
"No" tolak Miss Dylan.
.
.
.
"Saya janji akan mentraktir anda makan malam jika anda membiarkan saya bolos" ucap Dina.
"Makan malam?" tanya Miss Dylan mulai tertarik.
"Ya makan malam" ucap Dina bersemangat.
Miss Dylan nampak sedang berpikir.
"Baiklah, tapi saya mau di traktir di restoran bintang lima" ucap Miss Dylan.
"Oke setuju" ucap Dina sambil menjentikkan jarinya.
"Baiklah anda bisa pergi, toh tinggal sedikit lagi. Tapi janji ya satunya anda yang kerjakan" ucap Miss Dylan.
"Iya tenang saja, terima kasih banyak Mr. Dylan anda yang terbaik" ucap Dina lalu dia langsung melangkah pergi.
"Sampai jumpa Mr. Dylan" ucap Dina
"Ya sampai jumpa" jawab Miss Dylan.
Dia di buat geleng-geleng kepala dengan kelakuan Dina kali ini. Setahunya Dina adalah perempuan yang berkepribadian tenang, tapi sekarang dia melihat sisi kekanak-kanakan Dina.
Di luar kantor.
"Halo"
"Kamu dimana? aku akan lewat di depan kantor Twins Fashion"
"Kebetulan sekali kak aku ada di depan" ucap Dina sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kak aku di sini" ucap Dina sambil melambaikan tangannya pada sebuah mobil.
Dina menutup telponnya, mobil itu berhenti tepat di depan Dina.
"Naiklah"
"Iya" jawab Dina, dan langsung membuka pintu mobil kemudian dia masuk ke dalam.
"Sudah?"
"Sudah" jawab Dina.
Mobil pun melaju meninggalkan kantor Danial.
"Tumben pulang siang?" tanya Dzafir.
"Pekerjaan ku sudah selesai" jawab Dina.
"Lalu kamu mau kemana?" tanya Dzafir.
"Mau ke pengadilan Agama, kakak bisa mengantar ku ke sana?" tanya Dina.
"Bisa" jawab Dzafir.
"Terima kasih" ucap Dina.
"Iya"
Beberapa jam kemudian, Dina keluar dari pengadilan agama. Dia masuk ke dalam mobil Dzafir.
"Bagaimana konsultasinya?" tanya Dzafir.
"Lancar, aku di suruh melengkapi dokumen-dokumen yang di butuhkan" ucap Dina sambil merapikan beberapa kertas yang dia bawa dari pengadilan.
Dzafir menganggukkan kepalanya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Dzafir.
Kryyuuukkk
Perut Dina berbunyi.
__ADS_1
"He he maaf kak, aku belum makan siang" ucap Dina sambil tersenyum malu ke arah Kakak sepupunya.
Dzafir tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya tadi kita pergi makan dulu" ucap Dzafir sambil menghidupkan mobilnya.
"Lupa" jawab Dina.
"Ya sudah kita pergi makan siang"
"Iya kak"
Dzafir melajukan mobilnya menuju sebuah restoran.
2 hari kemudian.
Mobil Dzafir sudah terparkir di depan rumah Dina.
"Terima kasih kak sudah menemani ku mengurus semuanya selama dua hari ini"
"Sama-sama"
"Dina" panggil Dzafir.
"Iya?"
"Ada sesuatu yang ingin kakak katakan" ucap Dzafir.
"Jika apa yang akan kakak katakan ini nantinya membuat hubungan kita merenggang maka jangan katakan itu kak" ucap Dina.
Dina tahu bahwa kakak sepupunya itu jatuh hati padanya, karena itulah Dina melarangnya lebih dulu.
"Kakak mencintai mu Dina" ucap Dzafir.
"Terima kasih untuk cinta kakak, tapi maaf karena akan sulit bagi ku. Maaf"
"Dina, tidak bisakah nanti kamu membuka hati mu untuk kakak? kakak mencintai mu Dina, bukan sebagai adik tapi sebagai wanita" ucap Dzafir sambil menatap lekat Dina.
"Maaf kak" ucap Dina sambil menggeleng.
"Lalu kenapa kamu bercerai dengannya?apakah setelah bercerai kamu akan menikah lagi dengan orang lain?" tanya Dzafir.
"Kenapa? apa kamu masih mencintai pria itu?" tanya Dzafir.
"Bukan begitu" ucap Dina.
"Lalu kenapa kamu bercerai? kamu tahu kan Allah membenci perceraian"
"Aku tahu, tapi dari awal aku memang tidak mau menikah lagi setelah perceraian ini" ucap Dina.
"Lalu kenapa? kamu bercerai dengan suami mu? kamu bilang dia tidak mau bercerai dengan mu" ucap Dzafir.
"Aku harus melakukannya kak, jika tidak akan ada seorang bayi tak bersalah yang akan jadi korban"
"Apa maksud mu?" tanya Dzafir.
"Kekasih barunya hamil, jadi aku harus segera bercerai dengannya sebelum dia menikahi kekasihnya karena aku tidak mau di madu" ucap Dina, air matanya sudah menetes dari kelopak matanya.
"Apa?" Dzafir terkejut.
"Pria brengsek" ucap Dzafir marah, dia memukul setir mobilnya.
"Jangan menangisinya Dina, jangan tangisi pria seperti itu. Kamu masih punya banyak keluarga ada orang tua mu, adik mu, juga ada kakak. Jangan takut kamu tidak sendirian"
Dina menganggukkan kepalanya lalu mengusap air matanya.
"Terima kasih kak" ucap Dina sambil menatap kakak sepupunya.
Dzafir menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah adik sepupunya.
"Kamu lupakan saja ucapan kakak barusan, maaf" ucap Dzafir.
Dina menatap kakak sepupunya.
"Maaf kak"
"Tidak apa-apa, kita masih bisa menjadi kakak adik" ucapnya sambil tersenyum walaupun saat ini hatinya sangat sakit.
"Ya kita masih bisa menjadi kakak adik, aku satu-satunya adik perempuan kakak" ucap Dina sambil tersenyum di balik cadarnya.
__ADS_1
"Emmm kamu adik perempuan kakak satu-satunya"ucap Dzafir sambil tersenyum ke arah Dina, namun netranya melihat seseorang di dalam rumah Dina.
Dzafir menyipitkan matanya guna memperjelas siapa orang yang ada di ambang pintu rumah adiknya.
"Kenapa pria itu ada di sini?" tanya Dzafir.
"Siapa?" tanya Dina sambil menoleh ke belakang.
Dina terkejut melihat orang itu, dan saat menoleh ke arah Dzafir ternyata kakaknya itu sudah turun dari dalam mobil.
"Kakak!" panggil Dina.
Dina segera turun dari mobil dan mengejar Dzafir.
Dzafir melangkah masuk ke dalam rumah Dina dan langsung menarik krah baju orang itu.
"Sedang apa kau di sini?"
"Tentu saja menunggu istri ku"
"Heh istri?" ucap Dzafir sambil menarik sudut bibirnya.
Bugghhh
"Kakak!" teriak Dina saat melihat Dzafir meninju wajah Danial.
Danial meringis kesakitan sambil menyentuh sudut bibirnya.
"Kak hentikan" ucap Dina.
Dzafir menghiraukan perkataan Dina, dan dia kembali menghajar Danial.
Bugghhh
Bugghhh
"Kakak hentikan!" ucap Dina mencoba melerai.
"Bik, bibik" panggil Dina pada ARTnya.
Seorang wanita tua berlari tergopoh-gopoh menghampiri Dina.
"Ya Allah" ucap bibik terkejut.
Buggghhh bugghhhh
"Kak hentikan!"
Dina dan bibik mencoba melerai mereka namun tak bisa.
Dzafir terus memukuli Danial, dan Danial tak melawannya.
Bugghhh bugghhh.
"Kakak hentikan!" teriak Dina yang berdiri di depan kakak sepupunya sambil merentangkan kedua tangannya.
Sedangkan Danial tergeletak di lantai dengan wajah lebamnya.
"Minggir Reeha!" ucap Dzafir.
"Hentikan kak, dia bisa mati" ucap Dina dengan air mata yang membasahi pipi.
"Kenapa? kamu masih mencintainya? bukankah dia sudah mengkhianati mu?"
"Bukan begitu kak, jika dia meninggal bagaimana dengan nasib kedua anak ku, kak?"
Dzafir mulai tenang, Dina membawa kakak sepupunya keluar. Sedangkan bibik menghampiri Danial.
Beberapa menit kemudian Dina kembali ke dalam setelah menenangkan Dzafir, Dzafir pun pulang ke rumahnya.
"Mr. Danial" panggil Dina sambil menghampiri Danial yang duduk di lantai dengan wajah lebamnya.
Danial nampak menahan sakit.
"Bagaimana ini" ucap Dina saat melihat wajah Danial yang babak belur.
.
.
__ADS_1
.