
"Ha ha ha, pria buta seperti mu tidak akan bisa melakukan apapun pada ku" ucap Dhana menantang.
.
.
.
"Sepertinya kamu sudah lupa siapa yang membuat mu berada di puncak karir mu" ucap Danial mengingatkan Dhana.
"Kita lihat saja apa yang akan di lakukan pria buta ini, pertama karir mu sudah hancur dan sekarang aku akan menghancurkan diri mu" ucap Danial sambil menyeringai.
Danial berdiri dari tempatnya duduk.
"Kalian bisa melakukan apapun pada jal*ng ini, puaskan dia karena jal*ng ini haus akan belaian" ucap Danial sambil melangkah pergi dari sana.
Lalu Danial berhenti dan berbalik.
"Pastikan dia akan menyesal karena sudah hidup di dunia ini tapi jangan sampai membuatnya mati karena setelah ini dia akan membusuk di dalam penjara. Kalian juga bisa bergantian dengan para penjaga yang ada di luar, jangan beri dia istirahat sedikit pun, dan aku akan berikan bonus yang sangat besar untuk kalian" ucap Danial sambil menyeringai lalu pergi dari sana bersama Dani.
"BAIK!" sahut semua anak buahnya serentak.
Seketika Dhana sangat ketakutan, dia menyesal sudah main-main dengan Danial. Dhana tidak tahu jika Danial adalah orang sekuat itu.
Semua anak buah Danial mulai melangkah ke arah Dhana, mereka semua menatap lapar ke arah tubuh Dhana.
Anak buah Danial di dalam sana berjumlah sekitar 20 orang, dan masih ada beberapa puluh lagi yang sedang berjaga di depan.
"PERGI! MENYINGKIR DARI KU!" teriak Dhana
Mereka sangat senang melihat makanan cantik di hadapan mereka. Dan mereka mulai menyerang Dhana dengan rakus.
"ARRGGGHHHH!" teriakan Dhana terdengar.
Danial yang mendengar hal itu pun seketika menyeringai.
"Dani kamu tidak mau bergabung?" tanya Danial sambil terkekeh pelan.
"Tidak bos, ikan itu untuk kucing-kucing garong anda saja" jawab Dani
"Ha ha ha" Danial tertawa mendengar ucapan Dani.
Dia merasa lega sudah membalas dendam untuk kematian bayinya, tapi setiap kali mengingat bayinya hati Danial sangat sakit bagaikan di tusuk banyak sekali anak panah.
"Kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Dani saat melihat wajah murung bosnya.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Danial
"Sudah hampir pukul 7 malam, bos" jawab Dani.
__ADS_1
"Ke mansion dulu, aku mau membersihkan tubuh ku dulu sebelum bertemu Dina" ucap Danial.
"Baik, mari"
Danial dan Dani keluar dari dalam gudang, Danial melangkah tanpa bantuan tongkat ataupun bantuan Dani.
Karena dia sudah berlatih untuk tidak berjalan dengan bantuan apapun. Sebulan yang lalu dia berlatih dengan Dina agar bisa berjalan dengan normal seperti orang yang bisa melihat.
Walaupun terasa sangat mustahil, tapi dia berhasil melakukan itu.
Dani membuka pintu mobil untuk Danial.
"Silahkan bos" ucap Dani
"Emm"
Danial masuk ke dalam mobil, lalu Dani menutup kembali pintu mobilnya. Dan Dani segera duduk di balik kemudi lalu melajukan mobilnya meninggalkan gudang yang terletak di dalam hutan itu.
Tempat itu adalah markas rahasia Danial, dimana Danial akan menghukum orang-orang yang sudah berani macam-macam pada dirinya dan keluarganya.
Tempat Danial menghukum mantan kakak iparnya, tempat dia menghukum para bawahannya yang mencoba menjebaknya, tempat dia menghukum pria tua yang mencoba menjebak Dina, dan tempat dia menghukum orang yang membunuh bayi yang sangat dia dan neneknya nantikan.
Danial menghukum semua orang yang macam-macam dengannya di tempat itu, tapi Danial tidak akan membunuh mereka, setelah dia mengintrogasi mereka.
Danial akan menjebloskan mereka ke penjara dan memastikan mereka membusuk dengan sendirinya di penjara.
Pertama mantan kakak iparnya, yang membuat kakak satu-satunya mati mengenaskan dan yang kedua adalah Dhana yang membuat bayinya mati.
3 hari kemudian
Dina sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik, tapi tidak dengan batinnya.
Di dalam kamar.
Saat ini Danial tengah membujuk Dina agar mau makan, karena dia belum sarapan.
Selama beberapa hari ini Dina selalu murung dan tidak mau makan.
Danial dan nenek Dharma selalu bergantian untuk membujuk Dina agar mau makan. Walaupun hanya beberapa suap yang dia telan.
"Makanlah bubur ini, Dina" ucap Danial sambil memegang semangkok bubur.
"..."
Dina bergerak menjauh, Danial duduk semakin dekat.
"Jangan seperti itu kamu harus makan" bujuk Danial
"Tidak" ucapnya lemah
__ADS_1
Danial menyentuh bahu Dina sambil berkata "Kamu harus memulihkan energi mu"
"Aku tidak mau" ucapnya sambil menepis tangan Danial.
"Tolong... Tolong jangan ganggu aku" ucap Dina masih duduk membelakangi Danial.
Danial menunduk dia terdiam, lalu dia menyerahkan mangkuk bubur itu pada bik Dahayu yang masih ada di dekat Danial.
Danial memberikan kode agar bik Dahayu keluar dari kamar. Bik Dahayu meletakkan mangkuk bubur itu ke nakas lalu keluar dari kamar tuan mudanya.
"Dina makanlah sesuap saja, aku mohon Dina" ucap Danial kembali membujuk Dina
"Aku tidak mau!" teriak Dina
"Tapi kamu harus makan, agar segera sembuh jika kamu tidak sembuh siapa yang akan merawat ku?"
"Cari saja orang lain" ucap Dina acuh
"Aku tidak mau, kamu istri ku jadi kamulah yang harus merawat ku"
Dina berbalik menatap wajah Danial.
"Makan ya.." bujuk Danial
"Tidak tidak... bagaimana aku bisa makan setelah semua yang terjadi, mas!" ucapnya berderai air mata.
Hal seperti ini sudah sering terjadi, Dina yang tak berselera untuk makan ataupun melakukan hal lain dan terkadang dia menjadi histeris. Dan hal ini membuat semua orang sangat khawatir akan kesehatannya.
"Bagaimana bisa aku makan setelah aku membunuh bayi ku..." ucap Dina dengan suara bergetar.
"Dina kamu tidak membunuh bayi kita, itu kecelakaan Dina, itu bukan salah mu. Itu salah orang yang mencelakai mu dan bayi kita" ucap Danial mencoba menenangkan Dina agar tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak ini salah ku hiks hiks ini salah ku mas, kalau saja aku berhati-hati ini tidak akan terjadi walaupun ada yang ingin mencelakai ku"
"Dina..." lirih Danial
"Ini salah ku Mas, aku membunuh bayi yang sangat kamu nantikan... aku bahkan membuat mu buta ini salah ku hiks hiks maafkan aku... Maafkan aku" Dina histeris
"Tidak tidak Dina ini bukan salah mu ini bukan salah mu, kamu tidak membuat ku buta kamu juga tidak membunuh bayi kita, itu semua kecelakaan, kecelakaan karena suami bodoh mu ini yang tidak becus menjaga mu dan bayi kita" ucap Danial sambil memegang bahu Dina, dia mencoba untuk menenangkan Dina.
Dina menggelengkan kepalanya sambil terisak.
Tidak ini salah ku.. Kalau saja aku tidak meminta sesuatu pada mu mas, ini tidak akan terjadi hiks hiks da...dan kalau saja aku berhati-hati bayi kita tidak akan pergi hiks hiks aku ibu yang buruk aku juga istri yang buruk" teriak Dina sambil menangis.
.
.
.
__ADS_1