
"Ya tentu saja, saya penggemar nomer satu anda. Kapan lagi saya bisa dapat tanda tangan anda"
.
.
.
"Waahhh suatu kehormatan, desainer besar seperti anda menjadi penggemar saya" ucap Dina sambil meletakkan tangan kanannya di depan bahunya.
"Sudah ayo cepat beri saya tanda tangan mu, dan juga saya mau berfoto dengan anda"
"Tentu saja" jawab Dina sambil tersenyum.
Dina memberikan tanda tangan pada Miss Dylan, ya Miss Dylan juga meminta tanda tangan Dina.
Dia tidak mau ketinggalan seperti yang lain. Miss Dylan mengakui kemampuan Dina, walaupun Dina termasuk pendatang baru di bidang itu tapi Dina sangat kompeten.
"Ini Mr. Dylan" ucap Dina sambil menyerahkan buku yang sudah dia tanda tangani.
"Oke sekarang kita foto bersama" ucap Miss Dylan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tolong fotokan ya" ucap Miss Dylan sambil menyodorkan ponselnya pada salah satu staffnya.
"Baik"
Mereka mulai berfoto bersama, Dan terakhir Dina berfoto bersama semua staff.
Di luar Danial nampak tersenyum melihat istrinya di terima dengan baik oleh karyawannya, terlepas statusnya yang adalah istri bos.
Dina bisa membangun sendiri image baik di mata karyawan Danial, tentu saja dari awal image Dina memang baik di luar sana.
Para staff tidak ada yang tahu bahwa dia adalah istri bos, dan hanya Miss Dylan saja yang tahu status Dina di ruangan itu.
"Mari bos" ucap Dani.
"Iya"
Danial melanjutkan langkahnya di ikuti Dani menuju suatu tempat.
"Dani, ini hari terakhirnya di kantor kan?" tanya Danial.
"Benar bos"
Danial nampak termenung.
"Selanjutnya bagaimana?" tanya Dani
"Entahlah aku juga tidak tahu, kita lihat saja nanti" jawab Danial.
Sore harinya.
Dina keluar dari kantor Danial, dia berdiri di depan kantor Danial dengan beberapa kotak hadiah yang dia terima dari staff yang bekerja dengannya.
Dina nampak tersenyum saat melihat hadiah yang di berikan staff.
"Mereka baik sekali, padahal aku sering memarahi mereka" ucap Dina sambil menatap hadiah yang di berikan staff.
Selama bekerja di sana, beberapa kali Dina memang pernah menegur staff di sana. Bukan karena apa, tapi beberapa staff memang ada yang melakukan kesalahan.
Tapi Dina tak menghardik mereka, Dina hanya menegur mereka dengan pelan lalu memberitahu dimana letak kesalahannya dan memberikan masukan-masukan yang menurutnya benar.
__ADS_1
Para staff mengakui kesalahan mereka dan mau menerima teguran Dina, mereka bilang teguran Dina membuat mereka mengetahui hal yang tidak mereka ketahui dan agar tidak melakukan kesalahan seperti itu lagi di kemudian hari.
Dina melangkah dari tempatnya berdiri menuju jalan raya. Hari ini dia ada janji dengan teman-temannya di restoran yang ada di depan kantor Danial.
Jadi dia akan berjalan kaki menuju restoran itu.
Lampu berubah menjadi merah dan saatnya Dina untuk menyebrang. Suasana di sana cukup sepi, hanya beberapa orang saja yang lewat.
Entah kemana semua orang, karena biasanya tempat itu lumayan ramai.
Dina melangkah untuk menyebrang.
Danial yang berhenti karena lampu merah pun keluar dari dalam mobil saat melihat Dina menyebrang di depan mobilnya.
"Dina" panggil Danial.
Dina menoleh sebentar.
Dari kejauhan Danial melihat sebuah motor melaju kencang ke arah Dina, dengan langkah cepatnya Danial berlari ke arah Dina.
"Dina awas" teriak Danial.
Braakkk
"Aw"
Dani segera keluar dari mobil dan langsung menghampiri Danial dan Dina.
"Woiii!!" teriak Dani pada pengendara motor yang kabur setelah menyerempet mereka.
"Mr. Danial!!" pekik Dina.
"Bos" panggil Dani panik.
Demi menyelamatkan Dina, Danial rela terserempet motor dan jatuh dengan posisi Dina berada di atasnya dan dia ada di bawah.
Dina berada di pelukan erat Danial, sedangkan Danial jatuh menghantam aspal dengan sangat keras.
Orang-orang mulai berkumpul, beberapa pengendara mobil turun untuk membantu mereka.
Terjadi kemacetan beberapa saat.
Danial di papah ke dalam mobilnya. Dina nampak sangat panik melihat Danial meringis kesakitan.
"Nona barang-barang anda" ucap seorang gadis yang membantu membereskan hadiah-hadiah Dina.
Dina menoleh ke arah gadis itu.
"Terima kasih banyak" ucap Dina.
"Sama-sama" ucap gadis itu kemudian pergi dari sana.
"Cepat masuk nona" ucap Dani pada Dina.
"Ah iya" ucap Dina dan langsung masuk ke dalam mobil Danial, Dina duduk di samping Danial.
Mobil pun melaju menuju rumah sakit terdekat.
"Mr. Danial"
"Aku baik-baik saja" ucap Danial sambil menatap wajah Dina, dia mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat panik.
__ADS_1
Dina menatap lengan Danial.
"Da...darah" ucap Dina terbata-bata saat melihat siku kanan Danial mengeluarkan darah dan menembus jas abu-abunya.
Danial melirik sekilas ke arah sikunya.
"Asisten Dani cepatlah" pekik Dina panik.
"Ini sudah cepat nona" ucap Dani.
"Tenanglah" ucap Danial sambil menatap wajah Dina yang sangat khawatir.
"Bagaimana saya bisa tenang, darahnya keluar banyak sekali!" pekik Dina sambil menatap wajah Danial.
Danial tersenyum.
"Di saat seperti ini anda masih bisa tersenyum?!" omel Dina sambil menatap wajah Danial yang tersenyum ke arahnya.
"Aku senang melihat mu sangat khawatir pada ku, aku rela harus sakit setiap saat demi melihat mu khawatir pada ku" ucap Danial sambil tersenyum.
"Anda sudah gila!" amuk Dina.
"Ya aku memang sudah gila Dina, aku sudah gila karena kamu meninggalkan ku selama bertahun-tahun" ucap Danial sambil menatap wajah Dina.
"Berhenti bicara omong kosong, sepertinya kepala anda terbentur keras tadi" ucap Dina sambil membuang muka.
Danial menatap lekat istrinya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Danial langsung di tangani oleh dokter.
Hampir 1 jam dan Danial baru keluar dari UGD. Melihat Danial keluar, Dina yang menunggu di luar sejak tadi pun langsung menghampiri Danial yang berjalan dengan bantuan tongkat di tangan kirinya dan Dani di sampingnya.
Tadi Dani ikut masuk ke dalam dan menemani Danial, sedangkan Dina tak berani masuk ke dalam.
"Kenapa di gips?" tanya Dina saat melihat tangan dan kaki Danial di gips.
"Tangannya patah, kakinya retak dan ada luka di sikunya" jawab Dani.
Dina nampak sangat terkejut.
"Aku tidak apa-apa jangan khawatir" ucap Danial.
Mata Dina nampak mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis sayang" ucap Danial sambil meraih pipi Dina dengan tangan kirinya. Sedangkan tongkatnya dia apit di antara ketiaknya.
"Maaf gara-gara saya anda..." ucap Dina merasa bersalah.
Danial menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak tidak ini bukan salah mu" ucap Danial.
Tiba-tiba kepala Dina terasa berputar, Danial yang peka pun langsung menangkap tubuh Dina sebelum tubuh istrinya itu mendarat di lantai.
Suster yang kebetulan melihat itu pun langsung menghampiri mereka dan membawa Dina ke UGD dengan bantuan brankar dan beberapa suster lain.
.
.
.
__ADS_1