Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Menyusul Sayang Ku


__ADS_3

Danial mengerutkan keningnya tak paham.


.


.


.


"Saya datang bulan" ucap Dina kesakitan.


"Ohh... mau aku belikan obat?" tanya Danial


"Tidak"


Danial tak tega melihat istrinya kesakitan.


"Aku panggilkan dokter ya"


"Tidak usah, aduh saya sudah tidak tahan lagi" Dina beranjak dari tempatnya.


"Mau kemana?" tanya Danial.


"Kamar mandi" ucap Dina berlari ke kamar mandi.


Danial hanya tercengang melihat Dina masuk ke kamar mandi.


"Ribet banget jadi perempuan" ucap Danial yang tak tega melihat Dina.


"Duh mana aku punya anak cewek lagi, kasihan banget putriku nanti kalau lagi datang bulan" ucap Danial yang berpikir terlalu jauh, padahal putrinya itu masih berumur lima tahun.


Danial keluar dari kamar Dina.


20 menit kemudian Dina keluar dari kamar mandi dengan wajah pucatnya. Dia duduk di atas ranjangnya.


"Gimana ini, aku gak bawa pembalut" gumam Dina.


Tok tok


Dina menoleh ke arah pintu.


Ceklek


Danial muncul di balik pintu, dia melangkah masuk ke dalam kamar Dina dengan sekantong plastik hitam di tangannya.


"Apa?" tanya Dina dengan suara lemahnya.


Danial meletakkan kantong plastik yang dia bawa di samping Dina.


Dina menatap Danial seolah-olah bertanya apa itu.


"Untuk mu, kamu gak bawa pembalut kan" ucap Danial.


"Bagaimana anda bisa tahu?" tanya Dina sambil mengerutkan keningnya.


"Sekarang tanggal 5, biasanya kamu menstruasi tanggal 20-an kan. Menstruasi mu datang lebih awal jadi kamu pasti tidak membawa benda itu"


Dina terdiam. Ternyata Danial masih ingat tanggal menstruasinya dan membelikan dia pembalut, sungguh sangat perhatian.


Danial tersenyum kemudian mengusap lembut kepala Dina yang tertutup kerudung.


"Kita sudah pernah tinggal bersama hampir dua tahun, bukankah wajar saja aku tahu jadwal menstruasi istri ku" ucap Danial sangat lembut.


Dina menjauhkan kepalanya dari tangan Danial.


"Terima kasih, anda bisa pergi" ucap Dina tanpa melihat ke arah Danial. Dia masih saja membangun dinding besar di antara mereka.


Danial menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, setelah ini keluarlah untuk makan malam. Atau mau aku ambilkan?" tanya Danial.


"Tidak usah, saya akan keluar" ucap Dina.


"Baiklah" jawab Danial.


Setelah Danial pergi, Dina membuka plastik dari Danial.


"Ini mirip seperti yang aku pakai" ucap Dina setelah melihat isi plastik itu.


Danial tak hanya membelikan pembalut tapi juga minuman untuk perempuan yang sedang datang bulan dan beberapa camilan.


Dina termenung beberapa menit, setelah itu dia beranjak menuju kamar mandi.


10 menit kemudian Dina keluar untuk makan malam yang sedikit terlambat.


Dina melangkah menuju meja makan. Di meja makan dia melihat Danial yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sana dengan ponsel di tangannya.


Dina menarik kursi di depan Danial. Melihat Dina datang Danial meletakkan ponselnya.


"Di mana asisten anda?" tanya Dina.


"Dani ke kamarnya setelah selesai makan"


"Kenapa anda masih di sini?" tanya Dina sambil duduk di salah satu kursi.


"Aku belum makan, aku menunggu mu" jawab Danial sambil tersenyum.


"Saya bisa makan sendiri tak perlu di tunggu" ucap Dina lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dia membuka cadarnya saat melihat hanya ada Danial di sana.


Tadinya dia akan makan di kamarnya, tapi melihat Danial menunggunya. Dina mengurungkan niatnya dan makan bersama Danial.


"Aku mau makan malam bersama mu, kenapa? tidak boleh?" tanya Danial dengan senyuman di wajahnya.


Dina tak menjawab dan terus mengunyah makanannya. Danial tak ambil pusing dia pun mulai makan.


Saat ini Dina tengah mencuci piring bekas mereka makan. Di penginapan itu siapapun yang sudah makan harus mencuci piringnya sendiri dan juga perabotan yang di gunakan untuk memasak.


Berhubung Danial membeli makan malam di luar jadi Dina hanya perlu mencuci piring, sendok dan gelas saja.


Dina mencuci piring bekas Danial karena sebagai tanda terima kasih sudah membelikannya pembalut.


Di saat Dina sedang sibuk mencuci piring, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya.


Dina tersentak karena terkejut. Dia langsung menoleh ke belakangnya.


"Apa yang anda lakukan?!" teriak Dina karena terkejut.


"Aku merindukan mu sayang" ucap Danial di telinga Dina.


"Lepas!"


"Tidak mau" ucap Danial manja, dia meletakkan dagunya di atas pundak Dina.


"Lepaskan saya, anda tidak boleh menyentuh saya"


"Kenapa tidak boleh? aku masih suami mu. Apa salahnya memeluk istri ku?"


"Lepas Mr. Danial" tekan Dina.


"Kenapa sih? kamu risih aku peluk?" tanya Danial.


"Ya" jawab Dina ketus.


"Itu karena sudah lima tahun kita tidak bersentuhan, jadi mulai sekarang aku akan memeluk mu terus agar kamu terbiasa"


"Apa-apaan lepaskan!" sentak Dina sambil melepaskan tangan Danial dari tubuhnya.

__ADS_1


"Dina..." protes Danial.


"Sampai kapan anda seperti ini? bukankah saya sudah bilang ceraikan saya" ucap Dina sambil menatap tajam Danial.


"Aku tidak mau! sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu!" bentak Danial yang tersulut emosi.


Dina menatap tajam Danial. Lalu Dina berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, dia ingin segera kembali ke kamarnya.


Danial yang melihat Dina mengabaikannya pun langsung memeluk Dina kembali.


"Maaf sayang aku tidak bermaksud membentak mu" ucap Danial.


"Lepas" ucap Dina.


"Tidak mau" tolak Danial.


"Lepas nanti ada yang lihat!" ketus Dina.


"Tidak akan ada yang lihat, hanya ada kita bertiga di sini dan Dani sudah tidur"


"Lepas nan..."


"Hello selamat malam" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di sana.


Danial buru-buru melepaskan pelukannya, mereka berdua pun nampak terkejut seperti tengah terciduk berbuat yang tidak-tidak.


"Sedang apa kalian di dapur malam-malam?" tanya orang itu.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Danial dengan wajah tak sukanya.


Orang itu meninggalkan kopernya dan melangkah ke arah Danial.


"Tentu saja untuk menyusul sayang ku" ucapnya dengan suara menggoda sambil memeluk lengan Danial.


Danial nampak terkejut, dia langsung menatap wajah Dina yang nampak tak peduli dan lanjut mencuci piring yang tak kunjung selesai karena di ganggu Danial.


"Apa-apaan kamu Dara" bisik Danial.


"Diamlah aku sedang membantu mu" bisik Dara.


"Kamu membantu ku atau sedang membuat ku mati?" tanya Danial geram, tapi masih berbisik.


"Diamlah dan menurut" bisik Dara.


"Ini Dina kan? apa kabar Dina?" tanya Dara.


Dina menoleh ke arah Dara.


"Baik mbak" jawab Dina sambil tersenyum.


Dara melangkah menghampiri Dina yang sibuk mengelap piring yang sudah dia cuci.


"Kamu tambah cantik saja" puji Dara.


Dina tersenyum dari balik cadarnya.


"Terima kasih mbak, mbak Dara juga semakin cantik" ucap Dina, lalu Dina melirik perut Dara yang sedikit lebih besar.


Dara mengerti arah tatapan Dina.


"Ahhh aku sedang hamil" ucap Dara sambil mengusap perutnya.


"Ohhh selamat mbak" ucap Dina sambil tersenyum, lalu menatap tajam ke arah Danial.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2