
Di mansion keluarga Rangga.
Rangga telah sampai depan gerbang rumah orangtuanya, dia pun menekan klaksonnya agar satpam yang berjaga membukakan pintu gerbangnya, namun karena satpam tidak mengenali mobil yang di kendarai Rangga, satpam itu pun menghampiri mobil Rangga! dengan sigap Rangga membuka kaca mobilnya dan menyapanya.
"Ini saya mang Asep." ujar Rangga kepada satpam itu yang bernama Asep.
"Eh den Rangga! kali saya siapa?" jawabnya lalu setengah berlari membukakan pintu gerbangnya.
"Terimakasih mang." ujar Rangga sambil tersenyum.
"Iya den." jawab mang Asep.
Lalu Rangga pun melajukan mobilnya lagi menuju halaman rumahnya. Setelah itu Rangga turun dari mobil dan masuk ke rumahnya.
"Assalamualaikum." ujarnya sambil membukakan pintu rumah orangtuanya.
"Waalaikumsalam, ya Alloh Rangga! kemana aja kamu 3 hari ini." jawab mamah Rangga sambil memeluk Rangga dengan erat, karena dirinya begitu menghawatirkan Rangga setelah tau Rangga tidak berada di apartemennya! apalagi mendapatkan kabar dari suruhannya bahwa Rangga telah menaiki penerbangan ke Indonesia, namun setelah di tunggu-tunggu tidak menampakkan diri ke rumah ini.
"Aku berada di apartemen temanku mah." jawab Rangga membalas pelukan mamahnya.
"Kenapa kamu tidak mengabari mamah kalau pulang ke Indonesia." tanya Shermilla mamah Rangga.
"Rangga ingin memastikan sesuatu dulu mah! boleh Rangga berbicara dengan mamah berdua saja di kamar?" jawab Rangga sambil mengajak mamahnya berbicara.
"Boleh sayang!" jawab Shermilla.
Lalu mereka berdua pun berjalan naik ke pantas atas dimana kamar Rangga berada.
"Apa kamu sudah makan? bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu?" ujar Shermilla.
"Tidak ma, aku sudah makan tadi! sekarang aku hanya ingin berbicara dengan mama." jawab Rangga sambil merangkul mamahnya.
"Tapi apa kamu tidak cape?" tanya Shermilla lagi, karena dia tau apa yang akan di bicarakan Rangga.
Shermilla ingin menghindar terlebih dahulu dengan masalah itu.
"Tidak mamah, aku sudah cukup istirahat Dair kemaren." jawab Rangga.
__ADS_1
"Baiklah." ujar Shermilla.
Setelah sampai di kamar Rangga, Rangga pun mengajak Shermilla duduk di sofa yang ada di kamar Rangga. Setelah mereka duduk, tiba-tiba saja Rangga memeluk Shermilla sambil menangis.
"Kenapa mamah tidak bilang semuanya kepadaku?" tanyanya di sela isak tangisnya.
"Mengatakan apa? kamu kenapa menangis?" jawab Shermilla.
"Nayla! tentang Nayla, kenapa mamah tidak mengatakan semuanya kepada ma? mungkin kalau mamah mengatakan semuanya, aku bisa saja menggagalkan pernikahan mereka! mamah tau aku sangat mencintainya." ujar Rangga mencurahkan hatinya kepada sang mama, juga ingin mengetes mamahnya.
Shermilla terdiam sejenak, tapi dia tetap mengelus kepala Rangga.
"Kenapa ma?" tanya Rangga sekali lagi.
Shermilla pun langsung memasang wajah sedih dan menghela nafasnya.
"Entahlah Rangga, mamah pun bingung harus menjawab apa? saat pertama mengetahui nama calon istri dari pak Daniel adalah nama perempuan yang di cintai kamu, mamah sama kagetnya denganmu Rangga! mamah tidak mempercayai semua ini, hingga mamah bertanya kepada seseorang, dan seseorang pun mengatakan bahwa itu benar Nayla." ujar Shermilla menjeda kalimatnya lalu menghela nafas kembali dan melanjutkan kembali perkataannya.
"Mamah marah, tentu saja marah! karena merasa kamu di khianati oleh Nayla! tapi setelah mamah pikir di antara kalian tidak ada ikatan apapun, hanya menjalani komitmen masing-masing! mamah bisa apa Rangga? mamah tidak mungkin mengatakannya kepadamu karena pada saat resepsi di gelar pernikahan Nayla sudah sah sejak sebulan sebelum resepsi, dari situ mamah berpikir ada baiknya Nayla menikah dengan pak Daniel! dengan begitu kamu tau seperti apa Nayla? dan mungkin juga kamu dan dia tidak berjodoh." ujar Shermilla.
"APA! jadi mereka telah menikah sebelum resepsi? dan apa maksud mamah dengan mengatakan Nayla seperti itu?" tanya Rangga pura-pura tidak tahu, padahal tau karena Sheryl menceritakan semuanya pada Rangga.
"Gak mungkin mah, Nayla gak seperti itu." ujar Rangga sambil menangis.
"Apa yang di katakan Sheryl benar tentang mamahnya ini?" tanya Rangga dalam hati.
"Awalnya mamah pun mengira begitu Rangga, mamah sangat menyukai Nayla dengan keramahan dan sikapnya, tapi itu di luar, kita juga tidak tau sikap dia dari dalam hatinya Rangga! bahkan Sheryl pun pernah mengeluh akan sikap Nayla terhadap dia kepada mamah tapi entah kenapa sekarang Sheryl malah mendukungnya." ujar Shermilla dengan raut wajah yang sedih.
"Kapan mamah bertemu dengan Sheryl?" tanya Rangga.
Shermilla pun menceritakan pertemuannya dengan Sheryl, namun dengan cerita yang dia putar balikkan sehingga di sini terlihat Nayla yang tidak baik.
"Mamah pun kaget di saat Sheryl mengatakan semua itu! tapi sekarang entah kenapa? Sheryl malah mendukungnya, mamah pun di sini bersyukur karena kalau memang Nayla seperti itu, kamu selamat darinya." ujar Shermilla karena tidak tau bahwa putranya telah lebih dulu bertemu dengan Sheryl.
Rangga pun terdiam, jadi siapa yang harus dia percaya, mamahnya atau Sheryl sahabatnya.
"Tapi terlepas dari semua itu, aku mencinta Nayla mah! aku tidak bisa menghadapi bahwa Nayla sudah menjadi milik orang lain." ujar Rangga sengaja menampilkan raut wajah yang menyedihkan agar mamah nya bersimpati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Rangga! lama kelamaan kamu akan terbiasa dengan rasa sakit itu, masih banyak wanita yang lebih baik dari Nayla." ujar mamahnya mencoba menenangkan Rangga.
"Tapi aku maunya Nayla mah." ujar Rangga.
"Kamu beristirahat saja ya sayang! tenangkan dirimu, jika memang kamu tidak berjodoh dengan Nayla, kamu harus menerimanya." uajr Shermilla.
Shermilla pun melepaskan pelukannya dari Rangga lalu memegang kedua pipi Rangga.
"Kamu pasti bisa! semangat, kamu jangan terpuruk hanya karena Nayla! raihlah cita-citamu agar Nayla menyesal telah menikah dengan orang lain." ujar Shermilla, lalu dia pun bangkit dan meninggalkan Rangga sendiri di kamarnya.
Setelah melihat mamahnya keluar dan menutup pintu, Rangga pun menghapus air matanya.
"Cerita mamah dan sheryl sangat bertolak belakang, aku harus menyelidikinya." ujarnya sambil mengeluarkan ponselnya lalu berjalan ke arah balkon kamarnya.
Tut...Tut...Tut...
"Hallo bos!" ujar penerima panggilan.
"Aku ada tugas untukmu, tolong kamu selidiki tentang kenapa aku tidak bisa menghubungi Nayla juga sebaliknya? dan tolong selediki tentang mamahku juga!" perintah Rangga.
"Baik bos." jawabnya.
Lalu Rangga pun mematikan panggilan telponnya.
"Kalau sampai memang ada mamah di balik semua ini, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus marah kepadanya? aku benar-benar kecewa jika semua itu benar." ujarnya sambil meremas rambutnya frustasi.
"NAYLA! kenapa kamu tidak sabar menungguku? kenapa kamu buat hati ini hancur sehancur-hancurnya." ujar Rangga.
"Nayla, aku mencintaimu!" lanjutnya sambil menatap bintang yang ada di langit malam.
☘️Sekian dulu ya!☘️
Mohon maaf jika up nya telat terus, karena ternyata jadi penulis itu tidak gampang, ada kalanya kita kehilangan ide untu g meneruskan ceritanya dan adakalanya badan ini juga tidak bisa di ajak bekerja sama.
Terimakasih yang masih setia membaca cerita Nayla dan Daniel.🥰🥰🤗
Mohon dukungannya juga ya, jangan pernah bosen untuk like, komen, vote dan koin poinnya.
__ADS_1
🥰🥰🥰