Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Demam


__ADS_3

"Apa maksud mu nak? suami mu bilang sudah mendaftarkan nama kalian di KUA" ucap ayahnya.


.


.


.


"Aaa... apa karena inilah dia tahu aku mengajukan perceraian" ucap Dina dalam hati.


Dina mengecup kembali punggung tangan orang tuanya.


"Mau kemana?" tanya ibunya heran.


"Pulang" ucap Dina sambil melangkah menuju mobilnya.


"Loh bukankah kamu baru sampai, katanya capek" ucap ibu Dina sambil melangkah menghampiri putrinya yang melangkah menuju mobilnya.


"Dina berhenti" ucap ibunya sambil menahan lengan putrinya.


"Apa bu?" tanya Dina.


"Kamu tidak boleh pulang, kamu baru saja sampai" ucap ibunya melarang.


"Tapi Dina harus..."


"Tidak! ayo kembali" ucap ibunya sambil menyeret pelan putrinya ke dalam rumah.


"Ibu..." keluh Dina.


"Jika kamu pulang sekarang kalian pasti akan bertengkar lagi" ucap Ibu Dina masih melangkah ke dalam rumah.


"Jadi dia mengadu pada ibu" ucap Dina kesal.


"Tidak"


"Lalu kenapa ibu bisa tahu kami selalu bertengkar?" tanya Dina.


"Oh jadi kamu mengakuinya" ucap ibunya.


"Ibuuu..." rengek Dina.


Ibu Dina membuka pintu kamar putrinya lalu mereka masuk ke dalam, setelah itu ibu Dina menutup pintu kamar putrinya.


"Duduk" ucap ibu Dina menyuruh putrinya duduk di ranjangnya.


"Ibu, Dina mau pulang sekarang" ucap Dina.


"Lalu kamu akan bertengkar lagi dengan suami mu setelah pulang?" tebak ibunya.


"Iyalah apalagi. Upss" Dina menutup mulutnya.


Ibu Dina menggeleng pelan.


"Dina jangan kekanak-kanakan, kamu sudah dewasa. Sebaiknya sekarang kamu pikirkan anak-anak mu terutama si kembar, mereka sangat merindukan mu nak"


"Tapi dia tidak mau bersama Dina" ucap Dina.


"Kata siapa? kalau dia tidak mau pada mu dia tidak akan sampai mencari mu Kemana-mana Dina" ucap ibunya.


Dina menundukkan kepalanya menahan tangisnya.


"Sekarang katakan sebenarnya apa penyebab mu kabur lima tahun lalu, suami mu bilang semuanya baik-baik saja tapi kamu tiba-tiba kabur dengan alasan kontrak kalian sudah selesai. Apa karena kontrak itu kamu pergi? yang ibu dengar dia tidak pernah mengusir mu"


"Ya dia memang tidak mengusir Dina secara langsung tapi..." ucap Dina dengan air mata yang sudah mengalir.


"Tapi apa nak? selama ini ibu hanya diam saja. Tapi kali ini ibu harus tahu alasannya, kasihan cucu-cucu ibu sayang"

__ADS_1


"Jadi ibu tidak kasihan pada ku?" tanya Dina sambil menatap ibunya.


"Bukan begitu sayang" ucap ibu Dina sambil mengusap air mata putrinya.


"Apa kamu tidak rindu pada anak-anak mu hemm?" tanya ibu Dina.


Dina menggelengkan kepalanya kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Dina rindu, rindu sekali hiks"


"Kalau begitu kembalilah pada suami mu, dia selalu mencari mu beberapa tahun ini. Kasihan dia sayang"


"Hiks hiks tapi bu..."


"Tapi apa?" tanya ibu Dina dengan lembut.


"Dia bilang 'Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan dia, aku ingin kontrak ini segera berakhir, rasanya aku ingin merobek surat kontrak itu saat ini juga Dani'. Itu yang dia katakan pada asistennya bu hiks hiks"


Ibu Dina memeluk putrinya.


"Pasti ada salah paham nak, apa kamu sudah bertanya padanya apa maksud dari ucapannya?" tanya Ibu Dina.


Dina menggelengkan kepalanya di pelukan ibunya.


"Kalau begitu kamu harus tanyakan hal ini, ibu yakin ada salah paham di antara kalian. Karena jika tidak maka untuk apa dia bersusah payah mencari mu selama ini"


"Dan ibu lihat di matanya ada banyak cinta dan kerinduan untuk mu, nak. Apa kamu juga tidak merindukannya heemm?"


"Tidak" jawab Dina.


"Lalu sekarang kenapa kamu bisa hamil anaknya lagi?" goda ibunya.


"Itu kecelakaan" jawab Dina.


"Kecelakaan karena cinta" ucap ibunya sambil terkekeh.


"Aku berkata jujur bu, saat itu kami..."


"Ibu tahu, suami mu sudah bilang" ucap ibu Dina memotong ucapan putrinya.


"Bilang apa? apa dia bicara yang tidak-tidak pada kalian?" tanya Dina.


Ibu Dina terkekeh.


"Tidak, dia bilang kalian terjebak di badai salju dan yah begitulah sampai akhirnya membuat kamu hamil"


Wajah Dina nampak memerah di balik cadar yang dia kenakan.


"Dia bahkan minta maaf pada kami karena sudah membuat mu hamil lagi tanpa menggelar resepsi terlebih dulu" ucap ibu Dina sambil terkekeh pelan.


"Dasar bikin malu saja" gerutu Dina.


Ibu Dina mengusap bekas air mata di mata putrinya.


"Sebaiknya kamu istirahat, pulanglah nanti sore atau besok pagi. Lalu luruskan lah Kesalahpahaman di antara kalian"


Dina mengangguk pelan.


"Ya sudah ibu keluar dulu"


"Iya bu"


"Oh iya apa kamu sudah sarapan?" tanya Ibu Dina.


"Sudah" ucap Dina.


"Baiklah, kamu istirahatlah jika lapar di dapur ada lauk"

__ADS_1


"Iya bu"


Ibu Dina keluar dari sana lalu menutup pintu kamar putrinya.


Setelah ibunya keluar, Dina menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


"Apa saja yang dia katakan pada ibu dan ayah" gerutu Dina.


"Sudahlah memikirkan pria itu tak akan ada habisnya" ucap Dina lalu memejamkan matanya, tak lama kemudian dia pun terlelap.


Keesokan harinya di sore hari.


Dina melangkah dengan menggebu-gebu ke dalam rumahnya.


Di perjalanan pulang Dina nampak sangat kesal karena Danial terus membodohinya.


"Sepertinya anda lupa pukulan saya sangat keras" omel Dina sambil melangkah ke kamar yang di tempati Danial.


"Berani-beraninya dia berbohong berkali-kali pada ku" ucap Dina menggebu-gebu.


Sesampainya di kamar.


Ceklek.


"Bisa-bisanya dia tidur setelah membuat ku kesal" ucap Dina kesal saat melihat Danial tidur di ranjang.


Dina melirik ke arah sofa yang ada di kamar itu, nampak sangat berantakan. Kaos kaki, dasi dan jasnya berserakan di sana.


Tadi pagi Danial ada rapat penting jadi dia harus menghadirinya, dan kebetulan Dina sedang ada di rumah orang tuanya.


Danial tahu Dina ada di sana karena ibu Dina menelpon dirinya dan mengatakan Dina ada di sana.


Dina memunguti satu persatu pakaian Danial dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.


"Ehmm" Danial bergerak di ranjangnya, tapi dia tidak bangun.


Dina melangkah ke ranjang.


"Dia kenapa?" tanya Dina saat melihat wajah pucat Danial.


Dina menyentuh kening Danial .


"Dia demam"


"Mr. Danial apa yang terjadi pada mu" ucap Dina khawatir.


Dina memeriksa pipi dan leher Danial, dan benar pria itu benar-benar demam.


Danial terbangun karena kehebohan Dina, dia menyentuh kedua tangan Dina kemudian berkata "aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir" ucap Danial dengan nada lemahnya.


"Tidak apa-apa bagaimana? tubuh anda panas sekali" ucap Dina.


"Sebentar lagi panasnya akan turun, sebaiknya kamu tidak dekat-dekat dengan ku, nanti kena tular" ucap Danial sambil menyingkirkan tangan Dina yang menyentuh kulitnya.


"Saya akan panggil dokter" ucap Dina.


"Tidak perlu"


"Kali ini anda harus menurut pada saya" ucap Dina final. Lalu Dina keluar dari kamar itu untuk menelpon dokter.


Beberapa saat kemudian


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2