
Di Raja Ampat Dive Lodge, nama penginapan yang Daniel pilih untuk menginap selama seminggu di pulau Mansuar, Raja Ampat.
Kini jam sudah menunjukan waktu subuh, Nayla pun membuka matanya dan ada yang berat di pinggangnya, Nayla pun melirik ke arah pinggangnya melihat ada tangan yang sedang melingkar di tubuhnya.
Deg..Deg..Deg..
Suara jantung Nayla bergetar, dia mengingat apa yang terjadi semalam membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Ya Alloh setelah ini hamba menjadi milik suamiku seutuhnya, bantu aku ya Alloh agar aku bisa mencintai suamiku dengan tulus dan semoga keluarga kami menjadi keluar sakinah, mawadah, warohmah dan selalu mendapat perlindungan mu ya Alloh, amin." ujar Nayla dalam hati sambil memejamkan matanya.
Nayla pun mencoba melepaskan tangan Daniel di pinggangnya dengan pelan-pelan karena takut membangunkan Daniel, dia malu jika harus melihat Daniel saat dirinya belum memakai sehelai benang apapun di tubuhnya.
Saat sudah berhasil melepaskan tangan Daniel, Nayla pun bangkit dari tidurnya dan langsung berdiri tapi saat dia berhasil berdiri, dirinya malah menjerit tanpa dirinya sadari membuat Daniel terbangun.
"Aww...." ujar Nayla sedikit kencang.
Daniel pun kaget dan terbangun.
"Kamu kenapa sayang?" ujar Daniel langsung memegang Nayla.
Nayla yang tau Daniel bangun pun langsung menutupi dirinya dengan selimut.
"Sakit sama perih mas." ujar Nayla sambil meringis.
Daniel pun tersenyum.
"Maaf ya karena sudah puluhan tahun berpuasa semalam mas jadi kebablasan memasuki mu padahal ini yang pertama bagimu, jangan di tutupi aku sudah melihat semuanya." ujar Daniel sambil mengelus pipi Nayla.
Blush.... pipi Nayla langsung memerah membuat Daniel gemas dan langsung mencium pipi Nayla.
Cup..
"Mas siapkan air hangat dulu ya!" ujar Daniel langsung bangun tanpa memakai apapun di badannya.
Blush... pipi Nayla semakin merah melihat Daniel dengan santainya berjalan tanpa memakai pakaiannya, Nayla pun memalingkan wajahnya untuk menetralkan detak jantungnya.
Setelah selesai menyiapkan air hangat untuk Nayla, Daniel pun keluar dari kamar mandi, kin Daniel sudah memakai handuk di pinggangnya tidak seperti tadi yang tidak memakai apapun.
"Ayo mas bantu! airnya sudah siap." ujar Daniel ketika sudah di hadapan Nayla.
__ADS_1
Nayla pun berdiri dan kembali mendesis.
"Aww..." ujar Nayla sambil meringis merasakan perih.
Daniel yang melihat Nayla kesakitan pun langsung membantu Nayla dengan menggendong Nayla.
Nayla yang kaget Daniel tiba-tiba saja menggendongnya pun langsung menjerit.
"Aaaaaa mas!" ujar Nayla sambil mengalungkan tangannya pada leher Daniel.
"Aku bisa sendiri mas." ujar Nayla sambil menundukkan pandangannya, karena malu kini selimutnya telah terlepas dari badannya hingga badan Nayla tidak tertutup apapun.
"Tidak apa-apa, mas gak tega liat kamu kesakitan." ujar Daniel sambil menggendong Nayla menuju kamar mandi.
Setelah sampai di kamar mandi, Daniel pun mendudukkan Nayla di bathtub yang sudah Daniel isi dengan air hangat.
"Kamu berendam saja dulu 15 menit! rilekskan badanmu agar rasa perihnya cepat hilang, lalu bilas badanmu dan mandi wajib! mas keluar dulu jika kamu butuh bantuan mas, panggil mas saja ya!" ujar Daniel sambil mengelus rambut Nayla.
"Iya mas." ujar Nayla masih tak berani menatap Daniel.
"Ya sudah, kamu jangan malu sama mas karena mas juga sudah melihat semuanya Nayla, nanti juga kamu akan terbiasa." ujar Daniel membuat pipi Nayla memerah lagi.
"Mas Daniel manis banget kalau seperti ini, mungkin tak akan lama juga aku bisa mencintainya." ujar Nayla dalam hati sambil tersenyum.
"Ah.... sudah Nayla memang kamu harus bisa mencintai suamimu secepatnya." ujarnya lagi.
****
Di dalam kamar sambil menunggu Nayla selesai mandi, Daniel pun mengambil ponselnya untuk mengeceknya takut pesan penting untuk dirinya, karena dari sampai di pulau ini dia belum mengecek ponselnya.
Daniel pun melihat banyak pesan dari Sheryl juga dari beberapa rekan kerjanya dan tak lupa dari fotografer yang Daniel sewa yang nantinya akan menyusul Daniel ke Raja Ampat.
Waktu tak terasa sudah 40 menit Nayla di kamar mandi namun belum terdengar Nayla akan keluar dari kamar mandinya, Daniel pun melirik ke arah kamar mandi merasa heran apa wanita suka begitu? lama saat mandi.
"Kenapa Nayla lama mandinya?" ujar Daniel dalam hati.
Daniel pun meletakan ponselnya, lalu bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Nayla kamu tidak apa-apa?" ujar Daniel
__ADS_1
"Iya mas" jawab Nayla.
Didalam Nayla bingung harus keluar mandi karena hanya memakai handuk saja.
Sebenernya dari tadi dia sudah selesai tapi dia malu untuk keluar karena hanya memakai handuk, mau meminta tolong pada Daniel pun dia malu.
"Kamu butuh bantuan mas gak?" tanya Daniel.
"Gak mas, sedikit lagi selesai!" jawab Nayla.
"Ya sudah, sedikit lagi waktu subuh habis Nayla! mas juga belum mandi wajib." ujar Daniel.
"Iya mas." ujar Nayla.
"Ya sudahlah begini saja gak apa-apa, ngapain harus malu! mas Daniel kan sudah halal melihatnya." ujar Nayla dalam hati sambil berjalan ke arah pintu kamar mandi.
Ceklek.... suara pintu kamar mandi terbuka, Nayla pun keluar dari kamar mandi dan langsung berhadapan dengan Daniel.
Daniel yang memang sudah berada di depan pintu kamar mandi pun begitu terlena melihat Nayla hanya memakai handuk saja dengan rambut Nayla yang basah membuat hasratnya naik, Daniel pun menghampiri Nayla dan tangannya hendak mengelus Nayla namun tertunda karena Nayla langsung mencegahnya.
"Stop mas! aku sudah punya wudhu." ujar Nayla membuat Daniel tersadar.
"Huh.... hampir saja, ya sudah mas mandi wajib dulu sama wudhu, tunggu mas! kita solat berjamaah lagi." ujar Daniel.
Nayla pun mengangguk dan langsung berjalan ke arah koper yang berisi pakaiannya, karena kemaren dia belum sempat merapihkannya ke lemari.
Daniel pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan melaksanakan mandi wajib.
Setelah selesai mandi Daniel pun keluar kamar hanya memakai handuk juga, di sana Daniel melihat Nayla sudah rapih dengan memakai mukena dan sudah menggelar sejadah untuk mereka solat berjamaah, Nayla pun sudah menyiapkan baju Daniel untuk di pakai solat.
Daniel pun tersenyum melihat Nayla dan langsung memakai bajunya di hadapan Nayla tanpa malu sedikitpun, Nayla yang melihat Daniel dengan entengnya memakai baju di hadapannya pun langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.
"Kamu masih saja malu Nayla, padahal semalam kamu begitu menikmatinya." ujar Daniel menjahili Nayla, dia begitu suka melihat pipi Nayla yang memerah.
"Cepetan mas! waktu subuh sebentar lagi habis." ujar Nayla masih dengan memalingkan wajahnya.
"Baiklah istri mas yang cantik." ujar Daniel.
Nayla yang mendengar Daniel memujinya pun tersenyum tanpa Daniel sadari.
__ADS_1