
"Aku akan memakannya, sekarang kamu pergilah. Untuk sekarang jangan sampai nenek melihat mu" ucap Danial sambil mengambil pie dari tangan Dina.
"Emm, oh iya ini airnya" ucap Dina sambil meletakkan sebotol air mineral yang sengaja dia bawa tadi.
"Emm" jawab Danial sambil tersenyum
Dina pergi dari sana dan kembali ke kamar Danial.
Tak lama nenek datang bersama kepala pelayan yang tak lain adalah bik Dahayu.
"Masuk" ucap nenek ketus
Danial berdiri, dia menitipkan pie dan air yang di berikan Dina pada bik Dahayu.
"Bik aku titip sebentar" ucap Danial
"Baik den"
Danial masuk ke kamar nenek Dharma.
"Nenek"
Nenek berbalik
"Nenek benar-benar tidak habis pikir dengan mu Danial!" sentak nenek Dharma.
"Maaf nek" jawab Danial sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus Dina?!" tanya nenek Dharma
"Bukankah nenek suka padanya" ucap Danial sambil menatap wajah neneknya.
"Ya memang, karena itulah nenek kecewa pada mu Danial. Kamu menikahinya diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Lalu bagaimana nasib gadis malang itu Danial! Bagaimana nasibnya setelah ini? Nenek yakin kamu pasti akan menceraikannya setelah anak mu lahir, benar bukan?"
Danial tak dapat menjawab apapun dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Jawab Danial!" teriak nenek Dharma
"Maaf nek"
"Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja Danial, kenapa harus Dina?"
"Bukankah nenek mau perempuan baik-baik? dan hanya dia perempuan baik-baik yang aku kenal nek"
"Hah... Kasihan sekali nasibnya. Nenek sudah menganggapnya sebagai cucu nenek, apa yang harus nenek lakukan Danial?" Ucap nenek lesu dia duduk di ranjangnya.
"Maaf nek"
Hening
"Tidak bisa begini, Danial kamu tidak boleh menceraikan Dina, jadikan dia istri mu selamanya"
"Tapi nek"
"Kali ini kamu tidak bisa membantah Danial, jangan menceraikannya atau kamu bukan cucu nenek lagi" ancam nenek Dharma
Danial terdiam
"Pergilah" ucap nenek Dharma meminta Danial keluar dari kamarnya.
Dengan langkah yang lesu Danial keluar dari kamar neneknya.
Sesampainya di luar kamar nenek.
"Den, anda baik-baik saja?" tanya bik Dahayu
Danial menganggukkan kepalanya lalu dia mengambil kembali pie dan airnya yang dia titipkan pada bik Dahayu.
"Aku ke kamar dulu bik"
"Silahkan den"
Dengan langkah yang tidak bersemangat, dan sedikit pincang Danial melangkah naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.
__ADS_1
Ceklek
Pintu terbuka, Dina segera menghampiri Danial.
"Anda baik-baik saja?" tanya Dina khawatir
Danial meletakkan pie dan airnya di meja rias, lalu tiba-tiba dia memeluk Dina.
"M...mas" Ucap Dina terkejut
Danial mengeratkan pelukannya.
Dina merasa pundaknya basah.
"Mas Danial menangis?" Ucap Dina dalam hati.
Perlahan tangan Dina mengusap punggung Danial, selama tinggal dengan Danial inilah pertama kalinya Dina melihat pria itu dalam keadaan seperti ini.
"Apa nenek memarahi anda? apa nenek berteriak pada anda?" tanya Dina
Danial menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa anda menangis? jangan sedih anda malah membuat saya ikutan sedih huaaaa"
Danial mengusap pipi basahnya lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Dina yang ikutan menangis.
Danial mengusap air mata Dina di pipinya.
"Kenapa kamu malah menangis?" tanya Danial sambil mengusap air mata Dina.
"Tidak tahu, tiba-tiba saya sedih" ucap Dina masih berlinang air mata.
Danial tersenyum.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa" ucap Danial sambil tersenyum.
"Hiks hiks"
Danial memeluk Dina yang masih menangis, di usapnya perlahan punggung Dina.
"Tenanglah, semuanya baik-baik saja" ucap Danial menenangkan Dina.
"Hiks hiks"
Beberapa menit kemudian tangis Dina sudah reda.
"Kaki anda kenapa?" tanya Dina saat melihat Danial melangkah ke arah ranjang dengan tertatih-tatih .
"Tidak apa-apa, kaki ku cuma pegel saja" jawab Danial
Dina memapah Danial dan duduk di ranjang. Dina duduk di samping Danial.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu" tanya Danial lembut sambil menyelipkan rambut Dina di belakang telinga.
"Wajah anda lebam semua" ucap Dina dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa nanti sembuh kok" ucap Danial sambil tersenyum pada Dina.
"Wajah anda jadi jelek" ucap DinaΒ
Danial terkekeh.
"Kamu tidak suka?" tanya Danial
Dina menganggukkan kepalanya.
"Saya sukanya pria tampan" ucap Dina dengan wajah sedihnya.
"Ha ha aw aw hiss..." Danial tertawa namun tak lama dia meringis karena mulutnya sakit saat tertawa.
"Jangan membuat ku tertawa darling, ini menyakitkan" keluh Danial
"Siapa yang membuat anda tertawa? saya serius" ucap Dina dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
Danial mengangguk sambil tersenyum, lalu dia memeluk Dina.
"Kamu pasti sangat terkejut tapi tidak perlu takut, nenek memang terlihat keras tapi nenek sangat baik"
"Nenek memukul ku bukan karena membenci ku tapi itu karena nenek sayang pada ku, nenek juga sayang pada mu karena itulah nenek marah"
"Hiks hiks" Dina kembali menangis.
"Tidak perlu takut sayang semuanya baik-baik saja" Ucap Danial sambil mengusap punggung Dina dengan lembut.
"Nenek benar-benar menakutkan, bagaimana bisa dia tega memukul cucunya sendiri"
"Karena aku bersalah, jadi nenek memukuli ku. Dulu aku kira tidak akan pernah terkena pukulannya tapi ternyata tidak" ucap Danial sambil terkekeh.
"Bukan hanya aku saja yang terkena pukulan nenek, kakak ku dulu juga pernah kena pukulan nenek" ucap Danial
"Kakak?" tanya Dina
Danial melepaskan pelukannya.
"Iya kakak ku, kembaran ku" ucap Danial sambil mengusap air mata Dina.
"Anda punya kembaran? lalu dimana kakak anda sekarang?" tanya Dina
"Kakak ku sudah tenang di alam sana" ucap Danial sambil tersenyum.
Dina terkejut.
"Maaf saya tidak tahu"
Danial tersenyum.
"Tidak apa-apa kamu kan tidak tahu" ucap Danial sambil tersenyum.
"Kalau boleh saya tahu kenapa kakak anda meninggal?" tanya Dina
Danial nampak sendu.
"Jika anda tidak mau mengatakannya tidak apa-apa" ucap Dina saat melihat wajah sendu Danial.
"Tidak, akan aku ceritakan supaya kamu tidak penasaran" ucap Danial sambil tersenyum menatap wajah Dina
"Tidak apa-apa kok" tolak Dina
"Kakak ku meninggal karena bundir"
Dina nampak sangat terkejut.
"Dia melakukan itu karena istrinya berselingkuh, tidak sebenarnya dari awal istrinya itu memang bukan miliknya"
"Maksudnya?" tanya Dina
"Perempuan itu sudah memiliki kekasih tapi dia menjebak kakak ku untuk menguras semua hartanya. Dia bekerja sama dengan kekasihnya untuk merebut semua yang di miliki kami"
"Kenapa?" tanya Dina
"Kekasihnya adalah anak dari lawan bisnis papa ku"
"Suatu ketika kakak memergoki istrinya tengah memadu kasih dengan pria lain. Saat itu kami dalam masa berduka, Papa dan mama meninggal karena kecelakaan"
"Rem mobil papa blong dan mobil masuk ke jurang kemudian meledak. Kakak yang saat itu masih berduka karena kepergian orang tua kami pun sangat terpukul karena melihat dengan mata Kepala sendiri istrinya sedang menikmati permainan bersama pria lain di kamar mereka"
.
.
.
Like dan komen ya teman-teman π.
Jangan lupa subscribe juga, biar makin semangat updatenya, tinggalkan jejaknya ya... πβ€.
Baca juga novel aku yang lain ya... Thank You ππ
__ADS_1