
Masih di mansion orangtua Rangga.
"Apa kamu tidak salah nak, itu jauh dari kata mungkin! dimana ada seorang perempuan yang dengan terpaksa menikahi Daniel yang di kenal dengan kekayaannya yang begitu besar." ujar Milla tidak percaya dengan ucapan Rangga.
"Tapi yang Rangga temukan itu adalah faktanya mah." jawab Rangga.
Rangga pun menceritakan bagaimana bisa Daniel dan Nayla menikah, bahkan orangtua Daniel pun ikut andil.
Milla hanya diam saja mendengar itu semua, sungguh dirinya tidak menyangka bahwa dia telah salah menilai terhadap Nayla selama ini. Awalnya Milla memang menyukai Nayla dari sifatnya yang ramah, namun waktu itu ada teman Rangga yang menghasut Milla bahwa Nayla tidak seperti yang terlihat karena teman Rangga itu sendiri ternyata mempunyai perasaan kepada Rangga namun tidak pernah di hiraukan oleh Rangga, dia cemburu melihat Rangga yang terus mengejar-ngejar Nayla hingga menghasut Milla dengan menjelek-jelekkan Nayla hingga Milla pun percaya padanya dan mulai tak menyukai Nayla. Namun apa yang sekarang dia dengar, dia begitu terkejut! ternyata Nayla memang anak yang baik.
"Bahkan setelah tau ini semua rasanya aku semakin hancur! apalagi alasan Sheryl mendekatkan dadynya dengan Nayla, karena Nayla terlalu sering murung karena aku tidak mengabarinya!." ujar Rangga sambil menundukkan pandangannya.
"Andai waktu itu aku masih bisa komunikasi dengannya, pasti saat ini Nayla masih menunggu aku mah! kenapa mamah dan papah tega sekali melihat anaknya hancur karena kehilangan wanita yang di cintai ya." ujar Rangga sambil menatap kedua orangtuanya.
"Rangga! mamah minta maaf." ujar Milla pada akhirnya karena merasa bersalah.
"Rangga tidak tau harus bagaimana mah? yang pasti saat ini Rangga benar-benar kecewa pada kalian berdua! tolong saat ini Rangga ingin istirahat jangan ganggu Rangga dulu ataupun menelpon Rangga dan satu lagi jangan paksa Rangga untuk kembali belajar di luar negeri karena ada kemungkinan Rangga akan kembali belajar di sini!" ujar Rangga dan langsung bangkit dari duduknya tanpa menghiraukan panggilan mamahnya.
"Rangga! Rangga! tunggu.... kamu mau kemana nak? maafin mamah." ujar Milla sambil mencoba mengejar Rangga.
Namun Rangga tak menghiraukannya, ketika dia sampai di mobil dia pun langsung masuk dan mengemudi mobilnya begitu saja, sungguh dalam hatinya dirinya masih kecewa terhadap kedua orangtuanya.
"Rangga! Rangga! mamah mohon.." ujar Milla langsung terduduk di lantai teras rumahnya karena mobil Rangga sudah menjauh.
Papah Rangga pun datang dan mencoba membantu mamah Rangga bangun.
"Sudah mah, mungkin benar kata Rangga bahwa dia ingin sendiri dulu! biarkan dia menenangkan dirinya dulu mah... papah yakin setelah tenang nanti Rangga akan pulang ke rumah ini." ujar papah Rangga.
"Tapi pah Rangga mau kemana? mamah takut terjadi sesuatu terhadapnya, apalagi ini sudah malam pah." ujar Milla pada suaminya.
"Rangga sudah besar mah, papah yakin dia tidak akan berbuat sesuatu yang akan merugikannya." jawab papahnya Rangga.
"Mamah menyesal pah!" ujar Milla lagi.
Papah Rangga pun menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Kan dulu sudah papah bilang sama mamah, jangan terlalu ikut campur dengan percintaan anak kita! jika memang dia menemukan jodoh yang tidak baik cukup kita berdoa saja! sekarang karena nasi sudah jadi bubur mau bagaimana lagi! kita hanya bisa menguatkan Rangga agar bisa melepaskan Nayla." jawab papah Rangga bijak.
"Iya pah,,, maafin mamah." ujarnya sambil masih mengeluarkan air matanya.
"Iya udah.... ayo kita masuk! kamu juga harus istirahat." ajak papah Rangga dan Milla pun mengangguk, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam mansion.
****
Di perjalanan, Rangga mengemudikan mobilnya menuju apartemen temannya lagi! biarlah untuk beberapa hari ini dia ingin menyendiri di sana. Entahlah perasaannya saat ini benar-benar hancur, sudahlah orang yang di cintai menikah dengan laki-laki lain dan kemudian dia di hancurkan lagi dengan kekecewaan tentang fakta orangtuanya.
"Aku harus bagaimana Nayla?" tanyanya pada diri sendiri.
tepat 45 menit kemudian Rangga sampai di unit apartemen temannya, dia pun langsung naik ke lantai dimana apartemen temannya berada dan masuk ke dalam.
Setelah mandi dan mengganti baju, Rangga pun mengecek ponselnya dan teringat akan nomor Nayla yang tadi Sheryl berikan. Rangga pun mencoba menekan tombol panggil di nomor Nayla dan memasang ponselnya di telinganya.
"Hallo assalamualaikum..." suara Nayla di sebrang sana.
Deg..... Rangga begitu rindu dengan suara ini, Rangga rindu sekali! ingin sekali dia menjawab tapi dirinya telah berjanji kepada Sheryl hanya akan mendengarkan suara Nayla saja.
"Aneh." lanjutnya.
"Siapa sayang?" tanya seorang laki-laki yang bisa Rangga pastikan itu suara Daniel.
Deg... sakit sekali rasanya mendengar seseorang memanggil sayang kepada orang yang selama ini dia cintai, Rangga pun mematikan panggilan langsung karena tidak ingin mendengar mereka berbicara, apalagi berbicara mesra.
Sedangkan di mansion Daniel lebih tepatnya di kamar Daniel, Nayla yang mengangkat panggilan masuk ke ponselnya pun merasa heran.
"Kenapa sayang?" tanya Daniel lagi.
"Ini mas aneh, ada nomor baru telpon terus aku angkat dan berbicara tapi tidak ada yang jawab dari sana!" jawab Nayla.
Deg...."Mungkinkah itu Rangga!" ujar Daniel dalam hatinya.
"Mungkin orang iseng saja sayang! nanti jika nomor itu telpon lagi jangan di angkat!" ujar Daniel karena dalam hatinya merasa tidak rela jika istrinya masih di harapkan oleh orang yang kemungkinan masih ada di hati Nayla.
__ADS_1
"Iya mas!" jawab Nayla.
"Ya sudah sekarang waktunya kita tidur! dan seperti biasa ya." ujar Daniel.
"Kan tadi udah mas, jadi sekarang libur dulu ya mas..... hehehe." jawab Daniel.
"Mana bisa begitu sayang! mas gak bisa, yang ada mas gak bisa tidur." ujar Daniel.
"Lagian biar cepat jadi dede di dalam sini!" lanjutnya sambil mengelus perut Nayla.
Ya Daniel bertekad ingin membuat Nayla cepat hamil agar rumah tangganya tidak terancam dengan kedatangan Rangga, karena Daniel semakin yakin kalau Nayla hamil Rangga pasti akan menyerah.
"Tapi mas....." ujar Nayla tertahan karena Daniel sudah menyela.
"Dosa lho yang nolak suami." ujar Daniel sambil mengedipkan matanya.
"Pasti ke situ." ujar Nayla dalam hati.
"Baiklah, tapi hanya sekali saja ya mas! aku benar-benar lelah." ujar Nayla.
"Iya gak apa-apa sayang! yang penting mas gak libur." ujar Daniel dan langsung melakukan aksinya untuk beribadah yang hanya bisa di lakukan oleh suami istri.
Setelah hampi 1 jam mereka melakukannya pada akhirnya Daniel pun mengakhirinya karena Nayla sudah kelihatan lelah sekali, setelah selesai Daniel pun mengecup kepala Nayla.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu." ujar Daniel
"Hem..." hanya itu yang keluar dari mulut Nayla karena sudah lelah sekali dan langsung tertidur pulas.
"Cantiknya istri mas ini!" ujar Daniel sambil mengelus pipi Nayla dan tersenyum.
"Mas gak akan biarkan siapa pun memisahkan kita sayang! mas benar-benar cinta mati sama kamu! semoga kamu cepat mencintai mah sebesar mas mencintai kamu." ujar Daniel, lalu ikut tidur dan merengkuh Nayla dalam pelukannya.
☘️ Sekian dulu ya.☘️
Maaf ya pembaca setia udah 4 hari gak up, ya ampun nulis masih di ponsel dan ponsel nya suka rebutan sama anak alhasil mamahnya gak sempet terus..
__ADS_1
Semoga tetap suka dengan alur ceritanya, dan jangan lupa dukungannya dengan like dan komen juga votenya ya karena itu gratis 🤗🥰🥰