Perjanjian

Perjanjian
Episode 84


__ADS_3

Nindy terbangun karena sinar matahari menerpa wajahnya. Ia duduk menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.


Nindy membelai lembut pipi Kelvin yang masih tertidur pulas. Semalam mereka bergumul dengan hebat. Kelvin berkali-kali dibuat terkapar oleh Nindy.


Nindy menepuk-nepuk pipi Kelvin, ia membangunkan pria itu. “Bangun Mas!”


Kelvin meraih guling, ia peluk erat. Bukannya bangun, ia malah menarik selimut lalu melanjutkan tidurnya.


“Mas, kamu enggak kerja?”


Kelvin tidak menjawab, yang terdengar hanya suara dengkuran halus. Nindy meraih ponselnya yang ia letakkan di meja. Ia mengirim sebuah pesan untuk Carol.


[Aku masuk nanti malam ya ...]


[Bukannya lu udah enggak mau main lagi?]


[Banyak tanya! Cari yang fresh dan banyak duit ya ...]


Selesai mengirimkan pesan untuk Carol Nindy segera beranjak mandi.


Setelah kemarin ia putuskan untuk berhenti menjadi wanita malam, kini ia kembali menghubungi Carol. Bukan tanpa sebab, Nindy kesal terhadap Kelvin yang hanya menganggapnya wanita simpanan saja.


Jika memang tidak ada hubungan lain yang lebih spesial, untuk apa dipertahankan, jika soal kepuasan dan uang. Banyak pria lain yang menawarkan sejumlah uang yang fantastis untuk menikmati tubuh Nindy.


Untuk tadi malam, Nindy jadikan yang terakhir kalinya untuk Kelvin, ia akan mengenang Kelvin hanya sebagai salah satu di antara pria lainnya yang pernah mencicipi tubuh indahnya. Tidak lebih.


Nindy merasakan kecewa yang teramat sangat. Ia akan menjauhi Kelvin dengan caranya sendiri. Bahkan, untuk menjadi teman Kelvin saja Nindy tak ingin.


Setelah mandi dan berpakaian rapi. Nindy mendekati Kelvin yang masih tertidur pulas. Nindy menyunggingkan senyuman di wajahnya. Lalu ia kecup kening Kelvin sedikit lama.


Setelah mengambil tas, dan semua barang miliknya, Nindy menarik gagang pintu ia hendak keluar, sekali lagi ia menatap wajah Kelvin dalam.


“Selamat tinggal Mas,” ia melangkah keluar meninggalkan hotel mewah itu.


Martha menyambut kepulangan Asmira dan Darwin dari rumah sakit. Sementara Jessica telah pulang dari semalam bersama Valen. Tadi malam Martha mendengar bunyi bel, tapi matanya tidak sanggup terbuka. Ia teramat kantuk.


Martha memeluk Asmira, ia belai lembut perut Asmira yang sudah menginjak 4 bulan usia kehamilannya.


“Alhamdulillah, Mami dan calon cucu Mama baik-baik saja,” ujar Martha. Asmira hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


Mereka sarapan bersama, Asmira sangat lahap. Sup buatan Marni sangat nikmat di lidahnya. Seketika ekspresi Asmira berubah, saat Darwin menyodorkan segelas susu ke hadapannya.


“Mas ...” rengek Asmira.


“Sayang ... ini demi anak kita?” pinta Darwin lembut, ia belai pipi Asmira dengan ibu jarinya.


Asmira paling anti yang namanya susu. Terbuat dari apa pun susu itu, selezat apa pun susu tersebut, Asmira tidak pernah mau meminumnya.


Hari ini jadi saksi, terukir sejarah dalam abad ke 21 Asmira minum susu, dan ya, ia baik-baik saja.


Setelah tegukan terakhir masuk ke dalam tenggorokannya. “Mas, mau lagi boleh?” tanya Asmira lugu.


Sontak semua orang yang berada di meja makan dibuat tertawa olehnya.


“Tadi katanya enggak mau?” goda Sara. Asmira hanya cengengesan seperti anak kecil yang senang dibelikan es krim.


Setelah sarapan dan mandi, Darwin menyuruh Asmira untuk istirahat. Dokter mengatakan Asmira tidak boleh terlalu banyak gerak. Darwin bernafas lega kali ini, karena Asmira langsung mengiyakan omongannya. Tidak seperti biasanya, harus ada perdebatan yang tiada habis-habisnya.


Darwin keluar kamar, ia hendak menemui Martha. Saat ia keluar, ia mendapati kedua orang tuanya sedang duduk sembari membaca koran.


“Ma, aku mau cek Cctv di kamar Mama, ya?” pinta Darwin ketika ia melewati di mana keduanya sedang duduk.


Darwin mendekat, ia duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan keduanya.


“Begini,” ujar Martha, ia melipat kedua tangan di dadanya. Lalu ia menarik nafas dalam, sebelum ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Ada apa Ma, Pa?” tanya Darwin.


Marco sudah membuka mulutnya, ia hendak mengatakan sesuatu. Namun Martha mencegahnya. “Pa, biar Mama yang cerita,” pinta Martha. Ia sengaja melarang Marco untuk berbicara, semalam saja Marco sangat murka. Martha takut, jika hari ini kejadian sama pun terjadi.


“Mama udah cek Cctv semalam. Maaf, Mama enggak bisa tunggu hari ini, semuanya menyangkut cucu dan menantu Mama, enggak mungkin Mama diam saja," ujar Martha. Membuat Darwin penasaran, apa hasil rekaman Cctv.


“Siapa pelakunya Ma?” tanya Darwin tidak sabar.


Martha terdiam sesaat. “Nindy!”


Darwin sangat terkejut, matanya terbelalak, bibirnya terbuka. Seakan-akan petir yang menyambar di siang bolong, ia begitu syok, mendengar siapa yang telah sengaja mencelakakan istri dan calon bayinya yang tak berdosa.


Asmira yang baru keluar kamar, tidak sengaja mendengar obrolan mereka. Asmira sangat terkejut, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.

__ADS_1


“Astaghfirullah,” ucap Asmira spontan, ia buru-buru menutup mulut dengan tangannya.


“Sayang, sejak kapan kamu udah di sana?” tanya Martha, ia mendekati Asmira lalu memapahnya duduk di sofa.


“Sayang, Mama tahu kamu enggak percaya, tapi rekaman Cctv membuktikan Nindy lah pelakunya,” ujar Martha lagi.


Asmira tidak menjawab sepatah kata pun, ia syok, apa yang menyebabkan Nindy begitu murka terhadapnya. Apa kesalahannya yang membuat Nindy begitu membencinya, hingga janin yang tak berdosa yang ia kandung hampir saja jadi korban kejahatannya.


“Sayang,” panggil Darwin. Ia berlutut di hadapan Asmira yang masih terpaku.


Perlahan, air mata berlinang di pipinya. Hanya itu yang bisa mewakili perasaannya kini.


“Kita harus lapor polisi Darwin!” ujar Marco.


Darwin yang tengah berlutut di hadapan Asmira, ia mendongak menatap Marco.


“Ini kriminal namanya!” sambung Marco lagi.


Darwin mengisyaratkan diam kepada Marco, ia mengajak Asmira masuk ke dalam kamar, biarkan ia tenang dulu. Bagaimanapun, selama ini Nindy sahabat terbaiknya, Asmira selalu mengelu-elukan Nindy. Namun siapa sangka, kini sikapnya di luar dugaan. Wajar bila Asmira syok dibuatnya.


Darwin takut, jika Asmira stres, maka akan berdampak negatif terhadap kandungannya.


“Mas, apa salahku?” tanya Asmira disela tangisnya.


“Sayang... kamu enggak salah apa-apa kok,” sahut Darwin, ia belai lembut rambut istrinya.


“Enggak Mas! aku enggak mungkin enggak bersalah, Nindy enggak mungkin melakukan ini semua tanpa sebab Mas!” teriak Asmira.


“Sayang, liat Mas, tenang dulu,” Darwin menarik dagu Asmira, kini tatapan mereka beradu.


Darwin menatap Asmira, ia melihat kesedihan yang begitu mendalam yang Asmira rasakan. Lalu ia peluk erat istrinya, ia kecup keningnya.


“Semuanya akan baik-baik saja sayang,” gumam Darwin.


Sementara dari kejauhan, sepasang mata yang sedari tadi mendengar semua obrolan mereka, berlari keluar dari rumah Marco Antonio. Dialah Santi.


Santi memanggil taksi, ia ingin pergi menemui Nindy. Santi tidak henti-hentinya menangis, air matanya seakan tidak bisa terhenti.


“Mbak! apa yang udah kamu lakukan,” gumam Santi dalam hati dengan air mata yang terus berderai.

__ADS_1


Jangan lupa like ya....


__ADS_2