
Beberapa bulan kemudian.
"Terus bu tarik nafas buang"
"Hufff huhhh arghhh"
Ayo sayang kamu pasti bisa" ucap Danial sambil menggenggam erat telapak tangan Dina.
"Errrggghhh" Dina terus mengejan mengikuti arahan dokter.
Tak lama kemudian
Oekk Oeekk
Terdengar suara tangis bayi.
"Alhamdulillah selamat bayinya laki-laki" ucap sang bidan, lalu memberikannya pada suster untuk di bersihkan.
"Baiklah sisa satu lagi" ucap bidan.
Glek
Danial menelan salivanya dengan susah payah mendengar bidan mengatakan sisa satu lagi.
"Sayang kamu pasti bisa" ucap Danial memberi semangat pada Dina.
Dina menganggukkan kepalanya pelan walaupun Danial tak bisa melihat anggukannya.
"Oke bu bersiaplah kepalanya sudah mulai terlihat"
"Bismillah" ucap Dina dalam hati.
"Argghhh" teriak Dina sambil mengejan saat sudah mendapat aba-aba dari bidan.
Dan beberapa menit kemudian.
Oeekkk Oeekkk
"Alhamdulillah selamat bayinya perempuan" ucap Bidan sambil tersenyum lebar.
"Bu Dina hebat" ucap bidan.
Dina tersenyum sambil mengangguk pelan.
Danial bernafas lega, dia langsung meraih wajah istrinya dan langsung memberinya kecupan-kecupan lembut.
"Terima kasih sayang, kamu hebat" bisik Danial
"Iya mas" jawab Dina dengan suara lemahnya.
Bidan mulai menangani Dina yang baru saja selesai melahirkan.
Beberapa saat kemudian suster dan bidan membawa kedua bayi mungil itu pada kedua orangtuanya.
Dina menatap haru kedua makhluk kecil itu. Air mata bahagia pun mengalir.
"Silahkan di adzan dulu pak" ucap bidan sambil memberikan bayi laki-laki ke Danial.
Danial mulai mengadzan bayinya di telinga kanan bayinya kemudian setelah selesai dia berpindah ke telinga kiri bayinya dan iqamah di telinga kirinya.
 Danial sudah belajar mengumandangkan adzan sejak jauh-jauh hari.
Kemudian bergantian dengan bayi perempuannya. Sedangkan bayi laki-lakinya di serahkan pada ibunya oleh bidan.
"Selamat datang sayang, ini mama" bisik Dina pada putranya. Air matanya tak dapat ia tahan.
Tak lama kemudian suster menyerahkan bayi perempuannya pada Dina, kedua bayi mungil itu ada di gendongan Dina di kanan dan kiri.
Bidan dan suster membantu Dina untuk memberikan asi pertamanya pada kedua bayinya.
Danial mengusap air mata di pipinya, ada rasa sesal di hatinya, karena sampai saat ini dia tidak bisa melihat momen bahagia itu.
Tapi tak masalah karena dia sudah merekam semua momen itu menggunakan kamera yang sudah di pasang sebelum persalinan.
Dia akan menontonnya setelah dia bisa melihat lagi. Tentu saja sebelumnya dia sudah mendapat izin dari pihak rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Dina dan kedua bayinya sudah ada di ruang inap VVIP.
Nenek Dharma yang sejak tadi menunggu di luar akhirnya bisa melihat cicit-cicitnya, nenek Dharma benar-benar terharu melihat kedua makhluk kecil itu. benar-benar sangat imut.
"Danial mereka berdua benar-benar imut" ucap nenek Dharma sambil mengusap air mata harunya.
"Iya nek" jawab Danial
Tok tok
"Masuk" ucap nenek Dharma.
Ceklek
"Oh Dara, silahkan masuk nak"
"Terima kasih nek" Dara masuk ke dalam ruang inap Dina dan di belakangnya ada Dani yang kebetulan bertemu Dara di luar rumah sakit.
"Selamat Dina dan Danial" ucap Dara sambil tersenyum.
"Terima kasih" ucap Danial sambil tersenyum.
"Terima kasih mbak Dara" ucap Dina.
Dara tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi mu Dina?" tanya Dara yang melangkah mendekati Dina.
"Aku baik-baik saja mbak" jawab Dina.
"Maaf aku tidak bisa membantu mu melahirkan"
"Tidak apa-apa mbak, toh mereka lahir lebih awal dari jadwalnya"
"Iya, biar aku periksa lagi ya" ucap Dara
"Iya mbak"
Dara memeriksa kondisi Dina.
Sejak awal kehamilan Dara adalah dokter Dina.
Dina melahirkan 1 minggu lebih cepat dari perkiraan Dara, dan saat tadi pagi buta Dina di larikan ke rumah sakit ternyata Dara sedang tidak ada di tempatnya karena sedang ke luar kota untuk seminar.
Awalnya Dara tidak akan datang ke seminar itu mengingat Dina akan segera melahirkan, tapi Dina menyuruhnya berangkat dan menyakinkan Dara bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan terbukti ke khawatiran Dara, di belakang Dina malah melahirkan. Alhasil Dara langsung menghubungi teman kepercayaan seprofesi dengannya untuk membantu Dina melahirkan.
"Selamat bos" ucap Dani
"Terima kasih Dan" Dani memberi Danial pelukan ala pria.
"Nona Dina selamat" ucap Dani melangkah mendekat ke arah Dina.
"Terima kasih kak Dani" ucap Dina yang masih di periksa Dara.
"Saya boleh lihat bayinya?" tanya Dani pada Dina.
"Tentu saja kak" ucap Dina sambil tersenyum.
"Kemarilah Dan" ucap nenek Dharma yang sejak tadi mengamati cicitnya yang sedang tertidur sehabis di beri asi.
"Ya tuhan mereka mungil sekali" ucap Dani sambil menutup mulutnya karena takjub, matanya berkaca-kaca.
Semua orang yang ada di sana tersenyum melihat reaksi Dani, begitu juga Danial uang mendengar ucapan Dani.
"Mereka mirip dengan anda bos" ucap Dani sambil menoleh ke arah Danial.
"Tentu saja aku papa mereka" ucap Danial bangga.
"Tapi ini tidak adil, padahal nona Dina sudah susah-susah" ucap Dani.
Mereka semua terkekeh kecuali Danial.
"Aku juga susah Dani" ucap Danial.
"Anda mah tidak ada susah-susahnya, cuma nyumbang ****** doang" ucap Dani membuat semua orang yang ada di sana membulatkan matanya. kecuali Danial.
Plak.
"Aduh" keluh Dani sambil mengusap lengannya.
"Ha ha ha, capek loh geseknya" ucap Danial menanggapi ucapan Dani.
Plak.
Kali ini Danial lah yang mendapat pukulan dari Dina di lengannya.
"Sakit yang" keluh Danial yang saat ini duduk di kursi dekat brankar Dina.
"Mulutnya di jaga, gak sopan. kak Dani juga" omel Dina
"Maaf" ucap keduanya
Sedangkan Dara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman lamanya itu.
"Dina, Dokter Dinda sudah menjelaskan tentang pemberian Asi kan?" tanya Dara.
"Iya mbak"
"Kalau begitu biar mbak jelaskan lagi ya"
"Iya" jawab Dina.
"Kamu harus memberi baby mu asi 8-12 kali sehari dengan jarak tiap 2-3 jam sekali. Untuk satu kali menyusui, dan untuk bayi newborn biasanya menyusu sampai kenyang selama kurang lebih 10-15 menit"
"Iya mbak"
"Ya sudah, nanti kalau ada yang mau di tanyakan katakan saja pada ku ya. Tidak perlu sungkan"
"Iya mbak terima kasih"
"Kalau begitu aku pergi dulu, setelah ini aku ada pasien"
"Iya mbak, terima kasih banyak"
"Sama-sama Dina" ucap Dara sambil mengusap lembut kepala Dina.
"Nenek, Dara pergi dulu, setelah ini Dara ada pasien"
"Iya nak, terima kasih"
"Sama-sama nek"
"Danial aku pergi dulu"
"Emmm terima kasih"
__ADS_1
"Iya"
"Hei bro aku pergi dulu" ucap Dara pada Dani.
"Emmn sana pergilah" jawab Dani cuek dia sibuk menatap kedua bayi mungil di hadapannya.
"Dasar menyebalkan" ucap Dara
Semua orang yang ada di sana tertawa kecuali Dani karena dia benar-benar sibuk melihat anak-anak Danial dan Dina.
"Jangan terlalu benci mbak, nanti cinta loh" ledek Dina.
"Cih tak sudi aku jatuh cinta padanya" ucap Dara.
"Aku juga tidak sudi" jawab Dani sambil menatap kesal ke arah Dara.
Semua orang tertawa kecuali dua orang itu. Mereka berdua selalu saja berdebat jika bertemu. Hal itu sudah biasa bagi Dina dan Danial.
Sering kali saat Dara datang untuk memeriksa Kandungan Dina maka Dani pun akan ada di sana karena ada pekerjaan yang harus di laporkan pada Danial.
"Aku pergi sampai jumpa" ucap Dara lalu melangkah keluar dari ruangan Dina.
"Kalian sudah menyiapkan nama?" tanya nenek Dharma.
"Sudah nek" jawab Danial
"Siapa?"
"baby boy namanya Devano Haidar"
"Kalau baby girl Dafania Haidar"
"Bagaimana nek? bagus tidak?"
"Bagus, Dina suka tidak?" tanya Nenek Dharma.
"Suka nek, kami yang menyiapkannya bersama" ucap Dina.
"Baguslah kalau kalian suka" jawab nenek Dharma.
"Dani, tolong fotokan kami. Kami belum berfoto bersama" ucap Danial.
"Siap" jawab Dani.
Nenek Dharma menggendong satu persatu cicitnya kemudian menyerahkannya pada Dina dan Danial.
"Cepat Dani foto mereka" ucap nenek Dharma.
"Nenek juga ikut berfoto dengan kami" ucap Dina.
"Baiklah" jawab nenek Dharma.
Nenek Dharma melangkah dan duduk di samping kiri Dina yang sedang menggendong putranya.
Sedangkan Danial duduk di samping kanan Dina dan menggendong putrinya.
"Oke siap, satu dua... "
Cekrek Cekrek cekrek.
Terakhir Dani pun ikut berfoto dengan mereka.
"Dan, foto mereka berempat"
"Barusankan sudah nek" ucap Dina.
"Barusan ada nenek dan Dani, sekarang kalian berempat saja" ucap nenek Dharma.
Dina pun mengangguk.
"Ayo bos lebih dekat" ucap Dani pada Danial.
Danial duduk semakin dekat dengan Dina, Danial meletakkan tangan kirinya di pinggang Dina.
"Mas" protes Dina sambil menatap wajah Danial.
"Tersenyumlah sayang" ucap Danial sambil menatap ke depan.
Dina menatap ke depan.
"Sudah siap?" tanya Dani.
"Ya" jawab Danial.
"Smile, satu dua..."
Cekrek Cekrek Cekrek
Dina dan Danial nampak tersenyum bahagia di gambar yang di ambil Dani, Dani mengambil banyak foto mereka dalam berbagai posisi.
Nenek Dharma tersenyum bahagia melihat tawa mereka. Sekarang nenek Dharma sudah merasa tenang melihat kebahagiaan di wajah cucunya.
Nenek Dharma berdoa semoga Danial segera melihat kembali dan mereka hidup bahagia.
.
.
.
Season 1 End
__ADS_1