
"Siapa bilang tidak ada?" tantang Dina
.
.
.
"Gak, gak bakalan ada" jawab Danial
"Ada" jawab Dina
"Gak ada"
"Ada"
"Kalau ada siapa?" tanya Danial ketus
"Kak Dani" ucap Dina.
Dan bersamaan dengan itu pintu kamar inap Danial di buka.
"Ada apa nona Dina? anda mencari saya?" tanya Dani yang tak paham akan situasi saat ini.
"Noh orangnya datang" ucap Dina sambil tertawa pelan.
"Dani!" panggil Danial dengan nada satu oktaf.
"Ya bos?" jawab Danial dengan takut-takut saat mendengar teriakan Danial.
"Selama beberapa bulan ini kamu merayu istri ku?!" tuduh Danial
"Apa? apa maksud anda bos?" tanya Dani tak paham. Wajahnya nampak kebingungan.
"Ada apa ini Danial?" tanya nenek Dharma yang baru saja masuk ke ruang inap cucunya, dengan seorang perempuan di belakangnya yang juga ikut masuk ke ruangan Danial.
"Dani menggoda istri ku, nek" tuduh Danial.
"Apa?" tanya nenek Dharma.
"Tidak tidak ini fitnah, kapan saya menggoda nona Dina?"
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya nenek Dharma bingung.
"Tidak ada apa-apa nek, mas Danial cuma salah paham" ucap Dina.
"Mas aku cuma bercanda" ucap Dina sambil menyentuh lengan Danial.
Danial tak mendengarkan ucapan Dina, dia terus saja memojokkan Dani.
Di saat terjadi perdebatan antara Danial dan Dani, Dina dan seorang perempuan yang ikut bersama nenek Dharma hanya bisa tertawa pelan.
Sedangkan nenek Dharma hanya menatap keduanya dengan pandangan bingung.
"Maaf nek, mas Danial hanya salah paham saja" ucap Dina mencoba menjelaskannya pada nenek Dharma agar tidak salah paham
"Sebenarnya ada apa ini sayang?" tanya nenek Dharma pada Dina.
"Mas Danial hanya salah paham nek, tadi dia bercanda doang ke mas Danial"
"Mas maaf tadi aku hanya bercanda saja" ucap Dina sambil mengusap lembut lengan Danial agar meredakan rasa kesalnya.
"Apanya bercanda, jelas-jelas tadi kamu bilang Dani lebih tampan dari pada aku" ucap Danial ketus.
"Astaghfirullah mas, aku hanya bercanda saja"
"Bercanda mu tidak lucu sayang" ucap Danial masih dengan nada ketusnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu nampak tercengang dengan keadaan di sana. Dan sesaat kemudian mereka akhirnya mengerti pokok permasalahannya.
"Mas!"
"Apa?!"
"Aku cuma bercanda"
"Tidak bercanda mu benar-benar tidak lucu, mas tahu mas tidak bisa melihat jadi kamu tergoda dengan Dani"
__ADS_1
Dina ternganga.
"Astaghfirullah mas! Apa yang kamu katakan!" teriak Dina.
"Cukup! sudah cukup! hentikan! Kalian ini seperti kucing dan anjing" ucap nenek Dharma.
"Mas Danial anjingnya!" ucap Dina ketus.
"Apa?! kamu yang anjingnya!" ucap Danial tak mau kalah.
"Tidak!" jawab Dina
"Iya!"
"Tidak!"
"Hah..." Nenek Dharma menghela nafas panjang sambil mengusap dadanya mencoba untuk sabar.
Nenek Dharma menarik Dina agar menjauh dari Danial.
"Ayo nak duduklah dan makanlah makan siang mu" ucap nenek Dharma sambil menyerahkan kotak makan siang pada Dina.
Dengan wajah cemberutnya Dina menerima kotak makan siangnya dan duduk di sofa yang ada di sana. Lalu nenek Dharma melangkah ke arah cucunya.
Plakkk
Nenek Dharma memukul pundak cucunya.
"Auuwww sakit nek" ucap Danial sambil mengusap pundaknya yang di pukul neneknya.
"Biarin, umur mu berapa Danial? kenapa malah bertengkar seperti anak kecil" omel neneknya.
"Dina duluan nek" rengek Danial.
"Dina duluan Dina duluan, itu salah mu bukankah Dina sudah bilang kalau dia cuma bercanda"
Danial memasang wajah cemberutnya, begitu pula dengan dina yang masih kesal pada Danial walaupun nenek Dharma sudah membelanya.
Sepasang suami istri itu nampak sama-sama memasang wajah cemberut. Sungguh sangat kompak.
"Sudah jangan seperti anak kecil, waktunya makan biar nenek suapi" ucap nenek Dharma sambil duduk di samping cucunya.
"Tidak biarkan istri mu makan dengan tenang, setiap hari dia selalu merawat mu" tolak nenek Dharma.
"Tapi nek mmppp..."
Nenek Dharma langsung menyumpal mulut cucunya dengan nasi. Danial mengunyah makanan di mulutnya.
"Kalian makanlah, Dina kamu juga makanlah" ucap nenek Dharma pada dua orang yang masih diam mematung dan pada Dina yang masih menatap kotak makannya.
"Baik" jawab keduanya.
"Ada siapa saja di sini nek?" tanya Danial
"Teman mu Dara datang"
"Dara?"
"Iya"
"Apa kabar Danial?" sapa Dara
"Baik" jawab Danial sambil mengangguk.
Dara tersenyum, lalu dia melangkah ke sofa dan duduk di samping Dina yang sedang memakan makan siangnya.
"Apa kabar Dina?" tanya Dara
"Baik dokter Dara" jawab Dina sambil tersenyum ke arah Dara.
"Panggil Dara saja" ucap Dara sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau mbak Dara?" tanya Dina.
️"Boleh, kebetulan aku tidak punya saudara" ucap Dara sambil tersenyum.
Dina tersenyum.
__ADS_1
"Lanjutkan makan mu" ucap Dara sambil tersenyum.
"Iya mbak"
Beberapa saat kemudian. Semuanya sudah selesai makan.
"Oh iya Danial sakit apa?" tanya Dara.
"Dokter bilang dia baik-baik saja" jawab nenek Dharma.
"Tidak ada penyakit dalam, nek?" tanya Dara
"Tidak ada"
"Aneh sekali" ucap Dara.
"Benar bos kan memang orang yang aneh" jawab Dani sambil terkekeh.
"Diam kamu! aku masih belum memaafkan mu!" Ketus Danial.
"Ayolah bos, saya tidak merayu istri anda sedikit pun"
Danial tak mendengarkan penjelasan Dani.
"Hah... Susah kalau bicara dengan orang bucin" gumam Dani dari sofa"
"Apa?!" tanya Danial yang mendengar gerutuan Dani.
"Tidak bukan-bukan apa-apa bos" jawab Dani sambil tersenyum.
Dara yang sejak tadi nampak memikirkan sesuatu pun buka suara.
"Danial, apakah setelah Dina keguguran kalian melakukan hubungan badan?" tanya Dara to the point.
"Uhukk uhukk" Dina yang sedang minum pun langsung tersedak.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya nenek Dharma khawatir.
"Dina baik-baik saja nek" jawab Dina
"Apa maksud mu Dara?" tanya Danial.
"Ini hanya tebakan ku ya, kalau kalian benar-benar melakukannya, mungkin saja penyakit mu ini ada hubungannya"
"Katakanlah lebih jelas DARA MONE" tekan Danial di akhir kalimatnya.
"Mungkin saja istri mu sedang hamil, jadi kamu mual-mual" jawab Dara.
"Uhukk uhukkk" lagi-lagi Dina tersedak sedangkan Danial dan nenek Dharma nampak terkejut.
Begitu pula dengan Dani.
"Apa?!" teriak Danial dan Nenek Dharma.
"Yang benar saja Nak?" tanya Nenek Dharma
️"Ini benar nek, Dara tidak bohong. Ada namanya kehamilan simpatik"
"Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya" ucap Dara menjelaskan detailnya.
"Apa hal seperti itu sungguh ada?" tanya Dani.
"Ada, itu karena sang suami sangat mencintai istrinya, ikatan hubungan yang sangat kuat antara suami dan istri. Ikatan yang kuat ini dapat membuat suami ikut merasakan gejala kehamilan yang dirasakan oleh istrinya.
Dina nampak tak percaya.
"Apanya yang cinta, pernikahan ini hanya kontrak" ucap Dina dalam hati.
"Sebaiknya kita lakukan tes.Aku yang akan memeriksanya, bagaimana Dina?" tanya Dara di akhir kalimatnya.
"Dina" panggil nenek Dharma saat Dina nampak melamun.
"Iya nek?" tanya Dina.
.
.
__ADS_1
.