Pengasuh Pribadi Jadi Istri

Pengasuh Pribadi Jadi Istri
Operasi


__ADS_3

"Nek, apa yang terjadi?" tanya Dina


"Itu tidak benarkan nek?" tanya Dina lagi


"Tenanglah nak, tenanglah ingat kamu sedang hamil" ucap nenek Dharma sambil memeluk Dina.


Air mata Dina perlahan turun membasahi pipinya.


"Hiks hiks, ini salah Dina nek. Seharusnya Dina tidak meminta martabak pada mas Danial hiks hiks"


"Tenanglah, ini bukan salah mu" ucap nenek Dharma sambil menepuk-nepuk punggung Dina.


Beberapa menit kemudian, nenek Dharma melepaskan pelukannya.


"Tidak perlu khawatir Danial akan baik-baik saja, sekarang kamu istirahatlah nenek akan pergi ke rumah sakit" ucap nenek Dharma sambil menyeka air mata Dina.


Dina menggelengkan kepalanya "Tidak nek, Dina mau ikut" ucap Dina


"Kamu di rumah saja ya, ingat kamu sedang hamil"


"Tidak nek, tolong biarkan Dina ikut" ucap Dina memohon.


"Baiklah" ucap nenek Dharma


Nenek Dharma memperbolehkan Dina ikut karena tak tega melihat wajah Dina.


"Terima kasih nek"


1 jam kemudian mobil yang membawa nenek Dharma dan Dina tiba di depan rumah sakit. Anak buah Dani yang sudah menunggu mereka segera membawa mereka ke tempat Danial.


Di depan ruang operasi.


"Dani" panggil nenek Dharma


Dani menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya, Dani menundukkan sedikit tubuhnya memberi hormat.


"Nyonya, nona" sapa Dani


"Bagaimana keadaan Danial?" tanya Nenek Dharma.


"Bos Danial masih di dalam ruang operasi nyonya"


"Kenapa lama sekali?" tanya Dina


Dina menggelengkan kepalanya pelan.


30 menit kemudian


Lampu ruang operasi pun berubah menjadi hijau tak lama kemudian dokter keluar.


"Keluarga tuan Danial?" panggil dokter


"Iya saya neneknya dok" ucap Nenek Dharma tang ada di dekat dokter.


"Bisa kita bicara di ruangan saya nyonya?"


"Bisa dok"


Tak lama brankar Danial di dorong keluar dari ruang operasi.


Dina menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut melihat kondisi Danial.


"Kenapa matanya di perban?" tanya Dina dalam hati, dia merasa sangat sedih.


"Tuan Danial akan di bawa ke ruang inapnya, nyonya" ucap dokter

__ADS_1


Nenek Dharma mengangguk sambil menatap tubuh cucunya yang penuh luka, dan yang semakin membuat nenek Dharma sedih adalah saat melihat perban di kedua mata cucunya.


"Dina, temani Danial dulu ya, nenek dan Dani akan bicara dengan dokter" ucap nenek Dharma pada Dina.


"Baik, nek" jawab Dina dengan nada suara sendu.


"Mari dok" ucap nenek Dharma


"Mari nyonya" ucap dokter menunjukkan jalan menuju ruangannya.


Danial di bawa ke ruang inap, di ikuti Dina dan dua anak buah Dani.


Di ruangan Dokter.


"Silahkan duduk nyonya, tuan" ucap dokter pada nenek Dharma.


Dani dan nenek Dharma duduk di kursi yang ada di depan dokter dan hanya tersekat sebuah meja.


"Bagaimana kondisi cucu saya, Dok?" tanya Nenek Dharma


"Begini nyonya, kornea mata tuan Danial terluka parah akibat pecahan kaca yang mengenai kedua mata tuan Danial"


Dokter menjeda kalimatnya beberapa detik.


"Maaf sebelumnya nyonya, akibat pecahan kaca itu tuan Danial dinyatakan mengalami kebutaan. Goresan pecahan kaca itu merusak kornea mata tuan Danial"


Nenek Dharma sangat syok Dani pun tak kalah syok, Dani berusaha menenangkan nenek Dharma.


"Operasi yang kami lakukan beberapa saat yang lalu adalah untuk mengangkat pecahan kaca itu"


"Lalu apakah cucu saya bisa melihat lagi dok?" tanya nenek Dharma dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya.


"Tuan Danial harus melakukan cangkok kornea agar bisa melihat kembali, nyonya"


"Kalau begitu tolong lakukanlah secepatnya, dok" ucap nenek Dharma


"Ya Allah, bagaimana ini Dani. Kasihan sekali cucu ku Dani hiks"


Dani juga tak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung nenek Dharma, mencoba menenangkannya.


"Dok tolong segera carikan cucu saya pendonornya, dok. Saya akan membayarnya berapa pun dok asalkan cucu saya bisa melihat kembali. Sebentar lagi dia akan menjadi ayah, dia pasti akan sedih karena tidak bisa melihat bayinya, tolong dok"


"Kami akan akan mengupayakan untuk segera menemukan pendonornya nyonya, kami akan melakukan yang terbaik, kami juga akan memeriksa di bank mata. Tapi prosesnya akan cukup lama karena harus ikut antrian, nyonya. Karena permintaan cangkok kornea cukup banyak tapi pendonornya sedikit"


"Baik dok, saya percayakan pada anda. Dan kalau bisa tolong secepatnya dok"


"Baik nyonya" ucap Dokter


Di ruang inap VVIP.


Dina duduk di samping Danial yang masih tak sadarkan diri, Dina benar-benar nampak sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada Danial.


"Hiks seharusnya aku tidak minta di belikan apapun, seharusnya aku makan saja apa yang ada di rumah. Maaf mas ini salah ku hiks hiks" lirih Dina sambil menggenggam telapak tangan Danial yang tidak di infus.


"Saat itu kamu pasti lelah, seharusnya aku tidak meminta mu membeli martabak hiks hiks"


"Ini tidak akan terjadi jika aku... hiks hiks"


"Maaf mas, maafkan aku hiks hiks"


Dina meletakkan kepalanya di atas genggaman tangannya.


Beberapa menit kemudian nenek Dharma masuk ke dalam ruang inap Danial. Dina yang tahu nenek Dharma masuk pun segera berdiri dari tempatnya.


Nenek Dharma melihat Dina yang diam-diam mengusap air matanya.

__ADS_1


"Nek apa kata dokter? kenapa mata mas Danial di perban?" tanya Dina


Nenek Dharma memeluk Dina.


"Tidak apa-apa, Danial baik-baik saja" ucap Nenek Dharma sambil mengusap lembut punggung Dina.


Dina mendongak menatap Dani, seolah-olah bertanya apakah benar yang di katakan nenek Dharma.


Dani yang mengerti maksud Dina pun menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum.


Sebelum masuk ke dalam kamar inap Danial, nenek Dharma meminta Dani untuk tidak mengatakan kondisi yang sebenarnya pada Dina.


Karena nenek Dharma tidak mau Dina kepikiran dan akan mengganggu kehamilannya.


"Lalu kenapa mata mas Danial di perban nek?" tanya Dina lagi


Nenek Dharma melepas pelukannya.


"Tidak apa-apa, mata Danial di perban karena ada sedikit pecahan kaca yang masuk ke matanya"


"Apakah...?"


Nenek Dharma menggeleng "Semuanya baik-baik saja" ucap nenek Dharma sambil tersenyum.


Dina menganggukkan kepalanya, dia mencoba percaya dengan apa yang di katakan nenek Dharma walaupun hatinya menolak percaya.


"Sebaiknya kamu pulang nak, tidak baik ibu hamil berada terlalu lama di rumah sakit. Istirahatlah di rumah" ucap nenek Dharma


"Tapi nek..."


"Nenek yang akan menjaga Danial, besok kamu bisa kembali ke sini, hhmmm" bujuk nenek Dharma


Dina tak menjawab, wajahnya menampakkan ketidak setujuannya.


"Menurutlah sayang, kasihan bayi mu dia butuh istirahat"


Dina menganggukkan kepalanya.


"Bagus, biar Dani yang mengantar mu"


"Baik nek" jawab Dina


Dina berbalik lalu melangkah ke arah Danial.


"Mas kami pulang dulu" ucap Dina


Nenek Dharma tak kuasa menahan air matanya. Nenek Dharma segera mengusap air matanya saat Dina menatapnya.


"Dina pulang dulu nek" pamit Dina lalu mencium punggung tangan nenek Dharma.


"Iya nak, hati-hati ya"


Dina menganggukkan kepalanya.


"Dani berhati-hatilah"


"Tentu nyonya"


"Sana pergilah, ingat kalau ada apa-apa hubungi nenek" ucap nenek Dharma dengan lembut.


"Iya nek"


Dina dan Dani keluar dari ruang inap Danial dan pulang ke mansion.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2