
"Adek" tegur kakaknya.
.
.
.
"Tidak apa-apa kak" ucap Danial sambil tersenyum lembut pada putranya.
"Tapi nanti papa sedih" ucap putranya.
Danial tersenyum.
"Siapa bilang papa sedih? Papa tidak apa-apa kok, kalian bisa bertanya tentang mama. Bukankah papa sudah sering bilang pada kalian"
Kedua bocah itu menganggukkan kepalanya.
"Bersabarlah sayang papa akan segera menemukan mama" ucap Danial dalam hati.
"Pa, mama kemana?" tanya putrinya.
"Mama sedang main petak umpet" ucap Danial sambil tersenyum.
"Kok lama sekali?" tanya putrinya.
"Karena mama pintar sekali bersembunyi jadi papa sulit menemukan mama"
"Adek tidak mau main petak umpet lagi deh, adek takut kalau kakak tidak cepat menemukan adek"
Danial terkekeh.
"Tidak apa-apa kok sesekali adek main petak umpet, tapi seperti yang papa bilang tidak boleh... " Danial menjeda kalimatnya.
"Tidak boleh bersembunyi di tempat yang jauh dan tidak boleh bersembunyi di tempat yang berbahaya" ucap kedua bocah itu bersamaan.
"Benar sekali, tempat mana yang berbahaya?" tanya Danial.
"Di dalam lemari, dapur, tempat cuci baju dan di semak-semak" jawab keduanya.
"Pintar, anak-anak papa sangat pintar" ucap Danial lalu dia mengecup kening putra dan putrinya bergantian.
"Sekarang sudah malam, waktunya tidur" ucap Danial.
"Baik pa"
"Selamat malam papa" ucap kedua bocah itu bersamaan.
"Selamat malam anak-anak papa" ucap Danial
Danial termenung.
"Dina..." ucap Danial dalam hati.
"Jika saja saat itu aku mengatakan bahwa aku sangat mencintai mu apakah kamu tetap akan pergi?" tanya Danial dalam hati, dia menyesal tidak mengatakan perasaannya dari awal pada Dina.
Danial memejamkan matanya, dia tak mau berlarut-larut memikirkan Dina, karena jika dia terus memikirkan Dina maka rasa benci di hatinya akan semakin kuat.
Danial mulai membenci Dina di saat dia melihat anak-anaknya yang kurang kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
Danial pikir, Dina sangat tega pada mereka. Meninggalkan bayi-bayi yang masih membutuhkan sosok ibu dan meninggalkan dirinya sendirian di saat kedua matanya masih belum bisa melihat.
Tapi di lain sisi dia sangat merindukan wanita itu, wanita yang sudah membuatnya banyak berubah.
Rasa benci dan cinta yang di rasakan Danial sungguh membuat Danial tersiksa, jika bisa maka Danial akan memilih membenci Dina seumur hidupnya.
Tapi dia tidak bisa, karena rasa cintanya sangat dalam untuk Dina. Awalnya Danial tak sadar bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Dina.
Dia baru sadar saat Dina pergi darinya, Danial sangat menyesal tidak pernah memberitahu Dina tentang perasaannya. Danial sungguh menyesalinya.
Keesokan harinya.
"Anak-anak papa sudah siap?" tanya Danial.
"Sudah pa!" jawab keduanya.
"Ayo kita berangkat sekarang" ucap Danial.
"Les go!" ucap putri Danial.
"Let's go dek, bukan les go" ralat kakaknya.
"Bialin suka-suka adek" jawab putrinya.
Danial menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang berdebat.
"Sudah-sudah ayo kita berangkat, kasian bik Dahlia yang sudah menunggu di luar" ucap Danial
"Oke pa" jawab keduanya.
Putri Danial memang masih belum bisa menyebutkan beberapa kata dengan benar, berbeda dengan putranya yang sudah bicara dengan fasih.
Danial menggandeng kedua anaknya keluar dari rumah menuju mobilnya yang sudah ada di depan rumahnya.
Setelah putrinya duduk dan memasang sabuk pengamannya Danial menutup pintu mobilnya dan melangkah menuju kemudi.
Danial memeriksa sabuk pengaman milik putranya, lalu dia memasang sabuk pengamannya.
Setelah itu Danial menginjak gas mobilnya, mobil pun meninggalkan halaman rumah Danial menuju TK tempat putra dan putrinya sekolah.
20 menit kemudian mereka pun sampai di sekolah si kembar.
Danial turun mengantar mereka.
"Ingat jangan nakal ya"
"Iya papa" jawab si kembar dan mereka mengecup punggung tangan Danial bergantian.
"Sudah sana masuk, nanti telat" ucap Danial dengan lembut.
"Baik papa" jawab mereka berdua.
"Bik titip anak-anak ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku"
"Baik den" jawab Bibik Dahlia.
"Ayo kita masuk" ucap bik Dahlia mengajak kedua anak majikannya masuk.
"Bye papa" ucap putrinya sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Bye sayang" ucap Danial sambil melambaikan tangannya pada anak-anaknya dengan senyuman di wajahnya.
Beberapa saat kemudian Danial tiba di sebuah hotel, hari ini adalah waktunya pengecekan di hotelnya.
Danial rutin mengecek satu-persatu hotel-hotelnya setiap 1 bulan sekali.
"Bagaimana dengan proyek di kota B?" tanya Danial.
"Sebentar lagi akan rampung, perkiraan sekita 1 bulan lagi hotel di kota B sudah selesai. Setelah itu anda bisa mengeceknya langsung" jawab Dani
"Baiklah"
Saat ini Danial dan Dani tengah menunggu di depan lift, karena lift khusus yang biasanya dia pakai sedang rusak dan sedang di perbaiki.
Ting
Pintu lift terbuka.
Danial memberi jalan pada beberapa orang yang akan keluar dari lift, setelah beberapa orang keluar, Danial hendak melangkah masuk ke dalam lift.
Tapi di saat Danial hendak masuk ke dalam lift keluarlah seorang wanita dengan pakaian tertutup dan cadar yang menutupi wajahnya.
Danial berhenti melangkah saat mencium aroma dari perempuan yang baru saja lewat di sampingnya.
Danial segera berbalik dan melihat sosok perempuan berhijab, dia hendak menghampirinya namun langkahnya terhenti saat dia melihat perempuan itu sedang menghampiri seorang pria dengan pakaian islaminya.
"Tidak perempuan itu bukan dia, hanya aromanya saja yang mirip" Ucap Danial dalam hati.
"Bos anda kenapa?" tanya Dani.
"Hmm? ah tidak aku tidak apa-apa" ucap Danial lalu masuk ke lift.
Beberapa hari kemudian.
Saat ini Danial sedang menunggu lampu merah, dia hendak menyeberangi jalan raya. Danial baru saja selesai makan siang di restoran yang ada di depan perusahaannya.
Karena malas menggunakan mobil Danial lebih memilih berjalan kaki. Beberapa detik kemudian lampu merah menyala Danial melangkah menyebrangi jalanan.
Di sana bukan hanya dirinya saja yang menyebrang, banyak sekali orang yang lalu lalang.
Danial berhenti saat lagi-lagi dia mencium sesuatu.
"Aroma itu" gumam Danial.
Danial berhenti di tengah jalan dan berbalik, lalu dia melihat sosok perempuan berhijab.
"Perempuan itu sepertinya perempuan yang aku lihat di hotel" gumam Danial.
Danial hendak menghampiri perempuan bercadar itu, tapi lagi-lagi dia melihat seorang pria yang saat itu bersama dengan perempuan itu di hotel.
"Tidak tidak Danial perempuan itu bukan dia" Ucap Danial lalu dia melanjutkan langkahnya karena sebentar lagi lampu hijau akan menyala.
Danial tiba di sebrang jalan, dan dia terus melangkah menuju perusahaannya. Sedangkan di sebarang sana tepatnya di tempat perempuan itu.
Perempuan itu menoleh ke belakang dia sepertinya melihat seseorang yang dia kenal namun dia tidak yakin.
"Ada apa Reeha?" tanya pria yang bersamanya.
.
__ADS_1
.
.