Perjanjian

Perjanjian
Episode 66


__ADS_3

Asmira terbangun, perutnya merasa perih, ia merasa sangat lapar sekali. Aroma nasi goreng yang dibuat Santi terasa sangat harum di hidungnya. Setelah cuci muka, tanpa membangunkan Darwin, Asmira segera turun ingin makan.


“Mbak, jangan makan dulu,” ujar Santi, menahan tangan Asmira yang ingin mengambil nasi goreng.


“Aku lapar, nanti mas Darwin makan sendiri,” jawab Asmira.


“Mbak kan mau testpack, ya jangan makan dulu dong!” ujar Santi gemas dengan majikannya itu.


Asmira segera kembali ke kamarnya. Ia benar-benar lupa.


Setelah Asmira memasukkan testpack ke dalam urinenya, ia menggigit bibir bawahnya.


“Aku gemetar banget,” gumam Asmira dalam hati. Setelah menunggu beberapa menit ia melihat hasilnya, apa negatif atau positif. Pelan-pelan Asmira memalingkan wajahnya.


“Yeay!” Asmira buru-buru menutup mulut dengan tangannya, ia takut Darwin terbangun.


“Terima kasih Tuhan, hasilnya positif!” gumam Asmira.


Saat Asmira keluar dari kamar mandi, Darwin sudah terbangun, ia duduk di tepi ranjang dengan lilitan handuk di badannya.


“Lama banget sih, sayang?” tanya Darwin seraya menguap.


Asmira menghampiri Darwin, senyum menghiasi wajahnya, tangannya ia sembunyikan ke belakang.


“Mas, coba tebak aku mau kasih tahu kamu sesuatu,” ujar Asmira cengengesan.


“Hasilnya apa?” tanya Darwin.


Wajah Asmira seketika berubah. “Mas! kok, kamu tahu, sih?” tanya Asmira kesal.


Darwin bangun, ia memeluk Asmira.


“Gimana gak tahu, orang testpack kamu taruh di situ kok,” ujar Darwin menunjuk laci tempat Darwin meletakkan jam tangannya.


“Mas, kamu gak romantis deh, setidaknya, meskipun kamu tahu, senangi aku dikit kek,” ujar Asmira memonyongkan bibirnya. Darwin langsung mencium bibir istrinya itu.


“Maaf deh, ya udah, hasilnya positif kan?” tanya Darwin. Asmira mengangguk ia memeluk Darwin erat.


Darwin membalas pelukan Asmira, ia kecup kening istrinya, sebentar lagi ia resmi menjadi seorang ayah.


“Alhamdulillah, engkau beri kebahagiaan yang bertubi-tubi kepadaku,” gumam Darwin. Air mata bahagia jatuh di pipinya.


“Mas menangis?” tanya Asmira.


Darwin tersenyum. “Enggak kok sayang, kamu jaga kesehatan ya, jangan terlalu banyak makan camilan yang kurang sehat.” Darwin mencubit gemas pipi Asmira.


*

__ADS_1


Selesai sarapan pagi, Asmira mengajak Darwin jalan-jalan keliling kompleks. Mereka jalan kaki, Asmira menggandeng tangan suaminya mesra.


“Mas, aku mau cerita sesuatu,” ujar Asmira.


“Mmm ... cerita saja,” sahut Darwin.


Mereka duduk di bangku taman, suasana haru libur sangat ramai, suara gelak tawa anak kecil yang bermain kejar-kejaran sangat riuh. Asmira bercerita tentang Jessica, dan Rose yang di tipu mertuanya yang jahat, demi harta keluarga Marco.


Darwin terdiam, ia enggan berkomentar apa pun, dari awal ia sudah mengetahui jika Jessica adalah kakaknya, Pratiwi telah menghubungi pihak rumah sakit dan mengatakan Jessica anak kandung dari Marco.


“Aku setuju dengan mbak Jessica sayang, biar saja mama papa menanggung sedikit rasa sakit, seperti apa yang mbak Jessica rasakan bertahun-tahun,” ujar Darwin dengan nada rendah.


Asmira tidak menyangka ternyata Darwin sudah mengetahuinya jauh-jauh hari sebelum ia tahu. Tetapi, ia bungkam.


“Kamu gak usah banyak pikiran, kamu harus rileks. Setelah menikah kita udah disibukkan dengan berbagai masalah, sekarang waktunya kamu sedikit lebih peduli kondisimu sendiri,” pinta Darwin, ia mengelus-elus punggung tangan Asmira.


Asmira merebahkan kepalanya di bahu Darwin, ia pejamkan matanya.


“Habisnya mau gimana Mas, kita gak bisa diam saja, lihat orang di sekeliling kita menderita,” ucap Asmira.


“Oya, Mas lupa kasih tahu kamu, teman kamu Nindy udah keluar dari perusahaan cabang kita,” beritahu Darwin.


“Kok bisa?” tanya Asmira.


Darwin menggeleng kepalanya. “Kata Tiwi, ia mengatakan gajinya terlalu sedikit,” ujar Darwin.


* * *


“Daddy!” panggil Sara ketika mereka tiba di bandara. Valen sangat terkejut. Sara menghubunginya kemarin, ia mengatakan ingin menyusulnya. Tapi, yang ia lihat sekarang ada Jessica bersamanya.


Jessica memeluk Valen. “Mas, aku kangen kamu,” ujar Jessica.


“Ayo, kita berangkat,” ajak Valen, ia masih mengacuhkan Jessica.


Sara memeluk Jessica. “Mommy yang sabar ya?” pinta Sara.


Mereka tiba di sebuah hotel mewah, setelah perjalanan dari bandara memakan waktu 3 jam. Sara sangat gembira, ia langsung ber-selfie ria. Valen mengajaknya makan, ia menolak.


“Suruh antar ke kamar saja Dad, Sara capek.” Bohongnya, padahal ia sengaja memberikan waktu kepada mereka, untuk menyelesaikan masalahnya.


Ketika sedang makan, Valen tidak mengatakan apa pun, Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Hanya suara sendok makan yang terdengar.


Setelah makan, ia mengantar Jessica ke kamar yang bersebelahan dengannya. Lalu Valen segera masuk ke kamarnya.


Tanpa Valen sadari, Jessica mengikutinya masuk ke dalam kamarnya.


“Aku mau bicara, Mas.” Jessica memeluk Valen.

__ADS_1


“Apa yang mau kita bicarakan?” tanya Valen menahan diri, padahal ia sangat ingin membalas pelukan Jessica dan menciumnya.


“Kamu cuma salah paham, Mas,” ujar Jessica sembari menyunggingkan senyum manis.


Valen mengernyitkan keningnya.


“Maksudnya?”


“Kamu anak angkat Kakek, bukan anak kandungnya, jadi kita bukan ponakan dan Om,” cerita Jessica to the point.


Valen bingung, raut wajahnya tampak berubah, ia terdiam.


“Mas, aku tahu ini menyakiti perasaanmu, tapi begitulah kenyataannya,” ucap Jessica mengelus-elus bahu Valen.


Pantas, selama ini ia tidak mendapatkan apa pun dari orang tuanya, tapi kenapa Marco menyembunyikannya, ia selalu beralasan tidak perlu membagi harta. Toh, kita juga yang menikmatinya, ujar Marco setiap kali Valen tanyakan harta warisan.


Jessica memeluk Valen. “Mas, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu,” ujar Jessica membuat lamunan Valen buyar seketika.


“Lalu Kelvin?” tanya Valen.


Jessica mengerutkan keningnya. “Kenapa Kelvin?” tanya Jessica tidak mengerti.


Valen mengambil sesuatu dari kopernya, ia tunjukkan pada Jessica.


Jessica sangat terkejut melihat foto dirinya yang bugil.


“Menurut kamu Mas?” Air mata Jessica meleleh di pipinya.


“Aku kecewa Jess,” ujar Valen mendekati Jessica. Jessica terdiam hanya air mata yang mewakili perasaannya.


Valen menarik dagu Jessica. “Jika kamu menginginkannya, aku bisa memberikan kepuasan padamu Jess,” ujar Valen.


Plakkkk...


Sebuah tamparan yang cukup keras, mendarat di pipi Valen, Jessica menangis tersedu-sedu. Ia berlari keluar dari kamar Valen dengan hati yang hancur berkeping-keping. Jessica sengaja menyusul Valen, ia ingin mengutarakan semua perasaannya.


Ternyata Jessica salah, pria yang ia cintai kini melecehkannya sedemikian rupa.


“Mom,, Mommy kenapa?” tanya Sara kepada Jessica.


“Sayang, bisa tinggali Mommy sendiri dulu?” pinta Jessica dengan suara terbata-bata.


“Tapi, Mom,” sahut Sara.


“Sayang, please!” pinta Jessica serius.


Sara keluar kamar dengan pikiran yang berkecamuk, ia tidak tahu apa yang menimpa calon Mommy nya itu.

__ADS_1


Jangan lupa klik like ya...


__ADS_2