Perjanjian

Perjanjian
Episode 33


__ADS_3

keesokan harinya, pagi-pagi handphone Darwin berdering, Asmira menggoyangkan tubuh Darwin membangunkannya.


“Mas ... Hp kamu bunyi tuh.” Asmira menekan tombol hijau dan meletakkan di telinga Darwin.


“Ya Tiwi!” Suara khas orang bangun tidur.


“Pak saya punya kabar gembira, perusahaan Hardi kalah tender proyek besar dengan perusahaan cabang kita,” ujar Tiwi to the point


Mata Darwin yang dari tadi masih merem mendadak membulat sempurna.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Darwin.


“Adik sepupu saya bekerja di perusahaan Hardi. Berkas-berkas persiapan mereka ikut meeting diganti dengan proyek yang berbeda, bukan hanya kalah mereka berhasil kita buat malu dan tak berkutik lagi,” sambung Tiwi.


“Bagus, good job!” komentar Darwin singkat.


“Saya tidak punya cara lain Pak, jika terlalu terang-terangan kita menjatuhkan mereka, takutnya hubungan Bapak dan tuan Kelvin terganggu,” ucap Tiwi.


“Tidak apa-apa itu sudah lebih dari cukup, perlahan-lahan mereka akan tumbang sendiri, tiga kali berturut-turut mereka kalah memenangkan proyek, mereka akan down.” Darwin menyunggingkan senyum sinis di wajahnya.


Asmira tersenyum puas. “Terima kasih, sayang.” Asmira memeluk Darwin.


“Sama-sama sayang, besok pagi kita berangkat ya,” kata Darwin.


“Ke Venice sayang?” tanya Asmira.


“Mmm ...” jawab Darwin.

__ADS_1


*


“Arghhh ...” Teriak Hardi.


Pria bertubuh besar dengan tinggi badan 175 cm, Wajahnya tidak beda jauh dengan Kelvin. Bukan hanya kalah dengan perusahaan cabang Darwin saja yang buat ia kesal, tapi wajah Jessica yang terpampang di layar televisi yang membuat ia auto kesal.


Hardi menghubungi seseorang. “Seret dia pulang bagaimana pun caranya.”


Sikap Hardi yang temperamental selalu berhasil membuat Jessica ketakutan, ia dan Jessica terpaut umur yang tidak begitu jauh, tapi Asmira selalu memanggilnya bandot tua.


Jessica yang masih betah di rumah Marco seakan lupa dengan masalahnya bersama Hardi, ia enggan pulang ke sana meski hanya sekedar untuk mengambil semua barang-barangnya. Jessica merasa aman di kediaman Marco, jika ditempatkan lain pasti anak buah Hardi berhasil menemukannya bagaimanapun caranya.


*


Siang harinya, Darwin kembali mendapat berita bagus. Dokter yang menangani Jessica kemarin menghubunginya.


Hasil visum, serta hasil pemeriksaan kepala Jessica sudah keluar. Jessica tidak apa-apa, tidak ada benturan atau lainnya yang bermasalah dengan kepalanya.


Darwin segera memberitahu semuanya tentang berita bahagia itu. Darwin menatap sendu wajah Jessica, andai dari dulu ia berani lapor polisi sungguh tidak akan terjadi hal-hal seperti ini.


“Hasil visum dokter udah keluar, Papa suruh pengacara keluarga kita yang tangani ini semua,” ujar Darwin.


“Kapan kalian berangkat?” tanya Marco.


“Besok pagi, papa kasih kabar nanti gimana putusan pengadilannya, usahakan jangan sampai tercium media.” Darwin menyeruput kopi buatan Asmira.


“Itu biar papa yang handle semua, kalian bersenang-senang saja di sana,” ujar Marco menepuk bahu Darwin.

__ADS_1


“Jangan biarkan mbak Jessica keluar rumah tanpa ada yang menemani, Hardi bisa saja menyuruh anak buah memantaunya.” Darwin begitu khawatir, ia tahu betul bagaimana Hardi dari cerita Tiwi.


Sementara Martha dan Jessica membantu Asmira berkemas untuk kepergiannya bulan madu besok pagi, terdengar canda tawa renyah dari mereka. Bukan Jessica namanya jika tidak menggoda adik kesayangannya itu, Asmira yang selalu jadi bulan-bulanan kakaknya hanya bisa pasrah saja.


“Sayang ...” panggil Martha mengelus rambut Asmira.


“Ya Ma.” Asmira menatap wajah Martha.


“Jangan ditunda-tunda ya punya momongannya,” ujar Martha.


Asmira hanya tersenyum, ia tahu mertuanya sangat ingin menimang cucu.


• **


Kelvin dan Ritha Keduanya berbaring menatap langit-langit kamar, Ritha memeluk Kelvin yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatannya yang baru saja klimaks.


“Mas ...”panggil Ritha.


Kelvin mengelus rambut Ritha.


“Kamu puas?” tanya Kelvin nakal.


“Iya mas,” jawab Ritha.


Entah cinta atau kenikmatan yang sebenarnya Ritha butuh kan, atau keduanya saling berdampingan. Kelvin berhasil memuaskan hasratnya berkali-kali bahkan ia sampai sulit berjalan, keduanya memiliki nafsu **** yang besar.


Kelvin dan Ritha mandi bersama dan mengulangi lagi dikamar mandi teriakan Ritha selalu terdengar oleh Minah, tapi Minah seolah acuh tak acuh, semenjak ia jadi pembantu di sana, siang maupun malam selalu saja teriakan Ritha memekik telinga. Bahkan bekas ciuman Kelvin di leher Ritha dibiarkan begitu saja terlihat pada Minah.

__ADS_1


Jika Minah melihat Ritha uring-uringan pasti Nyonya mudanya tidak mendapatkan jatah dari Tuannya.


jangan lupa Like ya...


__ADS_2