
Dina keluar dari kamarnya, samar-samar dia mendengar suara ponselnya. Dina menoleh ke lantai atas.
Dia mendengar suara ponselnya dari lantai atas.
Sejak Danial pulang dari rumah sakit mereka pindah ke kamar yang ada di lantai bawah untuk memudahkan jikalau Danial keluar dari kamar dan untuk memudahkan Dina yang sedang hamil agar tidak perlu naik turun ke lantai atas.
Dengan langkah perlahan Dina menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar yang sebelumnya mereka tempati.
Suara ponsel semakin nyaring, Dina mencari ponselnya dan tak lama ponselnya ketemu.
"Perasaan aku gak pernah ke lantai atas deh, kok ada di sini ya?" ucap Dina bertanya-tanya.
Dina menemukan ponselnya di sofa yang ada di kamar itu.
"Masa iya aku delusi? perasaan tadi ada di kamar bawah deh" gumam Dina
Dina bergidik ngeri, Dina yang aslinya orang penakut pun segera keluar dari kamar. Dina melangkah turun dari lantai atas dengan hati-hati.
Tapi di anak tangga ketiga dia terpleset, Dina berusaha untuk berpegangan tapi tak bisa. Alhasil dia terjatuh, tubuhnya jatuh dari tangga.
Dina berusaha melindungi perutnya.
"AARGGHHH MAS DANIAL!!" teriak Dina sebelum dia mendarat di lantai bawah.
"Dina" Danial terkejut mendengar teriakan kencang Dina. Dia segera bergerak turun dari ranjang dan melangkah keluar mengandalkan tongkatnya.
Bahkan bukan hanya Danial, semua orang yang ada di mansion itu pun terkejut dan segera berlari mencari asal suara teriakan Dina.
"Dina" teriak nenek Dharma saat melihat istri cucunya tengah meringkuk kesakitan di lantai.
Nenek Dharma langsung menghampiri Dina yang kesakitan.
"Cepat siapkan mobil!" teriak Nenek Dharma.
"Uuuhhh sakitttt... sekali nek..." lirih Dina kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Nek... tolong... selamatkan bayi Dina..." ucap Dina pelan sambil memegangi perutnya yang sangat sakit.
Danial yang keluar dari kamarnya pun langsung mencari keberadaan Dina. Salah satu pekerja yang melihat Danial segera menuntun Danial menuju istrinya.
"Nek kenapa dengan Dina" tanya Danial dengan suara yang sangat khawatir.
"Dia jatuh dari tangga Danial" ucap nenek Dharma yang sangat khawatir saat melihat banyak darah keluar dari tubuh Dina.
Tanpa banyak bicara Danial segera mengangkat tubuh Dina ke dalam gendongannya.
"Nek tolong tunjukkan jalan pada Danial" ucap Danial
Danial segera melangkah cepat keluar menuju mobil di bantu nenek Dharma dan bik Dahayu sebagai pemandu jalannya.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan mobil melesat menuju rumah sakit.
"Mas sakit..." lirih Dina
__ADS_1
"Bertahanlah sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit" ucap Danial berusaha membuat Dina tenang.
Danial merasakan sesuatu yang basah di tangannya. Di dalam hatinya dia berdoa semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Dina dan bayinya.
"Hiks hiks sakit..." lirih Dina sambil mencengkram lengan Danial kuat.
Danial mengecupi kening Dina yang masih ada di gendongannya, mencoba menenangkan Dina.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka tiba di rumah Sakit, mereka semua segera turun dari dalam mobil dengan Dina yang masih dalam gendongan Danial.
Tim medis pun segera bergerak cepat saat melihat seorang pasien.
"Sus cucu saya jatuh dari tangga dia sedang hamil" ucap nenek Dharma
Dina di bawa masuk ke UGD.
1 jam kemudian dokter keluar.
Nenek Dharma segera melangkah menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan cucu saya dok?" tanya nenek Dharma
Dokter perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan sambil menunduk.
"Maaf nyonya kami turut berduka. Kondisinya cukup parah dan bayi dalam kandungan nona Dina tidak bisa kami selamatkan"
Cetttaaarrr
Suara petir terdengar di telinga Danial.
"Maafkan kami tapi untuk keselamatan sang ibu kami terpaksa harus mengeluarkan janin di kandungannya yang sudah tidak dapat berkembang lagi"
"Benturan yang terjadi saat nona Dina jatuh sangat kuat mengenai perutnya menyebabkan janin tidak bisa di selamatkan"
Nenek Dharma sangat syok begitu pula dengan Danial. Danial hampir saja jatuh beruntung pak Dedi yang ikut mengantar mereka sempat menahan tubuh tuan mudanya.
"Bagaimana keadaan cucu saya dok?" tanya Nenek Dharma dengan air mata yang sudah mengalir.
"Ada beberapa luka kecil di tubuhnya dan retak di tangan kirinya. Setelah ini akan di pindahkan ke ruang rawat"
Nenek Dharma mengangguk "Terima kasih dok"
"Sama-sama nyonya, sekali lagi kami turut berduka"
Nenek Dharma menganggukkan kepalanya pelan.
1 jam kemudian
Kelopak mata Dina mulai bergerak, perlahan dia membuka kelopak matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit berwarna putih.
Dina menoleh ke samping kanannya.
"Ne...nek" panggil Dina pelan
__ADS_1
Nenek Dharma yang tadinya sedang tidur dengan kepala di letakkan di atas brankar Dina pun langsung mengangkat kepalanya menatap Dina.
"Dina, syukurlah kamu sudah sadar nak"
"Nek apa yang terjadi?" tanya Dina pelan
"Kamu jatuh dari tangga nak"
"Ah benar" ucap Dina lalu dia segera meraba perutnya.
Dina nampak panik saat meraba perutnya.
"Nek bayi Dina baik-baik saja kan?" tanya Dina panik, dia segera bangun dan duduk di brankar.
"Nek kenapa perut Dina kecil nek? dimana bayi Dina nek?" tanya Dina panik
"Nenek jawab kenapa hanya diam saja?!" teriak Dina
"Dimana bayi Dina nek? bayi Dina baik-baik saja kan, nek?! nenek jawab Dina hiks hiks" teriak Dina dan dia mulai histeris.
"Maaf nak, bayi mu tidak bisa di selamatkan" ucap nenek sambil menangis.
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN NEK! NENEK JANGAN BOHONG!" teriak Dina, dia sangat syok. Air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Danial dan Dani yang berada di luar kamar inap Dina pun terkejut saat mendengar suara teriakan Dina.
Dani segera menuntun Danial masuk ke dalam kamar inap Dina.
"Mas mana bayi ku, mas?" tanya Dina saat melihat Danial masuk ke dalam.
Danial segera melangkah ke arah Dina di bantu Dani, nenek Dharma menyingkir dari sana membiarkan cucunya menenangkan Dina.
"Mas kenapa mas diam saja, dimana bayi ku mas!" teriak Dina sambil mencengkram baju yang di kenakan Danial.
"Maaf sayang"
"Tidak apa maksud mu mas!" teriak Dina
"Bayi kita sudah tenang di alam sana" ucap Danial dengan lembut sambil mengusap kepala Dina.
"Tidak mungkin!" teriak Dina sambil menghempaskan tangan Danial di kepalanya.
"Tenanglah Dina, bayi kita sudah bahagia" ucap Danial sambil menyentuh lengan Dina yang masih mencengkram pakaiannya.
"Mas pasti bohong! kenapa mas tega sekali bicara seperti itu!" teriak Dina sambil menarik-narik pakaian Danial yang dia cengkram.
"Untuk apa mas bohong, Dina? bayi kita sudah pergi Dina dan kamu harus ikhlas" ucap Danial dengan lembut sambil memeluk Dina.
"Huuuaaaa! tidak mas tidak, kembalikan bayi ku, mas kembalikan hiks hiks" ucap Dina sangat terpukul.
.
.
__ADS_1
.