Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Jangan Bercerai Reeha


__ADS_3

Dina bangun dan mengambil ponselnya, lalu dia menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Kak ada dimana?" tanya Dina.


"Di rumah, kenapa?" tanya Dzafir dari balik sana.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Dina.


"Boleh tanya apa?"


"Begini... teman ku sedang hamil tapi dia akan bercerai dengan suaminya. Apakah boleh bercerai saat keadaan hamil?" tanya Dina.


Di balik sana Dzafir mengerutkan keningnya.


"Teman? teman yang mana?" tanya Dzafir.


"Ada teman di kantor Twins Fashion"


“Dari Ibnu Umar RA, ia pernah menalak istrinya dalam keadaan haid. Kemudian, Umar bin Khattab RA menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi. Lantas, Nabi berkata kepada Umar bin Kattab RA, ‘Perintahkan kepada dia (Ibnu Umar RA) untuk kembali pada istrinya, baru kemudian talaklah ia dalam keadaan suci atau hamil’.” 


"Dari hadis tersebut, kita dapat mengetahui dua hal"


" 1. Islam melarang untuk menalak perempuan bila kondisinya sedang haid.



Diperbolehkan untuk menalak perempuan bila keadaannya sedang suci atau hamil."



"Meski begitu, ada sebagian ulama mazhab Maliki yang mengharamkan bercerai saat hamil. Al-Hasan juga berpendapat bahwa menalak perempuan saat sedang hamil merupakan perbuatan makruh"


"Ibnul Mundzir berkata, saya juga berpendapat demikian. Begitu juga dengan sebagian ulama dari kalangan Madzhab Maliki. Sedang sebagian yang lain menyatakan haram. Ibnul Mundzir juga meriwayatkan riwayat jalur lain dari Al-Hasan. Menurut riwayat jalur ini, Al-Hasan berpendapat bahwa menalak wanita yang sedang hamil adalah makruh"


(Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, juz V, halaman 325). 


"Jadi Kesimpulannya, mayoritas ulama memperbolehkan untuk bercerai saat sedang hamil"


"Dan iddah bagi perempuan hamil yang ditalak adalah sampai ia melahirkan kandungannya sebagaimana firman Allah SWT berikut ini.


                                                                                                                 " وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ "


"Artinya: “Wanita-wanita yang hamil waktu iddah mereka adalah sampai melahirkan kandungan,” (QS At-Thalaq 65:4) "


...(Author ngambil ini dari google ya 😊. Jika ada kesalahan mohon maaf 🙏)...


"Jadi boleh ya" ucap Dina.


"Iya" jawab Dzafir.


Sesaat terjadi keheningan.


"Reeha..."


"Iya kak?"


"Kamu hamil?" tanya Dzafir di balik sana.

__ADS_1


Deg


"Duh kenapa kakak bisa tahu" ucap Dina dalam hati.


"Reeha..." panggil Dzafir.


"Ti...tidak" jawab Dina berbohong.


"Kamu yakin sedang tidak berbohong pada kakak?" tanya Dzafir.


Dina terdiam.


"Reeha, kakak akan bertanya sekali lagi. Kamu hamil?"


"I...iya kak" jawab Dina sambil menunduk.


Di balik sana Dzafir tersenyum.


"Reeha bolehkah kakak mengatakan sesuatu?" tanya Dzafir.


"Iya"


"Jangan bercerai Reeha" ucap Dzafir.


"Kenapa?" tanya Dina sambil mengangkat kepalanya.


"Kembalilah pada suami mu" ucap Dzafir.


"Lalu bagaimana dengan kekasih barunya kak? aku tidak mau di madu kak" ucap Dina mulai tersulut emosi.


"Reeha tenanglah"


"Reeha apakah kamu yakin perempuan itu adalah kekasih barunya?"


"Ya" jawab Dina.


"Lalu kenapa dia terus meminta mu kembali jika sudah dapat pengganti mu, bahkan perempuan itu tengah mengandung"


"Itu... itu karena semua pria sama saja, hanya mau enak sendiri" ucap Dina menggebu-gebu.


"Reeha kamu lupa kakak dan adik mu juga laki-laki loh" ucap Dzafir sambil terkekeh di balik sana.


"Ah... maaf kak, ya kecuali kakak dan adik ku"


"Ke ke ke" Dzafir tertawa.


"Reeha saran kakak jangan bertindak gegabah, pikirkan baik-baik saat ini kamu sedang hamil siapa yang akan menjaga mu di saat seperti ini?" tanya Dzafir dengan lembut.


"Di sini ada Bik Dila. Dan di rumah ada ibu, ayah, adik ku dan yang lain. Juga ada kakak"


"Benar kami semua ada untuk mu, tapi Reeha posisi suami tidak akan bisa tergantikan oleh yang lain apalagi di saat hamil. Hamil tanpa suami akan berat Reeha" ucap Dzafir menasehati adik sepupunya dengan sangat lembut.


"Bagaimana jika saat kamu ingin sesuatu dan ternyata bayi mu ingin ayahnya yang memberikan apa yang kamu mau? bagaimana saat kamu susah tidur dan kamu ingin di peluk suami mu? dan masih banyak lagi kemungkinan lain, jika kalian bercerai kalian akan kesulitan"


"Pikirkanlah juga anak-anak mu, mereka butuh orang tua yang lengkap Reeha. Si kembar sangat merindukan mu, Jadi kembalilah" ucap Dzafir dengan senyuman di wajahnya walaupun saat ini dadanya terasa sangat sesak.


"Apa ibu yang meminta kakak untuk membujuk ku?" tanya Dina.


"Ya tante memang meminta ku untuk membujuk mu, tante bilang si kembar terus menanyakan mu. Tapi Reeha terlepas dari permintaan ibu mu, apa yang kakak katakan ini demi kebaikan mu dan masa depan anak-anak mu. Kakak yakin mereka sangat merindukan mu, ini sudah lima tahun Reeha"


"Tapi bagaimana jika perempuan itu sungguh hamil anaknya, kak?" tanya Dina dengan air mata yang mulai menetes.

__ADS_1


"Jika perempuan itu memang hamil anak suami mu, maka bercerailah jika kamu tak kuat menghadapinya dan tak mau di madu. Bagaimana pun kesehatan mu adalah yang terpenting dan untuk anak-anak mu, kamu bisa mengunjungi mereka"


"Kakak juga tidak keberatan menggantikan posisi suami mu, dengan senang hati kakak akan melakukannya" ucap Dzafir sambil terkekeh di akhir kalimatnya.


Suara tawa Dina terdengar.


"Pikirkan baik-baik apa yang kakak katakan pada mu, Reeha"


Dina terdiam.


"Reeha?" panggil Dzafir.


"Baik kak"


"Bagus sayang, sudah dulu ya kakak masih ada pekerjaan"


"Iya kak, terima kasih banyak"


"Sama-sama, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Panggilan berakhir, Dina melempar ponselnya di ranjang dan beranjak ke kamar mandi. Setelah itu dia pergi makan.


Keesokan harinya, di pagi hari.


Di rumah Dina.


Danial duduk bersama Dara di sofa ruang tamu di rumah Dina.


"Rambut mu sedikit berantakan" ucap Danial sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Dara.


Dara nampak tersenyum saat Danial melakukan itu.


Dina yang melihat hal itu menjadi panas, namun dia tak menunjukkan reaksinya pada Danial.


"Dasar bilangnya mau balikan tapi kelakuannya begini, jangan harap aku akan kembali" ucap Dina dalam hati dengan kesal.


Dina duduk di salah satu sofa setelah menghidangkan teh yang di buat Bik Dila.


"Mr. Danial, bisakah anda segera katakan tujuan anda datang ke sini?" tanya Dina dengan wajah santainya.


"Oh ternyata kamu sudah di sini" ucap Danial sambil tersenyum.


Dina menatap ke arah keduanya dengan wajah datar.


"Begini karena aku terluka gara-gara kamu jadi aku akan tinggal di rumah mu sampai aku sembuh" ucap Danial.


"Hah?" tanya Dina tak paham.


"Kamu harus merawat Danial, bukankah dia terluka karena menyelamatkan mu Dina" ucap Dara.


"Tapi..."


"Dina, aku terluka karena menyelamatkan mu" ucap Danial menekan setiap perkataannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2