
30 menit kemudian
Drtt drtt
Danial menekan tombol yang ada di setir mobilnya.
"Halo" ucap Danial
"Mas masih lama?"
"Ini udah arah pulang" jawab Danial
"Martabaknya?" tanya Dina
"Sudah dapat darling, mas beli 5 bungkus" ucap Danial
"Kok banyak banget?" tanya Dina terkejut.
"Tidak apa-apa, sisanya mas yang makan" ucap Danial sambil tersenyum.
"Mas pergi beli sama asisten Dani?" tanya Dina
"Tidak, mas pergi sendiri. Dani ada acara keluarga"
"Ohh ya sudah, mas hati-hati nyetirnya"
"Iya, ini bentar lagi sampai kok"
"Iya, ya sudah aku tutup panggilannya biar fokus nyetirnya"
"Iya"
Tut tut
Danial memelankan laju mobilnya saat hampir tiba di lampu merah, Danial yang berhenti karena lampu merah pun menoleh ke arah martabak manis yang ada di sampingnya.
"Apa aku terlalu banyak ya belinya?" ucap Danial
"Tidak masalah nanti aku bagikan saja ke yang lain" ucap Danial.
Danial kembali menatap ke depan, namun tiba-tiba dari arah berlawanan nampak sebuah truk berjalan ugal-ugalan dan sangat kencang menuju ke arah mobilnya.
Danial yang melihat itu berusaha menghindar, namun kecelakaan tak bisa terelakkan. Truk besar itu menabrak mobil Sedan Danial.
Kaca mobil Danial hancur dan mobil Danial terpental cukup jauh.
Prangg...!!!
Di mansion tanpa sengaja Dina menjatuhkan sebuah gelas.
Deg
"Mas Danial" ucap Dina.
Entah kenapa dia langsung teringat dengan Dania.
"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya nenek yang menghampiri Dina di dapur.
"Nek mas Danial belum pulang" ucap Dina dengan raut wajah khawatir.
"Barusan kamu bilang sebentar lagi Danial sampai"
"Iya nek, barusan mas Danial telpon katanya sudah arah pulang dan sebentar lagi sampai, tapi nek Dina khawatir banget"
Nenek Dharma mendudukkan Dina di kursi meja makan.
"Tidak apa-apa kamu kan cuma tidak sengaja menjatuhkan gelas. Itu sudah biasa bukan" ucap nenek Dharma mencoba menenangkan Dina.
Walaupun sebenarnya dia juga khawatir. Sama seperti Dina, nenek Dharma tiba-tiba saja kepikiran pada Danial saat mendengar suara gelas pecah.
Dina menganggukkan kepalanya walaupun hatinya masih saja cemas.
__ADS_1
1 jam berlalu tak ada kabar dari Danial, bahkan Dina dan nenek Dharma sudah menghubunginya berkali-kali
Mereka juga menelpon Dani tapi Dani yang saat itu tidak sedang bersama Danial pun juga tidak tahu keberadaan Danial.
Karena merasa khawatir Dani yang tadinya sedang tidur setelah pulang dari acara keluarga pun langsung bangun dan pergi mencari Danial bersama beberapa anak buahnya.
Keadaan di luar masih sedikit gerimis. Dani mengemudikan mobilnya perlahan di jalan raya.
"Duh bos kemana sih" gumam Dani sambil menyusuri jalanan.
Beberapa menit kemudian dari kejauhan Dani melihat sebuah mobil yang ada di tengah jalan.
Semakin dekat semakin jelas pula penampakan mobil itu.
Dani membulatkan matanya.
"Bos!" Teriak Dani, dia langsung menancap gas mobilnya.
Sesampainya di dekat mobil Danial, Dani segera keluar dari mobilnya di ikuti beberapa anak buah yang ikut di belakangnya.
"Ya tuhan, bos!" teriak Dani dan langsung mencoba mengeluarkan Danial dari dalam mobil.
Bagian depan mobil itu hancur, Dani dan beberapa anak buahnya yang sudah sampai di lokasi pun segera mengevakuasi Danial keluar dari mobil.
Dani dan anak buahnya segera membawa Danial ke dalam mobil lalu mereka melesat dengan cepat menuju rumah sakit.
Sisa anak buahnya masih di tempat kejadian, mereka menunggu polisi datang untuk penyelidikan atas perintah Dani.
Tak sampai 10 menit mobil Dani yang di kendarai anak buahnya pun tiba di rumah sakit.
Karena jarak lokasi kejadian dan rumah sakit cukup dekat di tambah jalanan yang sangat sepi karena hujan yang tadi mengguyur cukup deras membuat jalanan sangat sepi.
Apalagi juga sudah larut malam, jadi mobil Dani melaju dengan lancar menuju rumah sakit.
Tim medis yang sudah menunggu di depan pun bergerak cepat, di perjalanan anak buah Danial sudah lebih dulu menelpon rumah sakit.
"Bawa ke ICU" ucap dokter
"Bos kenapa malah jadi begini" ucap Dani dalam hati.
15 menit kemudian
Dokter keluar dari ICU dan mengatakan pada Dani bahwa Danial harus di operasi karena ada pecahan kaca yang menusuk bola matanya.
Tanpa pikir panjang Dani segera mengiyakan, Karen situasinya cukup mendesak. Dani membawa Danial ke rumah sakit yang cukup terkenal. Di sana semuanya lengkap.
"Anda sudah menghubungi pihak keluarga tuan Danial?" tanya dokter
"Astaga benar, saya hampir saja lupa" ucap Dani
"Dok tolong lakukan yang terbaik untuk bos Danial" ucap Dani
"Baik tuan kami akan melakukan yang terbaik"
Setelah dokter pergi Dani merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Dia mencari kontak nama Dina, namun beberapa detik kemudian Dani teringat jika Dina sedang hamil dan jika sampai mendengar hal ini Dani takut terjadi sesuatu pada Dina.
Dani mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dina, lalu dia mencari no kontak nenek Dharma.
Tutt tutt tutt
"Halo?"
"Nyonya apa nona Dina ada di dekat anda?" tanya Dani
Nenek Dharma melirik sekilas ke arah Dina yang baru saja terlelap di sofa ruang keluarga.
Nenek Dharma melangkah menjauh dari Dina.
"Ada apa Dani?" tanya Nenek Dharma setelah menjauh Dari Dina.
__ADS_1
"Nyonya tolong anda jangan syok"
"Katakan ada apa?" tanya nenek Dharma tak sabar, firasatnya kali ini sangat buruk.
Dani memejamkan matanya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Bos Danial, nyonya"
"Ada apa dengan Danial, cepat katakan" desak nenek Dharma yang berusaha menahan diri.
"Bos Danial kecelakaan dan harus segera di operasi"
Nenek Dharma menutup matanya karena firasatnya ternyata benar. Setelah beberapa detik mencoba menenangkan diri nenek Dharma pun kembali bersuara.
"Di rumah sakit mana?" tanya Nenek Dharma
"Rumah sakit Mone, nyonya" ucap Dani
"Aku akan segera kesana, tolong lakukan yang terbaik untuk cucuku"
"Baik nyonya"
Tutt tutt
Setelah panggilan berakhir nenek Dharma hampir saja terjatuh, kakinya benar-benar lemas. Beruntung nenek Dharma masih bisa mengendalikan diri.
"Nyonya anda tidak apa-apa?" tanya bik Dahayu
"Cucu ku, cucu ku"
Bik Dahayu membantu nenek Dharma duduk di kursi meja makan lalu bik Dahayu mengambilkan air untuk nenek Dharma.
"Minum dulu nyonya"
Nenek Dharma meminum airnya.
"Ada apa dengan tuan muda, nyonya?" tanya Bik Dahayu tak kalah cemas.
"Jangan beritahu Dina"
Bik Dahayu menganggukkan kepalanya.
"Da...Danial kecelakaan, dia harus di operasi"
Bik Dahayu terkejut dan bersamaan dengan itu.
Prangg..!!
Suara pecahan gelas kaca kembali terdengar. Nenek Dharma dan bik Dahayu menoleh ke asal suara.
"Dina..." ucap nenek Dharma pelan.
"Nenek bilang apa barusan?" tanya Dina dengan tatapan kosong.
Tadinya Dina terbangun karena merasa haus, dia bangun dan mengambil gelas yang ada di meja lalu melangkah ke dapur.
Tapi sesampainya di dapur Dina benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan nenek Dharma, alhasil gelas kaca yang sedang dia pegang lepas dari tangannya dan pecah.
Nenek Dharma segera menghampiri Dina dan membawa Dina menjauh dari pecahan kaca sedangkan bik Dahayu mengambil cikrak dan sapu untuk membersihkan pecahan kaca.
Nenek Dharma membawa Dina duduk di sofa.
.
.
.Setelah baca, like dan komen ya teman-teman 😊.
Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... 😊❤.
Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You 😊💕
__ADS_1