Pergi Karena Cinta

Pergi Karena Cinta
Episode 62


__ADS_3

"Assalamualaikum ibu." ujar Nayla ketika dia melihat ibu dan ayahnya sedang duduk di kursi sederhana di ruang tengah.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah kamu sampai juga nak." jawab ibu.


"Iya ibu alhamdulilah, ibu sama bapak sehat kan?" tanya Nayla sambil menyalami ibu dan ayahnya yang di ikuti oleh Daniel.


"Alhamdulillah ibu sama bapak sehat." jawab ibu.


"Kamu tau Nay, ibumu itu dari tadi mondar mandir sana sini gak enak diem nungguin kamu datang." ujar bapak.


"Bagaimana lagi dong pak, ibu kawatir kata ibu Lusi mereka sudah pergi dari kemaren dan mau mampir dulu ke suatu tempat! ibu kawatir terjadi sesuatu karena mereka sepasang pengantin." jawab ibu.


Nayla pun tersenyum.


"Terimakasih ibu sudah menghawatirkan kami." ujar Nayla sambil memeluk ibu.


"Iya ibu maaf telah membuat ibu kawatir, aku sengaja mengajak Nayla mampir ke suatu tempat dulu untuk menunjukkan sesuatu dulu." ujar Daniel kali ini.


"Iya nak tidak apa-apa, kalian masuk saja dulu sana istirahat! nanti ibu panggilkan kalau mau makan siang." perintah ibu.


"Baik ibu." jawab keduanya dan langsung berjalan menuju kamar Nayla bersama-sama.


"Nayla sudah datang Bu?" tanya Riyan yang tiba-tiba saja datang.


"Iya sudah, ibu suruh dia istirahat dulu." jawab ibu.


"Oh ya sudah." ujar Riyan kembali lagi keluar untuk membantu yang lain.


****


Di dalam kamar Daniel langsung saja rebahan di kasur Nayla yang hanya berukuran untuk 2 orang saja, tapi walau begitu Daniel tidak merasa keberatan justru itu lebih baik pikirnya, dia dan Nayla bisa terus berdempetan.


"Aku bereskan baju kamu dulu ya mas! biar tetap rapih." ujar Nayla.


"Kamu tidak cape sayang?" tanya Daniel.


"Sedikit sih mas, tapi gak apa-apa!" jawab Nayla.


"Kalau cape nanti saja sayang! sini temani mas." pinta Daniel.


"Baiklah." jawab Nayla sambil menghampiri Daniel dan duduk di kasur di dekat Daniel.


"Mas mau aku pijitin." tawar Nayla.


"Tidak usah sayang! kamu juga pasti cape, sini temani mas tidur saja." jawab Daniel sambil menggeserkan badannya dan merentangkan tangannya.

__ADS_1


Nayla pun tersenyum dan membuka kerudungnya.


"Baiklah mas." ujar Nayla sambil merebahkan dirinya dengan tangan Daniel yang menjadi bantalnya.


Daniel pun memeluk pinggang Nayla dan mengecup kening Nayla, tak lama Daniel pun memejamkan matanya dan tertidur di ikuti Nayla yang juga sama-sama tertidur dengan cepat, mungkin karena mereka kelelahan.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang lebih namun Nayla dan Daniel belum keluar juga, Riyan yang memang dari tadi menunggu Nayla karena ingin memastikan sesuatu pun terus menengok ke arah kamar Nayla, ibu yang melihat Riyan terus melirik ke arah kamar Nayla pun heran dan hendak bertanya namun Riyan terlebih dahulu bertanya.


"Ibu apa Nayla belum bangun juga?" tanya Riyan.


"Iya mungkin mereka sangat lelah jadi tidur dengan pulas!" jawab ibu.


"Di saat suasana sangat ramai begini Bu? mana bisa." ujar Riyan.


"Lho bisa saja dong, namanya juga lelah kamu ini! lagian kamu ini kenapa sih dari tadi seperti sedang menunggu Nayla? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya ibu.


"Hehehe enggak ko bu, Riyan hanya sedang rindu saja sama Nayla! kan ibu tau sendiri Nayla itu sodara yang paling dekat dengan Riyan." Jawab Riyan sambil menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Ya sudah nanti kalau jam setengah 2 belum juga bangun, nanti ibu bangunkan saja mereka!" ujar ibu karena yang di katakan Riyan benar mungkin Riyan merindukan Nayla karena Nayla adik ya g sangat Riyan sayangi.


"Iya ibu." ujar Riyan.


Setengah jam telah berlalu, namun Nayla dan Daniel belum juga keluar, karena waktu sudah jam setengah 2 lewat ibu pun menghampiri kamar Nayla lalu mengetuk pintu Nayla untuk membangunkan mereka.


"Nayla bangun! sudah jam setengah 2, kamu solat dzuhurlah dulu lalu makan siang." ujar ibu.


"Nayla....Nayla...." panggil ibu sambil mengetuk pintu yang masih mencoba membangunkan Nayla.


"Pulas sekali tidur mereka." ujar ibu pelan.


Sedangkan di dalam kamar Nayla yang mendengar ibu memanggil namanya pun langsung membuka matanya, Nayla pun melirik ke arah jam dinding ternyata waktu sudah jam setengah 2 lewat, saat akan bangun Nayla tidak bisa karena lengan Daniel yang masih ada di pinggangnya.


"Astagfirullah, ternyata pulas sekali kami tidur." ujar Nayla pelan.


"Iya ibu aku sudah bangun." jawab Nayla sedikit meninggikan suaranya namun Daniel tidak terbangun juga.


"Mas.... bangun! ini sudah siang, kita belum solat Dzuhur." ujar Nayla mencoba membangunkan Daniel sambil menggoyangkan wajah Daniel.


"Mas...." ujarnya lagi masih mencoba membangunkan Daniel.


Karena Daniel tak kunjung bangun juga, akhirnya Nayla pun berinisiatif untuk membangunkan Daniel dengan cara menciumi wajah Daniel dan terakhir mengecup bibir Daniel. Awalnya Daniel belum juga bangun namun Nayla tidak menyerah dia terus mengecup bibir Daniel hingga akhirnya Daniel membuka matanya dan langsung menahan kepala Nayla agar kecupan berubah menjadi ciuman, Nayla pun kaget segera melepaskan tautan mereka.


"Mas..." ujarnya pelan, wajahnya sudah memerah malu karena ketahuan Daniel.

__ADS_1


Daniel pun tersenyum.


"Mas mau di bangunkan setiap hari dengan cara seperti ini." ujar Daniel sambil menatap Nayla.


"Dihh mas ini, ayo mas bangun! ibu sudah membangunkan kita, kita juga kan belum solat Dzuhur." ujar Nayla.


"Baiklah sayang." jawab Daniel sambil bangkit dari tidurnya.


Nayla pun membawa kain sarung dan baju Koko untuk Daniel, dirinya juga membawa peralatan solatnya untuk di bawa ke musola di rumah orangtuanya.


Setelah mereka keluar kamar, Nayla dan Daniel di sambut oleh suara Riyan yang memang sejak tadi sudah menunggu Nayla.


"Akhirnya pasangan pengantin keluar juga!" ujarnya.


"Aa Riyan." ujar Daniel langsung menghampiri Riyan untuk menyalami dan memeluknya.


Daniel pun ikut menyalami Riyan dan berkata.


"Apa kabar a?" tanyanya.


"Aku baik, gimana dengan kabar kalian?" jawab Riyan sambil melepaskan pelukannya kepada Nayla.


"Alhamdulillah a kami baik." jawab Nayla sambil tersenyum.


"Oh iya mas, mas duluan saja ke kamar mandinya nanti baru aku!" ujar Nayla pada dani.


"Baik sayang! mari a" jawab Daniel sambil tersenyum kepada Riyan dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


"Aa aku kangen." ujar Nayla sambil memeluk Riyan lagi.


"Dihh adik manja aa, aa senang sepertinya kamu bahagia menikah dengan Daniel." ujar Riyan sambil tersenyum karena melihat guratan kebahagian di wajah Nayla, mungkin selama ini pikirannya telah salah.


"Alhamdulillah a, mas Daniel memperlakukan aku dengan baik! begitu juga dengan mertua aku, di sana aku sangat di sayangi a! aku beruntung memiliki Meraka di sana." Jawab Nayla.


"Syukurlah, aa bahagia jika kamu bahagia." ujar Daniel sambil tersenyum.


"Iya aa, ya sudah aku susul mas Daniel dulu ya! takutnya dia sudah selesai mengambil air wudhunya dan sedang menungguku di musola." pamit Nayla


"Iya Nay." ujar Riyan.


Nayla pun pergi dari hadapan Riyan untuk menyusul suaminya, Riyan pun bernafas lega karena ternyata pikirannya salah tentang Nayla yang tidak akan bahagia menikah dengan Daniel, justru malah sebaliknya Riyan bisa melihat Nayla begitu bahagia.


☘️Sekian dulu ya.☘️


Ah bikin satu bab aja pikiran mumet ya 🀭🀭 apalagi yang sehari bisa berbab-bab! tapi semoga nanti bisa, doain author para pembaca.πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ˜ŠπŸ₯°

__ADS_1


Jangan lupa dukungan authornya ya, kasih like, vote, poin dan komentarnya.


Terimakasih. πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2