
Di kantor.
Daniel kini telah selesai meeting, dia pun merebahkan dirinya di kursi kebesarannya.
Daniel pun mengambil ponselnya untuk menghubungi bi Sumi, karena kau menghubungi istrinya sudah pasti tidak akan di jawab oleh Nayla, dalam hatinya sungguh merasa tidak tenang! dari saat sedang meeting dirinya tidak fokus, sungguh pikirannya saat ini sangat kacau, dirinya takut Nayla akan meninggalkannya.
Daniel pun memulai panggilan kepada bi Sumi dan tak lama bi Sumi pun langsung menerima panggilannya.
"Hallo assalamualaikum bi." ujar Daniel.
"Waalaikumsalam... iya bapak." jawab bi Sumi.
"Apa Nayla ada di rumah?" tanya Daniel.
"Oh iya Pak, tadi non Nayla pamit izin keluar sebentar! dan bibi suruh menyampaikan ke bapak jika bapak menghubungi bibi." jawab bi Sumi.
"APA! keluar, apa Nayla tidak bilang mau kemana bi? tanya Daniel kaget sambil bangkit dari duduknya.
"Tidak pak." jawab bi Sumi.
"Kenapa bibi izinkan? kenapa tidak di larang." ujar Daniel dengan nada tinggi.
"Maaf pak." ujar bi Sumi sedikit takut karena Daniel meninggikan suaranya.
Daniel pun menghela nafasnya karena kini dia sadar telah membentak bi Sumi.
"Ya sudah bi tidak apa-apa, maaf barusan aku membentak bibi! aku hanya refleks saja." ujar Daniel.
"Apa Nayla sudah lama perginya bi?" tanya Daniel.
"Sekitar satu jam yang lalu pak." jawab bi Sumi.
"Baiklah bi, terimakasih." ujar Daniel.
"Iya pak." jawab bi Sumi.
Lalu Daniel pun mematikan sambungan telponnya.
"Ya Alloh, Nayla kamu pergi kemana? jangan sampai kamu tinggalin mas." ujar Daniel berbicara sendiri.
Daniel pun keluar dari ruangannya dan berpesan kepada sekertarisnya bahwa dia akan pulang sekarang, dan kalau ada sesuatu yang penting tentang perusahan, Daniel menyuruh sekertarisnya itu utuk menghubunginya.
Di perjalan, Daniel pun menghubungi Nayla! namun sayang, nomor ponsel Nayla tidak bisa di hubungi.
"Kamu kemana sayang? maafkan mas." ujar Daniel.
Lalu Daniel pun teringat dengan anaknya Sheryl dan langsung menghubungi Sheryl.
__ADS_1
"Ya, assalamualaikum dady!" ujar Sheryl ketika mengangkat panggilan telpon Daniel.
"Waalaikumsalam.. kamu dimana sayang?" tanya Daniel.
"Aku baru kelar satu pelajaran kelas pagi dad, jadi masih di kampus." jawab Sheryl.
"Kenapa dad?" tanya Sheryl.
Tadinya Daniel ingin memberitahu Sheryl tentang perginya Nayla dari rumah, tetapi Daniel takut Sheryl malah tidak fokus belajar dan malah ikut mencari Nayla. Biarlah ini menjadi urusan dan tanggung jawabnya.
"Tidak apa-apa, kamu yang semangat belajarnya! jika sudah selesai kuliahnya, tolong langsung pulang ya!" jawab Daniel.
"Baik dady." ujar Sheryl.
Setelah itu panggilan pun terputus. Daniel pun menghela nafasnya dan terus melajukan mobilnya, sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri berharap ada Nayla di sana, namun sayang Daniel tak melihat Nayla sama sekali. Memang kota B itu cukup luas sehingga Daniel sudah pasti akan susah mencari Nayla.
Setelah 2 jam memutar sekitar kota B yang sering Nayla kunjungi, namun Daniel tak melihat adanya Nayla, Daniel pun memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.
Setelah sampai di mansion, Daniel pun langsung masuk dan naik ke lantai 2 tanpa menghiraukan panggilan bibi yang ingin memberitahukan Daniel sesuatu karena hati Daniel sedang kacau memikirkan segala sesuatu kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Hingga dirinya sampai di depan kamarnya dan Nayla, Daniel langsung saja membuka kamar dan tertegun ketika pintu kamar menuju balkon terbuka, Daniel pun mempercepat langkahnya hingga dirinya berada di pintu balkon dan melihat Nayla berada di sana sedang menghadap ke langit.
Dan betapa bahagianya Daniel, saking bahagianya dia langsung berlari dan memeluk Nayla dari belakang sambil meneteskan air matanya dan menghadiahi kepala Nayla dengan ciuman bertubi-tubi.
Nayla yang saat itu sedang merenung memikirkan masalahnya dengan suami dan juga Sheryl, begitu kaget ketika tiba-tiba saja ada yang memeluknya, namun ketika sadar dirinya langsung lega karena kini yang memeluknya adalah suaminya sendiri.
"Terimakasih... terimakasih telah kembali... mas minta maaf sayang... maafkan mas..." ujar Daniel sambil meneteskan air matanya.
"Mas kenapa menangis?" tanya Nayla tanpa menghiraukan perkataan Daniel.
Nayla pun membiarkan Daniel memeluknya terlebih dahulu agar Daniel kembali tenang, supaya mereka bisa membicarakan hal yang begitu serius.
Setelah sekian lama Daniel memeluk erat Nayla, Nayla pun kembali bersuara.
"Apa mas sudah mulai tenang?" tanyanya.
Daniel pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya yang masih ada di pipinya.
"Ya sayang! tolong maafkan mas ya! jangan tinggalkan mas.... mas gak sanggup jika harus hidup tanpa kamu sayang!" jawab Daniel.
Nayla pun menghela nafasnya.
"Kenapa mas berpikir aku akan meninggalkan mas? aku bukan tipe orang yang akan meninggalkan masalah hingga berlarut-larut." tanya Nayla.
Daniel pun diam, lalu langsung membuka suaranya.
"Tadi setelah selesai meeting, mas menelpon Bu Sumi dan menanyakan keberadaan mu, tapi bi Sumi bilang kamu pergi dan tidak bilang mau pergi kemana? mas takut kamu pergi dari rumah ninggalin mas, karena kekecewan mu pada mas dan Sheryl." jawab Daniel sambil menunduk.
Nayla pun menangkupkan kedua tangannya di pipi Daniel.
__ADS_1
"Mas tadi aku keluar hanya ingin menghirup udara segar, agar aku bisa berpikir jernih! dan aku berhasil, aku bisa tau apa yang harus aku lakukan sekarang." ujar Nayla.
senyum Daniel pun muncul dan langsung memegang tangan Nayla yang berada di pipinya.
"Jadi kamu mau memaafkan mas sayang?" tanya Daniel.
Nayla pun tersenyum.
"Ya mas! aku memaafkanmu walau kekecewaan ku begitu besar padamu apalagi pada Sheryl, tapi aku berpikir, bahwa walau hubungan kita di awali dengan kebohonganmu tapi selama aku menjadi istrimu, dari mulai kamu mengucapkan ikatan suci di hadapan Alloh untuk menghalalkanku, tidak ada sikapmu yang menyakitiku bahkan kamu sangat mencintaiku dan aku begitu di manjakan, di agungkan dan di hormati olehmu mas! jadi tidak ada keluhan atas sikapmu padaku, jadi buat apa aku berlarut-larut mempermasalahkan ini mas, aku hanya menyayangkan awalnya pernikahan kita." ujar Nayla.
"Terimakasih sayang.... terimakasih sudah mau memaafkan mas." ujar Daniel sambil menciumi tangan Nayla.
"Tapi mas bisa kah kamu berjanji sesuatu kepadaku?" tanya Nayla.
"Apa sayang, apa pun kemauan mu dan perkataanmu, mas janji akan memenuhinya." ujar Daniel sambil tersenyum dan mengelus pipi Nayla.
"Janji mulai saat ini mas akan berkata jujur kepadaku, tidak ada lagi kebohongan di antara mas dan aku, janji akan menceritakan segala sesuatu walau itu akan menyakiti hatiku mas." ujar Nayla.
Daniel pun tersenyum dan mengangguk.
"Mas janji sayang... mas janji." jawab Daniel sambil memeluk kembali Nayla.
"Dan mas harus janji agar membantuku memberikan hukuman kepada Sheryl." ujar Nayla.
Daniel pun mematung dan melepaskan pelukannya pada Nayla.
"Maksud kamu sayang!" tanya Daniel.
"Iya mas, mas harus janji akan mendukung ku jika aku memberikan hukuman pada Sheryl, aku tau Sheryl tak sepenuhnya salah! tapi bolehkan aku menghukumnya sebagai tanda rasa kecewaku? tapi kalau mas gak mau mendukungku juga tidak apa-apa, berarti di sini mas yang akan di hukum dengan tidur di kamar tamu selama seminggu." jawab Nayla sambil mengancam Daniel.
"Mati aku, mana bisa aku tidur tanpa memeluk Nayla dan berpuasa, baru satu malam saja rasanya mau mati.... Sheryl maafin Dady!" ujar Daniel dalam hati.
"Baiklah mas setuju dan berjanji, asalkan kamu tidak menghukum mas." ujar Daniel sambil tersenyum.
"Memangnya kamu mau menghukum Sheryl dengan cara apa?" tanya Daniel.
"Kamu liat saja nanti mas!" ujar Nayla sambil menyeringai dan tersenyum jahil karena sadar Nayla tidak benar-benar menghukum Sheryl, mungkin Nayla hanya ingin jail kepada Sheryl untuk melayangkan kekecewaannya kepada Sheryl, dan Daniel pun pasrah mengikuti apa yang Nayla katakan....
βοΈSekin dulu ya.βοΈ
Hay Hay Hay... apa kabar pembaca setia cerita Daniel dan Nayla...
Maaf ya ku belum bisa konsisten terus up tiap hari, karena setiap mau nulis ada saja halangan hingga terhenti...
Semoga kalian tetap suka ya sama alur ceritanya...
mohon maaf jika sedikit membosankan.
__ADS_1
Terimakasih. ππ
Jangan lupa ya like, komen dan votenya untuk mendukung author.. Jangan lupa juga tekan favorit agar tau ketika author up kembali π€π€