
Di Rumah sakit.
“Mas kerja sana, aku bisa jaga in Mbak Jessica sendiri kok. Nanti kalau ada apa-apa aku bisa hubungi Mas,” ujar Asmira.
Darwin merasa tidak enak membiarkan Asmira merawat Jessica sendirian dengan kondisi Asmira yang cukup memprihatinkan.
“Kamu yakin sayang?” tanya Darwin.
“Ya, Mas kerja gih.”
“Iya Cell, Mbak juga udah mendingan kok. kamu kerja saja enggak apa-apa,” ujar Jessica, ia tidak ingin Darwin meninggalkan pekerjaannya, takut merepotkan.
“Ya udah tapi kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya?” Darwin mencium kening Asmira lalu ia segera pergi.
Jessica menatap Asmira setelah Darwin hilang dibalik pintu ruang rawatnya. Tampak jelas dari tatapannya, Darwin benar-benar menyayangi Asmira setulus hati.
Jessica beranggapan Darwin pria yang tepat untuk adik kecilnya yang polos. Jaman sekarang, tidak mudah menemukan pria yang benar-benar tulus.
Jessica berharap, nasib malang yang ia derita tidak terulang lagi pada adik kesayangannya. Jessica mengelus punggung tangan Asmira, seraya berkata. “Darwin pria baik, dek.”
Asmira tersenyum. “Enggak tahulah Mbak.”
“Mbak bisa lihat cara dia menatap dan ngomong sama kamu, tulus dari hati,” puji Jessica.
“Semoga saja terus begitu Mbak, kita enggak tahu ke depannya seperti apa.” Asmira membuang pandangannya ke samping.
“Kamu enggak boleh ragu Mira, saling percaya dan tetap jaga komunikasi itu yang paling penting dalam sebuah hubungan." Jessica menggenggam tangan Asmira meyakinkan sang adik dengan pilihannya.
“Iya Mbak aku tahu itu,” jawab Asmira, “Oya. Sahabat Mbak itu siapa sih aku penasaran?” tanya Asmira tiba-tiba.
“Masak kamu lupa, kakaknya Bastian sahabat kamu,” jawab Jessica tersenyum.
“Kak Kelvin?” tanya Asmira terkejut.
Jessica mengangguk. “Kita enggak tahu ternyata dia juga di sini selama ini.”
“Iya mbak, aku juga baru tahu dari Bastian. Ya sudah sekarang Mbak istirahat saja lagi ya, nanti jam 11:00 dokter masuk,” pinta Asmira.
“Ya Mira. Hp Mbak mana?” tanya Jessica.
“Ada Mbak, lagi aku cas, Mbak tidur saja dulu,” jawab Asmira.
Tidak lama kemudian Jessica pun tertidur. Mungkin pengaruh obat-obatan dalam tubuhnya yang disuntik perawat untuk menghilangkan rasa nyeri sehingga begitu mudah ia tertidur pulas.
Asmira mengoles salep pada Jessica. Asmira menyibakkan selimut yang menutupi tubuh kakaknya itu. Air matanya tidak bisa tertahankan, perlahan menetes di pipi Asmira.
Seluruh tubuh Jessica penuh dengan bekas pukulan yang sudah membiru. Benar kata Dokter, luka lama saja belum sembuh. Sekarang ditambah luka baru yang semakin parah.
“Ya, Tuhan ...” Gumam Asmira menahan isak tangisnya.
* *
Darwin tiba di kantor yang juga bersamaan dengan Pratiwi diantar suami dan anaknya. Setelah berpamitan pada suaminya, Pratiwi begitu tergesa-gesa menghampiri Darwin langkah kakinya begitu cepat meninggalkan Pratiwi.
“Pak, ibu menghubungi saya semalam,” beritahu Tiwi mengimbangi langkah Darwin.
“Beliau khawatir ponsel Bapak tidak aktif,” sambung Tiwi.
Darwin menarik ponsel dalam saku celananya. “Kamu cas sebentar, kemarin low bat tidak sempat saya cas.” Darwin menyerahkan ponselnya pada Tiwi.
__ADS_1
Tiwi bersama Darwin dalam satu lift , seperti biasa suasananya seakan begitu mencekam menurut Tiwi, setiap kali hanya ia berdua dengan atasannya itu ia selalu merasakan hawa yang berbeda.
Tiba dilantai atas, pintu lift terbuka. Tiwi segera keluar menuju ruangannya.
“Sebentar lagi kamu ke ruangan saya,” pinta Darwin tanpa menoleh pada Tiwi yang langkahnya terhenti.
Tiwi membuat segelas kopi ia langsung menuju ruang bosnya. Rasa penasaran muncul di pikirannya, ada apa bos besar memanggilnya.
“Permisi Pak.”
Tiwi melangkah masuk ke ruang kerja Darwin yang cukup besar dan nyaman itu. Dengan view kota di bawahnya yang sangat menarik untuk dinikmati ketika suntuk karena kerjaan menumpuk.
“Silakan duduk.”
“Ada apa Pak?” tanya Tiwi membuka suara.
“Kamu cari tahu tentang perusahaan K serta direktur utamanya beri saya informasi segera!”
“Pak, bukannya itu cabang perusahaan ayah pak Kelvin, setahu saya begitu.”
Benar seperti dugaan Darwin, Tiwi lebih tahu darinya tentang perusahaan rival mereka. Tidak salah ia merekrut posisi yang pantas untuk perempuan yang sudah mempunyai satu anak itu.
“Apa lagi yang kamu tahu, beritahu saya?”
“Apa tidak sebaiknya Anda tanyakan pak Kelvin saja.”
“Saya sedang tidak mood berbicara dengannya.”
“Baik Pak. Kalau begitu saya permisi, akan segera saya informasikan kalau sudah beres.” Tiwi segera undur diri meninggalkan ruang kerja Darwin.
“Apa aku tanya papa saja, ya?” gumam Darwin.
Ayah Kelvin dan Marco mereka merupakan sahabat dari masa muda dulu. Mereka sama-sama usaha dari nol, merintis bisnis yang berkembang di bidang yang berbeda. Tapi keduanya sama-sama sukses. Namun ayah Kelvin meninggal di usia muda karena penyakit gagal ginjal yang ia derita.
Begitu telepon tersambung, Darwin menjauhkan telepon dari telinganya karena suara Marco yang melengking dengan nada yang cukup mengerikan.
“Ke mana saja kamu, kami begitu khawati, apa kamu tidak tahu?”
“Maaf Pa, handphone Darwin low bat semalam. Mama mana?”
“Ma! ini anakmu telepon!” teriak Marco terdengar ditelinga Darwin cukup keras.
“Halo sayang, kamu ke mana saja, mama khawatir banget. Siapa yang sakit?” tanya Martha khawatir.
Darwin mendengar jelas kekhawatiran Martha terhadapnya, namun ia sama sekali tidak berniat membuat mereka resah.
“Jessica Ma.”
“Apa dia disiksa suaminya lagi?”
“Iya, kondisinya sangat memprihatinkan Ma.”
“Rumah sakit mana, mama mau jenguk, Win.” tanya Martha mulai menangis.
“Rumah sakit Kamboja, Ma.”
Darwin menjawab pertanyaan Martha dengan lembut dan perlahan, itu semua juga salahnya sendiri yang tidak memberikan kabar terhadap keduanya.
Darwin ingin bicara lagi dengan Marco, ia tidak sabar ingin menanyakan tentang pemilik perusahaan K.
__ADS_1
“Ya Nak, ada apa lagi?”
“Pa, apa perusahaan K milik ayah Kelvin?” tanya Darwin.
“Iya.”
“Siapa Direkturnya, Pa?”
“Dulu setahu Papa. Setelah ayah Kelvin meninggal, yang mengelola semua asetnya adalah paman Kelvin adik dari ayahnya. Saat itu Kelvin belum berusia 18 tahun, jadi untuk sementara waktu pamannya yang mengambil alih sampai Kelvin dewasa. Kalau sekarang Papa enggak tahu-menahu,” ujar Marco panjang lebar.
“Siapa nama pamannya Kelvin Pa?” tanya Darwin lebih lagi.
“Hardi kalau tidak salah, Papa lupa. Ada apa sih, Nak?” jawab Marco.
“Ya udah terima kasih ya Pa. Papa temani mama ke rumah sakit ya, Darwin mau lanjut kerja lagi. Kapan-kapan Darwin ceritakan.”
Marco memutuskan telepon dengan Darwin. Sementara Darwin yang masih kebingungan, ia menghubungi Asmira tapi telepon Asmira tidak bisa dihubungi.
“Oya, handphone Asmira juga low bat semalam,” gumam Darwin.
Darwin semakin penasaran ingin mengetahui apa benar suami kakak iparnya adalah paman Kelvin, ia bersabar menunggu informasi dari Pratiwi dan juga Asmira, siapa sebenarnya pria bejat itu. Yang telah membuat Jessica terluka parah.
* * *
“Siapa sebenarnya yang memaksa Jessica pulang kemarin?” Kelvin bertanya-tanya dalam hati.
“Mas ini kopinya.” Suara Ritha mengagetkan Kelvin yang sedang melamun.
“Terima kasih sayang ...” Kelvin sedikit kaget dengan kehadiran Ritha di hadapannya.
“Kenapa melamun gitu, ada masalah apa tadi di kantor?” tanya Ritha.
“Biasa sayang, klien bikin pusing,” jawab Kelvin berbohong.
“Mas kapan kita nikah?” tanya Ritha.
“Sabar sayang ya, secepatnya kita akan nikah,” jawab Kelvin yang sudah ratusan kali didengar oleh Ritha.
“Mas aku capek bohongi papa terus.”
“Sayang ikuti saja kemauan papamu. Lagian kamu cuma berpura-pura, aku tidak akan cemburu.”
“Aku mau jujur ke papa soal hubungan kita!”
“Jangan dong sayang! Selama ini papa kamu kenal aku sebagai penyelamat perusahaannya, dia bisa jantungan loh,” bujuk Kelvin pada Ritha agar ia tidak nekat memberitahukan Simon.
“Tapi Mas, aku capek begini terus, harus sembunyi-sembunyi soal hubungan kita,” ucap Ritha kesal.
“Apa kamu enggak suka, cuma kita berdua, enggak ada orang lain, enggak perlu berpura-pura di depan orang seperti aku dan Rose?” tanya Kelvin dengan rayuan mautnya.
“Aku enggak mau jadi yang kedua terus Mas.”
“Siapa bilang kamu yang kedua? Buktinya aku sama siapa? Sekarang cuma kamu satu-satunya di samping aku sayang, enggak ad yang lain selain kamu.” Kelvin menarik dagu Ritha ke atas ia mengecupnya sebentar.
Ritha memeluk Kelvin. “Mas jadikan aku istri kamu?” pinta Ritha.
“Secepatnya sayang.” Kelvin mengelus-elus rambut Ritha. Lagi-lagi ia berhasil membuat Ritha tidak bisa berkutik dengan rayuannya.
Kelvin selalu punya 1001 cara untuk mengelabuhi perasaan Ritha , ia selalu berhasil merayu dan membujuk Ritha bersabar setiap kali Ritha menanyakan tentang pernikahan.
__ADS_1
***
Jangan lupa jempolnya guys.