
Sudah dua kali dia berurusan dengan perusahaan Danial, pertama perusahaan kecantikannya dan sekarang perusahaan Fashionnya.
.
.
.
Dan bodohnya, lagi-lagi Dina tak mengecek dengan teliti orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan itu.
"Arggghhhh benar-benar menyebalkan" teriak Dina kesal setiap kali ingat kelicikan Danial yang menjebaknya.
Danial benar-benar licik, dia baru muncul saat Dina sudah menandatangani kontrak itu.
Saat itu Danial menyuruh Desainer utamanya yang dia panggil 'Miss jadi-jadian' itu untuk menyelesaikan tanda tangan kontrak kerja dengan Dina.
Dan Danial muncul di sana setelah Dina menandatangani kontraknya, hanya untuk meledek Dina.
Saat itu Dina benar-benar kesal hampir saja dia mencakar wajah Danial jika saja tidak ada orang di sana.
Dina terpaksa bekerja di perusahaan itu, dia terikat kontrak sebagai mitra perusahaan Danial.
Twins Fashion akan melalukan kolaborasi dengan butik Dina. Dan Dina sebagai desainer di butiknya harus membuat beberapa desain pakaian kemudian menyerahkannya pada Miss Jadi-jadian yang bekerja sebagai desainer utama di perusahaan itu.
"Hah... bertahanlah Dina hanya 6 bulan, setelah kontrak kerja ini selesai kamu bisa bebas" gumam Dina yang berdiri di depan gedung bertingkat itu.
Beberapa saat kemudian mobil Danial terparkir di depan perusahaannya.
Entah dari mana pria itu padahal tadi dia menemani Dina yang berjalan kaki sampai di depan pagar perusahaannya. (Tentu saja Danial masih di dalam mobil dan Dina berjalan kaki)
Tapi kenapa dia baru sampai? hanya Danial yang tahu.
Danial keluar dari dalam mobilnya, beberapa karyawan menundukkan kepalanya pada Danial.
Sedangkan Dina, dia mematung saat Danial lewat tepat di depannya.
Danial menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Dina. Dia bersikap seolah-olah tidak mengenalnya sama sekali.
Flashback
Keesokan harinya setelah tanda tangan kontrak kerja dengan perusahaan Danial.
Dina yang seharusnya sudah mulai bekerja hari ini pun tak datang ke kantor, membuat beberapa orang di perusahaan menunggu dirinya cukup lama.
Danial yang mendengar bahwa Dina tak datang pun segera turun tangan. Bukannya Dina tidak bisa profesional tapi dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Danial.
Ada sedikit rasa takut dan sekaligus rasa kesal saat dia berhadapan dengan Danial kemarin, bahkan tubuhnya sampai gemetar saat melihat Danial muncul.
Tapi dia berusaha menyembunyikannya saat itu.
"Dimana bos kalian" tanya Danial yang sudah sampai di studio DD LIVE.
"Bos Dina tidak ada tuan" ucap asisten Dina.
__ADS_1
Dina sudah berpesan pada asistennya, untuk mengatakan dirinya tidak ada di sana jika ada yang mencari dirinya.
Kedatangan Danial membuat beberapa karyawan Dina nampak terkejut, sebagian besar dari mereka mengenali pria tampan berkharisma itu.
Para karyawan Dina bertanya-tanya ada apa gerangan yang membuat pria itu datang ke sana dan mencari bos mereka.
Karyawan Dina yang ada di Studio itu tak tahu kalau Dina bekerja sama dengan perusahaan Danial, hanya karyawan butiklah yang mengetahui kerjasama itu.
"Aku baru saja melihatnya masuk ke ruangannya" ucap Danial sambil menunjuk ruangan yang di masuki Dina dengan dagunya.
Tadi saat Danial baru masuk ke dalam studio Dina, kebetulan Danial melihat Dina masuk ke ruangannya.
"Itu tuan..."
"Tck" Danial berdecak.
Danial yang tak sabaran pun langsung menerobos masuk dan berusaha di hentikan oleh asisten Dina, para karyawan lain pun nampak hanya melihat hal itu.
"Tuan anda tidak bisa langsung masuk begitu saja" ucap asisten Dina yang mengejar langkah kaki Danial.
Danial mengabaikan ucapan asisten istrinya. Ya Danial masih menganggap Dina sebagai istrinya.
Tok tok
Danial mengetuk pintu ruangan Dina yang terbuka lebar. Dina mendongak menatap ke arah pintu. Dan betapa terkejutnya dirinya.
"Mr Danial..." ucap Dina pelan.
"Bisa kita bicara sebentar" ucap Danial dan tanpa persetujuan Dina dia pu langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan Dina.
Dina menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, tolong buatkan teh ya" ucap Dina pada asistennya.
Sudah terlanjur, itulah yang di pikirkan Dina.
"Baik mbak" jawab asisten Dina.
Asisten Dina keluar dari ruangan Dina dan menutup pintu ruangan itu.
"Ada apa anda ke sini Mr. Danial" tanya Dina yang berpura-pura sibuk dengan kertas-kertas yang ada di mejanya.
Danial menatap ke arah Dina, dia tahu kalau istrinya itu sedang berusaha menghindar darinya.
"Bukankah sekarang kamu harusnya datang ke kantor" ucap Danial sambil duduk di single sofa dengan tangan di kedua sisi sofa itu.
Nampak sangat santai, seolah-olah tempat itu adalah miliknya sendiri.
"Untuk apa?" tanya Dina cuek dan masih sibuk sendiri.
"Dina dimana keprofesionalan mu" ucap Danial mempertanyakan keprofesionalan Dina.
"Hah... " Dina menghela nafas.
__ADS_1
"Bukankah saya sudah bilang kemarin, saya akan membatalkan perjanjian itu" jawab Dina sambil menatap Danial.
"Kalau begitu kamu harus membayar dendanya karena sudah memutus kontrak secara sepihak" ucap Danial sambil menyandarkan tubuhnya di sofa seolah-olah dialah bos tempat itu.
"Akan saya bayar" jawab Dina lalu kembali pada pekerjaannya.
Danial menyeringai.
"Memangnya kamu sanggup membayar denda itu?" tanya Danial sambil menarik sudut bibirnya.
Dina menatap Danial.
"Berapa biaya denda pelanggaran kontraknya?" tanya Dina.
"Kamu tidak tahu? jangan bilang kamu tidak membacanya dengan benar" ucap Danial sambil menyeringai.
"Sudah saya baca kok" jawab Dina tenang.
"Lalu kenapa masih tanya?" tanya Danial.
"Hanya memastikan" jawab Dina.
Danial menyeringai.
"Kamu tidak membacanya, bukan?" tebak Danial dengan seringai di wajahnya.
"Kenapa kamu semakin ceroboh Dina? setahu ku kamu bukan orang yang ceroboh" ucap Danial menertawakan Dina.
"Mr. Danial apa anda tidak punya pekerjaan? jangan buang-buang waktu, segera katakan berapa dendanya dan pergilah dari sini" usir Dina.
"Oke, dendanya 10 M" ucap Danial dengan entengnya.
"Apa? 10M?" tanya Di terkejut.
"Hmmm kenapa?" tanya Danial dengan santainya.
"Jangan bohong!" ucap Dina tak percaya.
"Aku tidak bohong, kamu bisa membaca kembali kontraknya dengan benar" ucap Danial.
"Mampus kamu Dina, walaupun semua penghasilan mu di kumpulkan kamu tidak akan sanggup membayarnya" ucap Dina dalam hati.
"Kenapa banyak sekali?" protes Dina sambil menatap Danial.
"Tentu saja, kamu pikir perusahaan ku apa. Perusahaan besar pastinya memiliki keuntungan yang besar dan jika ada pelanggaran kontrak tentu saja juga akan besar untuk menutupi kerugiannya" jawab Danial dengan santainya.
"Sial, dia menjebak ku" ucap Dina dalam hati.
Walaupun sekarang Dina adalah desainer yang cukup terkenal tapi uang sebanyak itu sangat sayang jika terbuang percuma.
Dia juga harus membayar karyawan-karyawannya, biaya keluarganya dan biaya lainnya.
.
__ADS_1
.
.