Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Malam Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya


Dina bangun dari tidurnya


"Kemana tuan Danial"


Dina turun dari ranjangnya lalu pergi ke kamar mandi, 15 menit kemudian Dina sudah keluar dari kamar mandi lalu dia duduk di meja rias


"Apa ini" ucap Dina lalu mengambil kertas note yang menempel di kaca meja riasnya


*** 'Maaf aku tidak berpamitan pada mu dulu, Dani menelpon pukul 3 pagi dan aku harus segera berangkat karena ada sedikit masalah di Bali. Jadi aku berangkat tanpa membangunkan mu karena kamu tidur nyenyak sekali. Maaf aku tidak bisa mengantar mu pulang, tolong sampaikan salam ku pada ayah, aku akan segera pulang. Jangan rindu'


Danial ***


"Tck siapa yang akan rindu pada anda" ucap Dina mencebikkan bibirnya


Dina bersiap-siap lalu berangkat pulang ke rumahnya dengan taxi yang sudah dia pesan


Beberapa jam kemudian Dina sudah sampai ke rumahnya dan seperti biasa dia akan memakai kembali kerudungnya saat pulang ke rumah.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Dina kamu pulang"


"Iya bu"


"Kamu libur? bukankah belum lama ini kamu pulang, majikan mu tidak marah?"


Dina mengecup punggung tangan ibunya


"Tidak bu, di rumah majikan Dina tidak ada orang. Majikan Dina keluar kota semua"


"Oh begitu"


"Ayah mana?"


"Ada di belakang, lagi kasih makan ikan"


"Ayah sudah sehat?"


"Alhamdulillah, sudah"


"Kalau begitu aku samperin ayah dulu ya bu"


"Iya"


Dina melangkah ke halaman belakang


"Ayah"


"Kamu di sini, nak"


"Iya, apa kabar yah?" tanya dina sambil mengecup punggung tangan ayahnya


"Baik, semua berkat mu dan su..."


"Suttt" ucap Dina sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya


"Oh iya ayah lupa" bisik ayah Dina


Dina tersenyum pada ayahnya walaupun di dalam hatinya dia merasa sangat bersalah saat melihat senyum dari ayahnya dan juga ibunya.


"Suami mu mana?" tanya ayah Dina berbisik


"Tu... ah, Ma...mas Danial lagi keluar kota, karena itulah aku pulang ke sini sendirian"


"Benarkah? kamu tidak bertengkar dengannya, kan?" tanya ayah Dina masih berbisik


"Tidak yah, kalau ayah tidak percaya lihatlah ini" ucap Dina sambil mengambil note yang di tulis Danial


Ayah Dina membaca tulisan yang ada di kertas itu


"Syukurlah kalau kalian tidak bertengkar" ucap ayah Dina sambil mengembalikan kertasnya pada Dina


"Iya yah kami baik-baik saja kok"


"Dia pria yang baik, sebelum menikahi mu dia menemui ayah di rumah sakit"


"Ayah tidak marah pada ku kan?" tanya Dina agak takut


"Untuk apa ayah marah nak? dia pria yang baik, kamu beruntung bisa menikah dengannya. Kalau saja ibu mu tahu dia pasti akan sangat senang"


"Ayah, untuk saat ini tolong jangan kasih tahu ibu dan yang lain ya... "


"Iya, ayah tidak akan memberitahu siapapun. Suami mu sudah menjelaskannya pada ayah"


Dina menganggukkan kepalanya, walaupun dia sendiri tak tahu apa yang di katakan Danial pada ayahnya.


Dua hari berlalu


"Bos anda sebaiknya istirahat saja, sisanya biar saya yang Handle" ucap Dani


"Emm tolong kamu handle Dan, kepala ku rasanya mau pecah" ucap Danial sambil memijat kepalanya yang sakit

__ADS_1


"Saya akan panggilkan dokter"


"Tidak usah, aku akan tidur saja" tolak Danial


"Baik, jika anda perlu sesuatu hubungi saya saja" ucap Dani


"Iya"


Dani keluar dari kamar hotel Danial dan kembali ke tempat proyek sedangkan Danial terlentang di atas ranjang sambil memijat kepalanya yang sakit.


"Coba saja Dina ikut, dia bisa memijat kepala ku. Pijatannya sangat enak"


Danial berhenti memijat kepalanya lalu merogoh saku jasnya


Tuttt tuttt


"Halo" sahut seseorang dari balik sana


"Apa kabar?" tanya Danial


"Baik"


"Kamu di mana?" tanya Danial


"Di apartemen"


"Katanya mau menginap di rumah?"


"Iya sudah kok, baru tadi pagi saya pulang ke apartemen"


"Begitu"


"Apa anda sakit?" tanya Dina saat mendengar suara lemah Danial


"Tidak hanya kelelahan saja" ucap Danial sambil tersenyum


"Kenapa bisa sampai kelelahan? bukankah sudah saya katakan jangan memaksakan diri, bagaiman kalau pulang-pulang anda sakit? saya yang kerepotan" omel Dina


"Bukankah itu sudah tugas mu" ucap Danial terkekeh


"Ya memang tugas saya, tapi anda pasti akan tambah menyebalkan jika sakit"


"Aku rindu omelan mu Dina" ucap Danial


"Apaan sih tuan"


"Andai saja kamu ikut ke sini pasti ada yang memijat kepala ku" ucap Danial sambil terkekeh


"Tuh kan ujung-ujungnya saya juga yang repot"


"Ke ke ke"


"Sibuk apa?" tanya Danial


"Ada deh, sudah dulu ya tuan sampai jumpa"


tutt tutt


Panggilan terputus


"Dia semakin berani" ucap Danial sambil menatap ponselnya


"Kepala ku sudah mendingan setelah mendengar omelannya" ucap Danial Sambil terkekeh


Dua hari kemudian


Di kamarnya saat ini Dina sedang mengambil pakaian miliknya dan milik Danial yang sudah rapi untuk di masukkan ke dalam lemari.


Beberapa menit kemudian semua pakaian itu sudah masuk ke dalam lemari lalu Dina mengganti Sprei tempat tidurnya.


Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang


"Argghhhh!!" teriak Dina ketakutan, tangannya pun sudah siap untuk menghajar orang itu


"Ini aku" bisiknya


"Hah... hah... anda membuat saya takut"


"Maaf" ucap Danial sambil tersenyum


"Lain kali jangan lakukan lagi" ucap Dina sedikit merengek


"Iya maaf membuat mu terkejut"


"Kapan anda pulang? kenapa saya tidak mendengar suara langkah kaki anda?"


"Baru saja kok, kamu terlalu asik membereskan ranjang jadi tidak mendengar langkah kaki ku" ucap Danial masih memeluk tubuh Dina


"Tuan bisa lepaskan saya? saya mau beres-beres du... hhmmmppptt"


Danial menyerang bibir Dina, Dina yang mendapat serangan mendadak membulatkan kedua matanya.


Perlahan Danial menggerakkan bibirnya, gerakan yang awalnya pelan lama-kelamaan semakin dalam.


Dina yang sudah kehabisan nafas menepuk dada bidang Danial. Danial melepas ciumannya lalu menyatukan kening mereka dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Aku merindukan mu Dina" ucap Danial lalu kembali menyerang Dina


Perlahan tapi pasti Danial menjatuhkan tubuh mereka ke atas ranjang. Kecupan Danial semakin menjalar ke seluruh tubuh Dina.


Dan entah sejak kapan pakaian mereka sudah tergeletak di lantai.


Danial mencium bibir Dina dan perlahan turun ke bawah menuju dada turun lagi ke perut dan berakhir di bawah.


"Arghhh ja...jangan...geli..."


Danial mengobrak-abrik tempat itu dengan lidahnya dan sesekali mendorong masuk jarinya ke dalam.


"Argh!"


"Tuan hentikan saya harus ke kamar mandi..."


Bukannya berhenti Danial justru semakin bergerak cepat


"Tuan hentikan saya mau pipis"


"Keluarkan saja di sini darling" ucap Danial dengan suara seraknya


"Tidak...tidak..." ucap Dina sambil menggeleng cepat


"Tidak apa-apa keluarkan saja"


"Arghh!" teriak Dina yang sudah tidak tahan


Tubuhnya melengkung ke atas, cairan kental keluar dari dalam sana, nafasnya pun terengah-engah.


Tanpa rasa jijik Danial membersihkannya, setelah selesai dia naik ke atas dan kembali menyerang bibir Dina.


"Aku akan mulai" bisik Danial di telinga Dina


"Tu... "


"Suttt... jangan panggil aku tuan"


"Hu...hubby"


"Yes Darling?"


"Boleh aku mulai?" tanya Danial dengan lembut


Dina menganggukkan kepalanya dengan pelan


"Tahanlah sebentar" bisik Danial


Dan....


"Argghhh.....!!"


Keesokan harinya


Dina membuka kelopak matanya, cahaya matahari menyinari seluruh kamarnya


"Pukul berapa sekarang?" gumam Dina


Dina menoleh ke jam yang ada di atas nakas


"Astaga sudah pukul 10" ucap Dina terkejut


Dina seketika langsung membuka selimutnya dan beranjak turun, namun...


"Arghhh" ringis Dina


"Ya ampun aku lupa" Ucap Dina yang menyadari kondisinya saat ini


Pintu kamar terbuka


"Dina kamu kenapa?" ucap Danial yang langsung menghampiri Dina


Dina meraih selimut yang ada di kasur untuk menutupi tubuhnya.


Danial berjongkok di depan Dina yang saat ini tengah duduk di lantai.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Danial khawatir


Dina menganggukkan kepalanya sambil menunduk, dia malu jika harus menatap wajah Danial.


"Kamu kenapa bisa ada di lantai?" tanya Danial


"Saya terkejut karena sudah pukul 10 pagi, jadi saya mau ke kamar mandi tapi..."


"Tapi kamu lupa semalam habis malam pertama, dan kamu jatuh?" tebak Danial sambil mengangkat sebelah alisnya


Dina menganggukkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu.


.


.


.


Setelah baca, like dan komen ya teman-teman 😊.

__ADS_1


Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... 😊❤.


Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You 😊💕


__ADS_2