
Dina dan nenek Dharma pura-pura tak peduli.
.
.
.
"Nek" panggil Dina setelah Danial pergi dari sana
"Hmmm?" Jawab nenek yang masih menikmati rujaknya.
"Apa tidak apa-apa kita mengabaikan mas Danial seperti ini?" tanya Dina khawatir
"Tidak apa-apa, jangan di pikirkan. Biarkan saja dia seperti itu"
"Tapi nek..."
"Sudah tidak apa-apa, kamu lanjut makan saja"
"Baik nek"
Beberapa saat kemudian Dina yang sudah selesai naik ke kamar. Dia melihat Danial tengah bermain ponselnya sambil tiduran di ranjang.
Dina meletakkan tas jinjingnya di meja rias, lalu dia melangkah ke kamar mandi. Tak lama kemudian Dina keluar dari kamar mandi.
Dina duduk di ranjang dan diam cukup lama. Dina yang sudah tidak tahan pun akhirnya mengalah.
"Mas" panggil Dina
Danial diam tak menjawab.
"Mas Danial" panggil Dina lagi
Danial masih saja tak menjawab.
"Ihh MAS DANIAL!!" teriak Dina
"Apaan sih teriak-teriak" sahut Danial.
"Makanya kalau di panggil itu jawab"
"Apa sih, kamu mau apa?!" tanya Danial jutek.
"Kok jutek banget sih jawabnya"
"Hah.. apa Dina" tanya Danial melembutkan suaranya.
Dina memasang wajah cemberut.
"Mas"
"Hmmm?" jawab Danial cuek
"Maaf"
Danial menoleh ke arah Dina.
"Maafkan saya, dan tolong bicaralah"
"Bukankah kamu sendiri yang meminta ku untuk tidak memperdulikan mu"
"Tidak memperdulikan dan tidak mau bicara itu beda!" ucap Dina kesal
"Sama saja" Jawab Danial acuh.
"Beda! Saya cuma minta anda untuk tidak terlalu perhatian pada saya bukannya malah tidak bicara sama sekali dengan saya" ucap Dina kesal.
"Jadi kamu maunya aku bagaimana? aku perhatian pada mu kamu tidak mau, aku mengabaikan mu kamu juga tidak mau. Lalu aku harus bagaimana, Dina?"
__ADS_1
"Bicara pada saya tapi jangan terlalu perhatian"
"Kamu benar-benar banyak maunya" ucap Danial dengan datar, dia kembali pada ponselnya.
"Ya sudah terserah anda saja! terserah anda! Saya tidak peduli lagi!" Ucap Dina kesal lalu dia merebahkan tubuhnya dan tidur.
Keesokan harinya
Dina dan Danial sedang perang dingin, setelah perdebatan kemarin mereka berdua masih saja seperti itu.
Setelah selesai sarapan Danial naik lebih dulu ke lantai atas. Beberapa hari ini dia tidak masuk ke kantor karena nenek tak memperbolehkan dia pergi ke kantor.
Urusan kantor di serahkan pada Dani dan kebetulan jadwal Danial juga tidak terlalu sibuk. Sesekali Dani akan datang ke sana jika ada berkas yang sangat membutuhkan tanda tangan Danial.
Tak lama Dina masuk ke kamar, Dina melihat Danial sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dina mengerutkan keningnya.
"Anda mau kemana?" tanya Dina
"Kantor" jawab Danial datar
"Bukankah nenek melarang anda" ucap Dina mengingatkan Danial.
"Biarkan saja, dari pada di sini" jawab Danial acuh.
Dina kesal, dia menarik lengan Danial dan menyeretnya ke ranjang.
"Kamu apa-apaan sih!" ucap Danial kesal, dia hendak bangun dari sana tapi Dina kembali menahannya dan membuat Danial duduk kembali di atas ranjang.
"Anda tidak boleh pergi" larang Dina
"Terserah aku lah mau pergi atau tidak, untuk apa tinggal di sini jika semuanya mengabaikan ku"
"Mengabaikan? bukannya anda yang lebih dulu mengabaikan saya!" ucap Dina kesal
"Tidak" jawab Danial
"Oke, baiklah saya minta maaf. Maaf karena membuat anda kesal. Puas?!"
"Tck" lagi-lagi Dina menahan tubuh Danial, lalu dia menyerah bibir Danial.
Danial terkejut, dia mendorong bahu Dina agar ciuman mereka terlepas.
"Apa-apaan kamu!" Sentak Danial
Dina menyeringai dan kembali memaksa Danial. Lagi-lagi Danial melepaskan ciumannya.
"Hentikan!" teriak Danial
"Jangan harap" ucap Dina dengan nada menantang.
"Apa kamu hanya mau ini dari ku, hah?!" tuduh Danial
"Terserah anda menganggapnya bagaimana" ucap Dina sambil menatap tajam Danial.
Dina mendekatkan wajahnya ke telinga Danial.
"Nenek bilang pertengkaran bisa di selesai di atas ranjang" bisik Dina di telinga Danial.
Danial membulatkan matanya mendengar bisikan Dina. Dina Menyeringai saat melihat Danial membeku di tempat.
Dina langsung mendorong tubuh Danial agar terlentang di atas ranjang dan dia merangkak naik ke atas tubuh Danial.
Tadinya Dina tidak ingin menggunakan cara seperti ini, tapi Danial terus saja marah padanya karena itulah Dina terpaksa melakukannya. Persis seperti yang di ajari nenek Dharma padanya.
"Apa anda sungguh akan terus marah pada saya?" tanya Dina menggoda Danial.
Tangannya bergerak dari atas ke bawah di dada bidang Danial.
"Turun" ucap Danial sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Dina dengan suara menggoda.
"Turun sekarang Dina" ucap Danial menyuruh Dina turun dari atas tubuhnya.
"Kalau saya tidak mau bagaimana?" tantang Dina
"Aku bilang turun!" ucap Danial sambil menatap tajam Dina.
"Tidak mau! pertengkaran kita harus selesai hari ini juga" ucap Dina keras kepala.
"Heh.." Danial menyeringai
"Kamu hanya ingin itu, bukan" ucap Danial dengan nada menghina.
"Saya rasa bukan saya yang ingin tapi anda" ucap Dina tak kalah sengit.
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan" ucap Danial lalu dia menyerang bibir Dina.
Di tahannya tengkuk leher Dina dan di lumatnya bibir Dina yang beberapa hari ini dia rindukan.
Danial menahan pinggang Dina kemudian membalik tubuh mereka, Dina berada di bawah kukungannya dengan bibir masih menyatu.
Tak lama Danial melepas ciuman mereka.
"Setelah ini kamu tidak boleh menyesal " ucap Danial pelan sambil menatap mata binar Dina.
"Bagaimana kalau kita hentikan sampai di sini saja" ucap Dina sedikit menyesal.
"Sudah terlambat" ucap Danial dan langsung menyerang bibir Dina.
Perlahan tangannya menyingkap dress yang Dina gunakan. Tangannya naik dari bawah ke atas.
Di selipkannya tangan Danial ke balik punggung Dina dan membuka pengait bra yang Dina gunakan.
Klek
Pengait itu terlepas, tangan Danial bergerak ke depan dan menarik turun bra Dina. Danial membuka kancing depan dress Dina dan kedua gundukan itu menyembul keluar.
Danial bergerak turun ke bawah, saat ini wajahnya sudah ada di depan kain segitiga Dina yang sedikit basah.
Di tariknya perlahan kain segitiga itu ke bawah. Dina menahan tangan Danial yang berniat menurunkan ****** ********.
"Kenapa?" tanya Danial sambil menatap Dina.
"Malu" ucap Dina malu-malu.
Danial terkekeh.
"Masih saja malu, padahal sudah hamil juga" ejek danial
"Jangan di lihat" ucap Dina dengan wajah merahnya.
"Kenapa darling? ini cantik kok"
Danial menarik paksa kain segitiga Dina, Dina segera merapatkan pahanya.
Danial bergerak kembali ke atas, dia melu mat bibir Dina. Tangan kanannya mulai bergerak mengusap paha Dina.
Perlahan dia menyusup ke dalam paha Dina dan tangannya sampai pada tempat nikmat milik Dina. Di usapnya perlahan bagian itu.
"Errghhh" lenguh Dina tertahan.
Danial bergerak membelai tempat itu, lalu perlahan memasukkan jarinya ke dalam sana.
"Arghhh!" Teriak Dina
.
.
__ADS_1
.