
"Huuuaaaa! tidak mas tidak, kembalikan bayi ku, mas kembalikan hiks hiks" ucap Dina sangat terpukul.
.
.
.
Dia memukul-mukul punggung Danial untuk melampiaskan semua rasa sedihnya.
Danial membiarkan Dina memukulnya, air matanya sejak tadi sudah mengalir deras.
Di saat seperti ini dia tidak bisa berbuat apapun. Pertama matanya dan sekarang bayinya.
Bukan hanya Dina yang terpukul dengan semua yang terjadi bahkan Danial pun sangat terpukul.
Nenek Dharma hanya bisa menangis meratapi nasib cucunya. Dani dan Bik Dahayu yang masih ada di sana pun juga merasa sangat sedih.
"Yang sabar nyonya" ucap Bik Dahayu sambil memeluk majikannya. Air mata bik Dahayu pun sejak tadi sudah mengalir.
Dina masih menangis di pelukan Danial, Danial hanya bisa memeluk Dina dan mengusap lembut punggung istrinya sesekali mengecup pucuk kepala Dina.
"Hiks hiks bayi ku... kenapa kamu meninggalkan mama sayang hiks hiks" ucap Dina di sela tangisnya.
Beberapa jam berlalu, saat ini Dina tertidur setelah lelah menangis dan juga pengaruh obat yang di berikan dokter agar Dina tenang.
"Danial, barusan Dina mengatakan kalau kakinya menginjak sesuatu yang licin seperti minyak di tangga, bukan?" ucap nenek Dharma
Tadi saat Dina sudah berangsur tenang Dina menceritakan semua yang terjadi, mulai dari ponselnya yang tiba-tiba ada di lantai atas dan saat dia keluar dari kamar itu.
Dina yang menceritakan itu pun kembali menangis saat mengingat bayinya alhasil nenek Dharma terpaksa menekan tombol yang ada di dekat brankar untuk memanggil dokter, dan setelah itu dokter menyuntikkan obat penenang pada Dina.
"Dani tolong periksa CCTV yang ada di mansion" ucap Danial pada Dani.
"Baik bos, kalau begitu saya permisi"
"Iya"
Dani pergi setelah berpamitan pada Danial dan nenek Dharma.
2 jam kemudian Dani kembali ke rumah sakit.
"Bos saya sudah menemukan pelaku yang membuat nona Dina jatuh dari tangga"
"Pelaku?" ucap nenek Dharma dan bik Dahayu bersamaan.
"Benar nyonya, silahkan" ucap Dani sambil memberikan sebuah tablet berisi rekaman CCTV pada nenek Dharma.
Nenek Dharma dan bik Dahayu terkejut setelah melihat apa yang ada di video itu.
"Apa yang terjadi Dani?" tanya Danial
"Seorang pelayan terlihat keluar dari kamar anda dan nona Dina, pelayan itu memegang ponsel nona Dina lalu membawanya ke lantai atas tepatnya ke kamar anda dan nona Dina sebelumnya yang ada di lantai atas"
"Lalu 2 jam kemudian nona Dina nampak keluar dari kamar yang anda dan nona Dina tempati saat ini dengan ponsel di tangannya. Sepertinya itu ponsel anda"
"Benar, Dina keluar membawa ponsel ku untuk mencari ponselnya" jawab Danial
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Danial mencoba untuk tetap tenang.
"Setelah itu nona Dina melangkah ke lantai atas dan masuk ke kamar anda sebelumnya. Dan saat nona Dina masih di dalam kamar, pelayan tadi yang membawa ponsel nona Dina ke atas muncul dari balik tangga dengan sebotol minyak di tangannya yang dia ambil dari dapur kemudian dia naik ke atas dan menuang minyak itu dari anak tangga ketiga dari atas sampai ke anak tangga ke 10"
__ADS_1
"Setelah itu pelayan itu turun dan bersembunyi di tempatnya tadi. Dan tak lama nona Dina keluar Dari kamar dan terpeleset"
"Sungguh kejam" ucap nenek Dharma dengan air mata yang kembali mengalir.
"Siapa pelakunya?" tanya Danial, rahangnya mengeras dia sangat marah.
"Pelayan yang baru bekerja di mansion 2 minggu lalu, bos"
"Ternyata dia, seharusnya aku pecat saja dia setelah mendengar ucapan Dina saat itu" ucap Danial menyesal, dia sangat marah.
"Memangnya apa yang Dina katakan, Danial?" tanya Nenek Dharma yang masih terisak.
"Dina bilang pada Danial kalau pelayan itu gerak-geriknya mencurigakan, awalnya Danial akan memecatnya tapi Dina melarang ku memecatnya karena berpikir itu hanya perasaannya saja"
"Astaga" ucap nenek Dharma menghela nafas panjang
"Seharusnya Danial tidak mendengarkan perkataan Dina dan langsung memecatnya" ucap Danial menyesal
Flashback
1 minggu yang lalu
"Mas" panggil Dina
"Hmmm?" jawab Danial yang duduk di ranjang sambil menyandar di Headboard.
"Mas jangan marah ya, aku cuma mau bilang" ucap Dina yang duduk di samping Danial.
"Iya, mau bilang apa?" tanya Danial
"Pekerja baru yang datang seminggu yang lalu itu agak gimana gitu" ucap Dina
"Agak aneh mas" ucap Dina
"Aneh? keanehannya di mana?" tanya Danial
"Gerak geriknya mencurigakan, apa hanya perasaan ku saja ya?" ucap Dina
"Kamu gak nyaman?" tanya Danial
"Enggak bukan gitu maksud ku" ucap Dina
"Kalau kamu gak nyaman biar mas minta nenek biar pecat dia" ucap Danial
"Eh jangan dong mas, masa hanya karena aku gak nyaman main pecat aja, kan kasihan mas susah loh cari kerjaan"
"Ya dari pada kamu di rumah gak nyaman" ucap Danial
"Kalau gitu. Kalau aku gak nyaman sama mas, mas di pecat jadi tuan gitu? ganti tuan yang baru?" ucap Dina sambil terkekeh.
"Lah gak gitu juga konsepnya" ucap Danial sambil terkekeh.
"Kan pas pertama kali aku kerja ke mas, mas selalu buat aku gak nyaman, ups..." Dina nampak menyesal dengan ucapannya.
"Oohhh jadi gitu ya..." ucap Danial
"Sorry mas keceplosan" ucap Dina sambil tertawa pelan.
"Sekarang kamu kan udah gak kerja tapi jadi istri mas jadi masih gak nyaman?" tanya Danial
"Memangnya mas mau di pecat jadi suami?" tanya Dina sambil terkekeh.
__ADS_1
"Dina.."
"He he he bercanda mas, lagi pula sekarang aku kan masih kerja ke mas" ucap Dina
"Hah?" tanya Danial
"Kerja jadi istri" ucap Dina sambil terkekeh.
"Memangnya ada?" tanya Danial
"Ada, aku ini"
"Kamu ada-ada aja"
"Kan emang bener mas, aku istri kontrak mu mas" bisik Dina
"Udah ah jangan bahas itu" ucap Danial
Dina terkekeh.
Flashback End
"Harusnya aku pecat saja dia" geram Danial
"Sabar Danial semuanya sudah terjadi" ucap nenek Dharma sambil menenangkan cucunya.
"Sekarang fokus kita harus pada Dina, dia pasti sangat syok" ucap nenek Dharma
Danial menganggukkan kepalanya.
"Dimana pelayan itu?" tanya Danial
"Sudah kami amankan bos" ucap Dani
"Bawa aku padanya"
"Baik bos"
"Nenek, Danial titip Dina sebentar" ucap Danial pada neneknya
"Kamu mau apa?" tanya nenek Dharma
"Danial akan memberi pelajaran pada pelayan itu"
"Jangan lakukan hal kejam, Danial"
"Nenek tenang saja, Danial tidak akan membunuhnya" ucap Danial sambil menyeringai
"Hah... baiklah cepatlah pergi sebelum Dina bangun kamu sudah harus ada di sini" ucap nenek Dharma yang tidak bisa berbuat apapun jika cucunya sudah memutuskan sesuatu.
"Terima kasih nek, Danial pastikan akan kembali sebelum Dina bangun" ucap Danial
"Ayo Dani"
Danial dan Dani keluar dari kamar inap Dina lalu pergi ke suatu tempat.
.
.
.
__ADS_1