Pergi Karena Cinta

Pergi Karena Cinta
Episode 102


__ADS_3

Masih di dalam kamar.


Kini jam menunjukan pukul 9 pagi, Nayla masih diam saja di dalam kamar! sungguh pikirannya saat ini sedang kacau, karena tidak ingin larut dalam kesedihan atas rasa kecewa yang sedang dia rasakan, Nayla pun bangkit dari duduknya! dalam hatinya dirinya berniat untuk menenangkan hatinya dengan pergi ke sebuah danau yang kebetulan sering dia kunjungi dulu di waktu kuliah.


Nayla pun bersiap-siap seadanya, dirinya pun berpamitan kepada bi Sumi untuk keluar sebentar saja.


"Bi aku keluar dulu sebentar ya! jika suamiku menghubungi bibi, bilang saja aku pergi tak lama." pamit Nayla ketika sudah di depan mansion.


"Iya non, tapi kenapa gak non saja yang bilang?" jawab bi Sumi.


"Telpon saya gak di angkat bi, mungkin dia sedang sibuk." ujar Nayla sambil tersenyum.


"Ya sudah bi, aku berangkat dulu ya." pamit Nayla lagi.


"Iya non." jawab bi Sumi.


"Apa mereka sedang bertengkar?" tanya bi Sumi dalam hatinya, namun dirinya langsung menggelengkan kepala karena itu bukan urusan dirinya.


Nayla pun pergi dengan mengendarai mobil milik Daniel, dia berharap dengan menenangkan dirinya di tempat yang sejuk, dirinya akan berpikir jernih dan bisa melepaskan rasa kecewanya terhadap suami dan keluarganya.


Setelah 45 menit, Nayla pun sampai dia sebuah danau di salah satu kota B, Nayla pun turun dan menghirup udara yang begitu segar. Lantas Nayla pun berjalan dan duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


Hari ini keadaan begitu sepi, karena memang ini bukanlah hari libur, jika hari libur danau ini sudah pasti selalu ramai.


Nayla pun menghembuskan nafasnya, lalu memejamkan matanya dan menghirup udara agar rasa kecewa dalam hatinya sedikit pudar, namun tetap saja rasanya itu begitu sakit! di kecewakan oleh orang yang paling dia sayangi dan percaya, rasanya tuh tidak bisa Nayla utarakan, pada akhirnya dirinya pun meneteskan air matanya.


"Nayla!"


Tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya sambil menepuk pundaknya membuat Nayla kaget dan membuka matanya.


"Astagfirullah." ujar Nayla sambil menengok kepada orang yang memanggilnya.


"Lho mbak Renata!" ujarnya lagi.


"Iya Nayla, kamu sedang apa di sini sendirian?" tanya Renata.


Nayla pun tersenyum dan bangkit dari duduknya, lalu menyalami Renata dan memeluknya.


"Mbak Renata apa kabar?" tanya Nayla tanpa menjawab pertanyaan Renata.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, kamu juga apa kabar?" jawab Renata sambil menanyakan kabar Nayla kembali.


"Alhamdulillah baik juga, mbak di Indonesia sejak kapan? kenapa gak mampir?" ujar Nayla.


Renata pun tersenyum.


"Aku emang ada urusan sebentar di sini, eh malah keenakan gak mau pulang." ujar Renata.


"Rencananya memang mau mampir, tapi nanti saat mau pulang eh malah ketemu kamu di sini." lanjutnya.


"Oh iya kamu ngapain di sini sendiria?" tanya Renata saat menyadari bahwa Nayla belum menjawab pertanyaannya yang tadi.


Nayla pun menghembuskan napasnya.


"Ayo mbak kita duduk dulu!" jawab Nayla.


Lalu Renata dan Nayla pun duduk di bangku sambil melihat ke arah danau.


"Jadi, kamu sedang apa di sini? apa kamu sedang ada masalah?" tanya Renata lagi.


"Aku tau, dulu aku pernah salah kepadamu! tapi jujur saja sekarang aku sudah anggap kamu sahabat ku juga Nayla! jadi kamu gak usah sungkan jika mau cerita sama aku." ujar Renata.


"Iya mbak, aku sedang ada masalah! aku sedang kecewa terhadap mas Daniel juga Sheryl!" ujar Nayla.


"Ya namanya juga manusia mbak, dan mbak juga tau penyebab aku kecewa terhadap mereka." ujar Nayla.


"Aku tau?" tanya Renata menunjuk dirinya sendiri dan mencoba berpikir tentang apa yang dia ketahui soal Daniel.


Dan pada akhirnya dia pun mengingat sesuatu yang pernah Daniel katakan kepadanya dan dia pun membelalakkan matanya.


"Jangan-jangan!" ujarnya dalam hati lalu melirik ke arah Nayla.


Nayla pun mengeluarkan rekaman suara itu dari saku bajunya.


"Kamu dengarkan saja dulu ini mbak!" ujar Nayla sambil menekan tombol untuk memulai menyalakannya.


Renata pun kaget bahwa suara dalam rekaman itu adalah suaranya, dirinya pun melirik ke arah Nayla kembali dan Nayla pun sedang melihat ke arahnya, lalu Nayla pun menganggukkan kepalanya tanda Renata harus mendengarkan perekam suara itu sampai selesai.


Setelah selesai, Renata pun mengepalkan tangannya tidak menyangka bahwa temannya telah memanfaatkannya.

__ADS_1


"Kurang ajar!" ujarnya dalam hati.


Salahnya juga yang telah menceritakan tentang Daniel kepada temannya itu.


"Nayla, maaf aku gak bermaksud untuk memberitahumu! aku saat itu hanya sedang cerita saja dengan temanku, tanpa aku tau dia merekam semuanya." ujar Renata tulus.


Nayla pun tau dan bisa melihat bahwa Renata benar-benar tidak tau bahwa dirinya saat itu di rekam temannya, lalu dia pun tersenyum kepada Renata.


"Kenapa mbak harus minta maaf? aku tau mbak di sini tidak bersalah! saat ini aku hanya kecewa besar terhadap mereka." ujar Nayla.


Renata pun senang Nayla tidak marah kepadanya, ternyata apa yang momy Daniel katakan bahwa Nayla itu memang baik benar adanya.


"Lalu sekarang kamu mau gimana? setelah tau semuanya." tanya Renata.


"Entahlah mbak, aku juga tidak tau! yang pasti saat ini, yang ingin aku lakukan adalah menghindari mereka agar hati ini sedikit menghilangkan rasa kecewa." jawab Nayla sambil melihat ke arah danau lalu memejamkan matanya.


Renata pun diam, mungkin dulu dia akan merasa senang Nayla dan Daniel sedang dalam keadaan seperti ini, tapi sekarang rasanya Renata tidak rela! melihat bagaimana kebaikan Nayla dan juga cinta Daniel.


"Nayla, bolehkah aku mengutarakan apa yang dalam hatiku untuk masalahmu ini?" ujar Renata.


Nayla pun melirik ke arah Renata dan tersenyum.


"Tentu saja boleh mbak! karena saat ini aku memang butuh pencerahan teman juga, karena aku bingung harus bercerita pada siapa lagi." jawab Nayla.


Renata pun ikut tersenyum lalu mengambil tangan Nayla dan menggenggamnya.


"Nayla menurutku terlepas dari kesalahan Daniel dan kekecewaan yang kamu rasakan! coba kamu ingat-ingat, rasa cinta Daniel begitu besar terhadapmu itu adalah nyata adanya, dia memperlakukanmu dengan semestinya bagaikan ratu, dia menyayangimu dan mencintaimu dengan tulus! kamu juga pasti bisa merasakannya, perlakuannya kepadamu." ujar Renata menjeda perkataannya lalu menghembuskan nafasnya.


"Kamu bisa merasakannya sendiri kan Nayla? menurutku Nayla, lupakan saja kekecewaan mu terhadap mereka, karena bagaimana pun kesalahan mereka itu karena Daniel mencintaimu dan Sheryl menyayangimu!" ujarnya lagi.


"Agar kekecewaan mu benar-benar hilang, tanyalah kepada mereka alasan kenapa mereka melakukannya, mungkin kepada Daniel kamu sedikit menerima, tapi aku yakin kecewa mu terhadap Sheryl lebih besar, jadi tanyakan lah kepada Sheryl apa alasannya mendukung dadynya itu." ujar Renata.


Nayla pun diam, benar apa yang di katakan Renata! terlepas dari mereka yang membohonginya, memang mereka menyayanginya dan Nayla tau suaminya begitu mencintainya karena dirinya bisa merasakan di setiap perlakuan suaminya itu, dan Renata juga benar, rasa kecewa kepada Sheryl lebih besar daripada rasa kecewanya terhadap Daniel.


"Ya mbak, kamu benar aku harus segera bertanya kepada Sheryl alasan apa dan kenapa dirinya melakukan itu semua." ujar Nayla.


"Mbak makasih ya sudah mau memberikan nasihat kepadaku!" ujar Nayla lagi.


Renata pun tersenyum.

__ADS_1


"Kamu tidak usah berterimakasih, kamu sudah aku anggap sahabat aku! jadi aku memang harus menasehati mu! aku senang jika kamu Sheryl dan Daniel kembali baik-baik saja." jawab Renata.


Lalu mereka pun tersenyum dan Nayla pun memeluk Renata.


__ADS_2