Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Ternyata Dia Punya Hari Seperti Ini


__ADS_3

"Galau" ucap Dani sambil menatap bos sekaligus temannya itu.


.


.


.


"Galau Kenapa?" tanya Dafa.


"Di usir istrinya" ucap Dani.


"Istri? kapan dia menikah lagi?" tanya Dafa terkejut.


"Bukan menikah lagi, tapi istrinya yang kabur" ucap Dani sambil menatap Dafa, temannya.


Dafa dan Dani berteman sejak di bangku kuliah, begitu pula dengan Damar. Mereka bertemu di bangku kuliah dan berteman sampai sekarang.


"Dina?!" tanya Dafa terkejut.


"Ya" jawab Dani.


"Jadi mereka sudah bertemu kembali?" tanya Dafa.


"Ya"


"Kapan?" tanya Dafa.


"Kamu tidak tahu?" tanya Dani.


"Tidak, aku tidak tahu apa-apa. Danial tidak pernah memberitahu ku"


"Beberapa bulan yang lalu, kamu benar-benar tidak tahu?"


"Tidak aku tidak tahu apa-apa, Danial tidak pernah cerita"


"Begitu"


"Lalu apa dia tidak kembali ke rumah Danial?"


"Tidak, jika istrinya kembali ke rumah maka dia tidak akan segalau itu"


"Benar juga, tapi kenapa?"


"Istrinya tidak mau, dan bersikeras meminta cerai"


"Lalu Danial menceraikannya?"


"Tentu saja tidak karena itulah dia sampai di usir dari rumah istrinya dan galau seperti itu. Sudah sejak pagi dia bersikap begitu"


"Kenapa dia bisa sampai di usir?"


"Dia ketahuan berbohong"


"Soal apa?"


"Soal tangan dan kakinya yang patah dan retak"


"Jadi dia berbohong soal patah tulang demi mendapat belas kasih istrinya dan agar bisa tinggal di rumahnya?"


"Benar"


"Ha ha ha ternyata dia punya hari seperti ini" ucap Dafa sambil tertawa keras.


"Sudah dulu aku mau lanjut kerja" ucap Dani.


"Ya silahkan, aku mau menemui Danial dulu" ucap Dafa.


"Emmm"


Dani melangkah pergi menuju ruangannya sedangkan Dafa melangkah menuju ruangan Danial.


Tok tok


"Masuk"


Ceklek


"Bro" panggil Dafa.


"Apa?" tanya Danial tak bersemangat, dia nampak sedang mengerjakan pekerjaannya.


Dafa duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Danial.


"Nil aku sudah dengar" ucap Dafa sambil meletakkan kaki kanannya di kaki kirinya.


"Tentang apa?" tanya Danial yang masih fokus pada pekerjaannya.


"Tentang kamu yang di usir istri mu" ucap Dafa sambil terkekeh.

__ADS_1


Danial mendongak menatap Dafa yang tengah tersenyum mengejek padanya.


"Jika kamu datang hanya untuk mengolok-ngolok ku sebaiknya kamu pergi saja, aku sedang tidak mood" ucap Danial dan melanjutkan pekerjaannya.


"Ha ha ha" Dafa tertawa.


"Perlu bantuan ku tidak?" tanya Dafa.


"Tidak terima kasih"


"Kau yakin?"


"Ya"


"Padahal aku akan mengadakan pesta dansa dan berniat mengundang mu dan juga Dina"


"Pesta dansa untuk apa?" tanya Danial.


"Sebentar lagi ulang tahun perusahaan ku, aku akan mengadakan pesta dansa. Nanti kamu datanglah dengan istri mu, oke"


"Dia tidak akan mau" jawab Danial sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Coba saja bujuk dulu"


"Aku tidak janji"


"Ya baiklah, tapi cobalah datang"


"Ya akan aku bujuk nanti" ucap Danial masih fokus pada pekerjaannya.


Malam harinya.


Di kamarnya.


Danial terlentang di atas ranjangnya dan menatapi langit-langit kamarnya. Saat ini dia tengah memikirkan cara agar bisa membawa Dina kembali ke rumahnya.


Bisa saja Danial menculik dan mengurung Dina di rumahnya seperti yang di katakan Dafa tadi di kantor.


Tapi Danial tak mau melakukan itu karena mengingat Dina saat ini tengah hamil muda, dan juga dia tidak bisa memaksa istrinya itu karena takut Dina akan semakin kabur.


"Apa yang harus hamba lakukan ya Allah, sebenarnya ada apa? kenapa dia pergi lima tahun yang lalu"


Danial termenung cukup lama.


"Tidak bisa begini terus aku harus bertanya padanya sekarang" ucap Danial sambil beranjak dari tempatnya dan mengambil kunci motor dan jaketnya.


Malam ini nenek Dharma menginap di rumah cucunya.


"Menemui istri ku" jawab Danial.


"Apa?!" Nenek Dharma terkejut.


"Aku akan jelaskan nanti nek" ucap Danial sambil mengecup punggung tangan neneknya.


"Titip anak-anak ya nek" ucap Danial lalu berlari menuju garasinya.


"Danial!" Panggil nenek Dharma.


"Istri? Istri yang mana lagi anak itu?"


Sedangkan di tempat lain tepatnya di rumah Dina


Dina sedang bolak-balik di atas ranjangnya. Sejak tadi dia mengantuk tapi tak kunjung bisa tidur.


Dina bangun dan duduk menyandar di HEadboard. Lalu Dia meraih ponselnya.


Tutt tutt


"Halo"


"Halo bu"


"Ada apa nak?"


"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur"


"Dimana nak Danial?"


"Pulang"


"Pulang? kenapa kamu tidak ikut?"


"Tidak bu"


"Kamu sudah bicara dengannya?"


"Belum"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku tidak berani bertanya, bu"


"Bagaimana kalau ibu yang tanyakan?"


"Jangan bu, nanti. Nanti aku saja yang tanya, aku akan cari waktu yang tepat nanti"


"Jangan cari waktu yang tepat nak, tapi buatlah waktu yang tepat"


"Iya bu"


"Jangan hanya iya iya saja, lakukan secepatnya" desak ibunya.


"Baik ibu ku sayang"


Ting tong


"Sebentar bu, ada tamu"


"Siapa malam-malam begini?" tanya ibu Dina.


"Entahlah" ucap Dina sambil beranjak turun dari ranjangnya.


"Ya sudah ibu matikan dulu"


"Iya bu"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tutt tutt


Dina meletakkan ponselnya di nakas, lalu dia melangkah ke lemarinya dan mengambil pakaian, kerudung dan cadarnya.


Dan di saat Dina sedang memakai kerudungnya tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya.


Dina terkejut dan seketika menoleh ke arah pintu kamarnya.


"Sayang"


"Kenapa anda bisa masuk?" tanya Dina terkejut.


"Bik Dila yang buka pintunya"


"Jadi anda yang mengebel barusan?"


"Iya" ucap Danial sambil melangkah mendekat ke arah Dina.


"Arghhh apa yang anda lakukan?!" Pekik Dina saat Danial tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


Danial melangkah menuju sofa dan duduk di sana dengan Dina yang duduk di atas pangkuannya.


"Apa yang anda lakukan?!" pekik Dina.


"Aku merindukan mu sayang" ucap Danial sambil memeluk Dina.


Dina hanya bisa diam, kali ini dia tidak menolak pelukan Danial.


"Sayang, lima tahun ini aku sungguh sangat tersiksa"


"Kenapa?"


"Kamu tanya kenapa?" tanya Danial sambil mendongak menatap Dina.


"Tentu saja karena kamu meninggalkan ku, aku tersiksa karena tidak ada yang menemani ku tidur, dan juga tidak ada yang membantu ku saat aku ingin itu" ucap Danial sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menatap Dina.


"Dasar pria mesum" umpat Dina


Danial terkekeh.


"Sayang, lima tahun ini bagaimana kamu melepaskan semuanya?"


"Apa?" tanya Dina pura-pura tidak paham.


"Apa kamu tidak merindukan percintaan panas kita selama lima tahun ini hmmm?"


"Apa ini? ini seperti dejavu" ucap Dina dalam hati.


"Apa anda ke sini hanya untuk membicarakan hal seperti ini?" tanya Dina dengan tatapan tajamnya.


"Aku sangat merindukan mu sayang, apa kamu tidak merasakan sesuatu di bawah mu hmmm?" goda Danial.


"Mr. Danial!" teriak Dina saat sadar sesuatu menonjol terasa keras dan besar di bawahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2