
"Tidak, nanti anda tergoda. Ini hanya akal-akalan anda saja"
.
.
.
"Tidak akan" kilah Danial
"No no" tolak Dina
Danial mendekat ke wajah Dina, Dina memejamkan matanya dengan takut-takut saat melihat wajah Danial perlahan mendekat.
Dan tak lama kemudian kemeja yang di kenakan Dina terlepas tanpa Dina sadari.
"Kenapa kamu memejamkan mata mu baby?" Bisik Danial sambil menyeringai.
Dina membuka kelopak matanya dan menatap Danial yang ada tepat di hadapannya.
Tangan Danial merogoh paper bag di pangkuan Dina, sedangkan tatapannya masih tertuju ke arah mata Dina seakan-akan menghipnotis Dina.
Danial memasang bra tanpa tali di tubuh Dina tanpa kesulitan sedikit pun.
"Waw ternyata pas" ucap Danial sambil menatap tubuh Dina yang sudah terpasang Bra berwarna merah menyala, sangat cocok dengan warna kulit Dina yang putih.
"Apa?" Tanya Dina
"Ukurannya pas, ternyata tebakan ku benar" ucap Danial sambil tersenyum ke arah Dina.
Dina menundukkan kepalanya.
"Arghhhh!" teriak Dina saat dirinya sadar bahwa Danial sudah melakukan sesuatu pada tubuhnya.
Danial tertawa melihat keterkejutan Dina.
"Tidak perlu terkejut begitu" ucap Danial sambil tertawa.
"Anda benar-benar pria mesum" ucap Dina sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Ha ha ha"
Danial bangun dari tempatnya duduk.
"Sisanya pakai sendiri ya" ucap Danial sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Lalu Danial hendak keluar dari kamar tapi sebelum keluar dari kamar dia menoel sedikit gundukan kenyal itu.
"Tuan Danial!!!" Teriak Dina
Danial kabur dari sana sambil tertawa.
"Dasar pria menyebalkan, mesum!" umpat Dina dari dalam kamar.
Sore harinya Danial melangkah ke parkiran bawah tanah bersama Dina dan Dani.
"Bos nyonya menelpon dan mengingatkan kita untuk datang ke mansion" ucap Dani
Danial membuka pintu mobilnya.
"Masuklah" ucap Danial pada Dina, Dina masuk ke dalam mobil lalu Danial masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Dina.
Dani pun juga sudah duduk di balik kemudi.
"Bos" panggil Dani
"Apa?" tanya Danial
"Bagaimana?" tanya Dani
"Kalau aku pergi Dina bagaimana? Nenek pasti akan menyuruh ku untuk menginap di sana"
"Saya tidak apa-apa sendirian di apartemen" ucap Dina
Danial menatap tak yakin ke arah Dina.
"Sungguh tidak apa-apa kok" ucap Dina meyakinkan Danial.
"Yakin?" tanya Danial
Dina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sebaiknya anda temui nenek, beliau sudah lama tidak bertemu anda"
"Baiklah" jawab Danial sambil mengangguk.
"Berangkat Dan, tapi sebelum itu antarkan Dina dulu"
"Baik" jawab Dani
Dani melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di depan gedung apartemen.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak apa-apa sendirian di sini?" tanya Danial
"Iya" jawab Dina sambil mengangguk
"Ikut saja ke mansion ya..."
"Kalau saya ikut apa kata nenek nanti, anda juga akan dalam masalah nanti"
"Tapi..."
"Sudah saya turun dulu" ucap Dina sambil membuka pintu mobil kemudian menutupnya kembali setelah turun dari mobil.
"Sampai jumpa" ucap Dina sambil melambaikan tangannya.
Danial membuka kaca mobilnya.
"Kamu yakin tidak apa-apa?" Tanya Danial lagi
"Iya saya yakin" ucap Dina sambil tersenyum sebenarnya dalam hati dia sudah kesal karena Danial sangat cerewet.
"Kalau begitu berikan aku sebuah ciuman" ucap Danial sambil mendekatkan wajahnya.
"Di sini?" tanya Dina
"Tentu saja"
"Tidak" tolak Dina
"Kalau begitu aku tidak akan pergi" ancam Danial
"Tapi..."
"Cepat Dina" ucap Danial sambil memejamkan matanya.
Dengan ragu Dina mendekatkan wajahnya perlahan sedangkan Dani hanya diam menatap ke depan.
Cup
Dina mengecup pipi Danial
"Sudah, sampai jumpa" ucap Dina lalu dia kabur.
"Hei itu bukan ciuman" teriak Danial, beruntung di sana tidak ada orang.
"Haiss dia kabur" gerutu Danial, tapi bibirnya tersenyum.
"Cieee bucin nih" ledek Dani
Danial menendang jok Dani.
"Baik" jawab Dani
"Cepat berangkat"
Dani melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka sadari seseorang telah memotret mereka dari kejauhan.
"Halo, saya sudah dapat foto mereka" lapor orang yang memotret Dina dan Danial.
"..."
"Baik"
Keesokan harinya
Dina menggeliat
"Tangan siapa ini?" Tanya Dina saat melihat sebuah tangan besar melingkar di perutnya.
Dina menoleh ke belakangnya.
"Hubby?"
"Hmmm" jawab Danial
"Sejak kapan anda pulang?" tanya Dina
"Semalam, pukul 11 malam" ucap Danial dengan suara seraknya dan masih memejamkan matanya.
"Nenek tidak menyuruh anda menginap?" tanya Dina
"Aku kabur" jawab Danial
"Ya ampun, bagaimana kalau nenek anda marah?"
"Sudah biasa"
Danial membuka kelopak matanya.
"Tumben kamu bangun siang?" tanya Danial
"Aaa itu... saya datang bulan" ucap Dina
"Apa?" ucap Danial terkejut
__ADS_1
"Kenapa anda terkejut begitu?"
"Tidak apa-apa" ucap Danial
"Gak bisa main deh" ucap Danial dalam hati
Satu minggu kemudian.
Saat ini Dani tengah mengendarai mobilnya menuju apartemen tempat tinggal Dina. Dani di perintahkan oleh Danial untuk mengantarkan Dina pulang setelah mengantar makan siang untuknya.
Karena saat ini dia sangat sibuk jadi Danial tidak bisa pergi kemana-mana, makan siang pun Dina harus mengantarnya ke kantor.
"Kak Dani" panggil Dina
"Hmmm?" jawab Dani sambil melirik ke belakang melalui center mirror.
"Bisakah ACnya lebih dingin lagi? aku kepanasan" ucap Dina sambil mengibaskan tangannya ke arah lehernya.
"Kepanasan?" tanya Dani heran
"Iya"
"ACnya sudah sangat dingin loh"
"Benarkah? tapi kenapa tubuh ku panas sekali?" tanya Dina yang merasa sangat tidak nyaman.
Dani melirik ke belakang lagi melalui center mirror.
"Kamu kenapa Dina?" tanya Dani saat melihat Dina nampak bergerak gelisah.
"Tidak tahu rasanya panas sekali" ucap Dina hendak melepaskan pakaiannya.
"Eh eh apa yang kamu lakukan" ucap Dani panik
"Gerah kak"
"Pakai lagi pakaian mu Dina jika tidak bos akan marah" ucap Dani
"Tapi panas" rengek Dina
"Apa kamu makan atau minum sesuatu tadi?" tanya Dani
Dina nampak berpikir.
"Kopi" jawab Dina
"Kopi?" tanya Dani
"Iya"
"Siapa yang memberi mu kopi?" tanya Dani
"Tadi salah satu karyawan di kantor memberi ku kopi"
"Pria?"
"Iya"
"Shitt!" Umpat Dani lalu dia langsung memutar balik mobil yang dia kemudikan.
"Bertahanlah sebentar Dina" pinta Dani
Dani melajukan mobilnya dengan cepat kembali ke perusahaan, beruntung mereka belum pergi terlalu jauh.
5 menit kemudian Dani memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah, karena dia tidak bisa membawa Dina lewat lobi dalam keadaan seperti ini.
"Ini bos kemana sih di telpon gak di angkat" gerutu Dani
Dani menoleh ke belakang dan nampaklah Dina yang sedang membuka kancing bajunya.
Glek
Dani segera keluar dari mobil lalu dia membuka pintu belakang.
"Apa yang kamu lakukan Dina" ucap Dani sambil membuka jasnya lalu menutupi tubuh bagian depan Dina.
"Kak Dani apa-apaan sih, panas tahu!" protes Dina
"Sebaiknya kamu ikut aku ayo" ajak Dani membawa Dina turun dari mobil.
"Kemana?" tanya Dina
"Ayo ikut saja" ucap Dani sambil memapah tubuh Dina.
"Kak Dani, kulit mu dingin sekali" ucap Dina, tangannya mencoba masuk ke dalam kemeja yang di pakai Dani.
.
.
.
Setelah baca, like dan komen ya teman-teman 😊.
__ADS_1
Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... 😊❤.
Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You 😊💕