
Fenita melihat Rose dan Kelvin akur, ia sangat gembira. Padahal, mereka berdua telah sepakat untuk berpisah secara baik-baik. Namun, Fenita tidak tahu-menahu persoalan itu.
Hari ini Rose ingin berkunjung ke rumah Asmira, tadi pagi ia sudah menghubungi Asmira memberitahu bahwa ia akan ke rumahnya hari ini..
“Kamu enggak mau ikut Bas?” tanya Rose pada Bastian yang sedang bermain game dengan Brandon.
“Ke mana Mbak?” tanya Bastian tanpa menoleh.
“Rencananya mau ke rumah Asmira, nih,” jawab Rose.
Bastian tersenyum mendengar Rose akan berkunjung ke rumah Asmira. “Siapa tahu gue ketemu sama cewek galak itu nanti di sana,” gumam Bastian dalam hati.
“Aku ikut deh.” Bastian segera berkemas.
Sementara Asmira sedang masak bersama Santi, tiba-tiba bel berbunyi.
“Mbak biar aku saja yang buka,” pinta Santi, ia lepaskan celemek di badannya ia segera menuju pintu depan.
Ternyata Martha bersama Marco.
“Masuk Nyonya, Tuan,” Santi mempersilahkan mantan majikannya masuk ke dalam.
Martha segera ke dapur, aroma masakan Asmira sangat wangi membuat siapa saja yang menciumnya akan terasa lapar.
“Masak apa nih menantu kesayangannya Mama?” tanya Martha pada Asmira.
“Wah, bakalan rame nih, bentar lagi Mbak Rose juga datang kemari,” beritahu Asmira.
“Benarkah?” tanya Martha juga sangat kegirangan.
“Bagus dong, kita makan siang bareng,” sambung Martha lagi.
Orang yang sedang mereka obrolkan pun tiba, Santi kembali membuka pintu untuk tetamu yang datang.
Marta segera menemui Rose, ia langsung peluk cium Rose.
“Kangen banget, berapa lama kita gak ketemu ya, lupa Tante, sangking lamanya,” ujar Martha.
“Tante makin cantik aja, nih,” puji Rose.
“Kamu bisa saja,” jawab Martha tersenyum malu-malu.
Mata Bastian mengarah ke seluruh ruangan rumah itu, sampai acara makan siang selesai pun tak ditemukan sosok yang ia cari.
Saat ia dan Rose berpamitan ia berbisik pada Asmira. “Titip salam buat anak tirinya mbak Jessica ya, Bastian mengedipkan matanya.” Asmira yang bingung hanya tersenyum melihat Bastian.
* * *
Valen mengajak Sara jalan-jalan, tapi kali ini tanpa Jessica. Sara sama sekali tidak menikmati perjalanan mereka kali ini, wajahnya ditekuk tanpa senyuman sama sekali. Valen mengerti akan sikap anaknya, tapi apa yang harus ia lakukan, ia tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
“Sayang, tolong kamu mengerti, ya?” ucap Valen ketika mereka sedang menyantap makan malam di sebuah restoran.
“Aku bisa mengerti Dad, andai saja aku tahu apa penyebabnya,” ujar Sara berlinang air mata.
Entah kenapa ia begitu menyayangi Jessica, rasanya mereka berdua tidak bisa terpisahkan lagi.
Valen menggenggam tangan Sara. “Sayang, terkadang ada hal yang tidak bisa diungkapkan,” ujar Valen tidak tahu harus mengatakan apa.
“Tapi kenapa Dad?” sara tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Valen mendekap erat tubuh anaknya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Daddy juga sakit sayang, bukan ini yang Daddy mau,' jerit Valen dalam hati.
Jika disuruh memilih, Valen lebih memilih tidak mengenal Jessica dari awal dari pada ia harus menyakiti perasaannya kini. Bukan hanya Sara yang tidak terima dengan sikap Valen yang tiba-tiba berubah Jessica juga demikian.
“Kasih satu alasan Mas, kenapa kamu jadi begini?” tanya Jessica pada Valen.
Namun Valen diam seribu bahasa.
Hari-hari Jessica kembali seperti saat-saat ia belum mengenal Valen, ia tampak termenung di mana ia duduk ia hanya terdiam saja.
Valen menatapnya dari kejauhan matanya kembali berkaca-kaca. “Tuhan, apa yang harus aku lakukan,” gumam Valen dalam hati.
Sara melihat keduanya sama-sama tidak bertutur kata, ia tidak tahu mau berbuat apa.
Martha tersenyum mendengar pertanyaan dari keponakannya itu.
“Sayang, kadang ada hal yang tidak bisa dijelaskan, diam cukup untuk menjawab semua permasalahan yang ada,” beritahu Martha meski ia sendiri bingung dengan apa yang dia ucapkan barusan.
Keesokan harinya, Valen telah siap-siap dengan satu koper besar. Ia akan keluar negeri untuk sebulan lamanya, ada kerjaan yang harus ia selesaikan semuanya.
Valen mengetuk pintu kamar Jessica ditemani Sara.
“Jessi ... ini aku,” panggil Valen setelah sekian lama mengetuk pintu namun tak urung dibuka oleh Jessica.
“Mom, buka bentar...” panggil Sara lagi.
“Masuk, gak dikunci...” jawab Jessica sedikit berteriak.
Akhirnya Valen pun masuk.
“Jessi, tolong jaga Sara ya untuk sebulan ke depan,” pinta Valen setelah masuk ke kamar Jessica.
Jessica menatap Valen. “Kamu pergi bukan karena lagi menghindar dari aku kan, Mas?” tanya Jessica.
Valen menggeleng. “Aku pamit, ya?” Valen mencium kening Jessica dengan mata terpejam. Lalu ia bergegas keluar, taksi yang ia pesan Online sudah menunggunya di depan.
Jessica menatap kepergian Valen dari balik jendela kamarnya, air matanya perlahan meleleh di pipinya.
__ADS_1
“Aku punya waktu sebulan untuk melupakan kamu, Mas,” gumam Jessica dalam hati, ia menatap punggung Valen yang sudah hilang dari pandangannya.
*
Pagi-pagi rumah Marco sudah kedatangan tamu yang tak diundang.
“Silakan masuk,” Marni mempersilahkan Fenita masuk.
“Baik, terima kasih,” ucap Fenita dengan gaya yang sedikit berlebihan menurut Marni.
Setelah Marni panggilkan, akhirnya Martha keluar juga. Begitu melihat siapa yang datang, Martha tersenyum senang.
“Ya ampun Feni, rupanya kamu.” Keduanya langsung peluk cium manja.
Semenjak papa Kelvin meninggal mereka belum pernah bertemu lagi.
“Apa kabar, Tha?” tanya Fenita dengan senyum masih menghiasi bibirnya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik. Kamu sendiri gimana?” tanya Martha balik.
Mereka pun mengobrol panjang lebar.
Sesaat kemudian Marco pun ikut bergabung dengan mereka berdua, mereka bercengkerama ria sampai sarapan pagi selesai ada saja yang mereka obrolkan.
Fenita memperhatikan foto pernikahan Darwin dan Asmira. “Menantu mu sudah hamil, Tha?” tanya Fenita.
Martha menggelengkan kepalanya.
“Kalo anak perempuan yang pertama, pasti sekarang kamu udah punya cucu,” ujar Fenita santai, tanpa memikirkan tuan rumah. Marco terdiam dengan ucapan Fenita.
Martha jadi salah tingkah, ia coba alihkan pembicaraan mereka. Namun dengan sengaja Fenita tetap membahas itu-itu saja.
“Buru-buru banget Feni, enggak nanti saja pulangnya,” ujar Martha.
“Besok-besok deh aku kemari lagi,” balas Fenita setelah ia berpamitan kepada Marco dan juga Martha.
“Hati-hati di jalan ya,” Martha melambaikan tangan pada Fenita.
Setelah Fenita pergi, Marco masih saja terdiam, Martha menegurnya, “Pa ...” panggil Martha ia melihat suaminya hanya diam saja.
“Ya Ma,” sahut Marco.
“Papa kenapa?” tanya Martha.
“Benar ya Ma kata Fenita barusan, andai saja anak perempuan kita masih hidup. Pasti sekarang kita udah timang cucu,” ujar Marco bersedih.
Martha jadi serba salah dengan keadaan tersebut, apa mungkin ini saatnya ia ceritakan semua pada suaminya.
Jangan lupa like ya...
__ADS_1