
"Kamu tidak mencintai mas?" tanya Danial terkejut.
.
.
.
Sedangkan Dina menahan tawanya melihat keterkejutan Danial.
"Sayang..." Danial nampak kecewa.
"Jadi di sini hanya mas yang mencintai mu ya?" ucap Danial sambil menunduk.
Dina tertawa dan langsung memeluk Danial.
"Saranghae Oppa" ucap Dina sambil memeluk erat Danial.
"Opa? Sayang kamu mengejek mas?" tanya Danial.
"Ha ha ha jangan bilang mas tidak tahu artinya oppa" tebak Dina sambil mendongak menatap wajah suaminya.
"Opa itu kan kakek, kalau di Upin Ipin opah nenek"
"Ha ha ha" Dina tertawa.
"Mas nonton Upin Ipin?" tanya Dina di sela tawanya.
"Ya anak-anak suka menontonnya, jadi mas ikutan nonton" ucap Danial dengan polosnya.
"Sayang kamu ngejek mas ya?" tanya Danial.
"Ha ha ha dasar tukang merusak momen" ucap Dina sambil menepuk pelan punggung Suaminya.
"Hah?"
Dina melepas pelukannya.
"Oppa bukan opa, mas. Oppa itu artinya kakak biasanya adik memanggil kakaknya dengan sebutan oppa. Atu bisa di gunakan saat kekasih memanggil pacarnya, semacam panggilan kesayangan" ucap Dina sambil menatap wajah Danial.
"Ohhh, Saranghae oppa" ucap Danial.
"Ha ha ha bukan begitu konsepnya, mas. Hanya perempuan yang bisa memanggil oppa"
"Ohh begitu" ucap Danial tersenyum malu.
Dina tersenyum kemudian memeluk Danial lagi.
"Mas aku juga mencintai mu" ucap Dina setelah itu dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Danial.
"Apa?" tanya Danial terkejut.
Dina menggeleng pelan di pelukan suaminya.
"Katakan sekali lagi sayang" ucap Danial dengan sangat lembut.
Dina menggelengkan kepalanya lagi, dia merasa sangat malu. Danial terkekeh.
Danial menangkup wajah Dina.
"Katakan sekali lagi" ucap Danial sambil menatap wajah Dina.
"I love you Mr. Danial" ucap Dina dengan wajahnya yang sudah memerah.
Danial tersenyum lebar.
"Love you too my wife" jawab Danial lalu dia menyambar bibir Dina.
Dina memejamkan matanya menikmati ciuman suaminya.
Perlahan Danial mendorong pelan tubuh istrinya agar terlentang. Danial tak melepaskan ciumannya.
Beberapa menit berlalu Danial melepas pangutannya, nafas keduanya memburu. Danial mengusap lembut bibir basah istrinya.
"Mas sudah tidak tahan lagi sayang" ucap Danial yang sudah berkabut gairah.
"Apa?" tanya Dina.
Danial turun dari atas tubuh Dina lalu melangkah ke pintu, Dina yang melihat suaminya turun seketika mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
Danial mengunci pintu kamar Dina, kemudian dia berbalik dan menatap Dina yang duduk di ranjang, nampak terlihat menggoda di mata Danial.
"Sayang kamu mau ya" ucap Danial yang melangkah kembali ke ranjang sambil melepaskan satu-persatu jas, dasi dan membuka kancing kemejanya.
Saat ini wajah Dina benar-benar merah.
"Sayang kenapa tidak menjawab?" tanya Danial sambil menunduk menatap wajah istrinya.
"Tapi masih sore" ucap Dina sambil menunduk.
"Tidak masalah" jawab Danial.
"Mau ya sayang..." rayu Danial.
Dina mengangguk pelan. Melihat anggukan Dina membuat senyum di wajah Danial seketika merekah.
Dia melepas kemejanya yang sudah tak berkancing lalu melemparnya ke sembarang arah.
Danial merangkak naik ke atas ranjang dan mengukung kembali istrinya. Danial ******* bibir istrinya yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Ah mas lenguh Dina" saat Danial mulai menyentuh bagian tubuhnya.
Beberapa menit kemudian.
"Mas mulai ya" bisik Danial di telinga istrinya.
Dina mengangguk pelan.
"Aaahhhhh!"
" Sem...pit sekali sayang ah"
"Mas.."
Danial mulai bergerak suara ******* keluar dari mulut keduanya.
"Massss lebih..."
Danial menekan semakin dalam miliknya
Beberapa menit kemudian.
"Aaahhhhh!" Dina sampai pada puncaknya sedangkan Danial masih belum sampai.
Setelah membiarkan istrinya merasakan pelepasannya Danial kembali memompa tubuhnya.
"Ahhhh mas Danial..." ucap Dina sambil mendongak.
"Panggil lagi nama ku sayang" bisik Danial.
"Masss.... Mas Daniall..."
1 jam kemudian.
"Ahhh"
Dina ambruk di atas tubuh suaminya. Nafas keduanya saling bersautan.
"Capek?" tanya Danial sambil mengusap lembut punggung istrinya yang ada di atas tubuhnya.
Dina menganggukkan kepalanya.
"Arghhh!" tiba-tiba Dina berteriak.
"Kenapa sayang?" tanya Danial khawatir.
"Aku malu sekali" ucap Dina menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
Danial terkekeh, di usapnya punggung polos istrinya.
"Mas kira kamu kenapa" ucap Danial sambil terkekeh.
"Tapi mas yang gerak, kaki ku lemas"
"Oke, sekarang berbalik"
"Apa?" tanya di sambil menatap terkejut ke arah suaminya.
"Mas mau kamu berbalik, biar mas bergerak di belakang" bisik Danial.
Keesokan harinya.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari ini Danial berhasil membawa kembali ibu dari kedua anaknya plus satu calon anaknya.
Dengan langkah pelan Dina melangkah masuk ke dalam rumah Danial, rumah yang beberapa tahun lalu pernah dia tinggali.
Dina mengamati setiap perubahan kecil yang ada di rumah itu. Tak banyak perubahan di sana, yang berubah hanyalah dinding-dinding rumah itu.
Dulunya dinding rumah itu cukup sepi dan kosong, tapi sekarang tempat itu terisi oleh bingkai-bingkai foto si kembar, Danial dan yang lain.
Satu persatu foto dia amati, foto-foto si kembar dari lahir hingga berusia 5 tahun terpajang di seluruh tembok rumah.
Danial memperhatikan istrinya yang terus mengamati foto-foto si kembar. Dia ingin tahu bagaimana reaksi istrinya itu saat melihat semua itu, semua momen yang sudah dia lewati selama 5 tahun.
Dan sampailah Dina di ruang keluarga, Dina menitikkan air matanya saat melihat sebuah foto besar yang terpajang di dinding tembok yang ada di ruang keluarga.
Dina tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hiks hiks"
Tubuhnya bergetar karena menangis, sedangkan Danial masih berdiri di belakang Dina sambil menahan air matanya.
Dari kejauhan nampak dua bocah tengah mengamati apa yang terjadi dari balik tembok, mereka melihat papanya dan seseorang yang memakai pakaian berwarna biru muda.
"Kak apa itu mama?" tanya sang adik dengan pelan.
"Sepertinya iya" ucap sang kakak
"Kenapa mama menangis?" tanya adiknya.
"Tidak tahu"
Danial menoleh ke arah si kembar yang tengah melihat mereka. Danial menggerakkan telapak tangannya meminta si kembar untuk mendekat.
Perlahan dengan takut-takut si kembar melangkah ke arah papanya. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di hadapan Danial.
Danial berjongkok di hadapan putra dan putrinya
"Sayang ini mama, samperin mama ya" ucap Danial dengan pelan.
__ADS_1
"Takut pa" ucap putri Danial dengan pelan.
"Tidak apa-apa sayang, ayo"
Danial mendekat ke arah Dina bersama si kembar. Mereka sudah ada di depan Dina yang masih menangis dan tak sadar dengan keberadaan si kembar.
"Ayo panggil sayang" bisik Danial pada anak-anaknya.
"Ma...mama" panggil si kembar bersamaan
Dina mengangkat kepalanya, dia sedikit terkejut saat melihat kedua anaknya. Lalu tak lama kemudian dia tersenyum.
Air matanya mengalir semakin deras, rasa bersalah pun membuat Dina semakin menangis.
"Mama..." Panggil sang putri.
"Iya sayang ini mama, kemarilah" ucap Dina sambil merentangkan kedua tangannya.
Si kembar segera memeluk Dina, Dina memeluk kedua anaknya dengan erat.
"Hiks hiks maafkan mama sayang, maafkan mama" ucap Dina sambil menangis.
"Mama, kami lindu mama hiks" ucap putrinya sambil menangis.
"Mama juga rindu kalian, maaf mama meninggalkan kalian terlalu lama" ucap Dina sambil mengecupi pipi kedua anaknya secara bergantian.
"Tidak apa-apa ma, papa bilang mama sedang main petak umpet dengan papa. Terus mama marah karena papa tidak pernah menemukan mama" ucap putrinya sambil menatap wajah Dina.
Dina tersenyum mendengar ucapan putrinya, dia mendongak menatap Danial.
"Maaf mas" ucap Dina.
Danial menggeleng pelan sambil tersenyum ke arah istrinya lalu dia berjongkok dan memeluk mereka.
"Terima kasih sudah kembali sayang" bisik Danial di telinga Dina.
"Hiks hiks"
Dari kejauhan nampak beberapa orang yang terharu melihat reuni keluarga kecil itu.
Nenek Dharma, Dani, dan bik Dahlia sangat terharu melihat mereka sudah kembali berkumpul.
"Syukurlah semuanya baik-baik saja" ucap nenek Dharma.
Yang lain pun mengangguk saat mendengar ucapan nenek Dharma.
Nenek Dharma baru saja mengetahui bahwa Danial sudah menemukan Dina. Beliau tahu dari Dani.
Saat cucunya bilang akan menemui istrinya, nenek Dharma langsung menghubungi Dani dan mendesak pria itu untuk memberitahu semuanya.
"Papa sudah pelukannya, kakak gerah" protes sang putra.
Keduanya pun tertawa, lalu mereka melepaskan pelukannya.
"Anak-anak mama sudah besar" ucap Dina sambil mengusap pipi kedua anaknya.
"Mama jangan main petak umpet lagi ya" ucap putrinya.
Dina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Tidak akan sayang" ucap Dina sambil mengecup kembali pipi putri dan putranya.
"Mama" panggil putranya.
"Iya sayang?" tanya Dina sambil menatap putranya.
"Kakak boleh tidur dengan mama nanti?" tanya putranya.
"Tentu saja sayang" jawab Dina sambil tersenyum.
"Adek juga!" ucap putrinya bersemangat.
"Iya iya nanti kita tidur bareng" ucap Dina.
"Papa tidak di ajak?" tanya Danial.
"Papa tidur sendiri saja" ucap putrinya.
"Benar" jawab sang kakak.
"Jahat sekali kalian, setelah mama datang papa gak di butuhkan lagi" ucap Danial cemberut.
Mereka bertiga tertawa, kemudian putrinya memeluk Danial.
"Adek belcanda pa" ucap sang putri.
"Kakak juga bercanda" ucap putranya sambil memeluk Danial juga.
Cup Cup
"Papa juga cuma bercanda" ucap Danial sambil tersenyum menatap kedua buah hatinya.
Dina tersenyum lebar melihat kedekatan mereka. Kemudian Dina bergerak memeluk mereka.
.
.
.
__ADS_1
...^^^TAMAT^^^...