap Dina dalam hati.


Tiba-tiba dia menjadi sendu saat mengingat Dara yang sangat bahagia dengan kehamilannya.


Dina menoleh ke sampingnya, dia melihat Danial yang masih tidur.


"Kenapa dia tidur dengan posisi seperti itu" gumam Dina saat melihat Danial.


"Kalian tidak berjodoh Dina, lupakan perasaan mu ini" ucap Dina dalam hati.


"Hahhh..." Dina menghela nafas panjang.

__ADS_1


Dina berusaha duduk, dia bergerak pelan agar tak membangunkan Danial. Tapi gerakannya ternyata membuat Danial terbangun.


"Dina" panggil Danial sambil menegakkan tubuhnya.


"Maaf membuat anda bangun" ucap Dina.


Danial menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa, bagaimana kondisi mu?" tanya Danial sambil menyentuh kening Dina.


Dina tersentak saat Danial menyentuh keningnya.


"Panas mu sudah turun, masih sakit kepala?" tanya Danial.


Dina menggelengkan kepalanya.


"Cuma lemas" jawab Dina.


Danial berdiri dari duduknya kemudian menekan tombol agar brankar Dina sedikit terangkat dan membuat Dina duduk menyandar.


Tok tok


Mereka berdua menoleh ke arah pintu yang di ketuk. Danial melangkah dan membuka pintu.


Ternyata yang mengetuk adalah suster yang membawa makan malam untuk Dina.


"Thank you" ucap Danial setelah menerima nampan berisi makanan dari rumah sakit untuk Dina.


"You're welcome sir" ucap suster.


Danial menutup kembali pintu, kemudian melangkah kembali ke arah Dina. Danial meletakkan nampan berisi makanan di nakas.


"Mau makan sekarang?" tanya Danial sambil menatap Danial.


Dina menganggukkan kepalanya.


Danial mengambil Overbed Table Food, kemudian meletakkan nampan makanan Dina di atasnya.


"Mau aku suapi atau makan sendiri?" tanya Danial sambil menatap Dina.


"Makan sendiri saja" ucap Dina, lalu dia mengambil sendoknya tapi ternyata tangannya tak kuat hanya untuk mengangkat sendok.


"Ya ampun" ucap Dina dalam hati.


Setiap panas tinggi, tenaga Dina seperti habis di serap. Dia bahkan tak bisa memegang sebuah sendok.


"Biar aku suapi" ucap Danial mengambil alih sendok dan semangkuk sup.


Danial menyendok sup kemudian menyuapi Dina setelah memastikan sup itu tak panas.


"Enak?" tanya Danial.


"Hambar" ucap Dina dengan wajah tak sukanya.


"Makanan orang sakit memang hambar bukan" ucap Danial.


"Lalu kenapa anda tanya apakah enak atau tidak?" tanya Dina cemberut.


Danial hanya terkekeh kemudian menyuapi Dina bubur.


"Sudah ah" tolak Dina.


"Ayo habiskan Dina, kamu baru makan beberapa suap saja"


"Tidak mau, tidak enak" rengek Dina.


"Namanya juga orang sakit sudah pasti makanannya tidak enak, ayo akkk" ucap Danial sambil mengarahkan sesendok bubur ke mulut Dina.


"Tidak mau"


"Mau makan atau mau aku cium" ancam Danial.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2