Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Pingsan


__ADS_3

Tidak ini salah ku.. Kalau saja aku tidak meminta sesuatu pada mu mas, ini tidak akan terjadi hiks hiks da...dan kalau saja aku berhati-hati bayi kita tidak akan pergi hiks hiks aku ibu yang buruk aku juga istri yang buruk" teriak Dina sambil menangis.


.


.


.


"Tidak tidak jangan katakan hal itu Dina kamu ibu dan istri yang baik, kamu tidak buruk jangan menyalahkan diri mu Dina" ucap Danial sambil memeluk Dina.


"Hiks hiks bayi ku... Bayi ku... aku membunuh bayi ku... Hiks hiks"


"Apa yang harus aku lakukan Dina...? tolong jangan seperti ini.... bayi kita akan sedih jika melihat mu seperti ini..." ucap Danial


"Maafkan mama sayang... Maafkan mama mu yang tidak becus ini..."


"Dina...."


"Maaf....kan..."


Dina jatuh pingsan di pelukan Danial.


"Dina... Dina... Dina..!" Danial mencoba membangunkan Dina namun tak bisa.


"Bibik! Bik Dahayu! Nenek!" teriak Danial


"Iya Den?" sahut bik Dahayu yang berlari tergesa-gesa saat mendengar teriakan tuan mudanya.


"Bik panggilkan dokter Dina pingsan" ucap Danial panik


"Baik den" ucap bik Dahayu dan langsung bergegas menelpon dokter.


"Ada apa Danial?" tanya nenek Dharma yang datang dengan tergesa-gesa.


"Dina pingsan lagi, nek" ucap Danial


"Dina... bangunlah..." Danial masih mencoba membangunkan Dina sambil menepuk-nepuk pelan pipi Dina.


Namun karena tidak ada pergerakan sama sekali, Danial menidurkan Dina sambil menunggu dokter datang Danial mencari minyak angin di laci nakas yang berada di samping ranjang.


Dia meraba-raba isi laci di nakas.


"Kamu cari apa Danial?" tanya nenek Dharma yang sudah duduk di dekat Dina.


"Nek tolong ambilkan minyak angin" ucap Danial karena tak menemukannya.


Nenek Dharma bergerak mencari minyak angin yang di cari Danial di laci nakas.


"Biar nenek yang pasangkan" ucap nenek Dharma.


"Iya nek" jawab Danial sambil bergeser memberi ruang untuk nenek Dharma.


***


Satu bulan kemudian.


Dina sudah mulai beraktifitas seperti biasanya tapi Dina yang dulu saat hamil dengan Dina yang sekarang berbeda.


Dina yang saat hamil memiliki ekspresi wajah yang ceria, sedikit cerewet dan manja sedangkan Dina yang sekarang memiliki ekspresi wajah yang murung dan tidak banyak bicara.


"Bos" panggil Dani saat melihat bosnya tengah duduk termenung di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


"Kamu di sini, Dan" ucap Danial sambil menoleh ke arah suara.


Sejak tidak bisa melihat, pendengaran Danial menjadi lebih tajam.


"Dimana istri ku Dani? apa kamu melihatnya?" tanya Danial karena sejak tadi dia tak mendengar suara Dina.


"Nona Dina ada di taman, bos" ucap Dina


"Apa yang sedang dia lakukan di sana?" tanya Danial


"Nona Dina sedang menanam bunga mawar, bos" jawab Dani


"Apa dia tampak sudah lebih baik?" tanya Danial


Dani menggelengkan kepalanya Lalu menjawab "Tidak bos, nona Dina masih nampak murung" jawab Dani


"Hah... apa yang harus aku lakukan di saat keadaan ku yang seperti ini?" tanya Danial sambil menundukkan kepalanya.


"Nona pasti sangat merasa kehilangan, bos"


"Benar, dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena sekarang aku buta, padahal ini bukan kesalahannya. Di tambah sekarang kami kehilangan bayi kami itu pasti menjadi pukulan terbesar untuknya, begitu juga dengan ku dan nenek" ucap Danial dengan nada sendu.


"Bos, anda pasti akan segera sembuh saya sudah meminta dokter untuk segera mencarikan anda pendonor secepatnya" ucap Dani


Danial mengangguk.


"Bagaimana perusahaan?" tanya Danial


"Semuanya aman bos, apapun yang terjadi saya akan membantu anda menjaga perusahaan sampai anda kembali" ucap Dani


"Terima kasih Dani" ucap Danial sambil tersenyum


"Sudah tugas saya, bos"


"Biar saya bantu, bos" ucap Dani hendak membantu Danial.


"Tidak perlu Dani, aku sudah hafal semua tempat berkat Dina yang membantu ku" ucap Danial


"Baiklah bos" jawab Dani sambil mundur selangkah.


"Aku pergi dulu" ucap Danial


"Iya bos"


Danial melangkah dengan hati-hati.


Sesampainya di taman.


"Dina" panggil Danial


Dina yang mendengar suara Danial seketika menoleh.


"Aw.."


"Kamu kenapa?" tanya Danial saat mendengar suara Dina, dia hendak mencari keberadaan Dina.


"Tetap di situ mas, di depan mu ada pot bunga" ucap Dina menghentikan langkah Danial.


Danial mengurungkan langkahnya dan tetap diam di tempatnya, Dina menghampiri Danial.


"Kamu kenapa?" tanya Danial saat merasakan Dina sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya tergores duri bunga mawar saja" ucap Dina sambil tersenyum.


Danial mencari-cari tangan Dina, Dina yang melihat Danial mencari tangannya pun langsung meraih tangan Danial.


"Dimana yang sakit?" tanya Danial setelah menggenggam telapak tangan Dina.


"Tidak apa-apa mas, hanya tergores sedikit"


"Sekecil apapun luka tetap saja sakit Dina" ucap Danial


"Jari ku tidak sakit sama sekali mas tapi hati ku yang sakit, hati ku sakit saat melihat mu dengan keadaan seperti ini, hati ku sakit saat mengingat bayi yang sangat kamu tunggu pergi, hiks hiks" ucap Dina dan kembali terisak.


"Dina...." Danial menarik tubuh Dina ke dalam pelukannya.


"Menangislah Dina menangislah, tapi ingat ini adalah tangisan mu untuk terakhir kalinya, karena setelah ini kamu harus berhenti menangis, kembalilah seperti Dina yang dulu kembalilah menjadi Dina yang ceria dan cerewet"


"Aku tidak akan memarahi mu karena cerewet, aku merindukan Dina yang dulu karena itulah kembalilah seperti dulu, aku sungguh merindukan diri mu yang dulu sayang..."


"Bayi kita sudah tenang di sana, dia akan sedih jika terus melihat mamanya terpuruk, dan untuk diri ku kamu tidak perlu merasa bersalah ini semua cobaan, aku akan segera sembuh aku akan segera dapat melihat mu kembali dan sampai dokter mendapatkan pendonor kamu harus kuat karena aku akan sangat merepotkan mu"


"Aku tidak mau di saat aku sudah kembali melihat aku justru melihat wajah sedih mu, kembalilah ceria demi diri mu dan juga aku, kamu mengerti sayang?"


Dina mengangguk di pelukan Danial. Dia menangis sambil memeluk Danial dengan sangat erat.


Beberapa jam kemudian.


Hari sudah malam, dan sekarang adalah waktunya makan malam.


Seperti janjinya pada Danial mulai saat ini Dina akan berusaha kembali seperti Dina yang dulu.


Nenek Dharma yang melihat perubahan Dina nampak sangat senang begitu pula dengan Dani, dia sangat senang saat melihat raut wajah istri bosnya sudah kembali ceria dan saat ini tengah menyuapi Danial dengan telaten.


"Dani" panggil Nenek Dharma


"Iya nyonya"


"Panggil nenek"


"Ba...baik nek"


"Bagus" ucap nenek Dharma sambil tersenyum.


"Malam ini menginap lah di sini, Dan" ucap nenek Dharma


"Baik nyo... ah nenek" ucap Dani


"Oh iya bagaimana keadaan orang tua mu?" tanya nenek Dharma


"Baik nek" jawab Dani


"Syukurlah" jawab nenek Dharma sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2