Perjanjian

Perjanjian
Episode 25


__ADS_3

Setelah pertemuan hari itu di rumah sakit, kini Marco dan Jessica begitu dekat. Sebaliknya Martha malah semakin hari semakin dekat dengannya calon menantunya itu.


Hari ini Martha menjemput Jessica di rumah sakit, dokter sudah memperbolehkan ia pulang. Kondisinya pun telah stabil kembali hasil pemeriksaan kepalanya baik-baik saja, tidak ada yang bermasalah.


“Kamu pulang ke rumah Om saja, ya?” pinta Marco.


“Tapi Om ...” jawab Jessica.


“Enggak apa-apa sayang, sekalian bantu-bantu Tante mempersiapkan pernikahan Tari dan Darwin yang tinggal menghitung hari,” sahut Marco.


Jessica menatap wajah Asmira, "Mira, gimana nih?” tanya Jessica dengan berbisik.


“Udah Mbak turuti saja, enggak enak kita tolak. Mereka udah banyak membantu kita,” bisik Asmira.


Setelah Martha membereskan administrasi, mereka pulang ke rumah keluarga Marco Antonio. Mereka tiba di rumah disambut Marni di pintu depan.


“Wah, rame sekali, Buk Nyonya tidak akan kesepian lagi nih," ujar Marni saat menyambut kedatangan mereka.


“Maaf, jadi merepotkan Bibi dengan kehadiran saya di sini," ucap Jessica setelah barang bawaannya diambil alih oleh Marni.


“Tidak, tidak merepotkan sama sekali,” jawab Marni tersenyum ramah.


Marni menunjukkan kamar Jessica dan membereskan barang-barangnya ke dalam lemari.


“Kenapa banyak sekali baju, Bik?” tanya Jessica.


“Ini pakaian Nona Jessica semua, kemarin nyonya dan tuan yang membelikannya,” beritahu Marni.


“Saya tinggal ya, Non. Kalau ada perlu apa-apa panggil saja Bibi,” pinta Marni.


Sementara Martha dan Asmira sedang membantu pembantu menyiapkan makanan untuk makan malam bersama, Martha juga sudah menghubungi Darwin.


“Nak, ayo kita makan?" ajak Marco mengetuk pintu kamar Jessica.


“Iya Om, sebentar lagi Jessi keluar,” sahut Jessica di dalam.


Beberapa hari ini Darwin sibuk, ia sengaja ingin menyelesaikan tugasnya sekarang, karena ia ingin ambil cuti lama setelah menikah nanti. Asmira yang begitu pengertian sama sekali tidak mempersulit keadaan, sehingga Darwin pun begitu nyaman.


“Wah, enak ni, langsung lapar aku lihat menunya,” cetus Darwin yang baru tiba.


“Eits, sabar dulu!” pinta Martha.


“Kita tunggu semua kumpul dulu, Mas!” ujar Asmira.


“Tapi sayang, aku lapar banget nih,” rengek Darwin.


“Kamu ini seperti anak kecil Mas.” Asmira mencubit lengan Darwin.


Setelah semuanya berkumpul di meja makan, mereka pun makan bersama. Marco mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, seperti keluarga sesungguhnya yang selalu Martha dambakan, tampak wajah Martha tersenyum semringah ia terlihat bahagia.

__ADS_1


“Sayang, ayo keluar sebentar ada yang mau aku tanyakan,” ajak Darwin.


Asmira yang sedang bergabung dengan yang lainnya bangun mengikuti Darwin keluar rumah.


“Apa yang ingin Mas bicarakan?” tanya Asmira duduk di sebelah Darwin.


“Tentang mbak Jessica,” jawab Darwin.


“Iya, ada apa?” tanya Asmira.


"Siapa nama suami mbak Jessica?” tanya Darwin.


“Hardi, namanya Hardi,” jawab Asmira lantang.


“Berarti benar, suami mbak Jessica adalah pamannya Kelvin,” lirih Darwin.


“Kenapa Mas?” tanya Asmira.


“Hanya memastikan saja, jangan sampai salah sasaran nantinya,” Darwin berkilah.


“Hanya itu yang ingin Mas tanyakan?” tanya Asmira.


“Iya sayang, ayo kita masuk udara malam tidak sehat untuk tubuh,” ajak Darwin.


“Mas, aku kira apa. Mau ajak liat bintang, bulan, taunya itu doang, dasar enggak romantis!” Asmira masuk ke dalam, ia mengentak-entakkan kakinya di lantai.


Akhirnya tanda tanya besar yang ada di pikiran Darwin selama ini terjawab sudah, setelah Darwin mengetahui jawaban yang sebenarnya, ia bukan lega malah tampak semakin stres. Bagaimana tidak, Hardi adalah paman Kelvin, jika saja orang lain mungkin begitu mudah Darwin hancurkan.


* *


Keesokan harinya di kantor.


Pratiwi telah mengumpulkan semua informasi tentang Hardi, ia bergegas menuju ke ruang Darwin.


“Masuk!” Teriak Darwin di dalam, setelah mendengar ketukan pintu.


Tiwi berkata, “Pak ini semua informasi yang bapak minta.”


Darwin membuka dan membaca satu persatu, ia merasa pusing dengan kondisinya saat ini, Tiwi melihat tingkah atasannya itu.


“Kalo boleh tahu, ini semua buat apa Pak?” tanya Tiwi memberanikan diri.


“Saya ingin menjatuhkan Hardi jika saja dia bukan pamannya Kelvin,” jawab Darwin geram setiap kali menyebutkan nama Hardi itu.


“Saya punya ide Pak,” ucap Tiwi.


Darwin tersenyum puas, mendengar ide cemerlang Tiwi. “Bagus, lanjutkan.”


Darwin mempercayai Tiwi mampu menyelesaikan tugas yang diberikannya, jika nanti Darwin libur toh Tiwi juga yang mengambil alih.

__ADS_1


* *


Ritha sedang asyik menonton televisi, ditemani camilan sehat dan enak yang dibuat Minah.


“Selanjutnya berita dalam negeri, Marcell Darwin anak pengusaha ternama Marco Antonio akan segera melangsungkan pernikahan dengan kekasih hatinya, yang dikabarkan akan melakukan akad Minggu depan, kami mendapat informasi langsung dari nyonya Marco terkait kebenaran berita ini, agar pemirsa di rumah tidak simpang-siur mengenai berita ini akan kami tayangkan wawancara reporter kami dengan nyonya Marco."


Mata Ritha terbelalak mendengar berita yang disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta nasional itu, apalagi saat Martha menampakkan potret Darwin dengan calon istrinya itu.


Ritha menghubungi papanya. “Halo Pa,” sapa Ritha saat telepon sudah tersambung.


“Kamu juga udah lihat beritanya sayang?” tanya Simon.


“Iya Pa, apa sebenarnya Papa udah tahu?” tanya Ritha.


“Kemarin Tante Martha menghubungi Papa, tapi Papa tidak tega memberi tahu kamu, papa takut kamu sedih dan kecewa,” ujar Simon bersedih.


Ritha tersenyum dan berkata, “Enggak apa-apa kok Pa, justru aku yang khawatir Papa kenapa-kenapa.”


"Papa baik-baik saja sayang,” ujar Simon.


Ritha mengakhiri panggilan dengan papanya, “Dari awal aku udah enggak setuju, tapi setidaknya aku berhasil dua kali belanja gratis,” gumam Ritha.


Semenjak kepergian Rose, hubungan Ritha dengan Kelvin semakin dekat, layaknya suami-istri yang baru menikah mereka menghabiskan malam bersama bercinta kapan saja, Minah yang tidak tahu-menahu soal hubungan keduanya hanya diam saja.


* *


“Resek lu, udah mau nikah enggak kabari apa-apa ke gue,” ujar Kelvin.


“Bukannya Bapak Kelvin Sanjaya begitu sibuk akhir-akhir ini?” ledek Darwin.


“Jangan bahas masalah gue, gue sengaja ajak lu ketemu mau dengar tentang lu,” ujar Kelvin.


“Sayangnya gue keberatan kasih tahu lu,” Darwin tersenyum lebar.


“Sialan lu!" teriak Kelvin.


“Brandon apa kabar, gue besok ke rumah lo, sekalian mau kenali Lestari ke Rose,” ujar Darwin.


Kelvin terdiam, lalu ia menjawab, “Rose pergi dari rumah Win.”


“Maksud lu apa jangan bercanda!”


“Gue serius, Win, Rose udah pergi dari rumah seminggu yang lalu,”


“Terus enggak lu cari?” tanya Darwin.


“Udah, tapi nihil Rose bagai ditelan bumi Win,” ucap Kelvin pasang wajah sedih.


Darwin terkejut mendengar Rose pergi dari rumah, ia juga tahu persis kenapa Rose angkat kaki dari rumah, tapi ia enggan menyinggung masalah itu pada Kelvin, Biarkan mereka selesaikan rumah tangga mereka berdua.

__ADS_1


Jangan lupa Like ya..


__ADS_2