
"Kak Dani, kulit mu dingin sekali" ucap Dina, tangannya mencoba masuk ke dalam kemeja yang di pakai Dani.
.
.
.
"Aduh Dina hentikan, nanti raba punya bos Danial saja" ucap Dani sambil menghentikan tangan Dina
Dani masuk ke dalam lift bersama Dina.
Sesampainya di lantai ruangan Danial, Dani segera membawa Dina ke ruangan Danial.
Beruntung saat Dani membawa Dina, sekretaris Danial sedang tidak ada di tempatnya karena sekarang masih masuk waktu istirahat.
"Bos bos gawat" panggil Dani setelah membuka pintu ruangan Danial
"Ada apa Dani?" tanya Danial yang masih fokus mengerjakan pekerjaannya.
Lalu Danial mendongak menatap Dani.
"Ada apa dengan Dina?" Tanya Danial terkejut, Danial segera menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Danial
"Seseorang mencoba menjebak nona Dina, bos" ucap Dani
"Apa?!"
"Bos sebaiknya anda segera tangani nona Dina" ucap Dani, dia merasa tidak nyaman pada Danial karena sejak tadi tangan Dina menggerayangi tubuhnya.
"Eh eh tangannya" ucap Danial sambil menepuk telapak tangan Dina.
"Sakit..." Rengek Dina
Danial segera mengambil alih tubuh Dina.
"Hisss..." Rintih Dina, Tangannya mulai bergerak di dada Danial.
"Saya akan menyelidiki siapa yang mencoba menjebak nona Dina" ucap Dani
"Emm segera tangani" ucap Danial, rahangnya sudah mengeras menahan amarahnya.
"Baik saya permisi" ucap Dani
"Emm" jawab Danial sambil mengangguk
Dani keluar dari ruangan Danial sedangkan Dina sudah berhasil melepas beberapa kancing kemeja Danial.
Dan tangannya mulai bergerak meraba-raba tubuh atletis Danial.
"Dina" panggil Danial dengan suara seraknya.
Dina mendongak menatap wajah Danial
"Panas, tubuh saya rasanya terbakar tolong bantu saya" rengek Dina
Danial mengunci pintu ruangannya dan segera membawa Dina ke dalam Kamar yang ada di dalam sana.
Danial menurunkan tubuh Dina di ranjang lalu Danial berjongkok di hadapan Dina, mereka saling bertatapan.
"Hubby..." Lirih Dina
"Hmmm?" sahut Danial
"Saya mau itu" rengek Dina
"Itu apa?" tanya Danial
__ADS_1
"Tck biasanya langsung nyambung" cibir Dina
Danial terkekeh mendengar cibiran Dina,
Dina melepas jas milik Dani yang menutupi tubuhnya.
Dina melemparkan jas itu tepat ke wajah Danial, Danial hanya bisa pasrah dengan kelakuan Dina.
Danial membuang jas yang di lempar Dina ke lantai dan jas milik Dani tergeletak mengenaskan di lantai.
Dina yang tak bisa menahannya lagi lantas menarik dasi Danial dan menciumnya. Perlahan di tariknya tubuh Danial dan berakhir Danial mengukung tubuh Dina.
Beberapa menit berlalu Danial melepas ciuman mereka dan bangkit dari atas tubuh Dina.
"Mau kemana?" Rengek Dina saat melihat Danial melangkah ke arah pintu.
Clek
Danial mengunci pintu kamarnya lalu dia berbalik menghadap ke arah Dina.
"Kemari dan rayu aku" ucap Danial sambil menggerakkan jarinya
"Emmm kok gitu sih" keluh Dina
"Ayo rayu aku, kan kamu yang pengen" ucap Danial
Dina diam di tempatnya dengan wajah kesal. Tubuhnya pun tak bisa diam.
"Ayo kamu mau kan, kemarilah sambil lepaskan pakaian mu" ucap Danial menyeringai
Dina tak bisa menahannya lagi, saat ini tubuhnya benar-benar haus akan sentuhan Danial.
Dina melangkah perlahan sambil melepaskan kancing bajunya satu-persatu
Danial menyeringai, hari ini adalah hari keberuntungannya.
Dengan senang hati Danial mengikuti langkah Dina. Danial duduk di pinggir ranjang perlahan Dina membuat Danial terlentang di ranjang.
Dina membuka satu-persatu kancing kemeja Danial yang masih tersisa, beberapa detik kemudian kemeja Danial sudah tergeletak di lantai, Danial tersenyum puas.
Dina mulai memberikan kecupan-kecupan di tubuh Danial.
"Hubby, ayo lakukan" rengek Dina
"Lakukan apa sayang?" tanya Danial pura-pura bodoh.
Dina menepuk dada Danial karena kesal.
"Jangan pura-pura bodoh ayo lakukan sekarang" desak Dina
Danial terkekeh
"Kamu agresif sekali sih"
Dina yang kesal pun berinisiatif memulainya, tangannya turun ke bawah menyelinap masuk kedalam celana bahan yang di pakai Danial.
"Eh eh tangannya nakal" ucap Danial sambil terkekeh
Dina menemukan apa yang dia cari, lalu dia meremasnya.
"Arghh" De sah Danial
Tapi sedetik kemudian Dina buru-buru mengeluarkan tangannya dan dia beranjak dari atas tubuh Danial.
"Eh mau kemana?" tanya Danial saat melihat Dina hendak kabur, dengan cepat Danial menahan lengan Dina yang akan kabur.
"I...itu terlalu besar, saya tidak jadi melakukannya" ucap Dina hendak kabur.
"Eitt kamu sudah membuatnya bangun jadi kamu harus bertanggung jawab" ucap Danial kembali menahan Dina.
__ADS_1
"Tidak itu tidak akan muat" tolak Dina ketakutan
"Muat tidak muat harus tetap muat, lagi pula kita sudah sering melakukannya, bukan. Dan muat kamu bahkan sampai mende sah panjang karenanya" ucap Danial
"Apa dari awal memang sebesar itu?" tanya Dina
"Tentu saja, jika tidak?"
Glek
Dina menelan ludahnya kasar, dia tidak pernah menyentuh ular kobra milik Danial. Karena itulah barusan saat menyentuhnya di sangat terkejut.
Ah tidak, ini kedua kalinya Dina menyentuh ular kobra Danial. Yang pertama saat dia bersembunyi di bawah meja saat nenek tiba-tiba datang kantor Danial.
Tapi saat itu Dina tidak terlalu fokus dengan ukuran kobra Danial jadi sekarang dia terkejut saat sadar dengan ukurannya.
Danial menarik lengan Dina dan membuatnya duduk di pangkuannya.
"Yakin nih gak mau lanjut? tubuh mu sudah tidak akan kuat menahan keinginan mu" ucap Danial sambil menyentuh titik-titik sensitif Dina.
Harus Dina akui, tubuhnya memang sangat menginginkan itu. Entah apa yang telah dia minum tapi dia memang tak sanggup menahannya lagi.
Dina memeluk tubuh Danial, wajahnya dia sembunyikan di ceruk leher Danial.
"Ayo teruskan hubby" bisik Dina
"Dengan senang hati darling" ucap Danial tersenyum menang
***
Dina bergerak di dalam pelukan Danial, Danial memeluknya dari belakang.
"Sayang jangan bergerak terus" ucap Danial yang terganggu tidurnya
"Arghh" racau Dina sambil menggerakkan tubuh bagian bawahnya sedangkan Danial mengerang saat ular kobranya yang masih di dalam sarangnya mulai di rang sang kembali.
"Sepertinya efek obatnya masih belum habis" pikir Danial
Dina membuka matanya lalu langsung naik ke atas tubuh Danial. Danial membiarkan Dina melakukan apapun padanya.
Danial hanya bisa menikmati apa yang Dina lakukan dengan senang hati.
Dina memasukkan ular kobra Danial ke dalam sarangnya, lalu Dina mulai bergerak.
"Arghh darling kamu benar-benar hebat" racau Danial saat Dina bergerak cepat di atasnya.
Dina terus bergerak naik turun, dia benar-benar agresif mungkin karena efek dari obat perang sang yang tidak sengaja dia minum.
15 menit kemudian Dina menekan tubuhnya ke bawah merasakan nikmatnya pelepas annya.
"Arghh!" e rang Dina mendongak ke atas sambil memejamkan matanya.
Danial memejamkan matanya menikmati pelepas an Dina. Tak lama kemudian Dina ambruk di atas tubuh Danial.
"Nikmat sekali" ucap Dina pelan
Danial terkekeh pelan
.
.
.
Setelah baca, like dan komen ya teman-teman 😊.
Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... 😊❤.
Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You 😊💕
__ADS_1