
Asmira masuk ruang kerja Darwin, ia menemukan berbagai macam buku di sana dan memilih beberapa buku untuk dibaca, lalu Asmira turun kembali ke ruang televisi.
Matanya tidak berpindah ia terus membaca lembar demi lembar. Sesekali ia menguap, entah Darwin tahu atau tidak bahwa Asmira begitu suka membaca buku, tapi sarannya menyuruh Asmira membaca buku adalah sasaran yang tepat.
Asmira tidak bisa lagi menahan kantuknya, ia mengucek matanya dan meletakkan buku di meja ia rebahkan tubuhnya di sandaran sofa, lalu Asmira tertidur pulas.
Darwin kembali ke kantor setelah berpisah di depan Mall dengan Martha. Sesampainya di ruang kerja, Darwin menelepon Pratiwi menyuruh untuk ke ruangannya.
“Ada apa, Pak?” tanya Tiwi setelah berada di ruangan Darwin.
“Apa yang kamu ketahui tentang perusahaan Simon?” tanya Darwin.
“Tidak banyak Pak, hanya terakhir kali saya mendengar ia akan mewariskan semua kepada anak perempuannya,” jawab Tiwi.
“Perusahaan mereka baik-baik saja?” tanya Darwin.
“Setahu saya tidak baik dan juga tidak begitu buruk Pak, mereka mampu bertahan tapi tidak untuk bangkit,” jelas Pratiwi.
“Bisa kamu cari informasi lebih banyak tentang perusahaan itu. Serta data tentang anak perempuannya?” pinta Darwin.
“Saya beberapa kali melihat tuan Kelvin bersama anak Simon, mungkin coba Anda tanyakan tuan Kelvin barang kali beliau tahu tentang anak Simon,” Jawab Tiwi.
Mata Darwin terbelalak mendengar nama Kelvin, ia tahu setiap perempuan yang dekat dengannya bukan perempuan baik-baik, dalam artian seperti wanita simpanan atau sejenisnya.
“Kapan kamu lihat?” tanya Darwin.
“Kemarin, saat kita meeting dengan klien di Hotel Greeny mereka juga di sana, saya tidak tahu mungkin juga hubungan mereka hanya sebatas masalah kerjaan,” ucap Tiwi.
“Kamu kembali bekerja, terima kasih atas informasinya,” pinta Darwin.
Pikirannya berkecamuk, antara penasaran juga bercampur dengan kekesalan. Bagaimana bisa kedua orang tuanya menjodohkan ia dengan wanita yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana tingkah laku calon menantunya.
“Gue harus tanya sama Kelvin, ogah gue harus nikah sama bekas sahabat gue sendiri,” gerutu Darwin kesal.
Darwin menghubungi Kelvin, tapi nomornya di luar jangkauan. Berulang kali dicoba tetap tidak aktif, Darwin pun memutuskan akan menghubunginya lagi nanti, ia melanjutkan kerjanya.
Jam menunjukkan pukul 05:00 Darwin bergegas pulang, ia baru teringat di apartemennya ada Asmira. Darwin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi buru-buru kembali, ia ingin segera bertemu Asmira.
Sesampainya di apartemen, Darwin mendapati Asmira yang tertidur pulas di sofa, dengan beberapa buku berserakan di atas meja.
Darwin menghampiri Asmira, menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, Asmira begitu cantik bahkan saat ia tertidur pun kecantikannya tidak berkurang.
Cup ...
Darwin mengecup kening Asmira.
Asmira terbangun, ia membuka matanya, Darwin yang berada di hadapannya tersenyum manis.
__ADS_1
“Enggak cuma di mimpi aku liat kamu Mas, saat buka mata pun aku masih terbayang-bayang kamu,” ujar Asmira dan ia memejamkan lagi matanya.
Darwin tersenyum mendengar perkataan Asmira, ia mengelus pipi Asmira lembut dengan ibu jarinya. Asmira membuka matanya lagi.
“Pergi sana bayang-bayang jahat, aku maunya yang nyata,” kata Asmira lagi ia seperti mengigau.
“Buka matamu sayang, aku di sini, di depanmu,” pinta Darwin menepuk-nepuk halus pipi Asmira.
Mata Asmira membulat sempurna, ia merasa malu apa yang telah di ucapkan barusan. Ia lupa tadi tertidur di sofa apartemen Darwin, ia segera bangun. Tapi Darwin menarik tangannya.
“Enggak usah malu gitu, jujur saja, lagian aku sudah mendengar semua yang kamu ucapkan barusan,” ledek Darwin.
Muka Asmira memerah. “Mas, apaan sih?” jawab Asmira malu-malu.
Darwin mendekatkan wajahnya, tapi Asmira mundur, dengan cepat tangannya meraih Asmira ke pelukannya.
“Diam,” pinta Darwin, “Aku hanya ingin memelukmu sebentar.”
“Mas aku lapar, jangan lama-lama,” ucap Asmira.
“Kamu ini,” ucap Darwin ia mengacak-acak rambut Asmira.
Darwin segera ke dapur dan Asmira mengekor di belakang, Darwin melipat kedua lengan bajunya sampai siku, ia membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk di masak.
Asmira duduk agak susah, ia harus loncat karena kursi di meja makan Darwin sedikit tinggi, Darwin melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Aku lepas,” jawab Asmira sambil meneguk air putih.
“Mau aku masak in apa, sayang?” tanya Darwin.
“Aku saja yang masak Mas, kamu kan capek pulang kerja,” pinta Asmira.
“Enggak apa-apa demi kamu.” Darwin mendekati Asmira dan mencium pipinya.
Lagi-lagi Asmira tidak mampu berkata-kata.
“Kamu sweet banget sih Mas,” gumam Asmira dalam hati.
Selesai masak dan makan malam bersama, mereka berdua duduk di balkon lantai atas, dengan pemandangan rumah-rumah mewah di depannya, Asmira menyukai pemandangan itu. Sesekali angin berembus pelan, Asmira memejamkan matanya menikmati suasana yang berbeda dengan rumahnya yang kumuh.
Tiba-tiba Asmira teringat dengan rumahnya dulu, ia dan Jessica sering menghabiskan waktu di balkon menemani Jessica melukis.
“Aku rindu rumahku, Mas,” ucap Asmira sembari menyenderkan kepalanya di bahu Darwin.
“Kamu mau kita ke sana?” tanya Darwin.
“Aku enggak pernah kembali lagi ke sana, Mas,” jawab Asmira.
__ADS_1
“Ya kalau kamu mau, kita akan ke sana,” ucap Darwin meyakinkan Asmira.
“Aku takut Mas.” Asmira menatap Darwin.
“Aku temani kamu.” Darwin menggenggam tangan Asmira.
“Aku perlu izin mbak Jessica Mas,” ujar Asmira.
“Telepon, gih,” pinta Darwin.
“Dia enggak bisa di hubungi Mas, aku cuma bisa tunggu kapan dia hubungi aku,” ucap Asmira dengan tatapan sendu.
Darwin menyipitkan matanya. "Kenapa enggak bisa?” tanya Darwin.
“Ceritanya panjang Mas, kamu enggak akan mengerti,” jawab Asmira.
Darwin pun tidak memaksa Asmira untuk cerita, mungkin belum saatnya. Suatu saat ia akan menjaga jiwa dan raga Asmira dan kakaknya.
Saat mengingat kakaknya, air mata Asmira tak tertahan, perlahan meleleh di pipinya. Darwin menghapus air mata Asmira dengan tangannya, kemudian memeluknya erat.
“Menangislah, biar kamu tenang dan lega,” ucap Darwin mengelus-elus rambut Asmira.
“Terima kasih Mas, selama ini aku enggak punya siapa-siapa selain mbak Jessica,” ucap Asmira di sela tangisannya.
Darwin begitu iba melihat Asmira.
“Sayang cukup ya tangisnya, entar kamu pilek,” pinta Darwin.
“Mas antar aku pulang,” rengek Asmira menghapus air matanya.
“Kamu inap di sini saja, aku antar ke kamar, yuk,” ajak Darwin.
Asmira tidak menjawab ia menatap Darwin.
“Aku enggak akan macam-macam sayang, kalau perlu kamu kunci saja pintu ke dalam,” Darwin meyakinkan Asmira.
Akhirnya Asmira pun mengiyakan, Darwin mengantar Asmira ke kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu, letaknya jauh dari kamar Darwin.
Asmira merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Darwin menyelimuti ke tubuh Asmira, ia mengecup pelan keningnya.
“Mimpi indah sayang,” bisik Darwin di telinga Asmira.
Darwin menarik gagang pintu dan keluar dari kamar Asmira, tanpa butuh waktu lama Asmira pun terlelap dalam tidurnya.
Jangan lupa klik Like ya...
baca novel A BIG MISTAKE ya.
__ADS_1